Cahaya Di Tanah Papua

Cahaya Di Tanah Papua
Episode 7.


__ADS_3

Ini cerita baru dalam hidupnya…


Jalan bersisian-bersama Lara membuat wanita itu terdiam sesaat. kaki telanjangnya menjejaki batu-batu kecil di tepi sungai. terasa melegakan ketika ia menghirup udara segar tanpa beban. ia bisa merasakan bagaimana semilir angin membelai wajah dan rambut keritingnya. membuai kelopak mata ketika telinga Redana menangkap gemericik suara desiran air sungai.


Warna biru transparan bagai air laut nampak deras mengalir melewati bebatuan besar yang bertengger tak beraturan di tengah-tengah sungai itu. membuat Redana tak berkedip saat menatapnya. bahkan ia sempat bermain dengan imajinasi liarnya. sekarang ini ia sedang membayangkan masa kecilnya. melompat-lompat di tengah sungai sembari bermain air. kemudian menghempaskan tubuh mungilnya ke dalam air. merasakan dinginnya air sungai hingga masuk ke pori-pori tubuhnya. dan itu adalah hal yang tidak pernah terjadi sepanjang hidup Redana.


Ia tidak pernah berpikir seperti itu sebelumnya. tapi sekarang mungkin ia berpendapat bahwa dirinya memiliki khayalan kecil singgah di benaknya. ia tidak tahu pasti apakah itu khayalan atau keinginannya yang tak pernah terwujud. Redana menghabiskan masa kecilnya di ladang tanpa melihat dunia luar. meski papua adalah tanah kelahirannya. tanah dimana Redana di besarkan.


Seharusnya wanita itu membawa Redana ke sungai indah itu lebih awal. ia benar-benar tidak menyangka bahwa entah berapa lama akhirnya ia bisa sedikit lebih santai dan menemukan ketenangan untuk menjaga kewarasannya. dan inilah yang di nantikan Redana sekian tahun lamanya. sungai itu bagaikan surga tersembunyi. udara sejuk di tengah sungai kecil dan di penuhi rerimbunan yang nampak hijau tumbuh di atas tanah subur. membuat Redana terbius akan keindahannya. kedua bola matanya tak lepas pada pepohonan yang menjulang tinggi dan kokoh di setiap sudut.


Ia memalingkan pandangannya ke wanita itu saat angin pelan kembali datang memenuhi rongganya. sementara benak Lara masih sibuk memikirkan pengalaman baru dalam hidupnya yang tidak pernah ia sangka-sangka.


“ini pertama kali dalam hidupku, di beri kepercayaan untuk membantu pekerjaan ayahku. sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya”.


“apa kamu keberatan?”.


“tidak sama sekali. dan aku sangat menikmatinya”. Lara menoleh. “bagaimana dengan kamu?”.


“denganku?”. tanya Redana heran.


“iya. aku hanya ingin tahu”. Lara menekankan. ”apa yang membuat kamu memilih menjadi budak?”.


Pertanyaan itu seakan menonjok rongga dadanya. mematahkan tulang rusuknya. seolah Redana tidak mempercayai pendengarannya sendiri. ia mengalihkan pandangannya ke sungai.


“karena aku tidak punya pilihan lain”. Redana menghela nafas. “setelah kepergian orang tuaku. aku berjuang sendiri untuk bertahan hidup. dan siapapun tidak ada yang mau di takdirkan menjadi budak”. wajah datar Redana kembali berpaling menatap Lara “begitupun aku”.


Ekspresi Lara menunjukkan penyesalan telah melontarkan pertanyaan yang tidak seharusnya ia utarakan. namun wanita itu sudah terlanjur menarik perhatian Lara saat kali pertama melihatnya di perkebunan. sehingga ia kembali berbicara walau sedikit berat.


“aku tidak bisa membayangkannya”.

__ADS_1


Redana mengulurkan jari jemarinya dengan sigap. mengambil batu-batu kecil yang terhampar di sepanjang tepi sungai sebelum menegakkan kembali tubuhnya. dan tengah berpikir bahwa ia nyaris tak pernah menceritakan kisah hidupnya dengan siapa pun. lalu mengembalikan perhatiannya pada Lara.


