
Bulan menggantung rendah di langit wamena. malam itu perasaan Redana terasa melegakan setelah akhir-akhir ini ia bisa menghirup sedikit kebebasannya tanpa perlu menyertakan rasa lelah di seluruh tubuhnya, dan ketika bagaimana ia bisa melihat pemandangan indah serta angin sejuk yang membelai wajah dan rambutnya saat menghabiskan waktunya bersama Lara. memberikan segenap waktu dalam hidupnya. merasakan sedikit lebih santai dan tenang untuk menjaga hati dan pikirannya. inilah yang di butuhkan Redana.
Tapi tentu saja, Redana tidak mungkin bebas dari perbudakan walau ia berteman baik dengan wanita itu. bila hanya mengikuti pikiran pendeknya. Redana mungkin akan berkata pada Lara bahwa ia ingin pergi jauh. tepatnya melarikan diri ketika ia memiliki kesempatan setelah beberapa kali ia pergi bersama Lara ke suatu tempat. yang mungkin itu adalah perbatasan. namun di saat bersamaan dan bahkan kini setelah ada koneksi yang tercipta dalam moment tersebut. Redana tak ingin berkhianat pada Lara. bahwa wanita itu telah memberikan perhatian penuh.
Dulu. ia pikir hal itu tidak akan pernah terjadi. ia sudah menangkap pesan tersirat dalam benaknya dan Redana merasa ia tidak akan pernah bisa sebebas ini. bahkan ia tidak ingat bagaimana dulu caranya menguatkan diri. bertahan menjadi budak hingga dewasa. kemudian Lara masuk kedalam kehidupannya. melebur kedalam pikirannya. memberikan ruang untuk dirinya. membawanya dalam kesenangan, karena ia tidak pernah benar-benar menikmati kesenangan itu sebelumnya. apa yang dulu di dambakan Redana, lalu di renggut oleh keadaan yang tidak bisa ia hindari.
Redana meneguhkan hatinya dan bersedia menerima wanita itu apa adanya. Lara anak dari seorang pria dengan masa lalu yang masih kabur di ingatannya. yang mana Redana tahu di suatu waktu dulu pria tersebut nyaris melecehkan ibunya. pria yang sangat mungkin sampai saat ini masih ingat peristiwa itu - apapun alasannya - pada ibunya. itu tidak masalah bagi Redana. ia bersedia melupakan peristiwa tersebut dan berdamai dengan kenyataan asalkan Lara melakukan hal yang sama - Redana ingin Lara melihat dirinya sebagai sahabat. bukan sebagai budak.
Andai saja dari dulu aku mengenal Lara. mungkin aku bisa bebas seperti…
Suara ketukan pintu menyerbu masuk ke dalam benaknya. mendorong pandangannya. Redana terdongak kearah pintu. mengalihkan fokus pandangannya dari lampu minyak. beberapa jengkal di hadapannya ketika Redana tidur meringkuk di lantai. dahinya mengernyit penuh keheranan.
Siapa yang datang ke pondokku malam-malam begini?.
Ia mendengus pelan dan memilih untuk mengabaikan pertanyaan itu. Redana beranjak bangkit. membawa lampu minyak. berjalan menuju pintu dalam keadaan setengah ragu. jari jemarinya menggeser engsel pintu ketika cahaya lampu di arahkan ke sisi yang lain. kemudian ia membuka pintu. menyambut angin malam yang segar mengalir masuk menembus rongga.
Redana tersentak sesaat. indera penglihatannya menangkap sosok wanita bertubuh tinggi sintal berdiri di depan pintu. dan seketika kebingungan kembali menyerbu otaknya.
Seperti yang di duganya. Lara cantik seperti biasanya. Tidak, kali ini wanita itu lebih cantik dengan cahaya seadanya. tubuh sintalnya di balut mantel hitam dengan gaun merah gelap perpaduan syal abu-abu tua melingkar di leher mulusnya. alis wanita itu sedikit berkedut sementara kerut halus nampak menghiasi kening mulusnya. jari jari lentiknya membawa keranjang dengan memperlihatkan setumpuk makan malam yang di kemas rapih. daging bakar yang terlihat lezat di tengah-tengah roti segar berlapis keju. dua botol anggur dan apel merah segar di bagian sisi lainnya. seakan ingin mengadakan pesta dadakan. atau setidaknya untuk sekelas budak rendahan, wanita itu telah memanusiakan Redana.
