Cahaya Di Tanah Papua

Cahaya Di Tanah Papua
Episode 2.


__ADS_3

Redana nyaris tidak bisa tidur semalaman. rasa sakit bercampur sedih membuat dirinya sesak nafas. ingatan akan masa lalunya kembali menghantui. ia benci jika mengingat hal itu. mengingat saat dimana pengawas ladang itu mencambuknya tanpa henti. mengingat saat dimana dirinya menahan rasa sakit yang memilukan. sehingga menyisakan luka yang membekas di punggungnya. bukan hanya sekedar luka biasa, tapi lebih kepada meninggalkan rasa sakit dalam batinnya. bahkan, ia tidak bisa membayangkan andai saja wanita itu tidak bersuara atau terlambat datang. mungkin - ini hanya mungkin - dan banyak kemungkinan - ia tidak bisa lagi bernafas atau melihat matahari yang sengatannya sedari tadi mengikuti langkah Redana ketika ia berjalan di atas tanah gersang. telapak telanjangnya mengayun pelan saat tubuh lelah bercampur keringat itu menarik pedati berisikan tumpukan batang tebu yang di bawanya dari perkebunan.


Pandangannya lurus ke depan. menatap hamparan tanah kering yang membentang luas di sekitarnya. semilir angin kembali datang menyapu air asin yang muncul dari pori-pori wajah heningnya. memberikan kesegaran pada saraf-saraf otaknya untuk tetap berpikir jernih. sementara itu pikirannya di sibukan menimbang banyak hal sebagai perbandingan untuk mengambil langkah selanjutnya. namun beban hidup yang terlalu lama hinggap di benaknya, membuat perasaannya mulai terasa lelah untuk menjalani hidup yang seakan tidak ada pangkal ujungnya. ia berpikir tidak ada gunanya menghitung waktu tak berguna. waktu yang hanya menyiksanya.


Sudah seharusnya Redana bisa menahan diri untuk tidak berbuat kesalahan atas tindakannya. tindakan yang telah membawa dirinya pada satu pecut cambuk, namun menghasilkan luka lebih dari satu. namun sepertinya Redana lupa bahwa budak itu di takdirkan untuk menerima keadaan dengan segala konsekuensinya. meskipun itu menyakitkan. dan sudah saatnya juga Redana berhenti memikirkan sesuatu yang memang tidak seharusnya di pikirkan. dan memastikan bahwa kejadian itu tidak akan lagi terulang, sehingga ia bisa menemukan kedamaian untuk dirinya sendiri. dengan begitu banyak hal berharga yang bisa di lakukan Redana, terutama untuk mimpi besarnya. yakni bebas dari perbudakan.


Kalau di jabarkan semua, mungkin tindakan Redana memang ada benarnya. ia hanya tidak ingin pengawas ladang itu dengan mudahnya melakukan tindak kekerasan yang mengakibatkan hilangnya rasa kemanusiaan. bahkan Redana sendiri pun tidak mengetahui apa penyebab pria itu marah hingga memukul temannya.


Wanita itu menyadari pada saat peristiwa itu terjadi, dirinya memang tidak ada di tempat kejadian. Redana hanya melihat pertengkaran itu dari kejauhan saat pandangannya menangkap Edo jalan terhuyung membawa sekarung kubis di atas bahu dengan ekspresi wajah yang melelahkan. keringetnya membuncah membasahi sekujur tubuhnya. kemudian tanpa sengaja temannya menubruk pengawas ladang yang berdiri memunggunginya saat ia sedang berbicara dengan pria asing tak di kenal.

__ADS_1


Markus tersentak kaget dan membalikan badan. lalu memaki-maki Edo tanpa alasan. padahal pria itu sudah berkali-kali melontarkan permohonan maaf. tapi sepertinya Markus si keras kepala itu tidak menerima permohonan maaf tersebut. ia menilai bahwa Edo memang sengaja menubruknya dengan alasan karena semua budak tidak menyukai dirinya yang terkenal bengis. dan pengawas ladang itu pun tidak segan mencambuk budak sebagai hukuman. atas pemikiran itu lah yang membuat Markus mendorong keras pria plontos bertubuh pendek sintal itu. akibatnya sekarung kubis itu terlepas dari bahunya meski Edo masih berdiri terhuyung. tapi dorongan itu tidak akan membuat pria itu puas. dan tidak akan pernah puas. langkah berat pengawas ladang itu maju beberapa langkah. tangan besinya memukul wajah Edo hingga terjatuh. budak itu pun tergeletak di tanah kering dan keras.


Melihat terjadi pemukulan terhadap temannya membuat Redana melepaskan tangannya dari tanaman kubis saat ia hendak memetik tanaman tersebut. ia terkesiap bangkit lalu bergerak lari dan mendorong pria itu mundur kebelakang untuk menghentikan tindakannya yang sudah melampaui batas. pria itu pun terhuyung dan nyaris terjatuh. dan dengan sigap pria itu menegakkan kembali tubuh kekarnya.


