Bunda Untuk Neira

Bunda Untuk Neira
Malam Minggu Bersamanya


__ADS_3

Malam minggu, biasanya akan dilalui Arjuna dengan Lola. Menghabiskan sisa malam dengan saling melontarkan kata mesra dan kadang terselip guyonan-guyonan nakal. Namun, tidak kali ini, Arjuna tidak menikmati malam minggu bersama mantan kekasihnya itu. Dan lagi, saat ini dia sedang bersama Sekar di dalam perjalanan.


Dia ingat, beberapa saat yang lalu sempat meminta izin kepada mamanya untuk mengajak Sekar keluar menemaninya malam ini. Dann tanpa rasa keberatan sedikitpun, tentu saja nyonya kaya raya itu mengizinkan, dia malah senang melihat keakraban Arjuna dan juga Sekar. Niatnya untuk memberikan Arjuna adik akhirnya terwujud melalui kedatangan Sekar. Setidaknya, begitulah dalam pandangannya, Sekar pantas menjadi adik Arjuna.


"Emang mau ke mana sih, Jun, ngajak Sekar segala?" tanya mama sambil merangkul putranya itu.


"Ada temen aku yang lagi ngadain acara, Ma, jadi aku minta Sekar temenin."


"Ya sudah, Mama pasti mengizinkan. Itu lebih baik daripada kamu pergi sama Lola."


"Emang papa nggak cerita sama Mama, kalau aku udah mutusin Lola?" tanya Juna dengan santai.


Nyonya besar itu sempat terkejut tapi dia tersenyum puas, dia mengacungkan kedua jempolnya kepada Arjuna, nampaknya memang tuan Beno belum menceritakan apapun kepada istrinya.


"Nah, ini yang pengen Mama dengar dari kemarin. Akhirnya kamu itu sadar kalau Lola itu benar-benar nggak pantes buat kamu. Kamu sekarang mesti mempersiapkan diri untuk menerima kehadiran Ema."


Mendengar hal itu dari mamanya, Arjuna sempat terdiam beberapa saat kala itu. Tapi dia tidak menggubrisnya, hanya memberikan segaris tarikan senyum kepada ibunya itu. Arjuna memang sudah memantapkan hati untuk tidak membantah apapun dulu terhadap pilihan dari mamanya itu saat ini walaupun sebetulnya dia tidak yakin bahwa dia sudah menerima perjodohannya dan juga Ema.


Sekarang, alam pikiran Juna kembali lagi. Saat ini dia sedang menoleh kepada Sekar yang tampak cantik dengan dress bermotif kupu-kupu berwarna cerah di tubuhnya yang putih itu dan itu memang cukup membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Itulah dress yang dibelinya beberapa hari yang lalu di pasar, Sekar juga tidak menyangka ketika benda itu dipakaikan di badannya, dia terlihat sangat mahal padahal harganya sangat murah.


"Emangnya ada acara apa sih, Mas?" tanya Sekar mengalihkan pandangan yang akhirnya membuat pandangan keduanya bertemu. Arjuna segera mengalihkan pandangannya ke depan, dia tidak ingin nanti Sekar berpikiran macam-macam karena ketahuan sedang melihatnya untuk waktu yang cukup lama apalagi dengan keadaan sambil menyetir begitu.

__ADS_1


"Acara tunangan temennya gue. Gue nggak enak kalau nggak dateng. Dulu waktu gue nikah, mereka pada datang."


Sekar mengangguk-angguk saja, bahkan sampai saat ini dia tidak menyangka kalau Arjuna akan mengajaknya.


Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya sampai. Sekar dan Arjuna turun dari mobil, lelaki itu membawa Sekar ke dalam. Awalnya mereka berjalan bersisian saja, tapi kemudian Arjuna malah meraih jemari gadis itu dan menggenggamnya, membawanya ke dalam keramaian ke tempat acara berlangsung. Sekar tak sempat menepis tangan itu dan entah mengapa pula, merasa nyaman saja membiarkan jemarinya digenggam oleh lelaki yang saat ini sedang diam dan menatap lurus ke depan itu.


"Mas, mereka pada ngeliatin kita loh." Sekar mengingatkan.


"Biarin aja lah, Sekar. Mereka gitu karena mereka tahu dulu gue pacarnya Lola."


"Gimana kalau mbak Lola juga datang malam ini?" tanya Sekar sambil menarik nafas panjang. Dia sama sekali tidak takut dengan perempuan itu, hanya saja dia tidak ingin mencari masalah.


"Udah, nggak usah dipikirin. Gue aja nggak mikirin kok."


"Siapa yang berani? Mereka tuh tahu siapa Arjuna, mereka nggak bakalan berani mikirin macam-macam, kalaupun mereka mikir macam-macam dan mereka menggunjing gue atau lo, itu nggak akan berani secara terang-terangan."


