
Lantai kayu jati yang keras dan dingin nyaris tidak terasa di bawah tekanan tubuhnya ketika Lara berbaring menyamping. membiarkan rambut hitam panjang gelombang terurai di atas bantal. jari jarinya menekuk untuk menopang kepala. gaun merah gelap dalam selimut tebal yang nyaman menenggelamkan tubuhnya. menghangatkan tubuh Lara yang dingin sepanjang malam. jari jari lainnya mencengkeram ujung guling. yang menjadi jarak di antara kedua wanita itu.
Sejenak ia lupa untuk mengalihkan pandangannya ketika matanya tertuju pada seraut wajah persegi itu menyedot perhatiannya. wanita itu berbaring di sampingnya dalam hening. Lara nyaris ingin bertanya. Apa yang sedang Redana pikirkan?. tapi tentu saja, ia mengurungkan niatnya karena menyadari tidak ingin tahu terlalu dalam mengetahui isi kepala Redana. dan pertanyaan itu hanya akan membuat dirinya terlihat bodoh.
Ia tahu Lara sedang menatapnya. menatap dalam keadaan setengah gelap dari cahaya lampu minyak yang tercantol di dinding. Redana menguatkan diri sebelum membalas tatapan wanita itu. mempertahankan pandangannya pada langit-langit berupa tumpukan ilalang kering yang rumit mengerucut ke atas. membiarkan tubuhnya tenggelam pada selimut tebal setengah badan. kedua tangannya di letakkan di atas perut. mengalihkan rasa dingin yang nyaris menusuk tulang.
Lara sedikit gelisah. menahan rasa sakit pada tubuhnya yang di akibatkan dari lantai keras itu - yang pada dasarnya Lara tidak pernah tidur di lantai. ia nampak sendu dengan mata yang menatap nanar seakan tidak percaya bermalam di pondok itu. Apa yang aku lakukan disini?. ia berusaha membiasakan diri dengan keadaan. dan ini semata-mata ia lakukan demi Redana. tapi, berada di dalam pondok itu. di samping wanita itu. Lara memiliki banyak waktu untuk saling bercerita.
Kedua wanita yang sedari tadi diam dengan benaknya masing-masing. rupanya sama sekali tidak bersuara. Lara sama sekali tidak memiliki gambaran tentang apa yang sedang terjadi. disini. di pondok ini. tapi, di sela-sela dengan pemikirannya sendiri. Lara berhasil membangun percakapan ringan.
“Kamu tidak takut tidur sendirian?”.
“untuk apa takut. aku sudah terbiasa dengan kesendirian”.
“aku baru merasakan kesendirian setelah putus dengan pacarku”.
Ia tersentak halus. ucapan terus - terang wanita itu membuat Redana terdiam beberapa detik. dengan mata bulat menyorotnya penuh ingin tahu. memaksa mengalihkan pandangannya. menatap mata hijau berkilau melewati sinar bulan yang lembut. fakta itu rupanya membuat Redana tidak percaya. wanita cantik yang berada di sampingnya bisa mengalami putus cinta. padahal kecantikan yang di miliki wanita itu nyaris bagai putri dari negeri impian.
“apa yang membuat kalian putus?”. Redana bertanya, sedikit heran.
Lara mendesah sangat pelan atas pertanyaan tersebut. atau mungkin Lara memang tidak terbiasa di tanya balik saat ia mengharapkan pertanyaan lain.
“dia selingkuh, dan itu sangat menyakitiku”.
“apa kamu menyesal putus sama dia?”.
__ADS_1
Lara menggeleng. “tidak sama sekali. aku hanya tidak suka dengan kesendirian”.
Ia tidak mengerti kenapa Lara mengatakan hal itu yang terdengar tidak menyenangkan. seperti nada mencela. tidak suka. sama sekali tidak menyukai kesendirian. kalimat itu keluar dalam hitungan detik yang singkat. bahkan sebelum otak Redana berhasil menelaah apa yang terjadi pada wanita itu dan mantan kekasihnya setelah putus.
Jadi, apakah ia menyalahkan Lara atas ketidaksukaannya pada kesendirian? Bagaimana dengan dirinya yang menahun hidup dalam kesendirian?. bagaimanapun ia tidak mungkin bisa menangkis perkataan wanita itu. atau membantahnya. tidak ada manusia bodoh manapun ingin hidup sendirian. itulah yang terjadi.
Setelah menimbang segala keluhan yang di lontarkan dari mulut wanita itu. Redana terdiam sejenak saat Lara mengubah posisinya. wanita itu berbaring tengkurap. menyilangkan tangan mulusnya di atas bantal. pergelangan tangannya menopang dagu. Redana mengutarakan pendapatnya.
“terkadang. kita tidak sadar, bahwa setiap masalah adalah sebuah pembelajaran dan, bagaimana kita bisa belajar memahami suatu keadaan. aku sedang mencoba melewatinya”.
Lara berpaling. menatap wanita itu. “pernah merasakan jatuh cinta?”.
Pertanyaan itu mengusiknya walau terdengar dalam nada rendah. ia jelas tidak pernah merasakan hal itu.
Lalu, apa yang benar-benar di rasakannya?. apakah Redana tidak merasakan hal yang sama?. Lara terus menanyakan hal itu dalam batin. bukan sesuatu yang wajar. atau mungkin salah. awalnya. namun lama - lama rasa itu berubah menjadi kenyamanan yang kentara lalu kembali berubah lebih kepada perasaan. bisa di bilang Lara tertarik pada wanita itu meski ia berusaha menyembunyikannya.
