
Baru saja ia berpikir tentang apa yang harus dilakukan siang ini atau bagaimana menghadapi wanita itu kalau nanti kembali bertemu. ingatannya masih terasa jelas bagaimana Redana terjebak ketika wanita itu mengunci otak dan mulutnya. ia ingin sekali mengeluarkan beberapa kalimat. tapi kalimat itu tidak pernah terucap dari mulutnya. Demi Apapun!. keadaan itu telah membuat Redana merasa tidak nyaman. seolah wanita itu sedang membaca alur pikirannya, sehingga ia memilih menarik diri.
Redana pun tidak bisa memungkirinya. entah berapa lama ia menatap. wanita itu memang terlihat berbeda. penampilannya penuh kesederhanaan. sorot matanya yang tajam. tapi ada makna yang tersembunyi. Redana bisa merasakan hal itu walaupun wanita itu tidak menunjukannya. seperti ada rasa peduli dibalik kalimat yang keluar sesingkat mungkin. yang sebenarnya sampai detik ini Redana sendiri pun tidak pernah mengenal wanita itu. Lantas kenapa dia ada di tempat itu?. apa yang sedang wanita itu lakukan disana?.
Dan lagi-lagi, pertanyaan itu hinggap kembali dibenaknya. menyeruak masuk ke setiap saraf-saraf otaknya. mendorong Redana untuk berpikir keras tentang wanita itu. wanita asing yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. wanita yang saat itu sendiri didalam gudang yang kotor dan pengap dengan segala aroma tak sedap yang di timbulkan dari berbagai macam hasil perkebunan yang lama tersimpan didalam gudang tersebut.
Entah apa yang membuat wanita itu betah berada disana. apakah tidak ada tempat lain untuk dijadikan tempat persinggahan selain ditempat itu? atau setidaknya ditaman maupun diperbukitan mungkin?. menurutnya keberadaan wanita itu digudang jelas mengherankan Redana. berada di tempat yang tidak layak untuk wanita secantik Lara. wanita yang membuat Redana sesak nafas oleh kekhawatirannya sendiri.
Ia benci kalau mengingat hal itu. benci ketika suaranya tercekat oleh mata hijau itu. tenggorokannya sangat kering sehingga ia tidak bisa mengeluarkan beberapa kalimat. tapi ketakutan yang meluap-luap datang kembali membanjiri pikirannya. Redana takut kalau wanita itu akan membeli dirinya. ia tidak ingin dijual kemudian dikirim keluar pulau. bahkan ia tidak peduli seberapa tinggi harga yang dipasarkan oleh majikannya. Redana gelisah ketika pemikiran itu berseliweran kembali dibenaknya. lalu….
“sudah selesai tidur siangnya?”.
Suara itu kembali muncul mengagetkan Redana, atau lebih tepatnya lagi dikagetkan.
Ia terperanjat lalu bergerak bangkit. raut wajahnya dipenuhi keterjutan saat berdiri dihadapan wanita itu. kedua sorot mata itu penuh tanda tanya dengan senyuman tak pasti. Redana terdiam sejenak untuk mengembalikan kesadarannya. mengumpulkan nyawa yang saling berterbangan sepanjang tidur siang. berusaha melihat melalui kabut putih yang menghalangi pandangannya. lalu menangkap kilasan mata yang mengingatkan Redana akan keadaan yang paling dihindarinya.
Redana berusaha keras untuk terus membuat jarak yang tidak mungkin tercipta. Ya Tuhan!. sudah berapa lama wanita itu berdiri dibawah pohon.
Sialan wanita itu!.
Sepertinya Redana kelelahan akibat pekerjaan kasarnya. sehingga ia memilih menghabiskan waktu istirahatnya dengan duduk bersandar dibawah pohon. melenturkan seluruh otot-otot tubuhnya sebelum ia kembali ke ladang. tapi ia jatuh tertidur. entah karena benaknya yang terlalu lelah, atau karena efek desiran angin yang menghipnotis kelopak matanya. akibatnya Redana tidak sadar tertidur pulas dibawah pohon lebat dan tinggi menjulang. sialnya lagi wanita itu telah mengganggu jam istirahatnya.
Ekspresi wanita itu tidak lepas dari pandangan Lara. ia mendapati tubuh wanita itu menegang kaget. mata gelapnya berusaha menembus kabut putih. Lara sudah bisa menduganya ketika ia membangunkannya tiba-tiba dan nyaris merusak waktu istirahatnya. padahal mungkin saja wanita itu sedang bermimpi. tapi Lara tidak akan membiarkan wanita itu tidur dibawah pohon.
