Bunda Untuk Neira

Bunda Untuk Neira
Feel


__ADS_3

"Kita mau kemana sih, Mas?" tanya Sekar setelah berada di dalam mobil dan mereka hanya diam saja.


"Lo bakal tahu bentar lagi."


Dan betul saja, mobil mewah Arjuna kini berbelok ke sebuah area pemakaman umum. Sekar segera sadar bahwa mungkin saja, Arjuna mau ziarah ke makam Eva.


"Yuk turun," ajaknya.


Sekar mengangguk saja, dilangkahkan kaki turun dengan Arjuna yang menyusul dan ternyata sudah membawa sekeranjang sedang bunga.


Mereka sampai di sebuah makam dengan nisan bertuliskan Eva Prawiro Sanjaya. Sejenak, hati Sekar jadi menghangat, setidaknya dia masih bisa menyaksikan ketulusan Arjuna lewat kedatangan mereka hari ini.


Juna mulai duduk di sebelah makam, di seberang menyusul Sekar yang segera membantu lelaki itu menaburkan bunga.


Mereka kini larut dalam keheningan, Juna tampak memandang nisan itu dan mengusapnya perlahan.


"Kamu tenang aja, Va, Neira sekarang udah bisa ceria lagi."


Sekar mendengarnya dengan seksama. Lalu mereka diam lagi, Juna sibuk dengan doanya begitu juga Sekar yang ikut mendoakan mendiang ibu Neira itu.


"Ayo," ajak Juna lagi setelah selesai. Lagi, Sekar menuruti.


Setelah sampai di mobil, tadinya Sekar pikir, Arjuna akan membawanya segera pulang. Ternyata lelaki itu malah melajukan kendaraannya semakin menjauh dari hiruk-pikuk ibukota. Sekar juga enggan bertanya lebih jauh, dia juga rasanya perlu sedikit menenangkan diri setelah berdebat sinis dengan sepupunya beberapa saat yang lalu.


"Kenapa mbak Eva enggak dimakamkan di bandung aja, Mas?" tanya Sekar pada akhirnya, memecah keheningan di antara mereka.


"Udah keinginan keluarga Eva sendiri. Katanya, biar nanti Neira kalo udah gede, enak ziarah ke makam mamanya."


Mendengar itu, Sekar jadi tersentuh. Dia yakin, Eva adalah perempuan yang sangat baik, karena itu, kedua orangtua Arjuna begitu menyayanginya seperti anak sendiri. Namun, hanya satu yang membuat Sekar agak sedih, sebab Eva belum sempat meluluhkan kerasnya hati Arjuna untuk menerima keberadaannya kala itu.


Mobil berhenti di sebuah pesisir pantai. Sekar baru pertama kali ke tempat itu. Dia segera mengikuti langkah Arjuna, sore mulai membias indah, keluar dan muncul dari batas cakrawala. Untuk sejenak, tak ada kata yang keluar dari keduanya, mereka hanya berdiri bersisian, merasakan semilir angin lembut yang begitu mendamba dengan suara cicit burung yang mungkin akan pulang ke sarangnya.


"Mbak Eva pasti adalah orang yang sangat baik ya, Mas." Sekar bergumam pelan, Arjuna mengangguk, tatapannya menerawang jauh.

__ADS_1


"Ya, Eva baik banget. Sangking baiknya, selalu terima setiap kali gue cuekin. Selalu sabar biar gue selingkuhin sama Lola. Eva selalu punya keyakinan kalo gue pasti ninggalin Lola dan kembali sama dia apalagi setelah ada Neira di antara kami."


"Terus, kenapa lo gak bisa menerima keberadaan dia, Mas? Gue aja yang cuma dengar dari ibu, bisa menyimpulkan kalau mbak Eva itu orang yang sangat baik. Padahal gue gak pernah ketemu sama dia."


Arjuna menarik nafas panjang seakan ada beban berat yang sedang menghimpitnya.


"Entahlah, tapi gue emang gak punya perasaan sedikit pun buat Eva."


"Makanya sampe sekarang, Mas masih sama mbak Lola?"


"Udah gue putusin, siang tadi."


Kali ini, Sekar tak langsung percaya. Matanya memincing dan itu disadari oleh Arjuna.


"Gue serius."


