Cara Untuk Hidup Sederhana

Cara Untuk Hidup Sederhana
IX. aku rindu hari damai ku


__ADS_3

Akhirnya mereka sampai disekolah,setelah drama luca yang mengulur waktu untuk berangkat.


“mari tuan.”


Ucap luca membuka pintu mobil seolah-olah ia pelayan cain, semua mata memandang puas. Seakan-akan memang seharusnya seperti itu.


Cain keluar dari mobil dengan wajah masam, ia ingin protes tapi ia tidak berani di omeli oleh tuannya yang sedang menyamar.


“tuan, biar saya bawakan tas anda.”


Luca saat ini menikmati perannya, cain hanya pasrah dan memberikan tas nya kepada luca.


Mereka berjalan menuju kelas dengan luca yang menuntun cain.


“silahkan duduk tuan.”


Ucap luca setelah menarik kursi di samping tempat duduk nya untuk cain. Cain Cuma diam dan mengikuti permainan luca.


“nah begini kan seharusnya.”


Ejek salah satu teman sekolahnya dengan tatapan remeh kearah luca yang sudah duduk disamping cain, cain menatap tajam orang yang berbicara tadi.


Orang itu langsung merasa canggung karena tatapan cain dan mengalihkan pandangannya kearah depan.


“berisik sekali anak-anak dikelas ini seperti orang kampung saja.”


Ejek cain balik, luca tersenyum tipis mendengar cain berbicara.


Singkat cerita jam pelajaran olahraga dimulai, luca dan cain membolos dengan alasan cain yang tidak enak badan dan luca yang menjaga nya. Mereka berdua menghabiskan waktu lagi diatas atap.


Sesampainya diatap cain langsung membuka obrolan.


“tuan tumben anak laki-laki yang suka mengejar anda waktu itu hanya diam di kursinya.”


Luca menyenderkan punggungnya dipagar pembatas.


“entahlah cain. Mungkin ia Lelah.”


Jawab luca dengan cuek, ia memandang langit yang sedang cerah padahal hati nya sendiri sedang mendung memikirkan cara untuk mendekati target yang mereka temui dipesta tadi malam. Cain lalu ikut bersender disamping luca memandangi langit juga.


luca mengeluarkan rokoknya dan menghidupkan satu batang rokok.


“tuan saya menyediakan keripik untuk pengganti rokok tuan.”


Ucap cain dengan gamblang, luca yang mendengar hal itu lalu menoleh dan menghembuskan asap kedepan muka cain, cain langsung mengusir asap-asap itu menjauh.


“hmm nanti saja.”


Luca mulai mengisap dan menghembuskan lagi asap kali ini keatas dan bergumam pelan.


“hah…enaknya nafas kehidupan”


Cain yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala.


“kurangilah rokok mu itu tuan, kalau anda sakit saya yang akan dibunuh oleh ayah saya dan tuan besar karena tidak becus menegur anda.”


“nantilah cain, tunggu aku menemukan sesuatu yang bisa membuat candu rokok ku hilang.”


Kata luca malas


“hah sudahlah tuan muda memang keras kepala”


Ucap cain frustasi.


“sebentar cain, aku mau ke kamar mandi.”


Luca mematikan batang rokoknya dan berjalan menuju tangga.


“saya ikut tuan.”

__ADS_1


Tawar cain


“tidak usah cain, masa ke toilet saja aku perlu ditemani.”


...****************...


bel tanda pelajaran kedua pun berbunyi tapi luca tidak muncul-muncul.


Cain merasa tidak tenang.


Ia lalu turun dan menyusul luca ke toilet, toilet lantai 2 tidak ada, toilet lantai 1 juga tidak ada. Ia makin khawatir dan pergi ke belakang gedung sekolah nya, disana ia melihat luca yang duduk di tanah dan bersender didinding sambil menghapus luka yang ada dibibirnya.


"Tuan !!."


teriak cain


"sshhh"


ucap luca


cain langsung mengeluarkan saputangan dan memberikan ke luca. luca sedikit meringis saat ia menekan luka di bibirnya.


"tuan, siapa yang membuat anda jadi seperti ini?."


tanya cain.