“kamu ikut aku sekarang”.
Bola mata Redana langsung membulat. “apa maksud mu?”.
Mereka saling bertatapan dalam ketegangan. Lara bisa membaca kekesalan yang tersimpan dibalik bola mata wanita itu. bahkan ia tidak berkedip ketika kembali berbicara.
“ apakah kamu lebih suka menghabiskan waktu mu hanya untuk tidur?”. sindir Lara.
“oh ya”. tangkas Redana. lalu menambahkan. " itu juga membuat aku jadi berpikir. apakah kamu lebih suka mengganggu jam istirahat orang lain?”. Redana menggeleng heran.
“kamu benar-benar memalukan. apa tidak ada tempat lain?”. suara Lara ketus.
Dadanya mengembang menahan kesal saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu. kemarahan itu kembali muncul menguasai Redana, membuat dirinya hampir kehilangan kendali. tapi sedikit perhatian wanita itu mengembalikan kewarasannya yang masih tersangkut disalah satu saraf otaknya sebelum suara lembut Lara memotong jalan pikirannya.
“ada tempat bagus, yang mungkin bisa kamu jadikan sebagai tempat istirahat”. Lara menggeleng pelan. “tapi tidak disini”.
Redana terdiam selama beberapa saat. mencoba memahami apa yang diinginkan wanita itu. tapi tatapan Lara nampak tidak mencurigakan. mata hijau yang menyorot penuh seakan ingin menunjukan sesuatu padanya.
Lara mengerucutkan bibir sensualnya ketika mendekati Redana. “kamu harus temani aku hari ini. aku tidak suka pergi sendirian”.
“kenapa kamu mengajak ku?”. ia mengernyit pelan. mencoba menggerakan tubuhnya yang sempat menegang. lalu tangannya reflek mencekal pergelangan tangan wanita itu. “apa yang sedang kamu rencanakan untuk ku?”. dua pasang alis Redana naik untuk menegaskan.
Seperti yang ada dipikiran Lara. wanita itu akan kembali bertanya. pertanyaan yang menggelikan. yang sebenarnya ia hanya ingin mengajak wanita itu untuk menemaninya pergi ke suatu tempat. yang sama sekali tidak akan membuat wanita itu menghadapi masalah.
Lara hanya ingin menyelesaikan ketegangan diantara mereka, dan menghilangkan stigma yang selama ini mengusik pikiran Redana. sementara itu Lara tidak akan berhenti mendekati wanita itu sampai Redana bisa mempercayainya.
__ADS_1
“dan tepatnya. apa yang sedang aku rencanakan?”.
Pelipis Redana berdenyut pelan. “kenapa perkataan mu selalu berkelit?”.
Lara membisu.
“asal kamu tahu. aku tidak ingin mencari masalah baru!”. sembur Redana keras. lalu mengetatkan cekalannya.
“tidak akan pernah”. jawab Lara tenang. “tapi semua itu tergantung dari cara kamu berpikir”.
Redana menjawab penuh ragu “tidak mungkin”.
Ia mengerjap kosong. menarik tangannya. seakan tidak mempercayai tindakannya telah mencekal pergelangan tangan Lara. meski hanya dengan cara itu yang Redana bisa lakukan untuk menegaskan dirinya. nafasnya tercekat ketika tatapan itu semakin menantang. namun ia tidak sadar bahwa wanita itu sengaja membiarkan Redana terus berkutat dengan pemikirannya sendiri.
Rupanya Lara merasa sudah cukup banyak mendengar semua perkataannya. ia menghela nafas dan bergerak untuk menyandarkan punggungnya ke pohon. mengusap keringat yang menjalari kening mulusnya sebelum menurunkannya kembali beberapa saat. ia terus memandangi Redana sampai wanitu itu berhenti bergerak dalam keraguan.
“sudah berapa kali aku mendengar kecurigaan demi kecurigaan keluar dari mulut mu“. Lara sedikit kesal. “apa yang membuat kamu menutup diri untuk menjalin pertemanan?”.
“pertemanan?”. Redana tertawa kecil. mustahil rasanya wanita secantik Lara ingin berteman dengan budak rendahan seperti dirinya. pikirnya.
Redana tidak ingat kapan terakhir ia memiliki teman wanita. yang ia tahu, tidak ada budak wanita satu pun yang usianya sama dengannya. ia menerka bahwa Lara hanya bercanda dan penuh omong kosong.
Redana mendesah pelan dengan sedikit rasa penasaran. “sebenarnya. apa yang bisa kamu harapkan berteman dengan budak seperti aku?. bukankah kita berbeda kasta?”. sindir keras Redana.
