Cara Untuk Hidup Sederhana

Cara Untuk Hidup Sederhana
iv. kepala ku


__ADS_3

Luca memutuskan tidak pulang tadi malam dan tidur di rumah utama nya, setelah Sebastian bersikeras kepadanya agar istirahat dan tidak menyetir di malam hari.


...******...


tidak terasa pagi pun datang


Saat ia sedang asyik tidur, ia merasa seseorang masuk ke dalam kamar nya.


"Selamat pagi Tuan muda."


Seorang mengetuk lembut tubuh Luca yang terbalut hampir keseluruhan oleh selimut, ia masih sempat-sempat nya bergerak karena merasa terganggu.


"Hmm..."


"Anda akan terlambat sekolah Tuan muda."


Suara tersebut sukses membuat Luca membuka mata nya, ia melihat seorang pria berdiri dengan ekspresi puas. ia lalu melihat sekitarnya, ruangan ini sangat mewah dengan gaya interiors eropa berbeda dengan gaya kamar yang ada di apartemen nya yang berkesan monocrome.


Setelah ia benar-benar sadar baru ia ingat.


'sial, aku lupa kalau aku tidur dirumah bukan di apartemen.'


Luca lalu duduk sebentar di kasurnya, ia melihat Sebastian mulai membuka tirai dan jendela yang menutupi kamarnya tadi. Mata nya agak menyipit silau karena matahari pagi ini bersinar cerah.


 "Silahkan anda bersiap Tuan muda Luca."


Pria tersebut tersenyum dan membantu Luca yang masih terlihat malas untuk bangun dari kasurnya.


Dengan tidak ikhlas hati Luca menuruti omongan kepala pelayannya tersebut.


"Sarapan sudah disiapkan di bawah Tuan, saya akan menunggu anda di depan pintu."Ucap nya lagi.


Luca malas menjawab dan langsung masuk ke kamar mandi nya. Hal yang paling membuat Luca jengkel kalau tinggal di rumah utama nya Cuma satu, bangun pagi. Luca bukan orang yang suka bangun pagi itu kenapa ia lebih bahagia tinggal di apart nya tanpa ada orang lain.


Tapi, luca harus menerima kenyataan pahit. Mimpi indah nya sudah tidak ada lagi karena Cain akan ikut tinggal dengan dirinya di apartemen nanti.


'kenapa aku sial sekali.'


Sesal nya dalam hati.


...****************...


Luca sudah di meja makan siap untuk sarapan.


"Tuan muda, anda dan Cain akan berangkat dari sini langsung. Saya sudah menyiapkan kendaraan untuk kalian berdua."


Sebastian berbicara sambil menuangkan Susu hangat di gelas kosong yang ada didepan Luca.


"Huh ? kenapa sama-sama ? aku mau pulang dulu ke apartemen." Luca protes


"Tidak Tuan muda, jika anda pergi ke apartemen sekarang, anda akan terlambat."


Sebastian menolak dengan lembut.


'Astaga kepala ku.'


Dahi Luca mulai berdenyut nyeri.


...****************...


Luca sudah berdiri di depan rumahnya diiringi oleh Sebastian, lalu Cain yang juga sudah siap dan Para pelayan.


Sebuah mobil Limousine datang ke depannya.


"a-aku pakai ini kesekolah ??."


Ucap Luca ragu


"Tentu saja Tuan."


Luca langsung menoleh ke arah Sebastian dengan ekspresi tidak percaya.


'kau pasti bercanda'


"silahkan Tuan Muda Luca."


Cain sudah berdiri didepan limousine tadi dan sudah membuka kan pintu untuk Luca agar ia masuk.


"Selamat jalan Tuan muda, semoga hari anda menyenangkan."


Luca mendecakkan lidah nya tidak suka, ia lalu masuk kedalam mobil. Cain juga masuk kedalam limousine tersebut setelah memastikan tuan muda nya itu duduk manis didalam.


"Selamat jalan Tuan muda Luca."


Para pelayan memberikan salam dan membungkuk hormat saat mobil Luca mulai berjalan.


...****************...


"Tuan, saya sangat senang bisa satu sekolah dengan anda!."


Cain duduk didepan Luca dengan ekspresi bahagia, berbeda dengan Luca yang memasang ekspresi ingin tenggelam di dalam rawa-rawa.


"Haaah~."


Luca cuma bisa mengeluarkan *******, ia pasrah dengan keadaannya sekarang. 


Sekitar 20 menit sudah berlalu, sekarang mereka sudah dapat melihat puncak bangunan sekolah yang mereka tuju. 


"Ingat jangan memanggil ku Tuan muda atau bersikap seperti kenal dengan ku, cukup beralasan kalau aku adalah pelayan di rumah mu."


