
“lho si Riana mana ko gak ada?” tanya Wildan setelah menyadari Riana tidak ada di antara mereka. Saat ini Wildan dan teman-temannya sedang makan siang di sebuah cafe yang terletak lumayan jauh dari kampus.
“dia ngerjain tugas katanya.” Sahut Razka
“ya gak seru banget sih, kalau gini gak ada yang bisa aku jahilin.” Ujar Wildan yang sedikit kecewa karena Riana tidak ada. Memang selama ini setiap mereka kumpul Wildan selalu menjahili Riana, ia sangat suka dengan tingkah konyol Riana saat marah, merajuk sampai saat Riana terkejut karena kejahilan Wildan.
“sok sibuk emang itu orang.” Sahut Hafiz ketus, hari ini ia sedikit kesal setelah mengingat Riana yang menolak ikut dengan Razka dan Hana di kelas tadi. Karena kalau Riana menolak maka Hafiz tidak bisa berkomunikasi ataupun melihat nya dari dekat. Ia jadi kesepian sekarang karena tiada sosok Riana yang selama beberapa hari ini menghiburnya diam-diam.
“ya gak sok sibuk dong Fiz, emang kita kuliah kan harus ngerjain tugas kalau emang jatahnya dapat tugas, berarti bagus dong Riana Rajin.” Ujar Chafi dengan nada menenangkan.
“nanti anterin aku beli kado ya buat kakak ku.” Lanjut Chafi meminta Hafiz menemaninya
“kenapa gak sama Wildan aja sih” tanya Hafiz
“males aku kalo sama Wildan yang ada gak dapat kado malah dapat semprot, dia kan gak sabaran banget, anterin ya” mohon Chafi
“ya deh” Hafiz dengan pasrah mengiyakan ajakan Chafi.
Sementara itu Riana yang mereka bicarakan saat ini tengah sibuk mencari buku-buku referensi di rak dengan kode manajemen. Kini ia dan Eri sibuk mengumpulkan buku untuk referensi makalah mereka. Setelah ada sekitar 4 buku di tangannya, Riana lalu kembali ke meja yang tempat dimana Eri berada.
“aku dapat empat Er, kamu dapat berapa? Tadi tak cek sih ada beberapa yang bisa kita ambil dan kita sambungin ma makalah kita.” Ujar Riana
“duduk aja dulu Ri, kita mulai kerjain aja nanti kalau ada yang kurang kan bisa nyari lagi.” Eri menarik tangan Riana untuk duduk disampingnya.
“maaf ya kita telat...” Ilham tiba-tiba muncul dibelakang mereka bersama Arif, nafas mereka ngos-ngosan mungkin karena mereka lari menaiki tangga. Perpustakaan ini memang ada di lantai 3 jadi ya wajar kalau mereka ngos-ngosan karena harus menaiki tangga yang lumayan banyak.
__ADS_1
“iya gak apa-apa” jawab Riana
“kita langsung bahas aja ya, ini bahannya udah ngumpul kok, paling nanti misal kurang-kurang gak akan banyak.” Lanjut Riana
“bentar tak nafas dulu, masak baru sampe langsung bahas makalah.” Ujar Ilham
“kan biar cepet kelar, soalnya Eri jam 3 udah harus pulang.” Jelas Riana pada Ilham
“owh iya deh iya, gimana kalau kita bagi aja ngerjainnya, aku bagian pembukaan plus penutup tambah daftar isi gak apa-apa, kalian ngerjain yang isinya bertiga.” Ujar Ilham memberi saran.
“boleh juga si jadi kita kerja semua, kan cepet ntar selesainya.” Riana setuju dengan ide Ilham, kemudian Riana diskusi dengan Eri dan Arif, untuk membagi bagian-bagian yang harus dikerjakan.
Waktu tak terasa cepat sekali berlalu, saat ini waktu telah menunjukan pukul 14.40, Riana lalu mengingatkan Eri kalau sudah hampir jam 3 dan mengajak Eri untuk pulang. Tugas mereka sebenarnya sudah hampir selesai tapi masih ada beberapa yang belum lengkap. Akhirnya Riana memutuskan untuk mengerjakan sisanya dengan Eri besok, sedangkan Ilham dan Arif hanya perlu mempelajarinya nanti saat makalah selesai. Ilham dan Arif menyetujui usulan Riana, akhirnya mereka pamitan untuk pulang.
