
“kenapa kamu semakin sering mengikutiku?”.
bukan Lara saja yang terlihat kaget. Redana sendiri pun tidak mengira bahwa ia benar-benar mengucapkannya.
Lara tidak lagi sempat membuka mulut maupun protes. yang berikutnya menghiasi indera penglihatan Lara adalah melihat wanita itu mengikat sekarung jagung yang baru saja di petiknya. tubuh Redana membungkuk sebelum menegakkan tubuhnya kembali. lalu membawa karung tersebut di atas bahunya. bahu itu mungkin tidak hanya membawa hasil perkebunan, mungkin juga menopang beban berat sepanjang hidupnya. meninggalkan luka di benak dan pikirannya.
Lara tidak berfokus pada ucapan wanita itu yang terus menerus menunjukan kecurigaan dengan deretan kalimat yang tidak masuk akal.
“aku tidak menginginkan apapun. dan mungkin, kita bisa saling kerjasama”.
“kerjasama?”.
Wanita itu kembali menjauh dan berlalu melewati Lara. ia memalingkan pandangan dan menatap tubuh lelah itu. Lara sebenarnya tidak perlu melihat ke arah mana langkah wanita itu pergi, karena ia sendiri pun sudah mengetahuinya. kaki Lara bergerak maju tanpa kompromi ketika rasa penasaran dalam dirinya mendadak bangkit seketika. ia mengikuti langkah Redana di tengah perkebunan jagung menuju ujung kebun tersebut. namun langkah wanita itu lebih cepat dari apa yang Lara bayangkan.
Pertemuan mereka bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk Lara. ia nyaris tidak mampu menepis tatapannya. menatap ke dalam mata gelap Redana. ada begitu banyak kisah, penderitaan dan rasa pahit yang mendera wanita itu tiap kali Lara mendekatinya. terasa sulit dan butuh usaha keras untuk mencari tahu sisi kehidupan wanita itu. pada akhirnya Lara menemukan alasan lain. dan berpikir mungkin ada yang bisa di lakukannya untuk mengubah masa lalu wanita itu. setidaknya, ketika Lara sudah selesai membuat ketegangan.
“apa kamu ada waktu untuk menemaniku pergi ke sungai?”.
Redana mendesah sangat pelan dan berat sesaat setelah meletakan karung tersebut ke dalam pedati yang terparkir di bawah pohon yang kokoh dan rindang. lalu menyuarakan pendapatnya.
“kerjasama dan menemanimu ke sungai?”. Redana mencibir. “aku rasa itu tidak ada hubungannya”.
Lara tidak tahu harus mengatakan apa ketika mereka saling bertatapan. diam terpaku di sisi pedati. ia nampak bimbang seketika saat Redana menunjukan ekspresi kaku menggantung di wajah perseginya. perasaan simpatinya mengalir begitu saja bersama desiran angin menyusup masuk membelai daun telinganya. Apakah Redana bersedia menemaniku?. pemikiran itu meluncur tiba-tiba.
“kamu tidak perlu menatapku seperti itu”.
Kening Lara terangkat halus. “seperti apa aku menatapmu?”.
“seakan kamu mengasihaniku. dan aku tidak membutuhkan rasa simpatimu yang berlebihan”.
“aku tidak bermaksud mengasihanimu”. bantah Lara.
“oh ya?”. tangkas Redana.
“apa yang kamu pikirkan dari cara aku menatapmu?”. Lara berbalik tanya. “apa kamu masih berpikir kalau aku calon pembeli?. senyum masam Lara berkembang di kedua sudut mulutnya.
Redana mendengus. jari jemarinya mengusap lembut keringat yang membasahi wajah misteriusnya sebelum ia menemukan jawaban yang tepat. sebagian ia lakukan untuk mengendalikan kewarasannya.
“mungkin aku hanya tidak ingin kamu terus mengikutiku, dan menganggu pekerjaanku di ladang. apakah itu tidak pernah terlintas di pikiranmu?”.
“mengganggu pekerjaan, dengan mengajakmu untuk pergi bersantai sejenak?”.
Redana ingin sekali menahan senyum tipisnya. pada kenyataannya ia gagal untuk melakukan itu.
__ADS_1
“bersantai?”.
Alis gelap Lara terangkat tinggi. mata hijaunya membesar seolah wanita itu mengejek tawarannya.