Luca mulai memberikan perintah ke Cain. 


"T-tapi Tuan!."


Cain protes dengan muka tidak senang.


"Aaaaahhh panggil saja aku Luca atau Luc, tidak ada protes lagi."


Luca memberikan perintah terakhir supaya Cain tidak protes lagi, ia sempat menatap Cain tajam lalu langsung berpaling mengambil cermin dan menutupi matanya dengan poni panjangnya lalu berdandan seperti anak culun.


Cain terkejut melihat penampilan Luca sekarang, tidak seperti penampilan ia saat dirumah atau bekerja jauh sekali perbedaannya, pria yang ada di depan nya ini seperti bukan tuan yang dia kenal.


"Aku punya alasan untuk berpenampilan seperti ini."


Cain lalu mengangguk tanda dia mengerti.


Tidak lama setelah itu, mereka sampai di depan sekolah. 


Semua mata tertuju ke arah mobil limousine tersebut.


"Hhh"


Luca mendesah lagi


Saat ia ingin membuka pintu mobil, pintu tersebut sudah terbuka duluan. 

__ADS_1


"Silahkan."


Sumber suara tersebut tidak lain dan tidak bukan, Cain. 


'Asdfghjlk CAIN.'


Ingin rasanya Luca membentak Cain saat itu juga.


Tapi ia pasrah, sudah cukup ia menjadi pusat perhatian sekarang. 


"Wow!! Seorang Luca dalam semalam menjadi Sugar baby eh?."


Seorang pemuda berteriak ke arah Luca dengan nada mengejek.


Belum sempat Luca menoleh, ia mendengar lagi suara pemuda tersebut tapi dengan nada kesakitan. 


"Arghh..!! A-apaan kau !?."


Ucap pemuda itu protes kearah sebelahnya, disana Cain sudah berdiri dengan memilin tangan pemuda tersebut, pemuda itu terus-terusan meringis kesakitan karena perbuatan Cain.


'Oh Tuhan!'


"Mulut anda mau di robek?."


Luca bisa mendengar Cain berucap dengan dingin, inilah hal yang menyebalkan menurut Luca dari seorang Cain versailles, ia tidak akan menuruti perintah Luca jika berhubungan dengan sopan santun atau ada orang yang melecehkan Luca didepannya, ia pasti akan langsung bereaksi. Luca tidak mengerti apa karena ia anak nya Sebastian atau memang semua orang dirumah nya bertindak berlebihan.


"Wah lihat dia bergerak dengan sangat cepat!"


"Apa dia vampir?"


"Aku sampai-sampai tidak berkedip melihat dia dari pintu mobil, tiba-tiba sudah ada di samping orang itu."


"Wah syukurlah ada yang memberi pelajaran ke tukang bully itu"


"Coba deh lihat, kalau diperhatikan dia sangat tampan! Apa dia akan sekolah disini??."


Beberapa suara perempuan ataupun laki-laki mulai terdengar juga oleh Luca, ada yang memberikan respon karena kaget ada pula yang memberikan respon kagum.


'Ah hari-hari damai ku.'


Luca benar-benar ingin menangis saat itu juga.


"Saya akan membuat perhitungan dengan anda, jika sampai saya melihat anda mengganggu pria disana lagi. Anda akan tau akibatnya."


Cain melepaskan tangan anak tadi dengan kasar sambil berbisik pelan di telinga pemuda itu dengan nada mengancam, pemuda itu langsung terdiam melihat Cain dan Luca dengan ekspresi kaku. 


"Tuan- eh maksud say- ku, Luca anda- maksud ku... Kamu tidak apa-apa Luca ?."


Cain menghampiri Luca dengan setengah berlari, wajahnya khawatir terhadap tuan nya dan ditambah lagi ia belum terbiasa bicara dengan bahasa informal ke tuan nya sehingga dia membetulkan beberapa kali kosakata nya.


"Tuan? Dia memanggil Luca dengan kata Tuan."


"Luca orang kaya?"


"Dia pelayan Luca? Tapi dia memakai seragam yang sama dengan kita."


Luca masih mendengar beberapa orang berbisik satu sama lain.


Saat itu juga Luca benar-benar kehilangan semangat nya. 


Cain sudah berdiri didepan Luca beberapa orang mulai memberanikan diri mendekat. 


"Hei kamu siapanya Luca?."


"Kamu blasteran?."


"Hei kamu bisa berlari dengan sangat cepat! Mau gabung klub olahraga kami?."


