
“Han, gimana ganteng kan” tanya Riana pada Hana yang masih bengong memperhatikan Razka.
“Han...” panggil Riana sembari menepuk tangan Hana yang masih diatas mejanya sedangkan pandangan matanya masih tertuju pada sosok Razka.
“eh i..iya... gimana Ri?” jawab Hana yang sontak menoleh samping setelah tangannya ditepuk Riana dengan lumayan keras.
“itu lho Han mas-mas yang duduk disebelah aku yang tadi kesini nyapa aku, itu tu mas-mas yang tabrakan ma aku di toilet tadi pagi, ganteng kan Han, percaya kan kamu sekarang” jelas Riana
"kamu lagi mikirin apa sih ko bengong gitu... diajak ngomong gak didengerin... nyebelin.." Riana memanyunkan bibirnya kesal dengan Hana yang sempat mengabaikannya tadi. Riana tidak menyadari pernah menyadari bahwa Hana bengong karena terpesona dengan Razka.
"maaf deh maaf... jangan ngambek lagi ya.... ntar ilang lo cantiknya." rayu Hana
"ye... emang dari dulu gak cantik ko aq, wleek..." Jawab Riana sambil menjulurkan lidah ke Hana dengan wajah masih sedikit manyun.
"trus jadinya ganteng gak menurutmu mas-mas yang duduk disebelah itu?" tanya Riana yang mulai menormalkan mimik mukanya.
“gak ah biasa aja sih menurutku” Hana berbohong pada Riana, walaupun dia benar-benar terpesona dengan ketampanan Razka tetapi ia tidak mau Riana mengetahui perasaannya.
Hana memang sosok yang sangat tertutup untuk masalah pribadinya, ia sangat bertolak belakang dengan Riana yang sangat terbuka dan tidak pandai menyimpan masalah maupun rahasia.
“tapi kan lumayan ganteng, lagian seisi kelas pada merhatiin dia lho dari tadi” bela Riana
“iya mayan deh, kamu suka ya ma dia Ri? Perasaan dari tadi bilang ganteng melulu” Goda Hana yang sebenarnya penasaran dengan perasaan Riana pada pria itu. Dia sedikit takut kalau-kalau temannya itu juga menaruh perasaan pada orang yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama tersebut.
“gak ko, biasa aja, kan aq dah bilang tadi dia mirip Mark Lee itu aja, bukan berarti aku suka kan.” Jawab Riana jujur
“yakin gak suka?” tanya Hana memastikan
“gak, bener-bener eng...” ucapan Riana terpotong karena dosen sudah memasuki kelas. Hana yang sedari tadi duduk menyamping menghadap ke arah Riana pun mulai membetulkan posisi duduknya menghadap ke depan.
Saat dosen sudah mulai mengabsen nama murid di kelas Riana satu persatu, tiba-tiba ada mahasiswa yang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kelas. Mahasiswa itu penampilannya sedikit berantakan tapi tetap terlihat stylish. Dia berkulit putih dan berambut seleher dengan poni yang lumayan panjang dan sedikit acak-acakan tapi masih enak dipandang. Wajahnya terbilang lumayan tampan, ia mengenakan celana cargo metal warna hitam dengan atasan kaos oblong metal warna hitam yang dilapisi kemeja hijau botol garis-garis. Terlihat tas warna hitam yang terbilang kecil pada tangan kanannya.
“maaf pak saya telat” ucapnya dengan canggung pada dosen yang melihat ke arah laki-laki yang masuk terlambat tersebut.
“hari pertama kok sudah telat, emangnya kenapa kamu kok bisa telat?” tanya pak Dosen pada laki-laki itu.
__ADS_1
“ketiduran di kos pak tadi hehehe.” Jawabnya jujur sambil sedikit terkekeh canggung.
“ya sudah sana duduk, masak hari pertama masuk telat karna ketiduran, haduh... besok-besok jangan diulangi” ujar Pak Dosen yang tak habis pikir dengan tingkah laki-laki itu.
“baik pak” Jawab laki-laki itu sambil berjalan ke arah bangku kosong di depan Razka.
“eh tunggu, namamu siapa... karena telat tak kasih minus di absenmu ya...” panggil dosen itu menanyakan nama laki-laki yang hendak duduk tersebut.
“Hafiz Akbar pak, iya pak gak apa-apa” jawab laki-laki bernama Hafiz itu. Dosen tersebut terlihat mencoret kertas absen yang ada di atas mejanya. setelah mengetahui nama laki-laki itu dan melanjutkan absensi yang sempat tertunda tadi.
“oke perkenalannya selesai ya, kita langsung lanjut ke pelajaran ya” ujar dosen itu sambil berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menuju papan tulis disamping tempat duduknya.
“lho kan bapak belum kenalan, masak sudah langsung pelajaran.” Celetuk salah satu mahasiswi yang duduk di bangku paling depan dekat pintu masuk.
“lho kalian belum pada tau nama saya? Padahal kan di jadwal KRS kalian ada, masak belum tau.” Goda dosen laki-laki setengah baya tersebut dengan nada sedikit marah dan raut muka sedikit dibuat tegang.
“sudah kok pak, tapi kan belum kenalan langsung maksutnya pak” ujar mahasiswi tadi dengan nada yg lebih lirih dan wajah sedikt tertunduk. Mungkin ia sedikit takut dengan reaksi dosen itu yang sebelumnya terlihat ramah tapi tiba-tiba jadi terlihat galak.