Lara masih berdiri di depan pintu. menghitung dalam hati dan menunggu hingga wanita itu bersuara sebelum kembali merespon tatapan Redana.
“apa aku harus berdiri disini sampai kamu mempersilahkan aku masuk?”.
Redana terlihat malu tapi suasana hatinya yang tenang membuat ia tidak banyak berpikir. ketika wanita itu terlihat ragu. ia menyentak dirinya sendiri sehingga Lara kembali bertanya.
“re…boleh aku masuk?”.
Redana bergerak mundur kesamping. raut wajahnya di penuhi kebingungan.
“silahkan masuk non Lara”.
Lara pura-pura tidak melihat wanita itu yang memandangnya dengan tatapan bingung ketika langkah ringannya memasuki pondok. namun langkahnya mendadak berhenti di tengah. bola matanya berputar liar. di sudut kanan ada tikar ukuran besar dan panjang yang terhampar di lantai dengan dua bantal dan satu guling yang terkapar di atasnya. satu kamar di sudut kiri dengan dapur mungil di depannya. di sisi lain ada satu lemari pakaian berpintu kaca yang terlihat lebih tua dari usianya. dua jendela yang saling berseberangan, dengan ventilasi di atasnya sehingga memberikan kesejukan ketika angin malam menyelinap masuk. bagi Lara, pondok itu tidaklah terlalu buruk.
Kedatangan wanita itu benar-benar membungkam jalan pikiran Redana. tapi keterkejutannya pada hal lain. ia merasa Lara memiliki insting yang luar biasa tajam. ketika ia sedang memikirkan Lara. wanita itu mengunjungi pondoknya. Redana kini harus bisa meredam kebingungan. ia bergegas menutup pintu sebelum wanita itu bersiaga membalikkan badan.
Lara berpaling begitu cepat untuk menghadapi kabut kebingungan yang belum luntur di wajah wanita itu.
“aku bawa makanan dan minuman. kita bisa menikmati ini sambil ngobrol ”. ucap Lara sembari menyodorkan keranjang makanan.
__ADS_1
Redana membalikkan badan dan menatap wanita itu tanpa berkedip.
“kenapa tidak bilang, kalau kamu mau datang malam ini?”.
“aku memang sengaja tidak ingin memberitahumu lebih awal”.
Redana bergerak maju. jari jarinya terulur untuk menerima keranjang itu.
“kenapa?”.
“aku tidak ingin kamu menjamuku layaknya putri”. Lara membentangkan tangan. “semua isi pondok ini, kamu rapihkan hanya untuk menyambut kedatanganku”.
Redana tidak bisa mencegah reaksi wajahnya. tenggorokannya terasa kering ketika ia harus menelan ludah.
“tapi…”
Lara mengangkat tangannya cepat untuk menghentikan ucapan apapun yang akan keluar dari mulut wanita itu.
“cukup re”. Lara menurunkan tangan. “aku tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun. perkataanku sudah jelas. aku ingin ketemu kamu dan ngobrol banyak”.
Lara nampak menekankan perkataannya. dan entah bagaimana, ucapan tegas seperti itu membuatnya merasa lebih baik sebelum dirinya berubah pikiran. jari jarinya bergerak melepaskan mantel yang melekat pada tubuh sintalnya ketika wanita itu berjalan melewatinya. langkah kilat Lara bergerak maju. meletakkan mantel tersebut pada sebuah paku yang bertengger di balik pintu.
Apakah ini adalah sesuatu yang salah?.
Sesuatu yang tidak wajar?
Ataukah ada penjelasan lain yang bisa menggambarkan perasaannya?.