"biasa, anak-anak yang suka membully aku dikelas."


"biasanya mereka hanya mengejek tapi makin kesini makin brutal."


Lanjut luca


"tuan ingat muka mereka? Biar saya kasih pelajaran nantinya."


"maafkan saya terlambat mencari anda tuan, anda bisa menghukum saya nanti."


cain sangat merasa bersalah.


"mana ada yang begitu tuan, yang ada anda makin dibully."


Ucap cain tak percaya dengan respon luca.


"ayo tuan kita ke ruang uks dulu."


"tidak usah, urus ijin sakit saja cain."


Luca sudah tidak mood untuk masuk kelas karena muka nya.


"baiklah tuan, saya juga akan sekalian ijin nanti."


"oke aku menunggu disini."


...****************...


Cain lalu masuk kekelas nya dengan tergesa saat guru sedang menjelaskan pelajaran.


"cain kau darimana saja?."


Ucap guru itu bingung


"maaf bu, saya dan luca ingin ijin tidak mengikuti pelajaran sampai akhir karena kami ada urusan keluarga."


Bohong cain


"lalu luca ada dimana? Dia tidak ikut kekelas?."


Tanya guru itu lagi


"luca sudah menunggu di mobil bu."

__ADS_1


"baiklah kalau begitu, silahkan lapor lagi ke wali kelas mu ya."


"baik bu terimakasih"


Cain membungkuk sedikit, ia berjalan menuju meja mereka berdua.


"tunggu pembalasan dari ku"


Ucap cain dingin ketika ia melewati meja anak-anak yang memukul luca tadi.


anak-anak itu langsung pucat muka nya dan tidak berani menoleh atau menjawab omongan cain.


Cain langsung mengambil tas dan berjalan keluar kelas, ia lalu keruang guru mencari wali kelas mereka.


Setelah mendengar penjelasan cain,wali kelas nya mengijinkan luca dan cain untuk tidak mengikuti pelajaran sampai akhir.


...****************...


Cain kembali ke lokasi dimana luca berada


"tuan saya sudah menelpon driver untuk menjemput kita."


Ucap cain, luca mengangguk dan bangun dibantu oleh cain.


"saya masih tidak habis pikir tuan, seharusnya tuan bisa menghabisi mereka dengan mudah. Kenapa tuan rela dipukuli."


"apa kata ayah saya dan tuan besar nantinya."


Cain berucap frustasi dan luca hanya terkekeh kecil.


"tenang saja cain."


mereka berjalan ke gerbang sekolah, sebuah mobil sedan hitam menghampiri mereka.


"silahkan tuan."


cain membuka pintu mobil saat dirasanya lingkungan sekitar mereka sepi.


"terimakasih cain."


...****************...


Mereka sudah sampai di lobby apartement dan masuk ke lift menuju lantai dimana luca tinggal.


Saat pintu lift terbuka betapa terkejut nya dua pemuda itu ketika melihat sebastian berdiri dengan muka masam.


"tuan saya datang karena saya mendapat kabar anda dipukuli oleh ikan-ikan teri."


Ucap sebastian dingin.


"tapi saya tidak ingin bertanya dengan anda, jadi silahkan anda masuk kamar dan beristirahat."


lanjutnya lagi.


Cain meneguk liur nya kasar, ia tau ia yang akan jadi sasaran ayahnya karena tidak becus.


"saya dan cain akan kerumah utama dulu, untuk saat ini anda akan di jaga oleh pengawal dari keluarga."


"baiklah sebas, tapi cain jangan terlalu di marahi karena aku yang memang sengaja."


Luca agak tidak enak hati melihat muka cain yang pucat.


"tenang saja tuan."


Ucap pria itu tersenyum ramah, tapi bagi cain dan luca itu bukanlah senyuman ramah.


cain dan sebastian membungkuk hormat sebelum tubuh luca menghilang kedalam ruangan nya.


"hahh aku merepotkan cain, walaupun ia menyebalkan tapi aku juga tidak tega kalau ia yang dihukum karena perbuatan ku."

__ADS_1


......................


__ADS_2