
"Itu Neira sama Ema kayaknya udah dateng," ujar nyonya Mira kepada Sekar yang segera mengangkat wajahnya dari keasyikannya melihat brosur universitas ke arah sebuah mobil dengan supir yang sedang terparkir rapi di garasi panjang dan terbuka rumah itu.
Senyum di wajah Sekar terbit, itu artinya dia akan segera bersama Neira lagi. Sekar sungguh tak sabar ingin segera menggendong dan mengajak gadis kecil itu bermain.
"Iya, Bu, itu mereka."
Sekar menunjuk Ema yang tampak kewalahan menggendong Neira karena rewel. Supir segera menghentikan laju mobil tepat di samping mobil milik Ema terparkir.
"Sudah lama kamu, Em?" tanya nyonya sesampainya ia dan Sekar di dekat perempuan berparas cantik itu.
"Belum kok, Ma, sekitar lima belas menit yang lalu."
"Ya udah, sekarang kita ke dalam. Kenapa gak masuk aja sih dari tadi? Kan kamu kecapean."
Ema tampak tersenyum kecil lalu menyerahkan Neira kepada Sekar yang dengan senang hati menerimanya. Sekar lalu membawa Neira yang kini sudah tenang dan terlihat tertawa menatap pengasuhnya itu.
"Ke taman belakang yuk," ajak Sekar kepada Neira yang mengangguk-angguk lucu sambil mengedip-ngedipkan matanya kepada Sekar.
Sementara Sekar bersama Neira, tak jauh dari kolam renang, Ema dan nyonya baru saja mendaratkan tubuh mereka di atas kursi santai.
__ADS_1
"Sum," panggil nyonya kepada salah satu pelayan yang kebetulan sedang lewat tak jauh dari sana.
"Iya, Nya."
"Buatkan minuman dingin sama bawa buah yang baru saya beli semalam ya."
Pelayan itu mengangguk patuh dan tak lama kemudian kembali dengan dua gelas minuman dingin, kue dengan rasa greentea juga buah yang sudah dikupas bersih serta di potong dadu.
"Dari mana sih, Ma?" tanya Ema penasaran, sesekali dia menatap Sekar yang tengah asyik dan begitu telaten mengasuh Neira.
"Baru aja nganterin Sekar buat daftar kuliah."
Ema tampak diam sesaat, pandangannya kembali terarah kepada Sekar.
"Iya, Em. Sekar itu masih muda, sayang banget kalau dia gak kuliah. Mama pengen semua anak-anak jadi sarjana, sama kayak Arjuna dulu. Sekar juga Mama kuliahkan di universitas tempat Juna dulu."
"Tapi, dia kan cuma pengasuh, Ma. Apa Mama gak terlalu berlebihan, bukannya apa sih, Ma, nanti anaknya malah besar kepala."
Meski diucapkan dengan begitu hati-hati, tapi sebetulnya nyonya kurang setuju dengan tanggapan Ema barusan. Namun, dia hanya tersenyum, mungkin orang di luar sana juga akan berpikir sama seperti Ema.
__ADS_1
"Dia memang pengasuh Neira, tapi kan Mama sudah mengangkatnya juga jadi anak. Sekar sudah Mama anggap seperti anak sendiri. Kamu tahu gak, Em, semenjak ada Sekar, Arjuna sekarang jadi lebih terbuka sama kami. Arjuna jadi lebih banyak bicara, bahkan semenjak ada Sekar sebagai adiknya, Arjuna sering terlihat bercanda dan tertawa barengan Sekar. Yang paling bagus, Arjuna sekarang sudah putus dari Lola."
Mendengar itu, Ema hanya tersenyum kecil. Entah mengapa, di hatinya sekarang ada rasa cemburu untuk gadis yang baru menanjak delapan belas tahun itu. Namun, dia sebisa mungkin untuk mengenyahkan pikiran itu. Lagipula, dia yakin Arjuna pasti tak akan tertarik dengan Sekar yang berpenampilan biasa itu. Dan bukannya sudah jelas bahwa Sekar hanyalah pengasuh yang naik derajat karena diangkat anak oleh calon mertuanya itu.
"Ma, gimana kalo kita keliling. Rumah Mama ini besar banget. Kadang aku penasaran ada ruangan apa aja di dalam."
"Oh, boleh, Em. Ayo," sahut nyonya sambil tersenyum lalu merangkul Ema dan membawanya ke dalam.
Mereka berkeliling, nyonya menjelaskan ruangan apa saja yang ada di dalam rumah megah itu. Lalu, mereka berhenti di sebuah ruangan favorit Eva dulu. Sebuah ruangan dengan piano yang sudah lama tidak tersentuh.
"Ini ruangan favorit kakakmu, Em. Dia pandai sekali bermain piano."
Ema masuk ke dalam, mengusap perlahan piano itu seolah sedang merasakan kembali kehadiran sang kakak yang telah pergi.
"Mama ada telepon, kamu sendiri dulu ya." Nyonya Mira menunjukkan layar ponselnya yang berkedip.
"Iya, Ma. "
Ema kembali menelusuri ruangan itu, lalu berhenti di sebuah bingkai foto. Foto kakaknya yang tersenyum manis.
__ADS_1
"Aku yang akan gantiin posisi kakak. Maaf ya Kak, tapi aku jatuh cinta sama mas Juna sejak lama."
Seakan sedang berbicara dengan kakaknya, Ema menatap dalam foto itu kemudian dia meletakkannya lagi. Setelah itu, dia keluar dan kembali ke area kolam renang. Dia melihat kini Sekar sedang menidurkan Neira dalam buaiannya. Pandangan keduanya kemudian bertemu, Sekar menarik segaris senyum yang dibalas oleh Ema dengan senyuman pula. Namun, entah mengapa Sekar melihat ada yang lain dari senyuman itu. Seperti sedikit sinis, entah hanya perasaannya saja.