Calon Imam Idaman

Calon Imam Idaman
Ep 05 - Daya Tarik Riana


__ADS_3

Riana memperhatikan keempat orang yang terbilang asing duduk satu meja dengannya. Diantara mereka berempat hanya Razka yang sedikit ia kenal sedangkan ketiga orang yang ada di hadapannya ini belum ia kenal sama sekali. Chafi dan Wildan terlihat sibuk dengan smartphone mereka masing-masing, sedangkan Hafiz terlihat memandang hamparan sawah di sampingnya dan sesekali menyesap rokok yang tersemat di antara jari tengah dan jari manisnya. Wildan dan Razka juga sempat merokok tadi, walaupun riana sangat tidak suka dengan asap rokok, ia hanya mampu diam karena ia merasa tak enak hati apabila memarahi atau menegur mereka, karena Riana belum kenal karakter mereka masing-masing.


“ lho si Razka belum balik...” ujar Wildan tiba-tiba setelah meletakan ponselnya di meja dan menoleh ke samping Riana yang masih terlihat kosong.


“belum...” jawab Riana


“sekalian nunggu minuman mungkin.” Lanjut Riana


“owh mungkin juga” jawab Wildan setuju


“ngomong-ngomong kita belum kenalan ya tadi... aku Wildan Manajemen kelas C satu kelas ma Chafi.” Lanjut Wildan memperkenalkan diri. Chafi juga ikut memperkenalkan diri pada Riana dan Hana setelah mendengar Wildan menyebut namanya.


“masnya juga temen sekolah mas Razka?” tanya Riana menyambung oblorannya dengan Wildan.


“yups.. temen sekolah plus temen pondok, kita bertiga satu pondok” jelas Wildan


“lha mbak Chafi juga satu pondok?” tanya Riana Lagi


“gak, Chafi ini temen kecil ku sekaligus tetanggaku, mereka kenal sama Chafi gara-gara sering main ke rumahku tiap liburan.” Ujar Wildan menjelaskan


“owh...” Riana menyimak penjelasan Wildan


“kalau Hana ini juga temen sekolahmu?” giliran Wildan yang tanya pada Riana


“gak mas, kita baru aja kenal kemarin ko.” Jawab Riana


“sekali-sekali tanya ke aku kek, dari tadi Cuma di kacangin mulu mentang-mentang aku di pojokan gak pada dianggep.” Ujar Hafiz memotong pembicaraan Riana dan Wildan.


Sejujurnya Hafiz sedari tadi beberapa kali memandangi Riana tanpa gadis itu sadari, Hafiz memperhatikan setiap gerak gerik lucu gadis itu, mulai dari pertengkaran kecil Riana dengan Razka, tingkah Riana yang menggemaskan saat memilih menu makanan sampai saat Riana mengobrol dengan Wildan. Menurutnya gadis aneh ini cukup menyenangkan untuk di pandang. Ia merasa terhibur melihat segala tingkah laku gadis itu. Walaupun ia meresa ini sangat aneh, karena ia adalah tipe orang yang sangat cuek dengan orang sekitar.

__ADS_1


Hafiz biasanya sangat cuek pada teman-teman satu kelasnya, bahkan setelah satu tahun bersamapun ia tak jarang tidak mengenal nama beberapa teman kelasnya. Hafiz memang terkenal cuek pada semua orang, dia hanya akan perduli dan perhatian pada sahabat-sahabat dekatnya saja.


“he he he... maaf mas.” Riana meminta maaf canggung


Hafiz sedikit kecewa melihat ekspresi wajah Riana yang semula ceria berubah menjadi datar dan canggung saat ia menyela perbincagan Riana dan Wildan.


“kamu ganggu aja si Fiz, tu liat Riana jadi canggung lagi kan, kalau kamu gak pengen di kacangin ya sini ngobrol ma Chafi atau ini sama mbak Hana yang dari tadi diem aja.” Wildan menyuruh Chafi geser ke samping dan ia pindah ke ujung.


“udah kita lanjut ngobrolnya Ri, gak usah peduliin si Hafiz.” Ujar Wildan setelah mendudukan diri di tempat yang semula Chafi duduki.