Ia larut ketika indera penciumannya mengendus aroma potongan daging bakar tersebut. kehangatan daging itu memaksanya membuka bibir untuk menerima suapan demi suapan yang di luncurkan dari tangannya. lidah Redana bergerak semakin liar ketika melapah. menelan dan meresapi rasa gurih yang di timbulkan dari daging itu. meledak kedalam perutnya. membiarkan dirinya menikmati saat-saat terbenam dalam rasa yang mengelilingi mulutnya. sementara tubuhnya mulai bergerak canggung ketika mata hijau itu menatap lekat dalam diam.
Bercampur rasa iba yang berusaha di sembunyikan. Lara memalingkan pandangannya. menuangkan minuman anggur ke dalam gelas ketika suara gemeletuk dan kenikmatan daging itu telah menguasai Redana. matanya terpancang kuat pada seraut wajah yang sedang mengunyah. duduk di lantai. berhadap-hadapan. pikiran lain memenuhi otaknya. mengejutkan bagi dirinya. ia tidak pernah melihat Redana mengunyah daging itu dengan penuh semangat. seakan tidak pernah makan daging bakar seumur hidup.
Redana berhenti sejenak. menatapnya sembari menunjuk pada keranjang makanan yang menjadi jarak di antara mereka.
“kamu tidak mencicipi makanan yang kamu bawa. apa kamu tidak menyukainya?”.
Lara beralibi dengan cepat. wajahnya sedikit memerah. seakan wanita itu membaca pikiran yang sedang berseliweran di benaknya - ia nyaris tidak menyentuh makanan itu. ia harus melakukan sesuatu. mengalihkan perhatiannya dari Redana. meletakkan segelas anggur ke lantai, tepat di hadapan wanita itu. Lara menjawab.
“selera makanku agak berkurang karena pekerjaanku yang padat”.
__ADS_1
“mungkin kamu harus banyak istirahat”.
Sepotong kalimat membuat wajahnya kian memanas. ia berani bersumpah baru kali ini ia mendapat perhatian dari wanita itu. Lara buru-buru menyetujuinya untuk menepis rasa malu.
“kurasa iya”.
Demi membalas kebaikan wanita itu. Redana tidak punya pilihan lain selain berbaik hati.
“tidak ada salahnya kamu bermalam disini”.
Lara tidak pernah menyangka bahwa ia baru merasakan kesenangan ketika wanita itu mengizinkan dirinya bermalam di pondoknya. walau ia harus tidur dengan alas seadanya. namun itulah yang sedang terjadi. Lara mengangkat bahunya pelan.
“kenapa tidak?. besok, aku tidak punya banyak kegiatan apapun”.
Sebenarnya, Lara selalu menganggap wanita itu lebih dari sekedar budak. sejak pertemuan itu. ia ingin memperlakukan Redana sebagai sahabat yang tidak pernah ia miliki di negaranya. keingintahuannya mendengar cerita di balik kehidupan Redana menjadi budak. ternyata berhasil menarik perhatian Lara. itulah salah satu alasan Lara mendekatinya. ia ingin wanita itu di perlakukan dengan layak. memiliki kehidupan yang lebih baik. meski Lara telah mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya tanpa sepengetahuan ayahnya.
Ia sadar masa lalu wanita itu tidak lepas dari kebijakan ayahnya. bahkan ia sangat menyesali perbuatan ayahnya yang memisahkan ibu dan anak. namun untuk mengembalikan keadaan. ia mencoba mengikis kesalahan atas perbuatan ayahnya di masa lalu - sebagian ia lakukan untuk membuang ingatan wanita itu terhadap sang ibu. dimana ibu Redana telah meninggal dunia dalam perjalanan menuju tuan barunya setelah ayah Lara selesai melakukan transaksi penjualan budak.
Lara telah lama menyimpan berita itu dari Redana. karena ia tahu hal itu sangat menyakitkan. yang mungkin akan menimbulkan rasa dendam. bukan saja kepada ayahnya, tetapi berefek pada dirinya. ia tidak ingin hal itu terjadi yang bisa menghancurkan persahabatannya yang baru saja di bangun.
__ADS_1