“aku hanya bercerita”. Redana melempar batu-batu tersebut ke sungai dan jatuh di permukaan. “dan tidak meminta kamu untuk membayangkannya”. Redana melemparkan senyum manisnya.


“ya. dan kamu benar” Lara menyetujuinya dengan cepat. rasanya melegakan juga ketika ia menyadari bahwa Redana tersenyum menjawab pertanyaannya. senyuman yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. ini hal yang memuaskan Lara. ia pun kembali menambahkan. “aku tahu Re. aku hanya tidak habis pikir. bagaimana kamu bisa bertahan menjalankan hari-hari sebagai budak”.


“dan beruntungnya, kita berbeda nasib. bukan?”. Redana melepaskan tawa kecil.


Ia makin yakin kalau Lara bukanlah Dirk. baru saja ia membuktikannya. mungkin dari awal seharusnya Redana membiarkan wanita itu masuk ke dalam kehidupannya. sehingga seluruh hidupnya mungkin sedikit berubah. ia tidak tahu bagaimana Lara mendapati ide cemerlang dengan membawanya ke sungai indah itu. yang ia tahu bahwa wanita itu belumlah lama berada di wamena. sepertinya Redana mengagumi keberanian wanita itu. tindakannya dalam mendekati Redana saat ia ingin mengenalnya lebih jauh. selain kecantikannya yang membius, ternyata Lara wanita cerdas. Redana bisa merasakan hal itu.


Lara tidak sempat mengeluarkan pertanyaan terakhirnya. melihat kesejukan yang terpancar dari wajah wanita itu. membuat ia menemukan kelegaan. Lara merendahkan diri.


“hanya kebetulan”. ia memalingkan pandangannya ke air dengan ekspresi takjub. “airnya bersih dan bening. apa kamu pernah kesini sebelumnnya?”.


“tidak pernah”. jawab Redana polos.


“boleh”.


Lara mengajak wanita itu bermain air. ia mengetatkan jari jemari lentiknya di lengan Redana tanpa ragu. sebagian jari jemari lainnya mengangkat sedikit gaun putih panjang sekaki saat menjejaki batu keras. kedua kaki mulusnya jalan bertatih melewati gemuruh air sungai menuju batu besar yang bertengger di tengah sungai itu. lalu memberi isyarat pada Redana untuk tidak melepaskan tangannya. Lara takut kalau dirinya akan terpeleset dan air itu akan menyeret tubuhnya.


Redana terkesiap mempertahankan tubuhnya. celana panjang putih susu di gulung selutut. membiarkan kakinya mengayun pelan mengikuti langkah wanita itu. Lara nyaris terjatuh saat telapak kakinya menjejak batu yang terasa licin. kemudian tubuh sigap Redana memegangi tangannya. ia tidak ingin mengecewakan Lara walau hanya berjalan di tengah gemuruh air.


Ia menoleh dan melihat senyum yang tersungging di bibir Lara saat tangannya menggapai-gapai batu besar yang bertengger menantinya. wajah itu penuh tekad sehingga Redana merasa tertarik untuk mengetahui sejauh mana keinginan Lara kalau duduk di atas batu itu.


Wajah itu terlihat tulus dalam menjalin pertemanan. bahkan Lara tidak peduli perbedaan kasta di antara mereka. tapi wanita itu tidak pernah tahu bahwa mereka akan menjadi teman dekat dalam waktu yang begitu singkat. kalau saat itu tiba Redana tidak akan menyesal telah mengenalnya.


Duduk bersisian di atas batu. Lara menarik gaunnya lalu mengerakkan kedua kakinya di dalam air. mengikuti pergerakan air mengalir. menimbulkan percikan yang membasahi gaunnya. mata hijau itu mulai bebas berkelana menjalar ke setiap sudut. ia mendesah pelan. pikirannya berpura-pura bahwa saat ini ia sedang berada di giethoorn. desa tempat Lara di lahirkan. dalam beberapa detik kemudian sesuatu mengagetkan dirinya dalam kepura-puraan. suara nyaring terdengar dari seekor burung putih terbang melebarkan sayapnya di udara. melintas lima jengkal di atas kepalanya.


