
Razka menoleh kebelakang setelah mendengar suara gadis yang sudah akrab ditelinganya.
“oii... Fi...” Sapa Razka pada gadis tinggi berbadan ramping dan berparas cantik yang baru saja melangkah keluar dari kelasnya.
Gadis berparas cantik itu bernama Aiza Chafiya, Chafi memang sudah hampir 3 tahun mengenal Razka dan Hafiz. Mereka bertemu saat Razka dan Hafiz menginap di Rumah Wildan Sahabat sekaligus tetangga Chafi. Wildan adalah teman satu pondok Hafiz dan Razka mereka sering menginap di Rumah satu sama lain saat liburan. Chafi orang yang supel dan mudah bergaul jadi tak heran jika ia sangat akrab dengan Razka dan Hafiz walaupun mereka sebenarnya jarang bertemu.
“hei... kamu kok gak ngajak-ngajak sih main pergi aja, kan tadi pagi aku dah bilang kita barengan ntar pas makan siannya.” Protes Chafi pada Razka
“iya ya... kapan emangnya kamu ngomong gitu?” tanya Razka lupa
“tadi pagi pas di kantin, masak kamu lupa Raz, hadeuh” celetuk Wildan yang tiba-tiba muncul dari belakang Razka sembari merangkul Razka dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Wildan memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dari Razka. Tingginya hampir sama dengan Hafiz. Kulitnya tidak terlalu putih, dadanya bidang dengan perut yang ramping, mungkin di dalam kemeja polos warna hitam itu tersimpan beberapa kotak coklat yang terbentuk diperutnya. Wildan sangat aktif dalam segala macam bidang olah raga, dia adalah seorang atlit renang dulu saat di Masrasah Aliyah, jadi tidak mengherankan bila tubuh Wildan terlihat sangat atletis dan menawan.
“ngagetin aja kamu Dan.... Dari mana kamu tadi, kok tiba-tiba muncul, dah kayak Hantu aja.” Tanya Razka kaget, razka mengibaskan tangan Wildan dan memukul Widan sebal.
“dari toilet.” Jawab Wildan, Wildan dan Chafi kebetulan berada di kelas yang sama.
“udah yuk jalan... aku udah laper, belum sarapan tadi gara-gara kalian gak pada bangunin.” Ujar Hafiz dengan wajah dinginnnya sembari melangkah melewati Hana dan Riana yang dari tadi hanya terdiam memperhatikan percakapan mereka.
“ayo jalan...” bisik Hafiz tepat ditelinga Riana saat tepat berada disamping Riana.
__ADS_1
Riana terkejut saat tiba-tiba Hafiz berbisik di telinganya. Riana refleks melangkahkan kakinya mengikuti Hafiz yang sudah berada di depannya, walaupun otaknya belum singkron karena bisikan Hafiz. Riana merasa heran, kenapa bisikan singkat dari cowok yang amburadul itu membuat kinerja sistem diotaknya tiba-tiba berhenti, dan pikiran Riana menjadi error sesaat.
Hana, Razka, Chafi dan Wildan pun mengikuti Hafiz dan Riana yang sudah berjalan lebih dulu. Mereka berjalan sampai di parkiran, mereka kemudian mendiskusikan tempat makan yang akan mereka tuju. Chafi mengusulkan makan di warung makan lesehan di selatan kampus dan yang lain menyetujui saja usulan Chafi.
Warung tersebut dibangun di pinggir jalan, di belakang bangunan warung tersebut terbentang sawah yang lumayan luas yang ditumbuhi padi yang sudah mulai berbunga.Warung sederhana yang cukup luas itu memiliki dinding yang terbuat dari anyaman bambu, terdapat dua baris meja yang dipisahkan jalan seluas 60cm, meja sebelah kanan disuguhi pemandangan lalu lalang kendaraan dan meja sebelah kiri disuguhi pemandangan persawahan.
Setelah memasuki warung mereka memilih meja di baris kiri, meja yang jendelanya menghadap ke persawahan. Setelah duduk di meja itu, mereka bisa merasakan angin sepoi-sepoi dari persawahan yang menerobos memasuki. Mereka memilih menu yang sudah disediakan di setiap meja.