Riana dan Wildan melanjutkan perbincangan mereka, Riana cukup nyaman dengan sosok Wildan yang humoris. Chafi dan Hafiz pun terlihat saling mengobrol, sedangkan Hana kini hanya terdiam dan menyibukan diri dengan memainkan ponselnya. Sampai beberapa saat kemudian Razka datang membawa nampan yang penuh dengan enam gelas minuman dan satu kotak tertulis nomor 34 .


“Bantuin woi... asik ya pada ngobrol aku disuruh ngantri.” Protes Razka yang terlihat kesal karena lama mengantri di depan menunggu minuman yang mereka pesan. Riana kemudian membantu Razka membagikan minuman sesuai pesanan masing-masing.


“ngobrolin apa tadi Wil kamu, kayaknya seru banget mas si Riana?” Tanya Razka pada Wildan setelah menyedot setengah gelas dari minuman yang ada di hadapannya.


“kepo... iya kan Ri” jawab Wildan


“tau ah, kayaknya kalian seserver males aku, mau ngobrol sama Hana aja kasian dari tadi kalian cuekin. Razka lalu bengkit menggeser Riana dengan cara menendang-nendang pelan tubuh Riana supaya bergeser kesamping.


Hana tegang setelah Razka duduk disebelahnya dan mulai mengobrol dengannya.


“rumahmu mana han.” Tanya Razka pada Hana.


“gak apa-apa kan kalu aku nanya-nanya.” Lanjut Razka


“iya gak apa-apa kok.” Jawab Hana dengan senyum cerah dan pipi yang terlihat merona.


“pesanannya ya mas.” Ujar seorang wanita karyawan warung ini pada Wildan sembari meletakkan piring-piring berisi pesanan mereka diatas meja satu persatu.

__ADS_1


“ iya mbak makasih” Ujar Wildan pada wanita yang melangkah pergi meninggalkan meja mereka.


Semua pesanan sudah ada ditangan masing-masing, mereka lalu menyantap makanan mereka sembari mengobrol santai, mengakrabkan diri mereka satu sama lain.


Tidak terasa mereka telah menghabiskan waktu hampir satu jam di warung tersebut. Riana mengajak Hana kembali ke kampus duluan, sementara mereka berempat masih mengobrol di sana.


“ke masjid yuk Han, kenyang aku pengen istirahat.” Ajak Riana setelah keluar dari warung.


“oke.” Jawab Hana singkat dengan senyum yang terus merekah dan pipi yang masih merona.


“ngapain senyum-senyum kaya gitu Han? Emang aku lucu?” Tanya Riana Heran setelah melihat senyuman Hana yang aneh menurutnya.


“gak lah... kamu gak ada lucu-lucunya Ri.. ha ha ha” jawab Hana tertawa lepas menyembunyikan senyuman dan semburat merah di pipinya dari Riana. Ia tak mau Riana mengetahui kalau ia tertawa karena Razka. Hana merasa sangat bahagia karena sempat mengobrol dengan Razka tadi disela-sela ia makan. Kini ia sudah sedikit mengenal sosok Razka.


“iiih jahat banget.” Ujar Riana tak terima.


“aku ngambek..” lanjut Riana sambil berjalan pergi meninggalkan Hana yang masih di depan Warung.


“eh iya deh maaf Ri... Riiii jangan ngambek dong.” Kejar Hana merayu Riana yang marah padanya.


“masih ngambek aku... udah ah jauh-jauh jangan deket-deket sama aku, kan aku ngambek.” Ujar Riana yang masih berpura-pura marah pada temannya itu.


“ya udah kamu pergi aja sendiri kalau ngambek, gak usah temenan sama aku.” Ancam Hana


“eh eh eh... udah gak ngambek ko.” Riana membalikan badan lalu menggandeng tangan Hana dan bergelayut manja pada Hana.


“ha ha ha.... makanya jangan macem-macem, kan temenmu disini cuma aku aja ha ha ha.” Ujar Hana sembari tertawa


“udah yuk buruan ke masjid, panas banget... lari yuk” hana menarik Riana berlari menuju masjid kampus yang berjarak 300 meter dari warung tempat mereka makan.

__ADS_1


Riana dan Hana menuju ke masjid untuk menunaikan sholat dzuhur dan beristirahat sejenak sebelum masuk kelas jam ke 3 pukul 13.00 nanti.


__ADS_2