Cara Untuk Hidup Sederhana

Cara Untuk Hidup Sederhana
v


__ADS_3

Tangan yang menangkap nya tadi siapa lagi kalau bukan Nao.


"Luc, kau-"


Nao melihat Luca dengan tatapan tidak percaya, ia merasa dirinya adalah orang yang paling mengerti luca seperti apa. tapi ternyata semua yang ia ketahui bukan keseluruhan yang Luca tunjukan.


"hm? ."


Luca menoleh kaget dan bingung melihat tatapan Nao


"Aku kira aku adalah orang yang benar-benar mengenal kau, ternyata aku salah."


Luca terdiam setelah mendengar perkataan Nao.


......................


'wow tuan muda Luca lihat lah, orang itu sudah mengetahui anda lebih dari yang seharusnya, harus kah saya membereskan nya?.'


Cain berbicara dalam hati saat melihat tuan nya sedang bersama Nao dari kejauhan dengan tatapan dingin. ia merasa bahwa kedepannya Nao pasti akan menjadi ancaman bagi Tuan muda nya.


...****************...


"oh ini?  aku memang merokok hanya jika terlalu banyak hal yang ku pikirkan."


Luca berucap dengan santai sambil menepis tangan Nao tadi.


"Luca kau siapa sebenarnya?. "


Nao mengernyitkan dahi nya heran, sambil masih berdiri didepan Luca yang sedang duduk.


"siapa aku?  apa yang harus kau ketahui dari ku?."


'hah.... orang ini seperti nya berbahaya aku harus bersikap waspada dan memberikan respon sebaik mungkin jika tidak identitas ku akan ketahuan, lagipula aku juga harus mengecek latar belakang anak ini.'


Luca dan Nao masih sibuk dengan pemikiran nya sendiri.


"disini kalian ternyata."


sumber suara itu tidak lain dan tidak bukan berasal dari Cain yang datang berlagak tidak tau apa-apa.


"huh.. cain?"


Luca menatap Cain dengan bingung dan orang yang di tatap malah melihat ke arah Nao dengan pandangan yang dingin.


"guru memanggil mu Nao."


Luca tau bahwa Cain berbohong, tapi ia pura-pura cuek.


"tch.."


Nao berdecih pelan sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal itu, dengan masih menatap Luca yang acuh tak acuh.


"baiklah, Luca aku butuh jawaban mu nanti."


Nao lalu pergi menghiraukan Cain yang ia lewati, setelah Cain memastikan Nao sudah turun ke bawah ia lalu mendekati Luca dan mengeluarkan pemantik api.

__ADS_1


"tuan jangan terlalu banyak merokok, nyonya besar akan marah jika tau anda masih melakukan kebiasaan lama anda."


Ucap Cain, setelah ia memastikan api yang tadi ada dipemantik sudah membakar sempurna di batang rokok yang di isap Luca.


Luca tidak langsung menjawab omongan Cain, ia memilih untuk duduk di lantai atap sambil bersender di tembok dan menyentakan kepala nya melihat permandangan di sekeliling. Hal yang sekarang ia ingat adalah kejadian dimana pertama kali nya ia mulai mengenal yang namanya rokok.


'dad....I'm scared'


'it's okay Luca del Castio...trust me'


Ayah nya menenangkan sosok kecil Luca dengan menepuk bahu kecil itu dengan pelan,  Luca yang sedang memegang senjata revolve di tangan nya hanya bisa terdiam bergetar, ia ragu dan takut. senjata itu mengarah ke kepala seseorang yang terikat di kursi dengan Penuh luka karena di siksa.


'he is a traitor and membahayakan untuk our group'


Ucap ayah nya lagi, lalu ayah nya duduk didepan Luca yang masih menodongkan pistol, sambil menghidupkan cerutu ia menghela napas pelan setelah memastikan anaknya sudah agak tenang.


'but i don't want to be a murderer'


Badan kecil itu masih bergetar sambil menahan berat senjata yang dia pegang.


