Calon Imam Idaman

Calon Imam Idaman
Ep - 08 Riana Terjatuh


__ADS_3

Setelah mendapatkan Hadiah untuk sahabatnya Chafi masih berkeliling melihat-lihat tas disana, dan hafiz masih setia berada disampingnya.


“mau ngado berapa orang sih Fi, ini udah dapet ko masih muter aja.” Tanya Hafiz yang mulai lelah mengikuti Chafi yang bolak-balik mengitari seisi toko tersebut.


“aku jadi pengen beli satu nih, gara-gara tas pilihanmu lucu banget, pilihin satu buat aku dong, ya.. ya...” Chafi mengatupkan kedua telapak tangannya memohon pada Hafiz sambil bersikap manis dan sedikit centil.


”setelah itu kita pulang ya, aku sudah capek muter ngikutin kamu.” Jawab Hafiz


“he he, maaf ya sudah bikin kamu capek, oke habis kamu pilihin kita bayar lalu pulang” Chafi menyetujui permintaan Hafiz.


Hafiz lalu berkeliling melihat tas yang cocok dengan Chafi, ia memperhatikan setiap tas yang terpajang satu persatu sampai matanya tertuju pada tas berwarna peach berukuran sekitar 25cm yang terlihat sangat manis.


“itu suka gak?” tanya Hafiz sembari menunjuk tas tersebut dengan telunjuknya.


“yang peach itu?” tanya Chafi


“iya, suka gak?” Jawab Hafiz membenarkan


“suka kok, yaudah aku ambil yang ini, aku bayar dulu kamu tunggu aja diluar ya.” Chafi mengambil tas tersebut dan berjalan ke arah kasir. Sedangkan Hafiz berjalan keluar toko.


Beberapa saat kemudian Chafi keluar membawa 2 kantong plastik yang berisi tas yang ia beli tadi. Hafiz menyalakan motor ninja merahnya, ia lalu menancap setelah Chafi naik. Hafiz mengantar Chafi pulang ke rumahnya walaupun mereka sebenarnya beda kota.


Hari ini Riana berangkat kuliah agak siang, karena hari ini ia hanya memiliki satu jadwal mata kuliah saja. Ia saat ini masih berkutat dengan laptopnya untuk menyelesaikan makalah kelompoknya yang kemarin belum selesai.


Setelah berkutat dengan makalahnya sekitar 2 jam an akhirnya makalahnya selesai. Riana kemudian melihat jam warna ungu yang melingkar di tangan kirinya, ternyata sudah menunjukan pukul 9 kurang seperempat. Ia lalu bergegas memakai jilbab dan sepatu lalu berangkat ke kampus.


Tepat pukul 09.25 Riana sampai di parkiran kampus, sedangkan kuliahnya dimulai pukul setengah sepuluh. Saat ini kalau ia tidak segera bergegas ke kelas ia akan terlambat dan dihukum, kebetulan dosen hari ini sangat tidak suka dengan murid yang telat. Kalau telatnya sebentar mereka akan dihukum, kalau lebih dari 10 menit mereka akan disuruh keluar dari kelas, tidak boleh mengikuti kuliah hari ini. Riana berlari sekuat tenaga menuju kelasnya, kelasnya ada di ruang D8 di lantai 4, lantai teratas di gedung ini. Riana menaiki tangga sambil berlari, ia saat ini sedah sampai di lantai 3, tinggal satu lantai lagi ia akan sampai ke ruanngannya. Riana lanjut berlari menaiki tangga menuju lantai 4 karena terburu-buru ia tiba-tiba tersandung rok hitam lebar yang ia kenakan.

__ADS_1


“aduuh..” Riana terjatuh dengan satu tangan memegang pegangan tangga dan satu tangan lagi memegang lantai, Riana memutar badannya pelan dan mendudukan tubuhnya di tangga. Ia meraba lututnya yang terasa nyeri karena terbentur dengan tangga tadi.


“aaa.. aaauuhhh..” rintih Riana pelan


Riana menenangkan diri dan melihat jam yang di tangannya, kurang satu menit lagi jam setengah sepuluh. Riana lalu bangkit menahan rasa sakit di lututnya, ia berdiri perlahan dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pagar tangga untuk menopang tubuhnya. Riana melangkah perlahan-lahan, tepat di anak tangga ketiga tiba-tiba ada tangan yang memegang bahunya kemudian memapahnya. Riana terkejut dan refleks menghempaskan tangannya, lalu ia menolehkan kepalanya ke arah belakang dan mendapati sosok Hafiz yang tepat berada di belakang tubuhnya.


“ayok tak bantu ke kelas, udah nurut aja daripada kamu telat nanti kalau harus jalan merayap seperti ini.” Ujar hafiz sembari kembali memapah Riana yang sempat menolak bantuannya tadi dan mengajaknya naik.