“ hahaha... bercanda ya, oke kita lanjut perkenalan saya, kata pepatah kan tak kenal kan maka tak sayang jadi harus kenalan dulu biar mengajarnya lebih nyaman ya kan.” Ujar dosen itu sambil tertawa bahagia karena berhasil mengerjai murid-muridnya.
Bagi mahasiswa bertemu dosen yang galak pemarah atau killer adalah suatu bencana karena bisa saja kalau mereka berbuat salah sedikit saja, maka kuliah satu semester mereka pada mata kuliah yang diampu dosen tersebut akan sia-sia. Karena kebanyakan dosen yang seperti itu sangat ketat dalam memberi nilai. Dan ini menjadi ketakutan tersendiri bagi mahasiswa, terutama mahasiswa baru yang baru beradaptasi dengan sistem dan lingkungan perkuliahan.
“oke perkenalkan nama saya Rahmadi ya biasa dipanggil pak madi, saya mengampu pelajaran matematika satu semester ke depan, anak saya dua dan istri saya satu” ujar pak Madi dengan tawa renyah di akhir kalimatnya.
"ini nomor wa saya dicatat ya, ada yang mau ditanyakan lagi atau cukup." tanya pak Madi setelah menuliskan beberapa digit nomor di white board yang tergantung di dinding kelas.
"gak ada pak" jawab beberapa murid
Setelah perkenalan singkat pak madi menjelaskan bab-bab apa saja yang dipelajari di semester ini dan membentuk kelompok untuk setiap bab yang sudah ia tulis di papan tulis.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan yang berarti menjadi akhir mata kuliah pertama hari ini. Pak Madi sudah keluar dari kelas. Tak berselang lama datang dosen perempuan yang mengampu mata kuliah kedua di kelas Riana. Kelas berlangsung selama 2 jam sampai pukul setengah sebelas.
Pukul 10.35 menit kuliah jam ke dua berarkhir, Riana membereskan buku dan alat tulisnya yang berserakan di meja.
“Han kita keluar jajan ya, aku laper” rengek Riana sembari memasukan buku dan alat tulisnya kedalam tas
__ADS_1
“aku juga laper, bentar tak beresin bukuku.” Jawab Hana yang masih fokus menata bukunya tanpa menoleh ke arah Riana.
Setelah Hana selesai, Riana langsung menggandeng tangan Hana dan melangkah keluar kelas.
“Ri...” Riana menoleh kebelakang mendengar suara cowok memanggil namanya. Terlihat sosok Razka yang berjalan sedikit cepat kearahnya diikuti cowok yang berambut panjang yang telat masuk kelas di jam pertama tadi.
“iya... ada apa mas?” tanya Riana
“makan siang bareng yuk, biar seru kan kalau makan rame-rame, dari pada kalian cuma makan berduaan aja.” Ajak Razka
“Em... gimana yah..” jawab Riana yang merasa kurang nyaman, karena ia jarang bergaul sama cowok, apalagi cowok yang baru dikenal.
“Udah ayok gak usah kebanyakan mikir ya kan mbak” ujar Razka sambil menoleh kearah Hana yang sedari tadi diam saja memandang Razka.
“iya mas” jawab Hana pelan.
“kenalin aku Razka, nama kamu tadi kalo gak salah inget Hana ya.” Ujar Razka memperkenalkan diri pada Hana.
“iya bener, salam kenal ya.” Jawab Hana dengan senyum yang tanpa ia sadari menggembang cerah setelah mengetahui cowok yang ia kagumi mengetahui namanya.
“oh ya Han... Ri... kenalin ini temen ku Hafiz, kalo dah saling kenal kan enak ntar ngobrolnya.” Ujar Razka memperkenalkan laki-laki yang berdiri di belakangnya.
“hai...” hafiz melambaikan tangannya dengan lemah dengan raut wajah dingin dan terkesan cuek.
Ini adalah awal perkenalan antara Riana dan Hafiz, Riana tidak tau kalau nantinya laki-laki cuek yang ada dihadapannya ini akan memberi ia banyak pelajaran dalam hidupnya.
“ hai juga... hehehe” jawab Riana dan Hana berbarengan dengan tawa canggung.
“ya udah yuk keluar, ini kita ngalangin jalan lho.” Razka mengingatkan posisi mereka yang berada tepat didepan pintu. Mereka berempat akhirnya keluar bersama-sama, berjalan ke arah parkiran.
“Razka... tunggu aku ikut.....” Terdengar suara cewek yang berlari dari dalam ruang kelas yang berada tak jauh dari ruang kelas mereka.
Hana menghentikan langkahnya setelah mendengar seorang perempuan memanggil nama Razka. Ia bertanya-tanya dalam Hati siapa perempuan itu, apa mungkin dia pacar dari razka atau hanya teman dari Razka. Riana juga ikut menghentikan langkahnya, menanti keluarnya perempuan pemilik suara itu dengan sedikit cuek.
Walaupun Riana mengagumi sosok Razka, tapi ia hanya menganggap Razka adalah laki-laki yang mirip dengan idolanya tanpa punya sedikit rasa apapun padanya. Dan disini Riana juga tidak menyadari perasaan Hana pada Razka sejak awal. Karena salah satu kekurangan Riana adalah tidak terlalu peka pada sekitarnya.
__ADS_1