'sshh soon u will terbiasa dengan hal ini, ur are the successor of our family'


'do it son... Choose Him or u, u will die if u act like this'


Bang!


Selesai ayahnya bicara, Luca langsung menarik pelatuk senjata tersebut dan darah terciprat di muka Luca.


'I'm so proud of u son'


"u know what Cain, actually i don't even care about myself"


Ucap Luca sambil menghembuskan asap rokok


" tapi saya peduli tuan! And it's my duty to look after u"


Bantah Cain dengan wajah protes karena tidak suka mendengar ucapan Luca yang terdengar sangat pasrah.


Bagi Cain, Luca sudah seperti malaikat penolong dirinya ketika ia dan ayahnya dalam masa pelarian.


Luca lah orang pertama yang menemukan mereka dan mengulurkan tangannya untuk menolong mereka, ketika mereka terkapar di tanah dengan badan penuh luka-luka dan kelaparan.


Jadi bagi Cain ia rela jika memang harus mengorbankan nyawanya demi keselamatan Luca.


"oke oke tidak usah mengamuk juga"


protes Luca


'ah akhirnya Tuan ku kembali ceria seperti semula'


ucap cain dalam hati.


Cain sangat lega dengan perubahan sikap Luca yang cepat, Dia langsung tersenyum lebar melihat tuan nya.


'ugh harusnya aku tidak mengucapkan sesuatu yang sensitif seperti ini.'

__ADS_1


"cks bagaimana kelanjutan dari itu?"


Luca mencoba mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak canggung.


"menurut hasil penyelidikan dari Raven, si rubah kemungkinan akan membawa banyak bodyguard dan tingkat keamanan juga makin diperketat. Tuan apa anda membutuhkan clone untuk menghadiri acara? Selama ini tidak ada banyak orang yang mengetahui wajah asli anda."


" tidak apa-apa aku menghargai tuan rumah acara karena dia teman bisnis ayah ku, dan tidak mungkin cuma gara-gara seekor rubah tua aku harus mencoreng nama baik keluarga ku."


"baiklah kalau begitu saya akan melakukan persiapan." Luca membungkuk hormat


"ah iya sebelum pulang kita mampir sebentar ke apartemen"


"baik Tuan, sekarang apa yang anda lakukan?."


Luca diam memikirkan apa yang ingin ia lakukan.


"oh iya tuan berhubung ini istirahat jam pertama, saya sudah menyiapkan beberapa hidangan untuk anda."


Plok plok plok


Cain menepuk tangan nya dan beberapa pelayan datang membawa nampan berisi makanan yang tidak seharusnya di sajikan di sekolah.


"wait....what!? Cain-"


Mulut Luca spontan menganga lebar karena shock melihat beberapa pelayan yang naik ke atap sekolah.


"tenang saja tuan, semua nya di lakukan dengan diam-diam. Ah iya anak-anak nakal yang biasa nongkrong di atas sini juga sudah di bereskan, anda bisa memakai atap sekolah dengan sepuas hati."


Ucap Cain sambil tersenyum ramah kepada Luca


'phew'


Luca mengeluarkan napas lega dan mengangkat poni nya kebelakang memperlihatkan wajah puas ke arah Cain karena Cain ternyata bisa di andalkan saat seperti ini. ia pun tanpa sungkan duduk di kursi dan meja makan ukuran sedang yang sudah di siapkan pelayan-pelayan tadi.


...****************...


setelah ia selesai makan, ia berpindah ke sebuah kursi lipat yang disiapkan cain.


cain berdiri siaga disamping luca


"cain, santai saja duduk di samping ku."


ucap luca karena ia merasa risih.


"seorang pelayan seperti saya tidak pantas untuk duduk di samping anda tuan."


cain menolak halus tawaran luca


"kita tidak sedang berada dirumah cain, kalau ada yang melihat mereka akan curiga. Jadi ini perintah untuk mu."


Cain pun langsung duduk disamping luca, dan diam. Melihat cain ,luca pun puas dan melanjutkan aktifitas nya lagi.


Ia sedang mencari berita yang berkaitan dengan target mereka.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2