Calon Imam Idaman

Calon Imam Idaman
Ep 10 - Mulai Suka


__ADS_3

“Maaf ya.” Ucap Hafiz lirih


“Sakit tau, lagian kenapa sih Mas kamu ngeyel banget pengen nganteraku, aku itu strong jadi gak apa-apa gak usah dikhawatirin banget.” Ujar Riana kesal seraya memanyunkan bibirnya.


“Udah ayok ah tak antar, gak usah banyak tanya.” Ujar Hafiz dengan nada lembut, ia memegang bahu Riana membantu Riana untuk berjalan.


“Aneh tau nggak sih kamu itu Mas.” Gerutu Riana masih kesal dengan Hafiz


“Terus motor aku gimana nanti? Besok juga kau gimana kuliahnya? Aku itu gak ada yang bisa nganter Mas.” Lanjut Riana


“Besok kan sabtu, ngampus lagi kan senin. Nanti sementara motor tak bawa ke kontrakan terus senin tak jemput berangkatnya, beres kan?” Jawab Hafiz


“Terus kenapa kamu harus ngelakuin itu? Kurang kerjaan banget sih.” Ujar Riana masih merasa tak habis pikir dengan Hafiz yang menurutnya terlalu baik padanya hari ini.


“Ya cuma mau bantu aja, masak gak boleh.” Jawab Hafiz.


Setelah berdebat panjang mereka akhirnya sampai di parkiran. Hafiz menghidupkan motornya dan melajukan motornya ke arah Riana yang menunggunya di ujung parkiran. Hafiz membantu Riana menaiki motornya, setelah Riana naik ia melajukan motor sportnya itu dengan lumayan kencang.


“Mas, bisa gak pelan dikit aku takut kalau diboncengin motor terus ngebut kayak gini!” Pinta Riana dengan sedikit ketus karena saat ini ia sangat ketakutan.

__ADS_1


“oke oke.” Jawab Hafiz menuruti permintaan Riana sembari melambatkan laju motornya.


Riana saat ini duduk menyamping, tangan kanannya ia gunakan untuk berpegangan pada tas Hafiz, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk memegang roknya yang lumayan lebar itu supaya tidak masuk ke roda motor Hafiz. Memang Riana tidak pernah membonceng motor sejenis motor Hafiz ini, ia biasa bonceng di motor matic yang datar sedangkan sekarang ia ada diujung jok motor sport Hafiz yang sangat tinggi. Ya Riana sangat takut dan sangat tidak nyaman saat ini, ia hanya berdoa supaya ia bisa sampai rumah dengan selamat, tidak terpental jatuh ke jalan itu saja pintanya.


Sudah setengah perjalanan mereka tempuh. Mereka hanya terdiam tanpa ada percakapan selama perjalanan.


Ciiittt... Hafiz menghentikan motornya tepat di depan lampu merah.


Hening... mereka masih terdiam sembari menunggu lampu di samping jalan berubah warna menjadi hijau. Riana saat ini hanya memandang orang-orang yang berhenti di samping kanan kirinya dan di belakangnya, ia memandang dengan pandangan kosong. Beberapa saat kemudian lampu berubah warna, hafiz memasukan gigi motornya, bersiap melajukan motornya.


Sedangkan Riana saat ini masih belum menyadari kalau lampu sudah membiru. Saat motor mulai akan berjalan, terjadi hentakan yang lumayan kencang hingga membuat Riana tersentak ke belakang dan hampir jatuh. Riana sangat terkejut, ia dengan refleks mengaitkan tangannya yang semula berpegangan pada tas Hafiz ke pinggang Hafiz. Ia sekarang hanya bisa membeku saat motor mulai melaju dengan stabil. Saat mulai tersadar Riana lalu buru-buru menarik tangannya dari pinggang Hafiz.


“Pegangan aja.” Ujar Hafiz menarik tangan Riana dan mengembalikan lagi keposisi semula. Riana hanya terdiam, entah kenapa ia hanya bisa menurut saat ini. Ini bukan dirinya, biasanya ia selalu menolak apapun yang tidak sesuai dengan batasannya. Dan ia juga heran kenapa saat ini jantungnya berpacu dengan keras dan ada sedikit aliran listrik yang menggelitik tubuhnya saat tangan Hafiz meraih tangannya.