“kamu tahu. aku di wajibkan seharian bekerja di ladang. kalau kamu ingin mengajakku hanya untuk menemanimu bersantai. aku benar-benar tidak bisa melakukannya”.
Lara bergerak maju menyeberangi jarak di antara mereka.
“apa kamu keberatan?”.
“apa yang kamu harapkan?”.
“kamu ingin tahu?”. akhirnya Lara memainkan jurus mematikan. sementara wanita itu hanya menatapnya.
Redana menunjukkan ekspresi pasrah. urat nadinya berdenyut keras ketika benaknya menunggu kalimat yang terputus-putus dengan debar jantung yang memekakkan telinga. ia berdoa dalam hati agar wanita itu tidak membelinya. Redana tahu kalau ia berhutang nyawa atas tindakan Lara yang menyelamatkannya dari hukuman cambuk yang menyakitkan. akan tetapi, menjadi bagian budak Lara bukanlah solusi untuk membalas kebaikannya. Redana yakin wanita itu lebih bijak dan pintar di bandingkan dirinya. terlihat dari cara wanita itu dengan tenang menghadapi sikap dingin Redana.
Lara sepertinya tidak akan menyerah sampai ia benar-benar menaklukan keangkuhan wanita itu. memancing air keruh dan menimbulkan kemarahan di wajah Redana yang siap mencakar seluruh dinding tubuhnya sendiri. dengan begitu segalanya akan terasa jelas dan wanita itu akan mengetahui siapa Lara yang sebenarnya.
“sudah berapa lama ibu mu pergi?”.
Pertanyaan sensitif itu berhasil membelah rongga dada Redana. mencengkeram lebih dalam bersama rasa dendam yang menggebu-gebu. Apa yang sebenarnya di inginkan wanita itu?. Dari mana wanita itu tahu tentang ibu Redana?.
Redana tidak bisa menutupi reaksinya. tenggorokannya terasa tersumbat batu krikil ketika ia mencoba mengingat kembali pertanyaan wanita itu dalam benaknya. dan tetap saja, Redana jatuh pada kesimpulan yang sama. calon pembeli budak. jadi Redana menunggu kalimat apalagi yang akan di lontarkan dari mulut wanita itu. ia pun dengan sigap menantang balik.
Salah satu alis gelap Lara terangkat pelan. “menurutmu?”.
“aku tidak suka kamu mengulur pertanyaanku”.
“aku tahu semuanya”. tangkas Lara
“bagaimana mungkin?”. gumam Redana sembari menggelengkan kepala dengan rasa tak percaya.
“kamu tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkan berita itu”. singkat Lara.
Redana menghela nafas panjang. ia merasa tidak ada gunanya beradu argumentasi dengan Lara. semua perkataannya hanya akan memecahkan isi kepalanya.
“lupakanlah. aku tidak ingin membahasnya”. jawab lelah Redana sembari berlalu pergi.
“seberapa sulit menerimaku sebagai temanmu?”.
Langkah Redana terhenti sesaat sebelum kembali membalikan badan. Lara bergerak maju. nafasnya terasa sesak ketika ia menatap ke dalam mata wanita itu yang berkabut pucat. Lara melanjutkan pembicaraannya yang sempat terpotong.
“Redana. aku bukan calon pembeli budak”.
__ADS_1
Redana terdiam.
Suara lantang Lara gemuruh terdengar. “dan kamu tidak perlu takut untuk di kirim keluar pulau”. lanjutnya.
Ia mencoba menepis kekesalannya saat Redana telah menudingnya sebagai calon pembeli budak. Lara selalu berpikir tudingan itu sungguh menggelikan yang pernah terjadi. yang sebenarnya Lara tidak ingin melihat ketakutan terus menghantui benak wanita itu. apalagi ketika ia menatap wajah Redana yang memerah marah dan bagaimana kecurigaan demi kecurigaan yang di ciptakan oleh pemikirannya sendiri. membuat Lara berpikir ada sesuatu di dalam dirinya.
Dan itu adalah sebuah cerita yang di timbulkan dari masa lalu. Lara bisa membacanya hanya dalam sekejap. meski Redana mungkin akan menyangkalnya. Lara berharap kalau ia bisa membuka jendela-jendela kehidupan wanita itu. ia ingin melakukan apa saja agar wanita itu tidak terperangkap oleh masa lalunya. dan lebih buruknya lagi, masa lalu Redana tidak lepas dari pengaruh tangan ayah Lara yang telah membuat wanita itu harus kehilangan ibu nya ketika Redana berusia sepuluh tahun.