Perasaan melankolis Lara menguasai benaknya ketika ia menatap sepasang mata gelap itu. bahwa Redana tidak berbohong. karena di suatu waktu ia pun pernah mememiliki tatapan seperti itu ketika Lara mengalami masa puber. dalam diam jantung Lara berdetak kencang.
“kamu beruntung”.
Pernyataan itu menyentak Redana. mengubah posisinya dalam detik yang begitu singkat. berbaring menyamping. menyembunyikan tangannya di bawah kepala. mengembalikan pandangannya pada Lara. tangan Redana yang lain kini bergerak menarik selimut. Apa wanita itu tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini?. sebuah koneksi yang semakin hari semakin tercipta. meski ia berusaha menyembunyikannya. Redana mengungkapkan isi hatinya dengan nada pelan.
“kadang aku ingin merasa di cintai dan mencintai. agar aku bisa bebas dari kesepian”.
“kamu perlu menemukan orang yang tepat. membuatmu merasa nyaman dan cocok. dan kalian bisa saling mengisi hati. komitmen. tidak ada cara lain. dengan begitu, kamu akan mengerti apa itu di cintai dan mencintai”.
__ADS_1
Redana tidak bisa memastikan apakah ucapan wanita itu berlebihan atau ada makna yang tersembunyi. walau sebenarnya ia berharap bertemu dengan seseorang. menerima Redana apa adanya. memperlakukannya dengan layak - sepantasnya. tapi ia tidak punya keberanian untuk menceritakan hal itu pada Lara. dan itu adalah khayalan kecil yang melintas cepat di benaknya.
“benarkah?”.
“iya. coba kamu buktikan. ucapanku tidak akan salah”. jawab Lara penuh percaya diri.
"bagaimana kalau orang itu ada di depan mata kita?".
"maksudnya?".
Keheningan menyeruak masuk dalam tatapan panjang. membius kedua mata wanita itu yang saling memandang. di tengah malam yang semakin pekat. ia mencoba untuk tidak mengingat kembali kenangannya bersama Andrew. sang mantan. dimana pada saat itu Lara dengan setia menghabiskan waktunya bersama pria itu. menemaninya kemanapun pria itu pergi. dan memutuskan hidup bersama sekian tahun lamanya tanpa status pernikahan. setiap saat yang mereka lalui terasa indah. tapi apa yang terjadi, Lara memergoki pria itu bersenggama dengan seorang wanita yang sekaligus teman sekolah Andrew. dan buruknya lagi perbuatan jijik itu di lakukan di rumah Lara ketika ia pergi ke kanal. ternyata diam-diam mereka saling berkomunikasi dan mencuri waktu tanpa sepengetahuan Lara.
Pria itu memang cinta pertamanya. dan akan menjadi yang terakhir. wajar saja kalau Lara berpikir demikian karena pria itu sangatlah tampan dan berpendidikan. dan ketika itu usia Lara masih terbilang muda. mungkin bisa di bilang Lara sedang mencari jati diri atau lebih tepatnya lagi pendewasaan diri. ia tahu pria itu lebih tua lima tahun darinya. namun jarak usia bukanlah halangan baginya. tapi tetap saja kedewasaan seseorang tidak terletak pada usia. ia menyadari hal itu. meski Lara mencintainya.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan hingga lima bulan Lara masih tidak menunjukkan rasa kekecewaaannya terhadap perbuatan jijik itu. seolah tidak pernah terjadi. ia pikir itu sama sekali bukan sesuatu yang harus di tangisi. Lara masih kuat untuk menahan luka lebih dalam. ia wanita tangguh. masih muda, terpelajar dan tegas. masih ada waktu untuk menemukan cinta di lain tempat. di lain waktu. tidak perlu merasa terburu-buru menyalahkan diri sendiri. ya tidak perlu. sama sekali tidak perlu untuk di salahkan.
Lara tidak ingin trauma dalam urusan percintaan. baginya cinta adalah anugerah tuhan yang tidak bisa di bantah. dan Lara berhak untuk itu. ia sama sekali tidak memikirkan perasaan pria itu ketika ia mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya. Lara sudah lelah menghadapi sifat pria itu dengan berbagai macam alasan. ia muak di sakiti. ia nyaris di sakiti seumur perjalanan hubungan mereka. siang itu, Lara tidak ingin membiarkan pria itu menambah daftar sakit hati dalam hidupnya.
Harga diri.
Ketika hatinya rapuh karena putus cinta. ia menerima surat dari ayahnya. meminta Lara untuk terbang ke wamena untuk mengurusi ladang. dan tanpa pikir panjang ia menerima tawaran itu. tentu saja hal itu bukan tanpa alasan. ia tidak ingin rasa sakit itu muncul kembali kalau ia tetap bertahan di belanda. baginya pergi ke papua adalah cara yang tepat untuk mengobati luka hatinya. dan ternyata ia bertemu bibi Maruna dan Redana. dua wanita berdarah papua yang saling terhubung.
Jadi ia harus memastikan membuang pria itu demi masa depan yang lebih baik. menenangkan gejolak di antara cinta dan luka dari hidupnya. sekarang - ketika luka itu berangsur hilang ia menemukan perasaan baru yang bercokol dalam hatinya. bahwa perasaan itu berefek pada kewarasannya. pertanyaannya sekarang adalah apakah Lara siap menerima segala konsekuensinya?. Bagaiman jika wanita itu menolaknya?. Haruskah ia menyingkirkan perasaannya atau menikmati dosa termanis itu lebih dalam?.
Disanalah segalanya bermula…
__ADS_1