
Hening.
Memang belum ada kata yang terucap dari Arjuna maupun Sekar. Mereka masih bersisian, memandang langit dan bintang-bintang, juga bulan yang sinarnya cuma separuh kelihatan.
"Kar, menurut lo, udah paling bener belum perjodohan gue sama Ema?"
Sekar menoleh, dia tak langsung menjawabnya. Dia juga bingung harus menanggapi pertanyaan itu dengan apa. Sekarang, dia bisa melihat kalau Arjuna itu memang seperti sudah sangat lelah dicecar kedua orangtuanya. Nyonya dan tuan seakan tahu betul apa yang paling baik bagi Arjuna, padahal itu belum tentu baik bagi Arjuna yang akan menjalaninya.
"Gue gak tahu, Mas. Gak berani buat kasih tanggapan. Cuma, gue pikir lo dan dia adalah pasangan yang cukup serasi."
"Secara fisik memang iya. Ema cantik, bahkan lebih cantik dari kakaknya. Tapi, gue cuma takut nanti mengulangi kesalahan untuk kedua kali. Gimana kalo setelah menikah, rasanya bakal sama aja, hambar?"
"Kenapa lo tanya gue, Mas? Semua jawaban ada di dalam hati lo sendiri. Dan lo lakuin semua ini buat siapa?"
"Neira. Gue tahu dia memang butuh sosok seperti ibunya yang udah enggak ada. Tapi, gimana sama gue, Sekar?"
__ADS_1
Sekar mengatupkan bibirnya, dilihatnya Arjuna yang tampak bimbang. Wajah tampan dan tubuh tegap dambaan setiap perempuan itu tampak seperti sedang nelangsa dan itu begitu tergambar jelas dalam sorot matanya.
"Ikuti kata hati lo aja, Mas. Gue gak bisa kasih solusi apalagi kalo itu adalah keputusan bapak sama ibu."
Arjuna mengangguk sesaat, dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Sekar, bahkan tubuhnya sudah berbalik. Sekar yang sadar dengan pergerakan itu juga segera berbalik, sekarang mereka jadi berhadapan.
"Gimana sama lo?"
"Gue?"
"Kan lo udah jadi adik gue sekarang. Gue pengen lihat tanggapan lo tentang Ema waktu Neira lagi sama dia."
"Neira aman-aman aja sih, Mas. Cuma mungkin perlu sedikit adaptasi sama mbak Ema. Lagipula, kalo seandainya kalian nikah entar, toh kalian pasti bakal punya anak lagi, mungkin itu akan membuat mbak Ema jadi lebih peka sama bayi."
Arjuna mengerutkan keningnya, dia bukan orang bodoh. Pernyataan Sekar seperti mengandung hal yang sedikit janggal.
__ADS_1
"Gue gak kepikiran bakal punya anak lagi, Sekar. Gue takut nanti nasibnya bakal sama kayak Neira. Lo tahu kan, gimana rasanya nikah tapi gak ada perasaan sama sekali?"
"Gue gak tahu, Mas, kan belum pernah nikah." Sekar terkekeh. Arjuna ikut tertawa juga.
Setelah itu mereka saling melempar tawa. Malam sudah cukup larut hingga akhirnya mereka harus turun dan pulang.
Di dalam mobil, Sekar seperti sudah terkantuk-kantuk, hal itu membuatnya beberapa kali nampak membuka tutup matanya. Namun, akhirnya dia tetap terlelap juga.
Sampai di garasi, Arjuna tak langsung turun atau membangunkan gadis itu. Dia malah asyik menatap wajah Sekar yang tengah terlelap. Lelaki itu tersenyum kecil, dia yakin, setelah ini hari-harinya akan lebih sering dihabiskannya bersama Sekar si adik angkatnya itu.
Juna tak juga membangunkan Sekar, dia sibuk mengabadikan wajah gadis itu dalam ponselnya. Dia menunggu sampai Sekar bangun sendiri.
"Mas, sorry gue ketiduran."
"Gak papa, sekarang lo turun ya. Tar nyokap bingung lihat lo belum masuk."
__ADS_1
Sekar mengangguk lalu turun dari mobil Arjuna dengan mata yang masih terkantuk-kantuk. Arjuna sendiri masih di dalam mobilnya, dia mulai membuka galeri dan tersenyum kecil melihat wajah cantik yang sedang terpejam itu.
Lalu, pikirannya seperti terbuka, apa begini rasanya punya adik? Atau ini perasaan lain yang tidak berani dia jabarkan lebih lanjut?