Riana duduk diantara Hana dan Razka, sedangkan Chafi duduk dihadapan Razka, Wildan duduk di tengah dan Hafiz di samping Wildan. Suasana diantara mereka masih terlihat canggung, terutama bagi Riana dan Hana. mereka merasa sedikit tidak nyaman sebenarnya, tapi apalah daya mereka yang tidak enak bila menolak ajakan Razka tadi.
Walaupun Hana merasa senang bisa makan siang dengan Razka, tetapi dia juga merasa tidak nyaman dengan kehadiran Chafi dan Wildan. Hana masih menerka-nerka hubungan antara Chafi dan Razka. Sedari mereka duduk, Hana sering mencuri-curi pandang ke arah Razka dan merasa sedikit cemburu melihat Razka yang terlihat mengobrol santai dengan Chafi yang diselingi tawa kecil dari keduanya.
“kamu mesen apa han?” tanya Riana berbisik di telinga Hana
“em apa ya... bingung...” jawab Riana yang masih membolak-balikan menu dan memperhatikan menu satu persatu.
Razka dan yang lain sudah menuliskan pesanannya pada buku pesanan yang diberikan pelayan tadi. Razka kemudian menyerahkan buku pesanan beserta bolpoin nya ke Riana yang masih sibuk membaca menu dan masih kebingungan mau memilih yang mana.
“buruan catet Ri pesenan kamu, trus ntar kamu ya yang ngasih ke depan.” Ujar Razka menggeser buku beserta bolpoin dihadapannya.
“kok aku sih....” protes Riana memanyunkan bibirnya
__ADS_1
“kan kamu yang terakhir mesen...” jawab Razka dengan yang tersenyum tipis tapi terlihat menjengkelkan di mata Riana.
Riana lalu mencatat pesanan milik Hana terlebih dahulu, setelah itu ia kembali melihat kertas menu yang masih berada didepannya.
“minumnya apa Han kamu?” tanya Riana
“es teh aja yang gampang.” Jawab Hana tersenyum lembut.
“oke deh... aku juga es teh ah...” ujar Riana sambil menuliskan pesanannya
“tapi makan apa ya aku.... aa aaahh bingung milih yang mana.” Ujar Riana frustasi memilih menu dihadapannya. Riana bertingkah menggemaskan dengan menelungkupkan tangannya di kedua sisi wajahnya seraya memanyunkan bibir dan menggoyangkan badan serta menggelengkan kepalanya pelan.
“aq pengen yang ini sama ini juga... yang mana ya...” lanjutnya yang masih bingung memilih.
Riana memang tipe orang yang suka bimbang dan bingung dalam memutuskan segala hal yang bersifat opsional, terlebih ini soal makanan. Riana sangat lemah apabila dihadapkan dengan makanan ia saat ini bimbang harus memilih yang mana karna ada beberapa menu yang ingin ia makan, tetapi uang saku dan perutnya tidak memungkinkannya untuk memesan semua makanan yang ia inginkan. Setelah cukup lama menimbang-nimbang pilihannya, akhirnya Riana menyerah dan memutuskan memilih menu yang sama dengan Hana saja daripada ia pusing memilih beberapa menu yang ia inginkan.
“Buruan milih mana, ribet banget sih milih makananan aja.” Tegur Razka melihat Riana yang dari tadi belum memutuskan pilihannya.
“hmm ya udah pilih samaan ma Hana aja” Jawab Riana Ketus
“nih kamu yang mesen ke depan” lanjutnya dengan nada yang masih ketus dan raut muka yang terlihat masam. Riana menyerahkan buku pesanan tersebut pada Razka dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
“ha ha ha... ya udah aku yang ke depan, biasa aja kali ekspresinya gak usah gitu-gitu amat.” Goda Razka setelah menertawakan tingkah Riana. Razka kemudian berdiri dan berjalan menuju ke meja kasir menyerahkan pesanannya. Meninggalkan Riana yang semakin sebal dengan tingkah Razka yang terus saja menggodanya.