Perkataan itu mengundang Lara untuk tidak tersenyum. ia menegakkan punggungnya. meletakkan kedua tangannya diatas pundak wanita itu yang terasa berat memikul beban. menatap Redana dengan rasa tak percaya bersama kalimat yang keluar dari bibir tipisnya.
Lara menarik nafas dalam-dalam sebelum dihempaskan kembali. “ada hal yang perlu kamu ketahui bahwa aku tidak pernah membedakan kasta. aku tidak peduli dengan latar belakangmu. dan aku harap. begitu pun sebaliknya”. perlahan Lara menurunkan tangannya. lalu membuat jarak agar wanita itu bisa leluasa mengatur nafasnya yang sedari tadi tercekat oleh kecurigaannya sendiri.
“aku tidak mengenal kamu. dan aku belum pernah melihatmu sebelumnya”.
“ya. dan kurasa kamu belum mengenalku”.
Lara menelan ludah dan berpikir mungkin atas dasar itu yang membuat Redana banyak melontarkan pertanyaan, bahkan kecurigaan. ia berpaling sesaat ketika wanita itu terus mempertahankan tatapannya.
“apakah kamu calon pembeli budak?” . tanya Redana canggung.
“berapa usiamu?”. Lara mengalihkan pembicaraan.
Redana ragu sejenak untuk menjawab. “dua puluh lima tahun”.
“berapa harga untuk budak seusiamu?”. tanya Lara penasaran.
Suara itu samar terdengar dan melesak ke dalam otaknya. memaksa Redana untuk terus menatap wajah wanita itu. pertanyaan itu tidak hanya mengacaukan pikirannya. tapi juga membuat ketegangan baru bagi Redana ketika wanita itu menanyakan pasaran harga. lalu segenap pikirannya melayang jauh dan tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Apakah wanita itu benar-benar ingin membeliku?. Lalu membawaku keluar pulau?. tanyanya dalam hati.
Nampaknya Redana mungkin salah mengartikan atas pertanyaan wanita itu. bisa jadi Lara hanya ingin tahu berapa harga pasaran untuk budak seusia Redana. dan tidak bermaksud untuk membelinya. tapi ketakutan dalam dirinya telah membuat perasaan Redana sedikit melankolis. “aku sudah berhutang nyawa pada mu. dan aku menyadari itu”.
“tidak”. Lara tidak ingin bersikap dramatis. tapi ia tidak mampu menahan diri. bagaimana pun juga ia memang pantas melakukan hal itu. menghentikan hukuman cambuk yang berhasil menyita perhatiannya. Lara menambahkan. “kamu tidak pernah berhutang apapun. aku melakukannya demi kebaikan mu”.
“kebaikan?”. tanya Redana heran.
__ADS_1
“iya. tapi, entah bagaimana. aku harus mengakui keberanianmu. dan itu membuatku terkesan ”. jawab Lara kagum.
Redana terdiam dalam kebingungan. benaknya sulit untuk mempercayai alasan wanita itu melakukannya. apa yang kemudian keluar dari mulut wanita itu telah membuat saraf otak Redana makin berdenyut. lalu rasa pedih memenuhi kembali ingatannya dalam detik yang singkat. ingatan saat dirinya di cambuk. kemudian ia menangkap senyum Lara muncul seketika di bibir sensualnya. dan itu adalah senyum yang jauh lebih tulus dari apa yang selama ini ada di benak Redana.
kalimat menyentuh itu mendarat pelan dari mulut Redana. ”aku tidak percaya, kenapa kamu melakukan itu untuk ku?”.
“aku tidak akan pernah memintamu untuk percaya. aku hanya ingin kamu melupakan hal itu. dan seharusnya aku yang bertanya padamu. apa yang terjadi denganmu?. kenapa kamu begitu tegang ketika bertemu denganku?. bahkan, pikiran kotor mu telah merusak cara pandang mu terhadapku”.
Suara tegas Lara mampu menyeruak masuk menembus dinding rongganya. kemudian mata gelap itu berkilat menyembunyikan rasa malu. seakan ia ditampar oleh pemikirannya sendiri ketika bagaimana Lara melemparkan fakta diwajahnya. dan Redana tidak bisa menutupi ekspresi wajahnya dari wanita itu.
Diam-diam Redana mencermati suara Lara sepanjang argumentasi. suara samar terdengar saat ia dalam keadaan setengah sadar. suara yang menyelamatkannya dari hukuman cambuk. suara yang memiliki pengaruh besar untuk menghentikan aksi Markus yang penuh kegilaan. pada akhirnya Redana mengenali pemilik suara itu.
__ADS_1