Itulah hujan pertanyaan yang di lontarkan ke arah Cain, ia sampai bingung ingin menjawab pertanyaan seperti apa ia lalu melihat Luca untuk meminta bantuan. Luca sendiri sudah lemas dan tidak ada semangat buat memberi respon tatapan minta tolong Cain, yang ada dipikiran Luca saat itu cuma satu. ia ingin hari damai nya kembali seperti dulu. 


Luca pun langsung pergi dengan cuek mengabaikan Cain yang masih di kelilingi orang banyak di depan sekolah.


Melihat Luca pergi Cain langsung lari menyusul ia.


"maaf aku harus pergi dan tadi kalian cuma salah dengar saja, Luca adalah pelayan dirumah ku berhubung aku baru saja sampai disini jadi aku belum terbiasa."


alasan yang di lontarkan Cain bisa didengar Luca, dia senang dengan jawaban pintar Cain tapi dia sudah terlanjur frustasi dan sibuk dengan pikiran nya sendiri.


'Bagaimana ini, apa nanti akan ramai? Aaa kenapa ayah memberikan perintah seperti ini?? Hari-hari damai ku?.'


Luca masih sibuk dengan pikiran nya sambil terus berjalan. ia sampai mengabaikan Cain yang terus memanggil nya.


"Luc."


"Luca!."


Tidak ada respon sama sekali dari Luca sampai ketika Cain memangil.


"Tuan muda Luca!."


Luca langsung sadar dan menoleh kaget, ia melihat sekeliling lorong panik jika ada yang mendengar saat itu, dan ia bernapas lega karena lorong sekolah ternyata sepi, ia lalu menoleh ke arah belakang.


"Apa! Aku sudah bilang jangan memanggil ku seperti itu! Dan kenapa bertindak sendiri tanpa perintah !."


Luca tidak bisa menyembunyikan perasaan kaget nya, sehingga dia secara tidak sengaja menaikan nada bicaranya. 


Cain juga ikut kaget karena respon Luca.


"Maaf Luc- tuan muda Luca, saya tidak bermaksud melanggar perintah Tuan, tapi saya tidak tahan jika ada yang melecehkan Tuan di depan saya."


Cain menjawab dengan nada pelan, Luca pun berusaha menenangkan diri nya, ia tidak bermaksud membentak Cain, ia hanya kaget. 


"Hmm maaf aku juga tidak bermaksud membentak mu, aku hanya kaget. Oke kalau kau merasa sulit kau boleh jadi dirimu sendiri di depan ku tapi jika ada oranglain kau harus bersikap tidak mengenal ku dan selesaikan secara diam-diam."


Luca menjelaskan kepada Cain maksud ia yang sebenarnya.


"Dan juga sehabis bel istirahat pertama berbunyi datangi aku di atap sekolah, ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan."


"Baik Tuan"


Saat Cain menjawab perkataan Luca, beberapa siswa terlihat berjalan ke arah mereka. Cain langsung memberikan kode ke Luca, dan Luca langsung paham. ia langsung pergi dari tempat itu. 


"Maaf bisa tunjukan padaku ruang kepala sekolah dimana?."


"Oh ruang kepala sekolah ada di sana, kamu tinggal lur-."


Luca berhenti sebentar, ia masih mendengar percakapan Cain dari kejauhan, ia tau kalau Cain berpura-pura bertanya dan mendengarkan penjelasan siswa tadi untuk mengalihkan perhatian mereka.


'Hmm tidak buruk, ia bisa bergaul dengan baik nanti nya.'


Setelah Luca berbicara ia pun melanjutkan jalan nya menuju kelas.


Tanpa ia sadari ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua tadi


"... Tuan muda luca??. "

__ADS_1


Orang tersebut berbisik pelan.


...****************...


Saat di dalam kelas, semua orang masih tidak berhenti membicarakan kejadian yang terjadi didepan sekolah tadi. 


Luca langsung memasang earphonenya dan ingin lanjut tidur.


Seseorang menepuk bahu nya.


Luca lalu melepaskan earphonenya dan berpaling ke belakang. 


Disana Nao berdiri sambil tersenyum. 


"Wow Luca, siapa kau sebenarnya."


Ucapan tersebut sukses membuat Luca kaget, tapi cepat-cepat ia mengalih kan pandangan nya kedepan karena guru tiba-tiba masuk, semua murid yang ada dikelas langsung berdiri memberi hormat. ia juga melihat Nao sudah kembali ke kursi nya. 


Setelah selesai memberikan salam sebuah suara ketukan berasal dari pintu pun terdengar. 


"Silahkan masuk"


Selesai guru tersebut berbicara, seorang pemuda dengan tinggi di atas rata-rata pun masuk, dia memiliki rambut berwarna putih dan mata berwarna abu-abu, dengan wajah yang terbilang tampan ditambah lagi tubuh yang tegap layaknya seorang bodyguard.


