Bunda Untuk Neira

Bunda Untuk Neira
Raja Tega!


__ADS_3

"Maksud kamu apa?"


Sekar baru saja selesai dari kamar mandi, ketika dia dihampiri Arjuna tengah malam itu. Sekar bingung, kenapa tiba-tiba, bapaknya bocah langsung melontarkan tanya seperti itu. Maksudnya apa? Ya mana dia tahu.


"Maksudnya apaan?" Sekar jadi balik tanya. Ya, kan dia memang tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja makhluk ganteng tapi kulkas ini mendekatinya dengan marah pula.


"Ditanya malah balik tanya. Kamu pikir saya gak tahu akal bulus kamu itu?"


Loh-loh, kok jadi makin ngawur. Sekar jadi semakin tidak paham.


"Maksudnya Mas ini apa sih? Ya saya mana tahu. Dateng-dateng langsung main tanya begitu. Enggak jelas."


"Kamu kan yang mempengaruhi orangtua saya untuk bertemu dengan adiknya Eva?!"


"Yeeeeeee, nuduh aja! Saya gak pernah mempengaruhi siapapun. Di sini saya cuma kerja mengasuh Neira, bukan buat jadi mak comblang!"


"Nyolot kamu ya! Kalau bukan kamu, terus gimana bisa orangtua saya kepikiran buat jodohin saya sama adiknya Eva?!"


Dituduh begitu, Sekar jadi kesal. Memang apa hubungannya dia sama Ema? Kenal saja tidak. Hanya karena Arjuna melihat kedekatannya dengan tuan dan nyonya besar, jadi dia bisa menuduh Sekar yang sudah menghasut mereka. Kan tidak semestinya Arjuna bisa berpikir begitu.


"Mas Juna jangan asal ngomong dong. Saya ini cuma mengasuh Neira, dan gak pernah sekalipun mencampuri urusan keluarga Mas Juna. Lagipula, saya mana paham yang begitu-begitu. Kawin saja saya belum!"


Arjuna mengangkat satu alisnya mendengar pembelaan Sekar barusan. Ditatapnya Sekar cukup lekat. Kata kawin membuat dia jadi tergoda untuk menakuti gadis itu.


"Kawin?" Arjuna menatap Sekar dengan menyeringai.


"Jangan macam-macam ya, Mas. Saya bisa bikin Mas Juna gak bisa begituan lagi kalo kepikiran macem-macem sama saya!"


Sekar sudah pasang kuda-kuda siap dengan gaya hendak melawan. Tapi Juna malah semakin tergoda untuk menakuti gadis itu. Apalagi setelah itu, Arjuna terlihat mulai membuka kaus ketat yang membungkus tubuhnya. Langkahnya semakin maju, semakin membuat Sekar terpojok di dinding samping kamar mandi.


"Saya mau lihat, sehebat apa anak ingusan kayak kamu ini."


"Stop, Mas! Jangan mendekat! Gue gak main-main ya! Itu telor bisa pecah kalo kena tendangan maut gue!"

__ADS_1


Sudah mencoba sopan berbicara dengan Juna tadinya, sekarang Sekar yang panik kembali ke mode semula. Bicara seperti awal-awal jumpa dengan Juna, bahkan dengan ancaman yang malah membuat Arjuna terkikik geli di dalam hati.


"Lo kira gue takut?" balas Juna mengikuti gaya bicara Sekar.


Sekar tak bisa mengelak ketika Juna semakin memepet tubuhnya. Lelaki itu bahkan sudah mengunci pergerakan Sekar tanpa sempat Sekar melawan.


Sekarang, keduanya saling bertatapan, begitu dekat, tanpa jarak. Sekar yang tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki jadi kaku sesaat. Namun, secepat gerakan Arjuna yang semakin menempel kepadanya, secepat itu pula kesadarannya kembali dan otaknya mulai bekerja.


"Dasar mesum! Rasain nih!"


Satu tendangan dari Sekar membuat Juna memekik tertahan. Arjuna yang kesakitan merenggangkan tubuhnya, membuat Sekar leluasa berlari meninggalkan lelaki itu.


"Mampus! Sekar lo lawan!"


