
Luca membuka mata perlahan, ia ingin sekali melanjutkan Kembali tidurnya lagi. Namun, belum sempat ia memejamkan matanya. Ekor mata luca menangkap pergerakan jarum pendek pada benda bulat yang menempel di dinding kamar menuju angka tujuh dan jarum Panjang berada di angka duapuluh.
Dia langsung bangun dengan kaget bukan untuk lari ke kamar mandi, melainkan dengan malasnya duduk diatas Kasur. Ia menggosok lalu mengusap mukanya secara kasar sambil menguap mengantuk, dia sudah terlambat duapuluh menit dari peraturan sekolahnya.
Pantulan dirinya terlihat dicermin sedang menguap lagi untuk kedua kalinya.
Pagi hari ini ia hanya menggunakan kemeja putih dan celana boxer hitam, dengan rambut hitam kemerahan miliknya yang berantakan. Ia juga memiliki wajah yang tampan, kulit putihnya yang bersih tanpa cacat, tinggi proposional, serta mata tajam yang dihiasi oleh pupil berwarna ungu cerah kebanggannya. Namun, hanya sedikit orang tau penampilan luca sekarang.
Teman – teman luca disekolah yang biasa luca temui, mengenal dirinya sebagai seorang introvert akut, anak culun, dan kutu buku. Ada juga julukan yang lebih parah lagi yaitu anak miskin yang memaksa diri belajar di sekolah elit. Luca memang dengan sengaja membuat orang-orang berpikir seperti itu.
sudah lima menit berlalu dengan sia-sia tapi sampai sekarang luca sama sekali belum berniat untuk turun dari kasurnya.
ia lalu merenggangkan badannya yang pegal dan menggosok rambutnya. Perlahan, ia menurunkan kakinya dari Kasur dan Bersiap untuk berdiri.
Tiga menit selanjutnya baru luca benar-benar berjalan, setelah ia merasa siap menuju ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya, ia menatap sebentar wajahnya yang terpantul di cermin.
Luca seorang pemalas yang tidak suka menjadi pusat perhatian, jadi karena itulah ia dengan sengaja tidak memperhatikan penampilan atau cara berpakaian nya, ia memutuskan untuk hanya mencuci muka dan menggosok giginya karena dirasanya jika harus mandi dengan sisa waktu yang ada tidak akan sempat.
“well…kemarin aku sukses menjalani hari dengan damai tanpa menarik perhatian orang-orang disekitarku. Jadi, hari ini pun aku harus melakukan hal yang sama, menjadi pendiam dan tidak menarik perhatian lagi.”
Luca berbicara sendiri sambil tersenyum seakan-akan ia sedang menyemangati dirinya.
Karena, orang tua luca tinggal di luarnegri, dan jarang pulang. orangtuanya membeli satu lantai apartemen mewah khusus hanya untuknya dan ia tinggal sendirian ditempat itu. Namun, dengan syarat ia harus satu kali dalam seminggu pulang kerumah utamanya, dan masalah apartemen orangtua nya yang mengatur. Alhasil, ia tinggal di apartemen yang terkenal, dimana banyak artis-artis papan atas yang tinggal disana. Dilengkapi dengan system keamanan tingkat tinggi inilah yang menjadi alasan orangtua. Padahal ia sendiri Cuma mau tinggal di rumah kecil tanpa penjagaan ketat tapi apa boleh buat syarat tetaplah syarat.
Luca selama hidupnya sangat ingin lepas dari bayang-bayang keluarganya, tapi luca sendiri tidak bisa sembarangan karena ia adalah anak Tunggal dan penerus utama keluarga nya. Ayah nya adalah pengusaha sukses diluar negri dan juga ketua mafia dunia bawah, dimana mereka bergerak dibidang pembunuh bayaran dan sebagainya.
Ia ingin hidup sederhana tanpa ada yang tau identitas aslinya. Itulah kehidupan yang ia idam-idamkan, dia juga malas mengenal atau menjalin hubungan dengan seseorang karena itu hal yang merepotkan baginya.
Luca diberikan ijin oleh orangtuanya untuk bebas melakukan apapun yang ia mau, dengan syarat ia harus menuruti kemauan orangtuanya. Khususnya, ayah luca.