"Ehmmmmm, baguslah, Mas. Mungkin, emang mbak Ema yang sesuai untuk gantiin mbak Eva."


"Tapi kayaknya lo suka sama mbak Ema. Gue lihat kalian cepat akrab kok waktu di bandung."


Juna mengangkat bahunya, dia sendiri tak paham. Namun, untuk sesaat, dia memandang Sekar begitu lekat.


"Lo udah punya cowok?" tanya Arjuna tiba-tiba.


"Enggak. Lagi gak kepengen pacaran."


"Bagus deh, kan lo udah jadi anak angkat nyokap bokap gue. Artinya lo udah jadi adik gue juga. Gue gak suka punya adek kegatelan."


Sekar mengerucutkan bibirnya, Juna memandangnya dengan sedikit senyum kecil. Sekar itu cantik, dia baru sadar sekarang. Hanya saja, perempuan itu tak pernah berdandan. Namun, justru kecantikannya natural dan alami tanpa polesan make up yang tebal.


"Gue kangen Neira," keluh Sekar pelan.


"Gue juga kangen Neira kok."

__ADS_1


"Gue kirain lo gak peduli Neira."


"Biar gini, gue sayang sama Neira," bantah Arjuna.


Sekar hanya mengangguk saja, lalu keduanya berjalan bersisian di pinggir pantai. Mereka juga tak lagi memakai alas kaki, air laut terasa begitu hangat.


"Mas, kok bisa tahu ada danau tadi?"


"Sebenarnya itu bukan danau alami, Sekar. Dulu memang ada penggalian besar-besaran dan membentuk lengkungan jadi keluar mata air di sana. Jadilah kayak danau, di sana ada proyek gue yang bakal dibangun. Makanya gue sering mantau ke sana."


Sekar jadi manggut-manggut. Kini, mereka saling memandang langit yang sudah jingga. Sekar tersenyum kecil dan hal itu Arjuna saksikan lewat samping tanpa Sekar sadari.


Cukup lama mereka berada di pantai hingg langit mulai menggelap.


"Ayo pulang, Mas, gak enak sama ibu kalo gue pulangnya lama."


Arjuna mengangguk, lalu ketika baru saja hendak berbalik, tanpa sengaja, kaki Sekar tersandung sebuah akar membuatnya jadi hampir terjatuh. Namun, Arjuna sigap menangkap tubuhnya, sekian detik kejadian di Bandung seperti terulang. Arjuna segera melepaskan Sekar dengan perlahan. Tak ada lagi kata yang terurai, saat mereka berjalan dan masuk ke dalam mobil, hanya suara musik yang mengalun merdu dan mendayu.


Seringkali mereka jadi saling menoleh dan bertemu pandang. Sekar kini fokus menatap jalanan di depan meski dia sadar bahwa beberapa kali, Arjuna sering melirik ke arahnya.


"Neira kapan pulang ya, Mas?" tanya Sekar akhirnya, menetralisir rasa yang aneh dengan pertanyaan seputar Neira.


"Gue coba telepon Ema malam ini biar tahu kapan dia bawa Neira pulang. Kalo kelamaan, mungkin gue bakal jemput Neira nanti."


Sekar hanya mengangguk saja, dia sebenarnya tak enak juga meminta Neira segera pulang, tapi dia memang sangat rindu pada gadis kecil itu.


"Gue ada acara malam minggu nanti, ada undangan dari temen. Lo temenin gue, bisa?" tanya Juna.


"Tergantung ibu kasih izin atau enggak, Mas."


"Gue yang ngomong ke Mama. Gue males pergi sendiri."


"Ya udah." Sekar hanya mengangguk saja, dia kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sekarang, sikap Arjuna jadi lebih lunak kepadanya. Dia cukup merasa senang tapi tidak serta merta membuatnya terbuka kepada lelaki itu. Dia hanya ingin seperti ini saja, Sekar tak ingin ada rasa yang tumbuh. Sebab sekarang, perasaannya jadi aneh setiap kali Arjuna dekat dengannya. Kalau dibiarkan, dia takut hatinya jadi mengira yang tidak-tidak. Sekar hanya menganggap, bahwa Juna sudah menerima dirinya sebagai pengasuh sekaligus adik angkat saja.

__ADS_1


__ADS_2