
Hanya menghabiskan waktu bersama dengan wanita itu. Lara telah membangun persahabatan baik dengan Redana. berbagi cerita dan saling bertukar pikiran. karena ia senang melakukan itu. bahkan ia tidak mempermasalahkan bila itu budak sekalipun. ia pikir wanita itu akan menghindarinya lagi. akan tetapi, Lara melihat pertarungan di mata tersebut. Redana sedang bergelut dengan masa lalunya sendiri tentang impian serta ketakutan yang telah lama menguasai dirinya. kemudian melumpuhkan jalan pikirannya. dan ketika Lara terus mendekatinya. wanita itu menunjukan kelonggaran dalam benaknya.
Pada akhirnya, Lara melakukannya dengan mudah. ternyata wanita itu hanya membutuhkan orang yang tepat untuk mencairkan sikap dinginnya. menunjukkan rasa empati. Lara ingat ketika mereka menghabiskan waktu bersama di taman. duduk berhadap - hadapan di atas hamparan rumput beralaskan kain tebal. di kelilingi rerimbunan dan pemandangan perbukitan yang membentang luas dengan cuaca sedikit mendung. wanita itu mengatakan bahwa ia tidak ingin meninggalkan tanah kelahirannya yang sangat ia cintai. tapi, di sisi lain ia ingin bebas dari perbudakan. meski impian itu sangatlah mustahil untuk di raih. terlebih wanita malang itu hidup sebatang kara dan tinggal di pondok kecil.
Lara melihat bagaimana mata gelap itu memancarkan kerinduan akan masa depannya dalam sepenggal doa dan harapan, di terangi setitik cahaya bahwa suatu saat nanti, wanita itu yakin akan bebas dari perbudakan. walau ia harus berjuang sendiri. walau entah kapan itu akan terjadi. benaknya penuh pengharapan. lalu bola mata gelap itu meredup seketika. ingatannya pada sang ibu belum juga sirna dari bayang-bayang.
ia memahami apa yang sebenarnya di inginkan Redana. tapi ia pun tidak bisa mencegah impian Redana yang telah lama memompa darah di dalam tubuhnya. kemudian wanita itu bertanya dimana keberadaan sang ibu kepada Lara. ia pun membisu seribu bahasa. dan menatap Redana penuh iba. namun wanita itu tidak pernah mencari tahu dari mana Lara mengetahui peristiwa yang di alami Redana bersama sang ibu ketika usia dirinya berusia menginjak sepuluh tahun. tapi, Lara tidak akan pernah mengungkapkan dari mana ia mendapatkan informasi tersebut. ia tidak ingin melihat Redana terus menutup diri. atau pun mengingatkan kembali akan masa lalunya. ia lakukan hal itu semata-mata untuk menjaga perasaan dan kewarasan Redana.
Meski pembicaraan mereka berbelok-belok, namun Lara sangat menikmati kebersamaannya bersama Redana. ia tidak akan melupakan hal itu. senyum lepas wanita itu membuat Lara takjub dan senang. ia berpikir wanita itu cukup dewasa ketika membahas berbagai topik. pada akhirnya Redana berdamai dengan kenyataan dan mulai melupakan masa lalu.
Senyum kecil menyeruak di sudut bibir sensualnya ketika Lara selesai mengerjakan tugas yang di berikan oleh ayahnya. membuat laporan dari hasil ladang yang akan di jual ke beberapa produsen di luar pulau yang sempat tertunda. memang benar apa yang di pikirkan Redana, bahwa Lara adalah wanita cerdas yang mampu mengatur semua persoalan bisnis ayahnya. meski ini pengalaman baru baginya
Lara berdiri dari kursi kerjanya. menyeret langkah ujung gaunnya. lalu bergerak ke arah pintu. mengulurkan salah satu tangannya yang di balut kain katun sepanjang lengan. jari jemarinya membuka kunci pintu kamar. sebagian tangannya membawa buku tebal dan panjang. ia keluar dan kembali mengunci pintu kamarnya. hentakan halus langkah kakinya terasa sunyi saat melewati lorong kamar menuju ruang kerja ayahnya.
Ia menghela nafas dalam. ketika memikirkannya kembali. meninggalkan desa kecil yang selama ini ia kenal dengan kanalnya. lalu harus terbang ke papua untuk membantu pekerjaan ayahnya yang sibuk keluar kota. kemudian bertemu Redana. budak rendahan namun memiliki mimpi besar. dan itu membuat Lara kagum.
Menyadari langkahnya tiba di depan ruang kerja ayahnya. ia bergegas membuka pintu. lalu menutupnya kembali dan berjalan menghampiri ayahnya yang duduk di sudut ruang kerja sambil menulis di kertas putih di atas meja. Lara berdiri sigap di samping meja kerja tersebut.
“ayah. aku sudah menyelesaikan tugas yang ayah berikan”. Lara menyodorkan buku. “aku harap semua laporan yang aku kerjakan, sudah sesuai keinginan ayah”.
Dirk berhenti sesaat. memalingkan pandangannya. tangannya meletakan pena emas bertinta hitam di atas kertas putih. lalu menerima buku tersebut.