"Perkenalkan nama saya Cain versailles , saya murid pertukaran pelajar dari russia."


Luca memasang wajah bingung karena setau dia Cain memang seumuran dengan dirinya dan membocorkan asal negara nya adalah tindakan gegabah. tapi yang ada di isi kepala Luca saat itu bukan soal negara asal Cain melainkan kenapa ia sekelas dengan dirinya sedangkan masih banyak kelas lainnya yang bisa ia masuki, ia langsung berpikir ini pasti ulah campur tangan Sebastian dan ayahnya. 


'Dasar orangtua yang menyeramkan'


Pikir Luca


"Wah itu rambut asli mu?."


"Kamu jauh-jauh dari russia? Orang tua mu bekerja di sini?."


"Kamu sangat tampan!."


"Bahasa indonesia mu sangat fasih!."


Beberapa murid di dalam kelas mulai melontar kan pertanyaan untuk Cain.


"Ehem… murid-murid kalian bisa berkenalan setelah selesai pelajaran, nah sekarang Cain kamu bisa duduk di sebelah Luca berhubung kursi yang kosong hanya ada di sana."


Guru tersebut menunjuk arah Luca yang diam.


"Luca tolong temannya di bantu ya."


Pesan guru itu ke Luca


Luca mengangguk dengan malas


ia melihat Cain yang langsung berjalan ke arah nya dengan langkah pasti.


ia jadi berpikir kenapa cuma kursi nya yang ditunjuk, sedangkan masih banyak pula kursi lain yang kosong. ini pasti campur tangan ayahnya atau sebastian lagi, Luca cuma bisa memegang hidung nya yang mendadak nyeri memikirkan maksud ayahnya.


"Tuan senang bertemu anda lagi."


Cain berbisik dengan suara pelan, hanya Luca yang bisa mendengar suara tersebut.


Luca membuang muka nya ke arah lain. 


Luca tidak sadar ada orang lain yang memperhatikan mereka dengan tatapan penuh arti.


...****************...


Bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi. 


Tanpa pikir panjang Luca langsung pergi dari kelas. 


Cain berniat menyusul Luca tapi ia berhenti karena orang-orang di kelas nya langsung mengelilingi diri nya dengan rasa ingin tau yang tinggi.


Luca saat itu sudah di luar kelas dan mau pergi menuju atap sekolah, sebuah tangan menarik bahu nya.


"Hei! Kemarin kenapa kau kabur?"


'Tuhan tolong aku ingin kedamaian'


Luca merutuki nasib nya, ketika dia menoleh yang ia dapati malah orang yang paling ingin ia hindari, Nao. 


"Ada urusan mendadak."


Luca menjawab dengan malas. 


"Tidak mungkin, kau menghindari aku kan?."


Nao menolak percaya dengan omongan Luca


'Mendesah'


Luca mendesah malas ketika Nao berbicara kepadanya, ia sangat ingin pergi sendiri dan menenangkan diri nya. 


"Kalau iya, kenapa? Kau mau protes?."


Luca langsung to the point ke Nao, Nao mengernyitkan alis nya heran. Apa yang dia buat sehingga Luca menolak dirinya dengan keras seperti ini. 


'Maaf ya aku cuma malas kenal atau dekat dengan orang.'


Itulah yang Luca pikirkan saat ini


...****************...


Cain melihat Luca sedang bicara dengan seseorang. Namun, bisa ia simpulkan bahwa Luca merasa terganggu dengan sikap orang tersebut.


"Hei Luc, sedang apa?. "


Cain langsung menghampiri Luca dan menarik tubuh Luca untuk bersembunyi di belakang nya. Dan Luca hanya diam di belakang Cain tanpa protes


"Tidak ada apa-apa."


Nao kaget dengan perilaku Cain yang berlebihan.


'Astaga dua orang menyebalkan berkumpul.'


Luca menutup muka nya, ia benar-benar ingin mencari kolam dan tenggelam sekarang juga.


ia melihat Nao dan Cain yang sedang menatap satu sama lain dengan tajam dan memutuskan untuk pergi tanpa suara dari sana.


'Tidak sia-sia aku belajar bela diri, mereka tidak sadar kalau aku pergi.'


Ucap Luca didalam hati dengan bahagia,ia pun naik ke atas atap dan duduk disana menikmati sejuk nya cuaca.


ia benar-benar butuh nikotin untuk menenangkan diri nya sekarang, terlalu banyak kejadian yang membuat mental nya terguncang. 


Saat ia ingin menghidupkan rokok yang ia bawa di saku nya, sebuah tangan menarik rokok tersebut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2