Amarah wanita itu kian bergejolak menggulung pikirannya. Redana terdiam sejenak bersama nafasnya yang tak beraturan. dalam beberapa saat ia mengalihkan pandangannya dan mendapati temannya duduk meringkuk. kedua tangan Edo menutupi lebam pipinya. menahan rasa sakit akibat pukulan dari tangan besi Markus. mata Redana membulat lalu menatap kembali pria keras kepala itu. menatap sinis penuh kebencian. wajah sangarnya muncul seakan ingin menerkam pria itu setiap saat. gelombang emosi kian memuncak dan siap untuk di ledakan. bahkan Redana tidak peduli seberapa tinggi dan besar tubuh pengawas ladang tersebut.


Alih-alih ingin menghentikan tindak kekerasan malah membuat Redana meresikokan diri. ia terlibat dalam pusaran pertengkaran hebat antara dirinya dan pengawas ladang itu. mereka beradu argumentasi dan saling membela diri. tanpa Redana sadari tindakannya telah mematik kemarahan yang terpancar di wajah pria itu. Markus membentak dan mengatakan bahwa wanita itu tidak pantas ikut campur antara dirinya dan Edo. namun wanita itu terus saja menyerang dengan berbagai kalimat dan membuat Markus semakin murka.


Berengsek!.

__ADS_1


Redana tersentak dan merasa perkataan pengawas ladang itu benar-benar sudah kurang ajar dan tidak bisa di tolerir, meski ia berusaha untuk tidak memancing keributan. namun kemarahan yang sedari tadi tertahan akhirnya mengumpul di dalam dirinya. mendidih di dalam benaknya. sehingga wanita itu tidak lagi bisa berpikir lurus dan merasa tidak terima atas penghinaan kasar yang keluar dari mulut pria itu. perkataan yang telah merendahkan harga dirinya. dan fatalnya lagi Redana terpancing dan nyaris tidak bisa mengendalikan diri. pun tidak peduli yang akan di hadapinya nanti. amarahnya sudah terlanjur meledak dan tidak bisa di bendung dengan sebuah penghinaan “budak kasta terendah”.


Wanita itu mengosongkan pikirannya seketika. kaki jenjangnya bergerak maju beberapa langkah ke hadapan pria itu. membiarkan salah satu tangannya melayang cepat di udara dan singgah keras di wajah pria itu. wajah yang membuat Redana muak. wajah yang berhasil memutuskan seluruh saraf di tubuhnya dengan satu tamparan telak. Redana tidak ingin diam saat dirinya di hina. ia tidak ingin diam saat dirinya di rendahkan. dalam batinnya ia ingin sekali membunuh pengawas ladang itu karena Redana tidak ingin melihat wajah memuakan itu seumur hidupnya. pada akhirnya wanita itu nekat melakukan sesuatu hanya untuk memberi Markus pelajaran. Redana pikir pria itu memang pantas mendapatkannya.


Akibat tamparan keras itu membuat wajah Markus memerah di selimuti api amarah. otot-otot tangannya mulai mengencang. jantungnya berdetak kencang. menatap tajam penuh kebencian. bisa jadi dalam pikirannya pria itu sedang merangkai rencana atau bertindak lebih parah tanpa sepengetahuan Redana. dan tentu saja ia tidak akan tinggal diam saat berhadapan dengan budak rendahan seperti Redana.


Sepertinya Markus tidak senang atas tindakan wanita itu yang sudah melakukan perlawanan terhadap dirinya. ia mempersiapkan diri untuk membalas semua perbuatan budak rendahan itu. deru panas nafasnya menghitung aba-aba. suaranya nyaris tercekat. dalam hitungan beberapa detik, dengan sekuat tenaga pria itu mendorong keras kebelakang hingga budak rendahan itu terpental menghantam gumpalan tanah kering sebesar batu sungai. kepala Redana nyaris pecah dan matanya berkunang seketika.


Lalu pikirannya melambung jauh terbawa angin. pandangannya samar terbawa kabut. tubuh langsingnya nyaris tidak bisa di gerakan saat dirinya terlentang tak berdaya. akibatnya Redana tidak lagi ingat bagaimana persis kejadian yang telah menimpa dirinya. sehingga masa kecilnya memasuki alam bawah sadarnya. ketika akhirnya ia mendapatkan kesadarannya kembali. Redana menemukan dirinya sudah berdiri di tiang cambuk di bawah sengatan matahari.

__ADS_1


Sayangnya pada saat pertengkaran itu terjadi, Lara tidak berusaha untuk melerainya atau pun melakukan sesuatu. padahal ia ada disana dan menyaksikan dari kejauhan saat pertengkaran Redana semakin memanas. namun Lara hanya berdiri terpaku tanpa mengeluarkan satu kalimat. sampai terjadi sesuatu yang mengakibatkan Redana terpental pun ia tidak berkutik sama sekali. semestinya Lara melakukan tindakan atau setidaknya berteriak untuk menghentikan kekacauan yang berujung kekerasan. nampaknya wanita berwajah oval itu tidak peduli dengan apa yang terjadi di perkebunan. pun saat Redana tergeletak dalam keadaan tidak sadarkan diri.


__ADS_2