Oleh karena itu, sebisa mungkin ia berusaha menghindari masalah.
5 menit selanjutnya, luca sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan seragam sekolah nya, ia mengambil bungkusan roti yang ada diatas meja makan, roti selalu luca siapkan mengingat ia bukanlah orang suka bangun pagi, jika kepala pelayan dirumah utamanya tau apa yang ia perbuat sekarang bisa-bisa beliau langsung pingsan karena shock.
Luca memasang sepatunya dan berjalan menuju parkiran, ia menaiki sepeda ontel kesukaannya yang ia beli dari penjual minuman keliling dengan harga satu ruko luas 160m, beserta tanahnya dan pajak sudah ditanggung selama lima tahun, ditambah lagi modal penjual minuman itu untuk membuka usaha nantinya. Bapak tersebut sampai menangis mengucapkan Syukur kepada Tuhan dan terus menyalami luca sambil mengucapkan terimakasih berulangkali. Luca tersenyum mengingat hal itu saat melihat sepeda kesayangannya.
Padahal, luca mempunyai puluhan mobil dan motor yang bisa ia gunakan sesuka nya. Tapi, menurutnya jarak apartemen dan sekolah terbilang cukup dekat.
hanya menghabiskan lima menit, ia bisa dengan mudah keluar dari apartemen melalui pintu belakang yang terhubung dengan jalan setapak yang dimana jarang orang-orang lewati karena rumor yang beredar, disana adalah jalan yang rawan banyak preman. Padahal, itu adalah perbuatan luca sendiri dengan menyuruh anak buah nya mencari preman dan berjaga di area tersebut.
***
“tumben sekali kau telat luca, pagar sekolah hampir saya tutup.”
Ucap guru yang bertugas pada saat itu.
__ADS_1
Guru tersebut adalah guru yang kebagian piket berjaga didepan pagar sekolah sebelum bel masuk berbunyi, bapak ini memberikan keringanan kepada muridnya untuk terlambat 35 menit dari ketentuan yang ada. Karena, menurutnya peraturan sekolah yang mengharuskan murid-muridnya untuk datang sebelum jam tujuh adalah suatu penyiksaan, apalagi untuk murid yang rumahnya jauh. Apalagi tidak sedikit anak sekolahan yang merenggang nyawa dijalan hanya karena ingin sampai tepat waktu ke sekolah.
Luca yang sudah memarkirkan sepedanya langsung berjalan kearah guru tadi dan memberi salam.
Disekolah ia dikenal dengan nama verluca saja, walaupun Namanya yang terdengar mewah namun tidak cocok sama sekali dengan penampilan nya sekarang.
Anak laki-laki lusuh dan culun, ia sengaja menggunakan nama samaran agar tidak menarik perhatian apalagi musuh-musuh ayahnya.
“selamat pagi pak, maaf saya terlambat. Dewi fortuna sedang tidak memihak saya…saya sudah atur alarm tapi alarm saya malah tidak berbunyi dan saya kesiangan pak.”
Luca memberi salam dan memberikan alasan semasuk akal mungkin dengan guru yang berdiri didepannya.
Guru itu menangguk mengerti.
Tidak lama setelah itu bel tanda Pelajaran akan dimulai pun berbunyi.
“yasudah lain kali jangan terlambat lagi dan silahkan masuk kedalam kelas.”
Tegur guru yang berjaga tadi, luca lalu membungkuk pamit dan berjalan menuju kelas
.
“coba lihat anak culun baru masuk.”
“well…well terlambat karena habis nonton layar biru ?.”
Beberapa bisikan terdengar ditelinga luca.
“hei sudah jangan berisik, guru sebentar lagi datang.”
Seorang anak laki-laki membela luca dan menegur teman-teman nya. Ejekan dan sindiran yang dilontarkan beberapa murid tadi langsung hilang. Beberapa murid tadi langsung diam.
‘sabar luc. Sabar….kau Cuma butuh hidup dengan damai dan tidak meladeni masalah sepele seperti itu. Ingat identitas asli mu, mereka Cuma bocah dan orangtuanya pun hanya ikan teri dibandingkan keluarga mu.’ Ucap luca dalam hati.
Ia masuk dengan cuek dan duduk dikursi miliknya. Saat ia sedang mengeluarkan buku-buku nya, guru pun masuk.
