
“boleh aku bantu?”.
Suara pelan itu menyentak Redana untuk memalingkan pandangannya saat dirinya sedang memarkirkan pedati tersebut di sudut gudang. lalu menjawab lemah.
“terima kasih”. Redana menggeleng pelan dan berjalan kesamping pedati. tangannya bergerak cepat menuruni batang tebu lalu di letakan di tanah kering.
Sosok pemilik suara itu berdiri sigap di belakang pedati. wanita berambut hitam panjang di gelung dengan perawakan tinggi sintal yang nyaris sepantaran Redana - kini sedang menatapnya.
“apakah ada larangan untuk membantu pekerjaanmu?". sepasang alis gelap itu naik untuk menekankan pertanyaannya.
Benak dan tangan Redana terlalu sibuk untuk menanggapi kalimat basa basi yang di lontarkan wanita itu. sehingga ia menjawab sekenanya.
“aku bisa melakukannya sendiri”.
Satu kalimat itu rasanya cukup menegaskan bahwa Redana menolak bantuan wanita itu. ia berpikir ada baiknya bekerja sendiri itu lebih baik, dengan begitu ia bisa menyelesaikan pekerjaanya dengan cepat. atau mungkin bisa jadi Redana enggan merespon pertanyaan wanita asing tersebut.
Dua pertanyaan yang keluar itu sempat membuatnya menatap Redana sejenak. memperhatikan wajah kusut masai itu yang kini di banjiri keringat dan nyaris membasahi pakaian lusuhnya - mungkin karena kelelahan menarik pedati di bawah sinar matahari. bola matanya menangkap tangan Redana yang bergerak cepat menuruni batang tebu tersebut. rambut keriting sedada terurai itu memperlihatkan nafasnya yang pelan dan berat. dengan ekspresi seolah wanita itu membatin. Lara sedikit menyesal karena membiarkan tatapannya melekat pada seraut wajah lelah itu. ia menyentak dirinya sendiri. kaki mulusnya bergerak maju. kedua tangannya menyambar tumpukan batang tebu dan di letakan di tanah kering.
__ADS_1
“aku tahu kamu bisa melakukannya sendiri. tapi. bukankah ini pekerjaan laki-laki?”. tanya Lara penasaran.
Pertanyaan itu dengan sendirinya muncul dari mulut Lara, tapi tentu saja pertanyaannya tidak membuat pergerakan tangan Redana berhenti untuk membuat percakapan. baginya mungkin wanita itu tidak tahu dunia luar atau tidak pernah mengenal dunia perbudakan. Redana menilai wanita itu sangat bodoh dan tidak seharusnya membuang waktu untuk membangun percakapan tak berguna, apalagi sampai repot-repot membantu pekerjaan kasarnya.
“di dunia perbudakan, tidak ada perbedaan kelamin…semua di perlakukan sama”. Redana akhirnya memberikan jawaban menohok.
Ia terhenyak ketika mendapati jawaban yang tidak mengenakan. bola matanya membulat akibat perkataan yang keluar dari mulut Redana. ia menghela nafas. kedua tangan Lara terlepas dari pedati saat dirinya hendak mengambil batang tebu. meraba dalam setiap kalimatnya yang mengandung sindiran. namun Lara memilih diam. membiarkan mata tajamnya tertuju pada Redana. sementara pikirannya sibuk mencari kalimat yang tepat untuk membuat wanita itu mengerti.
“aku minta maaf atas kejadian kemarin”.
"maksudnya?". tanya Redana polos.
Awalnya, Redana tidak mempedulikan perkataan wanita itu dan menganggapnya hanya sekedar basa basi, atau sedang mencari informasi. kalau di pikiran pendeknya, bisa saja wanita itu sedang membuat perangkap untuk menjebaknya. dan Redana akan menjalani hukuman untuk kali sekian. wajar saja ia berpikir seperti itu. baginya hal itu sering terjadi yang di lakukan pengawas ladang kalau mereka tidak menyukai individu budak. alih-alih ingin membantu, justru di tuduh mencuri.
