Calon Imam Idaman

Calon Imam Idaman
Ep 09 - Perhatian Hafiz


__ADS_3

Hana dan Erina menghentikan menoleh ke arah Razka diikuti Riana yang juga menoleh sambil mengangkat sedikit kaki sebelah kirinya yang sangat sakit saat ia gerakkan.


“Kakimu tak pijitin bentar ya yang terkilir tadi.” Ujar Razka yang saat ini sudah berada tepat di hadapan Riana.


“Tapi mas masak kamu yang mijit sih, gak ah itu kan aurat dan aku juga g enak.” Jawab Riana menolak bantuan Razka dengan nada lembut.


”Ini kan niatnya bantu kamu yang sakit, gak niat aneh-aneh santai aja kenapa, emangnya kamu mau kakimu sakit terus kaya gitu?” Ujar Razka membujuk Riana


“Udah nurut aja, buruan duduk mumpung si Razka mau, jarang-jarang dia mau ngurut cewek, apalagi cewek aneh kaya kamu.” Sahut Hafiz sembari menggoda Riana supaya ia tidak terlalu tegang dan mau dibantu Razka.


“udah gak apa-apa Ri, yuk duduk biar sembuh kaki kamu, nanti kalau nunggu sampai rumah keburu bengkak kakimu lho.” Bujuk Hana sembari mendudukan Riana


“ya udah lah, maaf ya mas Razka sebelumnya tapi aku tetep gak enak, demi kakiku biar gak sakit yaudah gak apa-apa, cuma nanti jangan keras-keras ya soalnya ini tak buat gerak aja sakit banget.” Ucap Riana menyetujui dengan berat hati.


“iya iya, nanti pelan-pelan aku mijitnya.” Jawab Razka


Riana mengangkat rok hitamnya diatas lutut, ia menaikan celana dalaman nya seatas lutut juga. Razka bersiap mengoleskan minyak ke area lutut Riana. Riana menahan sakit, walau baru dioles minyak saja rasanya sudah sangat sakit. Riana tidak yakin apa ia sanggup menahan rasa sakitnya nanti saat di puja oleh Razka.


“Mas gak jadi ah sakit ko.” Ucap Riana mengiba sembari menarik kakinya sedikit.


“Tinggal main ponsel atau ngobrol aja biar gak tegang kamu.” Ujar razka memberi saran.


Riana lalu memfokuskan pandangannya pada Hana, ia sedikit menggertakan giginya bersiap menahan sakit. Razka mulai memijat area sekitar lulut Riana perlahan-lahan, setelah ia rasa Riana sudah teralihkan ia lalu mengarahkan pijatannya ke area lutut Riana. Razka memijat dengan keras area lutut Riana yang terkilir untuk membetulkan ototnya yang sedikit bergeser.


“aaaahhhh...., aduh pelan-pelan dong, sakit banget.” Teriak Riana merasakan sakit di lututnya, ia bahkan sampai mengeluarkan sedikit air matanya karena terlalu sakit.

__ADS_1


Sudah sekitar 10 menit Razka memijat kaki Riana, akhirnya ia selesai. Razka lalu membetulkan celana panjang Riana dan menurunkan roknya dengan lembut.


“udah, enakan kan sekarang, coba buat gerak udah mendingan pasti.” Ujar Razka sembari berdiri dari posisi semula yang berjongkok di depan Riana.


Riana lalu mencoba menggerakan kakinya, ia mencoba menekuk dan meluruskan kakinya berlahan. Dan benar saja, kakinya kini tidak terlalu sakit lagi, walaupun masih sedikit nyeri tapi ia bisa menolerir rasa sakitnya.


”iya udah lumayan enakan mas.” Ujar Riana sambil mencoba berdiri dan melangkahkan kakinya, ia masih merasakan sakit tapi ia rasa ia bisa berjalan perlahan.


“kayaknya aku bisa jalan sendiri Han, tapi nanti pegang ya tanganku takut aku kalau turun tangga.” Ujar Hana


“iya siap, ya udah ayuk Er, Mas, kita turun.” Ujar Hana


Mereka lalu turun ke lantai dasar. Sesampainya di lantai dasar terlihat Wildan dan Chafi yang menunggu mereka di kursi yang berjajar di lobi gedung tersebut.