“ayah harus periksa semuanya. dan tidak ingin ada kesalahan”.
__ADS_1
“baik ayah”.
Lara bergerak beberapa langkah. menyeret kursi depan meja kerja ayahnya. lalu duduk dan menyandarkan punggungnya ke permukaan keras ke belakang. memandangi wajah Dirk dengan kerut kasar nampak menghiasi keningnya bersama rambut tipis yang bertengger di atas bibirnya. mata biru itu bersinar menelusuri buku tersebut.
ia menyentak pelan batinnya. mendengus halus beberapa saat ketika mendapati kekejaman yang terpancar di wajah persegi itu. sementara pikirannya terusik. mengingatkan kembali akan cerita bibi Maruna. seperti ada sesuatu yang tidak pernah terungkap.
"ayah rasa, laporan kamu sudah lebih dari apa yang ayah inginkan”. ia menatap Lara. “kamu benar-benar sudah mengerti”. Dirk menutup buku itu lalu di letakan di atas kertas putih.
“benarkah?”.
Lara tersenyum.
“apa menurut kamu ayah sedang berbohong?”.
“bukan itu maksudku. aku hanya….”. Lara mengepal jari jemarinya di atas paha.
Lara tidak mengharapkan ayahnya kembali cepat. yang ia inginkan hanyalah memberi waktu sekali lagi kepada wanita itu untuk menikmati sedikit kekebasannya. perhatiannya kini tertuju pada Redana.
“berapa lama ayah akan tinggal di yogya?”. tanya Lara memastikan.
“belum tahu pasti”. Dirk mengernyitkan dahi. menjawab dengan ragu. “mungkin, dua atau tiga hari”.
Dirk memang di sibukan bertemu dengan beberapa kliennya di luar kota. menjaga hubungan baik untuk mengembangkan bisnis hasil ladangnya. tapi, kali ini Dirk tidak memberitahu alasan kepergiannya. ia menyembunyikan hal itu. karena ia ingin putrinya fokus mengurusi ladang. ada banyak hal yang harus Dirk urusi di luar hasil ladang. salah satu agendanya adalah penjualan budak.
Lara tidak ingin berlama - lama di ruang kerja ayahnya. membiarkan tatapannya singgah di wajah itu.. Lara pun pamit.
__ADS_1
“ayah. aku harus istirahat. dan aku tidak ingin mengganggu pekerjaan ayah”.
“sampai ketemu besok. masih banyak pekerjaan yang harus ayah selesaikan siang ini”.
Lara tidak berbicara dan hanya tersenyum ketika dirinya beranjak bangkit dari kursi dan berbalik untuk berjalan menuju pintu. namun langkah ringan wanita itu berhenti di tengah. sepertinya ada hal yang ingin di ucapkan. Lara pun membalikkan badan.
“ayah. selama ayah pergi keluar kota. kasih aku tanggung jawab untuk mengurusi budak”.
Dirk nyaris tidak mengangkat wajah saat meneruskan menulis diatas kertas putih itu.
“apa mereka berbuat salah?”.
Saat ini yang ia pikirkan adalah bertemu dengan bibi Maruna. melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti oleh waktu. atau mungkin ia ingin mengorek lebih banyak informasi mengenai Redana. selebihnya Lara menemukan kecocokan dan merasa nyaman ketika berbicara dengan budak itu. bisa jadi karena Lara memiliki alasan lain.
“tidak ada. aku hanya ingin bekerjasama dengan mereka”.
Dada Lara sedikit mengembang oleh keraguan. takut-takut ayahnya tidak mengizinkan Lara melakukan hal itu.
“kalau itu yang kamu inginkan. ayah serahkan semuanya ke kamu”.
“terima kasih ayah”. Lara tersenyum lega. lalu melanjutkan langkahnya. membuka dan menutup kembali pintu ruang kerja ayahnya.
Lara memang tidak mengecewakan ayahnya. segala tugas yang di berikan Dirk selalu di kerjakannya dengan baik. hal itu terbukti bagaimana ayahnya mengakui kinerja Lara. jadi wajar saja apa yang di minta Lara selalu mendapat persetujuan. termasuk memberikan tanggung jawab untuk mengurusi budak yang bekerja di ladang.
Ia sadar bahwa ayahnya menaruh banyak harapan agar dirinya bisa membantu mengurusi hasil yang di dapat dari ladang. tapi, ia tidak ingin menguras otaknya untuk mengurusi pekerjaan saja. Lara ingin membagi sedikit waktu untuk dirinya sendiri. mencari kesenangan.
__ADS_1
Langkah Lara kini beralih ke dapur untuk menemui bibi Maruna. menikmati masakan terenak yang pernah ia coba. lalu membicarakan berbagai hal yang belum banyak ia ketahui. terutama rencana kepergian ayahnya yang di sembunyikan darinya. ia menganggap bibi Maruna lebih dari sekedar pembantu. meski Lara baru mengenalnya sejak ia menginjakkan kakinya di wamena. sejak lama tuan Dirk De Vries memperlakukan bibi Maruna seperti keluarga. karena wanita tua itu sudah lama mengabdi puluhan tahun lamanya. itulah salah satu alasan kenapa Lara sangat mempercayainya.