Atas alasan itu ia mengabaikan bantuan Lara, ia sudah mengantisipasi. bahkan sebisa mungkin Redana mempercepat pekerjaannya agar dirinya bisa keluar dari tempat itu.
“aku tahu apa yang ada di dalam pikiran kotormu. tapi aku pastikan. aku tidak seperti apa yang kamu bayangkan. aku…..”.
__ADS_1
Lara tidak mengerti kenapa ia harus mengeluarkan pernyataan itu. seakan menggantung di setiap kalimatnya. apakah itu suatu petanda ancaman baru saat dirinya di abaikan?. atau ia punya alasan lain?. sepertinya Lara ingin meyakinkan wanita itu, bahwa dirinya tidak bisa membiarkan Redana mengabaikan ucapannya. ia bergerak maju beberapa langkah. membawa tubuh tingginya yang tegap mendekat. lalu menatap sepasang mata yang mulai menggelap. merasakan aura kesuraman saat otak Redana membeku dan kehilangan kata-kata.
Selintas ucapan Lara mengandung aroma ancaman. Aku tidak seperti apa yang kamu bayangkan. aku…... apakah wanita itu lebih baik, atau lebih buruk?. pikirnya. tapi, apapun itu Redana mencoba mengesampingkan segala prasangka, segala kecurigaan atau pemikiran buruk.
“aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan”.
“benarkah?”. jari lentik mulus Lara mengangkat sedikit dagu wanita itu. membiarkan Redana menatap mata hijaunya lebih dalam bersama bulu mata lentik yang tak bergerak, sehingga wanita itu bisa membaca pikiran Lara. Lara menambahkan. "apa yang membuat kamu tidak mengerti dengan semua perkataanku?".
Senyum menyeringai Lara berkembang di dua sudut bibir sensualnya. ia melihat Redana bernafas berat. wajahnya semakin berkerut sebelum Lara menarik mundur jari lentiknya. memberikan kesempatan kepada wanita itu untuk menjawab dalam kebingungan. bahkan dengan mudahnya Lara mencium aroma ketakutan dari wajah lelah itu. padahal Lara berbicara dengan nada pelan. tapi kalimatnya berhasil mengaduk-ngaduk pikiran Redana.
Redana mereguk ludah dengan kata-kata tercekat di dalam tenggorokannya. ia sudah menduga wanita itu akan mengatakan apa saja. atau mungkin bisa melakukan apa saja. jantungnya terasa berdentam hingga kepalanya nyaris berdenyut. darahnya terasa berhenti mengalir. tubuh langsingnya masih terdiam mematung. otaknya saling berpantulan di liputi kebingungan. sementara itu perkataan dan bahasa tubuh wanita itu membuat dirinya sulit mencerna, memutuskan jalan pikirannya. sepanjang menatap dalam diam, ia kesulitan menemukan celah untuk mengetahui maksud Lara. seolah semua tertutup oleh ketajaman mata hijau wanita itu yang bersinar bagai batu jamrud.
Rasanya ia ingin memalingkan wajah dan meninggalkan tempat itu. tapi tatapan tajam wanita itu berhasil mengunci pergerakan kakinya.
“apa kamu sudah lupa ingatan?”.
Suara lembut Lara akhirnya keluar dan mencairkan keheningan yang cukup lama. membiarkan dirinya terseret ke dalam pikiran Lara. Redana bergerak mundur untuk membuat jarak. terasa jauh lebih mudah menghindari dari pada menghadapi. bertemu dengan Lara bukan sesuatu yang menyenangkan bagi Redana. ia tidak menampik ketajaman mata wanita itu mampu membuat mulutnya bungkam.
__ADS_1
Lara tak bergeming, ia merasakan gerakan saat Redana menjauhkan diri. kedekatannya telah mengeruhkan pikiran wanita itu. sementara itu ia mengakui bahwa Redana adalah sosok wanita pemberani. ia pun sengaja menggantung sisa kalimatnya. membiarkan wanita itu untuk menerka dan berharap dirinya bisa berdebat panjang. tapi ini tidak seperti yang ia bayangkan. Redana berlalu menarik pedati meninggalkan tempat itu.