“iya gak apa-apa mbak santai aja, buruan pulang ntar telat kerjanya lo.” Sahut Arif
“yaudah kita duluan ya mas.” Pamit Riana pada mereka.
“ya hati-hati.” Jawab Ilham dan Arif bersamaan
Riana dan Hana keluar dari perpus bersama-sama. Riana kemudian mengantar Eri ke parkiran di gedung Fakultas mereka. Diperjalanan menuju parkiran Riana menanyakan tentang pekerjaan Eri.
“Er, emang kamu kerja dimana sih?” Tanya Riana
“Di cafe Queen Moeslim Ri, yang di deket taman kota itu lho.” Jelas Eri
__ADS_1
“part time ya itu Er?” Tanya Riana lagi
“iya, ada 2 yang part time kaya aku, kenapa Ri kamu penegn ikut kerja?” Tanya Eri balik
“kalau ada lowongan sih mau-mau aja Er, lumayan kan bisa buat nambah uang saku ku Er, ya biar gak terlalu bebanin ortu lah.” Jawab Riana
“nanti tak tanyain bosku Ri, semoga bisa ikut kerja ya kamu, aku pasti seneng kalau kita bisa kerja bareng.” Ujar Eri tersenyum
“aamiin.. makasih ya Er, udah gih buruan nanti kamu telat malah aku ajakin ngobrol mulu.” Ujar Riana mengingatkan Eri. Mereka saat ini sudah sampai di parkiran Fakultas mereka. Eri langsung pamit ke Riana dan buru-buru melajukan motornya sambil melambaikan tangan ke Riana yang masih berdiam diri disana.
Di lain tempat, Hafiz dan Chafi saat ini sedang berkeliling di beberapa toko tas mewah. Ya Hafiz saat ini sedang menemani Chafi memilih kado untuk sahabatnya. Hafiz memarkirkan motornya di depan sebuah toko tas yang lumayan besar.
“nyari disini ya.” Ujar Hafiz
“iya deh, ayok masuk” Chafi menarik lengan Hafiz memasuki toko, mereka lalu berkeliling melihat tas-tas cantik yang terpajang di etalase toko tersebut.
“menurutmu yang mana ya yang harus aku pilih.” Tanya Chafi meminta saran dari Hafiz, Hafiz melangkah mengambil satu tas yang terlihat sederhana tetapi terlihat elegan tepat di depannya.
“ kalau ini gimana Fi?” Hafiz menunjukkan tas itu pada Chafi
“bagus sih, emang kamu tu gak pernah mengecewakan kalau soal milih barang yang bagus buat cewek.” Ujar Chafi yang mengakui sifat Hafiz yang sangat mengerti wanita. Hafiz memang tipikal cowok yang manis pada wanita, dia amat baik pada setiap wanita yang dekat dengannya sampai-sampai banyak wanita yang merasa hanya diberi harapan palsu oleh Hafiz.
Hafiz sebenarnya tak pernah ingin menyakiti hati teman-teman wanitanya, ia bahkan sangat berhati-hati apabila ada teman wanitanya yang menunjukan perasaan padanya, tapi kehati-hatiannya lah yang ternyata semakin menyakiti perasaan wanita-wanita yang menyukainya. Pada awalnya Hafiz akan bersikap sewajarnya pada mereka tetapi saat Hafiz menyadari mereka menyukainya ia akan menjauh.
Sikap yang sewajarnya menurut Hafiz itu sebenarnya sangat tidak wajar bagi kaum Hawa, karena Hafiz akan memperlakukan wanita itu dengan lembut, sabar dan perhatian saat para wanita itu punya masalah dan menceritakannya padanya. Wanita mana yang tidak akan meleh hatinya saat diperlakukan seperti itu oleh seorang lelaki yang tampan dan sangat pintar, jelas mereka seiring waktu akan jatuh cinta padanya. Tetapi saat mereka menyatakan cinta atau menunjukan cintanya ia akan menjauh, ini jelas menyakitkan bagi para wanita yang menyukainya, tapi bagi Hafiz ini lebih baik daripada Hafiz bersikap normal dan membuat rasa suka mereka semakin dalam padanya.
__ADS_1