Ia terdongak, tatapannya beralih melihat pemandangan langit yang kian membiru. di selimuti awan putih yang bergerak lambat terbawa angin. sayup terdengar suara dedaunan saling bersahutan. mengikuti arah mata angin berhembus. Lara ingin memanfaatkan waktu luangnya bersama wanita itu. mendorong Redana untuk ikut dalam kesenangannya. Lara merasakan tubuhnya menyatu dengan alam. sementara Redana terlarut dalam kesendirian.

__ADS_1


Senyum puas muncul sejenak sebelum wanita itu memutarkan bola matanya. Redana menikmati keadaannya saat ini. terbuai dengan keindahan di depan mata. ia tersenyum sendiri seakan menemukan dunia baru saat ia mulai berdamai dengan dirinya sendiri. memang hal itu yang seharusnya Redana lakukan sejak dulu. tidak ada gunanya menyimpan rasa kebencian yang tidak masuk akal jika ada kesempatan untuk menikmati kebersamaan di depan mata. mungkin Redana bisa belajar banyak dari wanita itu. bagaimana Lara menanggalkan masa lalunya setelah kepergian ibunya. setidaknya ia bisa mencoba melakukan hal yang sama. sudah saatnya Redana memberi kesempatan untuk dirinya sendiri.


“sudah berapa lama kamu tidak berkunjung ke tempat ini?”. Lara menoleh untuk memastikan ekspresi wanita itu.


“aku tidak tahu pastinya berapa lama. seingatku. aku tidak pernah menginjak tempat ini”. Redana mengalihkan pandangan ke Lara.


“selama di belanda. biasanya aku meluangkan waktu untuk pergi ke kanal. tapi sungai ini jauh lebih indah di bandingkan kanal”.


“oh ya?”.


“iya. di desaku itu lebih banyak taman dan kanal”. jawab Lara antusias.


“kamu nyonya belanda pertama yang mengajakku pergi ke sungai”.


“panggil aku Lara”. tambahnya kemudian. “apakah aku seperti nyonya?”. canda Lara


Redana menggeleng pelan. “menurutku tidak”. tambahnya memuji. “penampilan kamu sangat sederhana. tidak seperti kebanyakan nyonya-nyonya belanda yang pernah aku temui. kurasa memanggil Lara sudah cukup ”.


“iya. lebih baik Lara. rasanya aneh kalau kamu memanggil atau menganggapku nyonya. aku rasa usia kita tidaklah berbeda jauh”.


“bisa jadi aku lebih tua darimu”. timpal Redana.


”aku tidak percaya’. bantah Lara cepat. “kamu terlihat muda. sama sepertiku”. Lara menunjukkan ekspresi spontanitas. “oh iya, aku benar-benar tidak suka kalau di sandingkan dengan nyonya-nyonya belanda seperti yang kamu lihat. mereka terlalu sibuk mengurusi penampilan”. Lara terkekeh.


“sepertinya, iya”. Redana menyetujui. dan kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu membuat Redana tidak sanggup menahan tawanya.


Ia kembali tersentak. terang-terangan menatap wanita itu saat terkekeh. jadi ia benar kalau Lara adalah anak dari lelaki yang sangat di bencinya. dengan segala tindak-tanduknya. fakta itu nyatanya tidak membuat Redana terkejut. kemiripan anak dan ayah nyaris tak terpisahkan. kenyataan bahwa pria itu memiliki putri cantik bagai bidadari dari negeri impian yang saat ini menjadi teman barunya. tapi Redana menatapnya tanpa kebencian. ia menyadari bahwa Lara telah memanusiakan dirinya.


Redana tidak tahu apakah wanita itu menyadari kalau dirinya memperhatikan wajahnya. lalu pandangannya teralihkan. tubuhnya bergerak membungkuk. tangannya mengambil air membasahi wajahnya. memberikan kesegaran tersendiri yang belum pernah ia rasakan sejauh waktu berjalan sebelum ia terlambat menikmati kebebasannya walau sesaat.

__ADS_1


__ADS_2