Murid-murid mulai berdiri dan memberikan salam hormat. Setelah itu guru mengangguk dan membagikan lembaran kertas berisi kuis.
“ya murid-murid hari ini kita adakan ujian dadakan.”
Guru tersebut langsung membuka pembicaraan sambil masih membagikan lembaran tadi, hampir semua murid mengeluarkan protes tidak terima mendengar perkataan gurunya. Namun, kelakuan murid nya Cuma membuat guru matematika itu jengah.
“baiklah waktu 60 menit yang saya beri akan saya potong menjadi 20 menit, bagaimana…?.”
Ancaman guru tersebut sukses membuat seluruh murid yang ada dikelas langsung bungkam, dan suasana menjadi tegang. Kecuali luca yang memang sudah diam dari awal masuk kelas. Dia memutar bola matanya malas melihat isi kelasnya berisik seperti anak SD, lagipula luca tau betul jika protes dengan guru satu ini tidak ada gunanya, karena julukan guru ini adalah guru killer.
__ADS_1
######
Saat mereka sibuk dengan soal yang ada didalam lembaran tadi.
Tidak terasa waktu sudah berlalu 60 menit dan bel tanda jam Pelajaran pertama berakhir pun mulai berbunyi.
“ waktu mengerjakan sudah habis tidak ada yang menulis lagi, saatnya untuk mengumpulkan lembar jawaban kalian. Dimulai dari belakang ya, oper kedepan dan yang didepan silahkan letakan di sebelah kanan meja.”
Guru killer itu mengintrupsi pekerjaan murid nya dan mulai berjalan ke barisan disebelah kiri mejanya.
“ kalian boleh meninggalkan ruangan.”Tambahnya lagi.
Tanpa menunggu lama kelas sudah mulai kosong, termasuk luca juga meninggalkan kelas. Tidak seperti murid kebanyakan yang tujuan utama nya adalah kantin. Luca malah berjalan kearah atap sekolahnya.
“luca ! tunggu aku.”
Seorang laki-laki yang baru saja keluar kelas berteriak kearah luca, luca menoleh dengan malas. Dia adalah murid yang membela luca didalam kelas tadi.
“argh….sial kenapa dia mengejarku terus ! aku tidak mau berurusan dengan siapa-siapa.”
Luca bergumam frustasi sendiri, karena laki-laki yang memanggil nya tadi adalah ketua osis, yang kebetulan satu kelas dengannya.
Dari awal ia masuk sekolah sampai sekarang, orang ini selalu mengikuti luca dan selalu mengajak nya bicara terus-terusan, ia sudah berusaha berkali-kali untuk menghindari orang seperti ini, karena menurutnya pasti jika berteman dengannya ia akan terkena masalah.
Apalagi penampilan anak itu terlalu mencolok bagi luca.
Laki-laki itu Bernama Nao, iamemiliki tinggi sekitar 185cm dan ia mempunyai wajah yang tampan,mata berwarna kuning kecoklatann seperti mata rubah. Benar-benar tipikal laki-laki playboy yang banyak membuat sakit hati Wanita. Ditambah lagi dia anak blasteran.
Nao tersenyum, senyuman yang mampu menawan hati setiap Wanita yang melihatnya.
Luca diam dan memandang nao dengan pandangan.
‘tolong jangan ganggu aku, aku Cuma mau hidup damai.’
Tapi orang yang dipandangi oleh tatapan tersebut malah makin tersenyum lebar, dan setengah berlari menghampiri dirinya.
“kenapa ?.”
Luca merespon sesingkat mungkin karena malas.
“eh…oh mau kemana ?.”
Nao sempat terkejut melihat respon luca yang dingin, tapi ia hiraukan langsung karena ia sudah biasa mendapat respon sejenis ini dari luca.
Nao memiliki alasan sendiri kenapa ia selama ini tidak pernah capek menegur dan mengajak luca bicara, karena baginya luca cuma anak yang pemalu sehingga tidak tau caranya bergaul, andai nao tau isi pikiran luca.
__ADS_1
Ditambah lagi nao penasaran ingin tau luca seperti apa, ia sangat ingin mengenal luca lebih dekat. Apalagi, ia benar-benar tulus ingin berteman dengan luca…