Dua pasang mata gelap itu beralih ke pergelangan tangan Lara. lalu meremas lembut jari jemari wanita itu sebagai bentuk permohonan.
“tolong katakan bahwa ucapanmu benar”. Redana mendesak pelan. “buat aku mempercayai semua ucapanmu”.
Ada kelegaan yang luar biasa terpancar di wajah persegi Redana ketika ia bertanya untuk memastikan wanita itu mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa yakin bahwa dirinya akan terlepas dari korban penjualan budak. bahkan Redana tidak cukup kuat untuk membayangkannya kalau saja dirinya di jual dan di kirim keluar pulau. hal itu akan menyiksa batinnya ketika ia harus pergi meninggalkan tanah kelahirannya.
Lara menatap wanita itu yang nampak memohon dan tak kunjung surut ketika bola mata itu semakin pucat.
“apakah pernyataanku masih kurang untuk membuatmu percaya?”.
sunyi.
Lara tahu bagaimana wanita itu terjebak dengan masa lalunya. ia pernah berada di posisi wanita itu. Lara pun tahu bagaimana rasanya di tinggal oleh sang ibu. apa yang di alami Redana tidaklah berbeda jauh dengannya. mungkin memang tidak separah Redana. dan bagaimanapun juga kedua wanita itu benar-benar telah kehilangan sosok ibu sejak mereka sama-sama masih kecil. namun sekarang ini bukanlah saatnya untuk membandingkan mana yang buruk dan mana yang tidak buruk dari kisah hidup mereka. Lara berharap perkataannya bisa di percaya.
Redana menghela nafas dan menguatkan diri. “aku sangat berterima kasih, atas apa yang kamu ucapkan tadi”. Redana menarik mundur tangannya dari jari jemari lembut wanita itu.
“kamu pasti lega. bukan?”. Lara melempar senyum tipisnya.
Kedua wanita itu saling terdiam selama beberapa detik. Lara membaca kilat kelegaan yang tersembunyi di mata wanita itu. ada kekuatan yang membayang di benak Redana. kemudian kalimat yang baru saja keluar dari mulut Lara telah membuat Redana terhenyak beberapa saat. ia menyadari kesalahannya telah menuduh Lara sehingga perasaan malu pun hinggap di wajahnya.
“aku tidak tahu harus memulainya dari mana”.
“bagaimana kalau kita berteman?... apa kamu menyukai hal itu. Redana?”.
Hening.
Wanita itu masih bergeming. menekan ekspresi canggungnya. rasa malu membuat Redana sulit untuk mengatur nafas. wajahnya yang memerah menguasainya. ia mulai bergerak mundur satu langkah sembari menggaruk kepala meski tak gatal, sebagai bentuk untuk mengalihkan perhatiannya saat Lara melemparkan senyum sensualnya sebelum berbalik memunggungi wanita itu. kemudian Lara berlalu untuk sesuatu hal yang tidak di ketahui alasannya. meninggalkan Redana dalam kesenangan yang sempat tersembunyi. bahkan ia belum sempat mengucapkan apa-apa ketika wanita itu berlalu. Redana berpikir wanita itu tidak mungkin membohonginya.
Namun, ada rasa heran menyusup seketika di benaknya. Redana? Bagaimana wanita itu mengenal namanya?. Siapa dia?. pikiran Redana kembali bergejolak.
Ayolah Redana. kamu tidak perlu mencari tahu siapa dia. apa ada yang salah dengan menyebut namamu? Seberapa pentingkah nama bagimu?. Bukankah bebanmu sudah cukup lelah dengan pemikiranmu sendiri?. Hidup bagai terpenjara yang tidak pernah tahu bagaimana kehidupan di luar sana?. Jangan membuang kesempatan untuk pergi bersenang-senang dengan wanita itu. kamu tidak perlu begitu dingin dan mementingkan perasaanmu sendiri. Pikiran kotormu sudah saatnya di singkirkan sejauh mungkin. Kamu bukan lagi anak kecil!.
Berhenti.
Redana menarik nafas dalam itungan detik. suara sumbang itu memberi dirinya dorongan bahwa ia harus mencoba mengubah keadaan.
__ADS_1