Cahaya Di Tanah Papua

Cahaya Di Tanah Papua
Episode 1.


__ADS_3

“MAMA!”…...........


Hutan itu gelap mencekam. ia tidak tahu kemana lagi melangkahkan kaki mungilnya. perasaannya di penuhi ketakutan dan nyaris meruntuhkan tubuh mungilnya. jantungnya berdetak kencang di tengah deru nafasnya yang saling berkejaran. kelopak matanya kian lebam akibat airmata yang menghalangi pandangannya. dalam tarikan nafas panjangnya ia menjerit sekencang mungkin saat memanggil ibunya. suara melengkingnya seakan memecahkan gendang telinga hingga tenggorokannya nyaris sakit. namun ibunya tidak menunjukan tanda-tanda keberadaanya


Gadis mungil berambut keriting sebahu itu nampak lelah dalam keheningan. nafasnya tersengal. kaki mungilnya gemetar lalu bergerak mundur menghempaskan punggungnya ke pohon besar yang menjulang tinggi. angin dingin mulai membelai tipis daun telinganya, menangkap gemericik suara dedaunan yang memaksa ia untuk tetap berdiri walau rongga dadanya tercekat selama beberapa saat. jari jemari lembutnya mengusap keringat yang membuncah di wajah mulusnya. bola matanya berputar liar untuk memastikan tidak ada yang mengejarnya.


Redana tidak ingat kapan terakhir pandangannya terlepas dari ibunya, yang ia tahu ibunya berlari dan menggenggam erat jari-jemarinya di samping Redana, namun langkah gadis kecil itu jauh lebih cepat sehingga akhirnya terpisah. ia pun membalikkan badan dan kembali berlari mencari ibunya, tapi apa yang terjadi. Redana justru anak kecil yang tersesat di tengah hutan luas dan mengorbankan dirinya yang mungkin saja binatang buas sedang berkeliaran di sekitar hutan untuk mencari mangsa.


Kemana harus mencari ibunya?.


Tak pelak pertanyaan itu membuat Redana bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ia tidak ingat persis berapa lama mereka berlari di tengah gelapnya hutan. yang mungkin sudah tidak terhitung dalam itungan waktu. gadis kecil itu bingung, panik dan terisak saat berdiri membeku di bawah pohon akibat angin malam yang menggulung pelan tubuh mungilnya.


Nampaknya sang ibu tertangkap kembali oleh sekelompok pengawas ladang saat Redana dan ibunya melarikan diri dari jual-beli perbudakan, atau mungkin saja ibunya terbawa oleh gelapnya hutan dan lebatnya pohon-pohon sangar yang mengelilingi mereka.


Apa yang akan di lakukan Redana?.


Bukankah mereka ingin melarikan diri bersama?.


Ia tidak bisa menentukan tempat yang akan di tujunya. gadis kecil itu bahkan tidak tahu apakah harus kembali ke pondoknya atau kembali ketempat dimana ibu nya di kurung. Redana nampak gamang dan entah harus memulainya dari mana. sementara itu ia tidak ingat arah jalan saat kali pertama mereka memasuki bibir hutan. tapi Redana pun tidak bisa berlama-lama di dalam hutan hanya untuk menunggu keajaiban.


Redana terdiam sejenak. otaknya bergerak cepat dan menghitung waktu dalam batin. harapannya tak pernah putus meski malam semakin pekat. Redana tidak akan berhenti melakukan segala upaya untuk mencari sang ibu. gadis kecil itu dengan sekuat tenaga melanjutkan pencarian terakhirnya. berlari sejadi-jadinya di tengah gemuruh suara petir yang menyelinap masuk ketika suara itu memaksa Redana membuka kedua matanya.


Apa yang terjadi?.

__ADS_1


Redana bermimpi, bahkan bukan hanya sebatas mimpi biasa. ia bermimpi pada suatu peristiwa yang di alaminya saat ia kecil. saat ia melarikan diri bersama ibunya. saat kali terakhir ia memegang jari jemari ibunya. saat ia kembali berlari untuk mencari ibunya, lalu dalam pelarian panjangnya, seketika pukulan yang nyaris mematahkan tengkuk membuat Redana terjerambab mencium tanah lembab sebelum ia tersedak oleh bunyi suara pecut cambuk yang di kibaskan mengarah kepunggungnya, bunyi yang menyadarkannya bersama gemuruh suara petir.


Redana tersadar dari mimpi panjangnya. bola matanya membesar ketika mendapati dirinya berdiri lemah di tiang cambuk. dan parahnya lagi kedua tangannya terikat melingkar di tiang itu tepat di depan mata. ia terdiam sesaat. telapak telanjangnya menjejak di atas hamparan rumput-rumput liar di belakang pekarangan rumah yang bercorak khas bangunan belanda.


Redana menghela nafas lelah sembari menempelkan pipinya ke tiang itu. benaknya berusaha tetap tenang untuk menghadapi sesuatu yang mengerikan, sesuatu yang bisa membuatnya gila. kemudian perlahan Redana mencoba mengerakkan tangannya, namun gerakan tangannya tertahan oleh tali yang mengikat pergelangan tangannya dengan keras. darahnya mengalir deras di seluruh urat nadinya saat matanya tak sanggup berkata.


Redana menahan diri untuk tidak bergerak dan mendengarkan deru nafasnya sendiri. mengencangkan otot-otot seluruh tubuhnya sebelum menikmati rasa sakit yang akan terjadi hari ini. rasa sakit yang akan melukai kulit exoticnya.