“Ta... tapi mas” Riana masih kekeh ingin menolak bantuan Hafiz karena ia merasa kurang nyaman dengan Hafiz. Walaupun ia sering bersama dengan Hafiz tetapi ia hampir tidak pernah komunikasi dengan Hafiz.


“udah lah gak usah pake tapi-tapian, tinggal beberapa tangga lagi nyampe kan.” Jawab Hafiz yang masih memapah Riana.


“udah sampai sini aja gak apa-apa mas” Pinta Riana saat mereka sudah sampai di lantai 4. Hafiz kemudian melepaskan tangannya dari bahu Riana. Riana lalu melangkah dan terhuyung karena kakinya tidak bisa menopang tubuhnya. Hafiz dengan sigap menangkap tubuh Riana yang akan terjatuh.


“tu kan mau jatuh, kaki kamu tu kemungkinan kesleo! Masih aja sok-soakan gak mau ditolongin.” Ujar Hafiz marah karena Riana susah dinasehati. Hafiz kembali memapah Riana menuju ke kelasnya, kali ini Riana menurut dengan Hafiz.


Riana dan Hafiz sampai di depan kelas terlihat dosen mereka sudah duduk di mejanya.


“kenapa kalian telat, terus dia kenapa kok kamu papah?” tanya dosen itu stelah melihat kondisi Riana.


“dia jatuh tadi pak pas naik tangga, pas saya naik saya lihat dia kesulitan naik tangga, jadi saja bantuin mapah sampai ke kelas makanya saya telat.” Jelas Hafiz


“ada-ada aja, ya udah kali ini bapak maklumi ya karena jatuh kan gak disengaja juga. Sana bantu dia ke duduk.” Perintah pak dosen pada Hafiz


Riana yang sedari tadi tegang karena takut akan dihukum atau akan dikeluarkan dari kelas hari ini merasa lega setelah mendengar perintah dari dosennya tersebut. Saat ini Riana merasa bersyukur dan sangat lega.


“ya pak, terima kasih pak” jawab Hafiz, ia lalu mengantarkan Riana ke bangku kosong yang di tumpangi tas oleh Hana, yang memang Hana siapkan untuk Riana.

__ADS_1


“makasih ya mas” ujar Riana saat Hafiz mendudukannya di kursi. Hafiz berlalu tanpa membalas ucapan terima kasih dari Riana. Riana terbengong sesaat saat melihat hafiz berlalu dari hadapannya.


“maksutnya apaan sih, diucapin makasih malah langsung nyelonong pergi.” Gerutu Riana.


“udah ah gak usah diambil pusing Ri, biarin aja anggap aja udah dijawab di dalam hati, fokus.. fokus.” Lanjur Riana sembari menghembuskan nafas keras lalu mengeluarkan buku-bukunya dan fokus pada dosen yang sedikit mengulas topik yang akan dibahas hari ini.


Kuliah hari ini telah usai, Hana sangat khawatir sejak melihat Riana dipapah Hafiz memasuki kelas tetapi ia tidak bisa berkutik karena takut kena marah dosen kalau ia bicara dengan Riana saat kelas berlangsung. Setelah dosen keluar kelas, Hana lalu menghampiri Riana dan menanyakan keadaannya.


“Ri... gimana kakimu masih sakit? Ko bisa jatuh gimana tadi ceritanya.” Ujar Hana khawatir


“iya masih sakit banget, ini aku mikirin nanti turunnya gimana, aku tadi aja gak bisa jalan sendiri.” Jawab Riana dengan murung


“luka? Atau cuma memar Ri?” tanya Hana


“gak tau belum tak cek, kan malu kalau tak angkat rok ku pas di tangga, cuma tadi pas tak pegang lututku sakit.” Jawab Riana


“Terus gimana dong ini, tak bantu turun a


ku ya,” Hana menawarkan diri.


“ Ri kamu gak apa-apa kan?” Eri tiba-tiba muncul menanyakan kabar Riana.


“ gak apa-apa kok Er, owh ya ini flashdisk nya, tolong kamu yang print ya, trus nanti bagiin ke Ilham dan Arif, maaf lho Er sebelumnya kamu aku repotin.” Ujar Riana sambil menyerahkan flashdisk pada Er.


“ya gak apa-apa lagian kamu kan lagi sakit gini, terus kamu juga udah selesein yang kurang kemarin, ini tinggal ngeprint aja gak ngerepotin namanya Ri.” Jawab Eri


“Er bantuin aku mapah Riana ke bawah ya” Pinta Hana pada Erina

__ADS_1


“yaudah ayok” Jawab Eri menyetujui, Erina dan Hana kemudian memegang kedua bahu Riana membantunya berdiri.


“Ri... tunggu bentar...” Panggil Razka berlari memasuki kelas, diikuti Hafiz yang membawa sebotol minyak urut tangan kirinya.


__ADS_2