Tapi setelah berkata begitu, Sekar buru-buru berlari kocar kacir karena Juna ternyata secepat kilat mengejar gadis itu.


"Maaf, Neira, Bunda gak bisa tidur di kamar kamu malam ini. Bunda takut papa kamu jadi semakin gak terkendali. Kayaknya papa kamu kerasukan setan gendeng." Sekar bergumam sendiri seakan dia sedang bicara dengan Neira. "Heh? Bunda?"


Baru beberapa menit dia membaringkan tubuhnya. Suara pintu kamarnya terdengar diketuk.


"Sekar!"


Suara Arjuna terdengar. Sekar yang trauma dengan sikap lelaki itu malam ini, tentu saja tak langsung membuka pintu kamarnya.


"Udahlah, Mas Juna. Gue lagi males ya ngeladenin elo yang coba berbuat mesum sama gue tadi!"


"Neira nangis itu!"


Sekar menajamkan pendengarannya, benar saja, terdengar suara anak asuhnya itu sedang menangis.


"Mas Juna kan bisa tenangin Neira dulu."


"Dia gak mau. Makin digendong malah makin nangis. Urusin tuh, gue pusing dengar dia nangis terus."

__ADS_1


Sekar menarik nafas panjang. Ini bapak betul-betul tidak punya perasaan memang. Akhirnya dengan hati-hati dan tetap memasang tanda siaga baginya sendiri, Sekar memutar gagang pintu.


"Cepetan urusin Neira!"


Sekar tak menyahut, dia segera pergi ke kamar Neira. Segera mungkin diambilnya bayi itu dan ditenangkannya. Ajaib, hanya dengan sedikit kata-kata dan dekapan Sekar, Neira diam dan mulai kembali memejamkan mata.


Namun, Sekar tersentak ketika melihat Arjuna tengah berdiri bersandar dengan dua tangan masuk ke saku celana, memandang dirinya yang sedang menidurkan Neira kembali.


"Ngapain Mas Juna ke sini?!" tanya Sekar dengan nada khawatir. Dia takut Arjuna akan berbuat macam-macam lagi.


"Emang kenapa? Kan ini kamar anak gue. Ada larangan bapaknya Neira gak boleh masuk ke sini?" tanya Juna sebal.


"Ya kenapa tadi gak coba ditenangin kalau memang mau di sini juga?" Sekar balik tanya dengan nada kesal bukan main.


"Kan tadi udah dibilangin, Neira gak mau sama gue."


Sekar menarik nafas panjang. Bapak macam apa sih Arjuna ini. Bonding sama anak sendiri gak ada.


"Kenapa sih, Mas Juna begitu banget sama Neira? Gimana pun Neira, dia adalah anak Mas Juna."


"Maksud lo apa? Kalo gak tahu apa-apa jangan banyak ngomong!"


Tiba-tiba saja Juna jadi sensitif. Dia jadi tahu bagaimana aslinya Arjuna ini. Kalau di depan kedua orangtuanya saja lelaki itu akan bicara sedikit dan sopan kepada siapa saja, tapi sekarang, dari nada bicara dan keras kepalanya, Sekar sudah bisa menebak bagaimana watak asli lelaki itu.


"Gue cuma kasihan sama Neira karena dia selalu kangen sama lo, Mas. Walaupun gue belum pernah melahirkan, tapi gue tahu gimana perasaan anak Mas Juna. Sorry, Mas, waktu sama anak itu sangat berharga loh, jangan sampai, Mas kehilangan moment-moment emas itu."


Sekar seakan tidak bisa menahan gemuruh hatinya sendiri melihat ketidakpedulian Arjuna kepada Neira. Kalau memang tidak cinta kepada ibunya, minimal sayang lah sama anak sendiri.


Arjuna yang kesal mendapat ultimatum seperti itu dari Sekar segera keluar setelah sebelumnya menghempaskan pintu dengan kuat, membuat Neira kembali terbangun dan menangis karena terkejut.


Sekar menggeram kesal menatap pintu yang sudah tertutup itu lalu segera menenangkan Neira lagi.


"Raja tega lo!" dengus Sekar kesal sambil terus menenangkan Neira yang sudah mulai kembali terlelap.

__ADS_1


__ADS_2