Wanita berambut keriting sedada itu kini mulai pasrah dengan wajah kusut masainya. otaknya berputar cepat. mengalihkan rasa sakit yang sewaktu-waktu memaksanya membuka kelopak mata. Redana menilik dan mendapati pria bertubuh tinggi besar dengan kulit putih yang menonjolkan otot-otot di seluruh tubuhnya berdiri sigap beberapa langkah di belakangnya. menyiapkan aba-aba dalam tarikan nafas beratnya. kemudian Markus mulai mengibaskan pecut cambuk ke udara sebelum berlabuh di punggung wanita itu.


Matanya melebar, tubuhnya mengejang akibat cambukan yang semakin tajam semakin ingin membelah punggungnya. Redana mengerang pada bagian tubuhnya yang terluka. tenggorokannya tercekat hingga nyaris tak mengeluarkan teriakan yang membabi buta. lalu mengepal kedua tangannya dan menekan kuat tubuhnya serapat mungkin ke tiang itu. bahkan Redana tak peduli seberapa keras tiang itu.


Jari jemari Markus dengan ukuran sebesar bayi yang hinggap di lecut cambuk itu seakan mewakili malaikat pencabut nyawa di tengah hari. Redana terdongak dan mengerkah. kedua kaki jenjangnya lebih mengeras untuk menopang tubuh lunglainya. menahan rasa sakit saat pria itu tidak berhenti melakukan aksinya. bahkan Redana bisa merasakan dengan jelas bagaimana cambukan itu menyiksa tubuhnya. menimbulkan rasa sakit yang tidak bisa di gambarkan. membuat Redana tidak tahan untuk tidak mengerang.


Tidak perlu berpikir pun Redana sudah tahu bahwa dirinya akan di bawa ketiang cambuk itu setelah pertengkarannya dengan pengawas ladang. pria yang saat ini sedang mencambuknya tanpa jeda. tiang dimana tempat untuk setiap budak menerima hukuman, atau lebih extremenya lagi tempat penyiksaan.


Dalam beberapa saat kemudian pandangan Redana mulai samar terbawa sengatan matahari atau terbawa suara lantang dari seorang wanita cantik yang baru tiba dari berkuda.


“Hentikan!”.....


Markus terperanjat ketika menangkap suara lantang Lara yang tak jauh dari arah belakangnya, pria itu dengan cepat langsung menghentikan aksinya. kemudian membalikan badan bersama pecut cambuk yang masih di genggam di salah satu tangannya ketika Lara terkesiap turun dari kuda hitamnya.


Wanita itu menundukan kepala dan berlutut lemah. nafasnya menderu pelan dengan mata terpejam. rasanya Redana ingin menjerit sekeras mungkin, dan iya. sudah sepantasnya Redana menjerit untuk meluapkan rasa sakit akibat cambukan itu yang meninggalkan luka di sepanjang punggungnya. tapi ia tidak melakukannya. bahkan Redana membiarkan tubuhnya terluka.

__ADS_1


Di balut gaun putih panjang sekaki dengan rambut hitam di gelung. Lara bergerak jalan beberapa langkah dan berdiri sigap di hadapan Markus. sorot matanya yang tajam menangkap darah yang mengalir dari punggung Redana, sehingga menambah tinggi suara Lara.


“apa kamu sudah gila? memperlakukan wanita seperti itu?”.


“maaf nona…saya hanya menjalankan tugas”.


“cepat. bawa dia pergi dari sini!” suara tegasnya menyerukan perintah membuat pria itu terkesiap.


“baik nona”.


Markus membalikan badan dan berjalan sembari melempar pecut cambuk, lalu melepaskan ikatan yang melingkar di tangan Redana saat ia bersimbuh tak berdaya dan nyaris kehilangan kesadaran.


Sementara itu Lara hanya berdiri dalam diam. memastikan pria itu melepaskan Redana. kerut samarnya mulai memenuhi kening mulusnya, matanya tak berkedip saat pandangannya tertuju pada Redana. wanita yang pernah ia lihat saat dirinya sedang berada di perkebunan.


Dalam waktu yang begitu singkat, belati itu dengan cepat memotong ikatan yang melukai pergelangan tangan Redana. jantungnya berdetak kencang ketika akhirnya ia terbebas dari siksaan yang membuatnya mati rasa. airmatanya nyaris terbit ketika rasa sakit dari cambukan itu telah berhasil meremuk perasaannya. pikirannya kosong bersama otaknya yang mulai membeku saat Redana membiarkan tubuh langsingnya terangkat.


Pengawas ladang itu kemudian membopong Redana dan berlalu melewati Lara yang sedari tadi berdiri mematung. bulu mata lentiknya tak bergerak ketika pikiran Lara mulai bercabang. memikirkan pemandangan yang baru saja di suguhkan di depan mata hingga membuat mulutnya nyaris tak sanggup mengeluarkan kalimat. bahkan Lara belum sempat bertanya kepada Markus nama wanita itu saat pria itu membawa Redana menggunakan kuda putihnya yang terparkir di bawah pohon.


Sejujurnya ia ingin berontak atau setidaknya memuntahkan semua umpatan kasar kepada pria itu, tapi Redana pun tidak bisa berbuat sesuatu untuk melepaskan dirinya dari hukuman itu. hukuman demi hukuman yang telah lama singgah di kehidupannya hingga Redana dewasa.


Ikutin terus kelanjutan cerita Cahaya Di Tanah Papua. tetap open minded dan terus berkarya...yuk saling support


"Tragedi Cinta Terlarang"

__ADS_1


Baya Alanis


__ADS_2