Sudahlah, Sekar malas berdebat dengan Arjuna. Lagi pula dia hanya menemani lelaki itu tanpa ada maksud tertentu, mereka menikmati acara dan sempat berkumpul pula dengan beberapa orang. Arjuna memperkenalkan Sekar sebagai adik angkatnya, sesuai dengan kenyataan yang ada saat ini tentang status perempuan itu.


"Gue kamar mandi ya, Mas, udah kebelet nih," ujar Sekar kepada Arjuna yang segera mengangguk. Lelaki itu membiarkan Sekar bahkan tadinya sempat ingin mengantar Sekar pergi ke kamar mandi, namun Sekar menahannya, karena dia bisa sendiri dan tidak ingin membuat acara bincang santai dengan teman-teman Arjuna itu menjadi buyar.


Namun, setelah Sekar keluar dari kamar mandi, dia mendapati gerakan yang cukup cepat pada lengannya, membawanya ke sudut kamar mandi kemudian terasa sebuah tangan mencengkeram lehernya dengan cukup kuat. Sekar melihat dan menatap perempuan yang saat ini sedang menatapnya dengan marah. Dia tahu betul siapa perempuan yang saat ini sedang berdiri dengan dress serupa kemben itu dengan nyalang mata yang marah menatap Sekar.

__ADS_1


"Lo kan yang akhirnya bikin gue sama Arjuna pisah? Sialan lo anak kecil!" maki Lola.


"Lo kali yang salah paham, Mbak, bukan gue yang bikin mas Arjuna akhirnya mutusin lo dan gue juga nggak tahu menahu tentang itu, lo tanyain sendiri kenapa mas Juna mutusin lo."


Sekar menjawab dengan tenang dan tetap membiarkan cengkraman jemari Lola pada lehernya, meski nafasnya tempat tercekat untuk beberapa saat, tapi dia tetap menampilkan wajah yang tenang agar Lola tidak berpikir bahwa dia bisa menindas Sekar begitu saja.


"Gue yakin lo yang udah mempengaruhi Arjuna untuk mutusin gue kan? Lo tuh sama aja ya sama nyokap bokapnya Arjuna, melihat orang cuman dari luarnya doang! Lo pikir lo lebih baik daripada gue!"


Sekar menggeleng-geleng sambil menarik bibirnya melihat kelakuan perempuan yang sedang marah besar itu. Beberapa tu perempuan yang masuk dalam kamar mandi melihat mereka tapi tidak berani mencegah.


"Gue kasih tau sama lo ya, Mbak, mas Arjuna itu sebentar lagi bakalan nikah sama adiknya almarhum mbak Eva. Mungkin karena itu akhirnya dia mutusin lo bukan karena kehadiran orang lain termasuk gue."


Mendengar itu, Lola jadi mengendurkan cengkramannya perlahan. Dilepaskannya leher perempuan itu dan dihempaskan ke samping, Sekar mengusap perlahan lehernya yang terasa sedikit sakit, tapi menggeleng, kemudian mencuci tangannya di wastafel dengan gayanya yang santai, seolah tak ada yang terjadi di antara mereka barusan.


"Sekar, lo nggak bohong kan tentang ini? Setahu gue, Eva itu nggak punya adik! Ini pasti akal-akalan lo doang kan!" tuding Lola.


"Mbak Lola itu nggak tahu apa-apa ya ternyata tentang mas Arjuna. Denger ya Mbak, perempuan yang bakal menikah sama


mas Arjuna itu namanya mbak Ema, sekarang dia tinggal di Bandung bahkan Neira sekarang lagi sama dia. Sorry, Mbak, yang gue tahu cuman itu, perihal perasaan mas Arjuna sama mbak Ema, itu cuma mas Juna sendiri yang tahu."


Sekar berlalu dari hadapan Lola yang masih syok mendengar informasi itu. Perempuan itu tidak mengejarnya, tapi tetap saja dia merasa ada yang berbeda dari Arjuna semenjak ada Sekar, walaupun sekarang dia mendengar kenyataan bahwa Arjuna akan menikahi adik kandung istrinya sudah meninggal itu, tapi kuat keyakinan Lola bahwa Arjuna itu sebenarnya juga tertarik kepada Sekar.

__ADS_1


Saat Sekar sudah kembali ke tengah acara, Arjuna ternyata tidak ada. Lewat salah satu teman Arjuna, dia mengatakan kepada Sekar bahwa Arjuna saat ini sedang berada di lantai atas, tepatnya di balkon gedung itu, jadi Sekar pergi ke sana dan ternyata memang benar, ada Arjuna di sana. Lelaki itu sedang memegang segelas minuman dingin di tangannya.


Untuk sejenak, keduanya berpandangan, Arjuna menarik segaris senyuman kepada Sekar yang dibalas perempuan itu dengan senyuman yang sama. Lalu Sekar mendekat dan mereka berdiri bersisian, memandang ke langit luas tanpa ada kata yang terucap untuk beberapa saat. Hanya ada hembusan nafas dan juga wajah lepas yang sedang menatap langit luas dengan hati yang masing-masing saling berkelanan itu entah kemana.


__ADS_2