
Sudah dua hari sejak kedatangan Ema waktu itu. Sekar kini juga sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti test yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Di sela kesibukannya mengasuh Neira, dia juga menyempatkan diri untuk belajar.
Ema katanya sudah menetap di Jakarta. Beberapa hari ini, rumah megah kedua orangtua Arjuna itu pasti akan selalu kedatangan Ema. Ema selalu datang, menghadiahi nyonya besar dengan berbagai barang mahal juga kue-kue manis kesukaan.
"Lo lagi ngapain?"
Sekar menurunkan bukunya, dia sekarang memang sudah lebih terbiasa setiap kali Arjuna masuk ke dalam kamarnya. Kecuali ketika Sekar sedang berganti baju dan tidur, dia sekarang pasti tidak akan lupa mengunci pintunya seperti dulu.
"Belajar, Mas."
"Baguslah, biar gak sia-sia lo ikut test entar."
"Mas Juna tahu, gue mau kuliah?"
"Tahulah, nyokap kan cerita semua hal sama gue."
Sekar mengangguk, dia kembali menekuni bukunya. Arjuna menatapnya sesekali sambil memainkan ponsel lalu merebahkan diri di ranjang Sekar yang tak seberapa besar itu.
"Mas, keluar sana, gue mau belajar."
__ADS_1
"Gue cuma rebahan bentar, Sekar, pelit banget sih."
Sekar menatap Juna dengan bibir mengerucut. Dia kembali meneruskan kegiatan belajar. Sekarang, keduanya memang sudah cukup dekat, Sekar mulai membiasakan diri dengan kehadiran Arjuna yang kini telah menjadi kakak angkatnya.
Saat dia menoleh, dilihatnya Arjuna sudah memejamkan mata. Sekar menghela nafas panjang.
"Tuh kan, ketiduran!" Ia berdecak sebal.
Mau tak mau, Sekar membiarkan saja, rencananya kelak setelah belajar, dia akan tidur di kamar Neira. Namun, setelah cukup lama menekuni bukunya, rasa kantuk menyerangnya seketika, membuatnya menguap beberapa kali. Sekar merebahkan kepalanya di sandaran kursi, dengan tubuh yang sekarang meringkuk dan buku yang dia peluk.
Beberapa jam kemudian, di saat udara mulai terasa cukup dingin, Arjuna terbangun. Dia membuka matanya perlahan lalu mengangkat tubuhnya. Ponselnya ternyata sudah jatuh ke atas lantai.
"Cantik," gumam Arjuna tanpa sadar.
Sekar tampaknya tak terusik, ketika Arjuna mengangkat tubuhnya perlahan, bermaksud untuk memindahkannya ke atas ranjang. Ia merebahkan Sekar perlahan dan saat itu pula, mata Sekar perlahan terbuka.
Arjuna masih menahan tubuh Sekar yang sudah berada di atas kasur, situasi ini begitu membius. Sekar tak tahu ketika pada akhirnya, Arjuna tanpa sadar memajukan wajah lalu mulai memagut bibirnya mesra.
"Mas ..." Sekar mencoba membuat dia dan Arjuna sadar tetapi setelah beberapa kecupan, ia malah membuka mulutnya lebih lebar.
__ADS_1
Sungguh, ini kali kedua ia dan Arjuna berciuman tetapi yang ini rasanya lebih berbeda dan sialnya, Sekar malah menikmatinya. Arjuna kemudian melepaskan ciumannya, menatap dalam mata sendu Sekar.
"Sorry ..." bisiknya.
Sekar hanya diam saja, menatap lelaki itu dengan cara yang lain. Sungguh, kenapa dia bisa begitu saja menikmati kecupan demi kecupan Arjuna untuknya bahkan terasa ada sesuatu yang bergejolak hebat di rongga dadanya saat ini.
"Kenapa, Mas?" tanya Sekar serak.
"Entah, Sekar, gue juga gak paham. Tapi, gue gak tahan lihat lo malam ini."
Sekar terdiam, dia menunduk, hingga akhirnya suara tangisan Neira segera menyadarkan. Sekar bergegas keluar dari kamarnya, menuju kamar Neira. Sementara Arjuna sekarang juga menyusul Sekar ke kamar anaknya.
Lelaki itu mendekat, bersama Sekar malam itu dia membantu menenangkan Neira. Jarak mereka bertiga sedemikian dekat.
"Udah tidur?" tanya Arjuna kepada Sekar yang segera mengangguk.
Arjuna ikut mengangguk pula, Neira masih berada di dalam buaian Sekar dengan Arjuna yang membersamainya, di bawah sinar bulan yang masuk dari jendela terbuka, ketiganya terbungkus indah bagai sebuah figura keluarga kecil yang bahagia.
Sekar dan Arjuna saling berpandangan, lalu tanpa bisa Arjuna tahan, ia kembali menautkan bibirnya dan Sekar dengan lembut. Perasaan keduanya terasa tertaut apalagi setelah mereka saling menatap Neira yang begitu nyaman dalam buaian keduanya.
__ADS_1