“ini kemana kita, udah masuk desamu nih.” Tanya Hafiz menyadarkan Riana dari lamunannya.


“eh i-ini Mas belok kekanan ikuti jalan ini aja lurus, nanti kalau sampai masjid yang di kanan jalan pelan-pelan, ada gang matahari di selatan masjid belok aja Mas.” Jawab Riana, Hafiz kemudian membelokan motornya dan melaju mengikuti petunjuk arah dari Riana. Setelah menemukan Masjid Hafiz memelakan laju motornya dan memasuki gang yang tepat berada di samping pagar samping Masjid tersebut.


“ Ini lurus?” Tanya Hafiz

__ADS_1


“Iya Mas, nanti kalau nemu jembatan maju dikit, rumahku di samping jembatan itu.” Jelas Riana


“ oke.” Jawab Hafiz singkat.


Setelah sekitar 2 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di jembatan yang Riana maksut, Hafiz menghentikan motornya tepat di depan sebuah rumah sederhana dengan halaman yang dipenuhi bunga dan pohon buah-buahan.


“Makasih ya mas, tapi maaf gak usah mampir ya soalnya gak ada orang di rumah jam segini, bapak ibukku masih pada kerja.” Ujar Riana yang masih berada di atas motor Hafiz.


“Iya-iya, aku juga emang mau langsung balik.” Ujar Hafiz sembari mengulurkan tangannya pada Riana.


“Pelan-pelan.” Lanjut Hafiz membantu Riana turun. Setelah Riana turun, hafiz lalu berpamitan dan melajukan motornya meninggalkan Riana yang masih memandangi kepergian Hafiz dari halaman rumahnya. Riana lalu masuk kerumah, ia memasuki kamarnya melepas tasnya dan kaus kaki yang ia kenakan lalu menjatuhkan dirinya di kasur kapuk yang sudah sangat lama menjadi alas tidurnya. Ia menghembuskan nafas ringan lalu memejamkan matanya perlahan dan membayangkan ulang semua yang terjadi padanya hari ini. Ia mengingat semua momen-momen dirinya dengan Hafiz satu-persatu, mulai dari menuntunnya dari tangga ke kelas, membelikannya minyak urut, meminta bantuan Razka untuk memijat kakinya, mengantarkannya pulang, sampai menarik tangannya untuk berpegangan di pinggangnya. Riana tanpa sadar menyunggingkan bibirnya, tersenyum lebar dan timbul semburat merah di pipinya. Ia tertawa sambari menangkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya yang masih terbalut jilbab, kemudian ia menggoyangkan tubuhnya sambil tertawa malu-malu.


“aaaaahhh.... apa yang aku bayangin sih.” Ujar Riana setelah tersadar, ia bangkit dari tidurnya, duduk dipinggiran kasur.


“Sadar Ri, kamu kenapa malah mikirin Hafiz si, terus kenapa juga tertawa kaya orang gila.” Ucapnya pada dirinya sendiri


“Tapi kalau dipikir-pikir emang aneh banget orang itu, kenapa juga ya dia jadi perhatian ke aku kayak gini, bukannya sebelumnya jarang banget ngomong sama aku, kenapa tiba-tiba berubah, terus kenapa juga aku dengan bodohnya salah tingkah kayak gini, haduh Ri sadar ah.” Lanjutnya


“udah ah dari pada aku gak jelas mikir aneh-aneh mending mandi aja lah terus istirahat.” Lanjut Riana sembari bersiap untuk mandi.

__ADS_1


Setelah Riana selesai mandi, ia lalu berganti baju dan kemudian sholat dzuhur. Setelah selesai sholat ia membaringkan tubuhnya sembari mengecek ponselnya. Ia terkejut mendapati pesan dari Hafiz.


‘Istirahat ya biar cepet sembuh kakinya, terus hari senin tak jemput jam 7 ya.’ Isi pesan Hafiz pada Riana.


__ADS_2