“Iya mas, alhamdulillah udah enakan kok.” Jawab Riana


“Ri, Han, aku duluan ya, tak ngeprint tugas dulu.” pamit Eri


“Hati-hati ya nanti pulange Ri, cepet sembuh juga.” Lanjut Eri


“Iya Er, kamu juga hati-hati.” Ujar Hana, Eri menganggukan kepala sambil tersenyum pada Riana dan berlalu pergi meninggalkan mereka.


“Aku juga langsung pulang ya.” Pamit Riana pada mereka.


“Makasih ya Mas udah dipijitin, aku duluan ya.” Lanjut Riana

__ADS_1


“Huum Ri santai aja, sebenernya makasihnya sama Hafiz harusnya, dia yang bujuk aku tadi, dia juga langsung lari beli minyak urut ke apotik setelah dosen keluar tadi.” Ujar Razka


“makasih Mas, maaf ya aku repotin terus hari ini.” Ujar Riana pada Hafiz yang di balas dengan anggukan kecil oleh Hafiz. Riana lalu berpamitan pada yang lain, setelah berpamitan ia bersiap melangkahkan kakinya namun tiba-tiba tangan Hafiz manarik tangannya.


“Tak anterin ya.” Ujar Hafiz tiba-tiba, membuat Riana terkejut dan menoleh ke arah Hafiz.


“Nggak usah Mas, aku bisa sendiri kok, ini kan dah bisa jalan dikit-dikit.” Tolak Riana


“Nanti kalau ada apa-apa gimana? Kamu naik motor lho, kondisi kakimu kaya gini kalau ada apa-apa di jalan bahaya, udah gak ada penolakan, aku antar pokoknya!” paksa Hafiz


Disisi lain, Chafi terlihat terus memperhatikan Hafiz yang sedari tadi hanya mengkhawatirkan Riana. Chafi merasa sangat cemburu dengan kedekatan mereka, ia tidak rela melihat Hafiz berdekatan atau terlihat perhatian pada wanita lain. Ya, memang sudah sejak satu tahun terakhir ini Chafi mulai menyukai Hafiz secara diam-diam, ia belum berani menyatakan cintanya saat ini, karena ia takut kalau Hafiz akan menjauhinya seperti wanita-wanita lain yang menyatakan cinta padanya. Ia bahkan memutuskan kuliah di kampus ini hanya karena Hafiz. Saat ini ia diam-diam berusaha mengambil hati Hafiz perlahan-lahan.


“iya bener Ri biar diantar Hafiz aja.” Ujar Chafi membujuk Riana. Hanya ini yang bisa ia lakukan sekarang, berpura-pura peduli pada Riana walaupun dalam hati ia sangat tidak ingin Hafiz mengantar Riana pulang.


“aku pulang sendiri saja.” Jawab Riana masih kekeh dengan jawabannya. Hafiz hanya memandang Riana yang masih menolak tanpa berkedip dengan raut muka tegang terlihat sedikit marah.


“Udah ya aku tak pulang, nanti kalau sampai rumah tak kabari, aku bisa sendiri, beneran.” Ujar Riana yang masih meyakinkan teman-temannya.


“Aku duluan ya, makasih buat sem,,,” belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Hafiz menarik tangannya dan berjalan menuju pintu keluar.


Chafi merasa semakin marah, melihat adegan Hafiz yang sampai memaksa menarik Riana untuk ia antar pulang. Ia bahkan tak habis pikir kenapa Hafiz sampai rela memaksa hanya sekedar mengantar pulang Riana. Setau Chafi, Hafiz bukan tipe orang yang mudah khawatir dengan orang yang baru ia kenal.


Riana masih mengikuti Hafiz, ia hanya bisa mengikuti langkah Hafiz yang cepat dengan menahan rasa sakit dikakinya dan pergelangan tangannya yang dicengkeram dengan keras oleh Hafiz. Setelah belok menuju ke arah parkiran, Riana berhenti dan menarik tangannya keras, ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit di kakinya.


“Mas bisa gak pelan-pelan jalannya, lututku tu sakit, daripada kamu nambah sakit kakiku mending lepasin aku bisa pulang sendiri!” teriak Riana marah, Hafiz menghentikan langkahnya menoleh ke arah Riana. Raut wajahnya kembali teduh, ia lalu melangkah mendekati Riana dan melepas pergelangan tangan Riana yang sedari tadi ia pegang.

__ADS_1


__ADS_2