
“luca kau mau kemana ?.”
Ucap nao lagi untuk kedua kalinya dan sudah berdiri didepan luca yang terdiam.
“hmm….bukan urusan mu.”
Luca berpaling dari nao dan lanjut berjalan.
“ayo, ikut aku kekantin !.”
Nao tidak menyerah untuk mengajak luca bicara, tapi luca tetap diam dan naik ke tangga menghiraukan nao yang bicara.
“yasudah kalau kau tidak mau, luc.”
Nao pun pergi sendiri ke kantin dengan tidak semangat, luca melihat sekilas lalu mengangkat tangannya sedikit ke udara.
Bersorak-sorai Bahagia dalam hati.
‘yes !! akhirnya pengganggu pergi.’
#####
>> sebenarnya atap sekolah dilarang untuk dimasuki dan biasanya tempat itu terkenal di isi oleh para pembuat onar disekolah untuk merokok atau bolos.
Luca tau jam istirahat Pelajaran pertama seperti ini atap pasti kosong makanya ia pergi kesana, ia sudah sampai diatas dan duduk dilantai atap sekolah dekat dengan pintu keluar, luca masih mengantuk dan ingin melanjutkan lagi tidurnya sebentar.
Sebelum ia sempat memejamkan matanya, tiba-tiba handphone luca berbunyi. Ia melihat layar, disana tertulis nama ayah nya, ia langsung menekan tombol hijau dilayar dan berbicara dengan nada malas.
“….hello dad….”
“luca! My boy! How are you? We miss you.”
“Yeah dad, just so so. Hmm I know…I miss both of you too dad. But, what happens.”
>>> Saat luca sedang asik menelpon, dia tidak sadar kalau nao berdiri didepan pintu dengan ekspresi kaget.
“ok…well, daddy just want to remind you.. when you arrived at home, the head butler will give some letter to you dan weekly reports…by the way,talking about letter, that’s an invitation party from my partner at work. So, you must attend that party and don’t run away..”
“ ugh! Dad! Can I refuse ? you know I’m so lazy to attend parties or whatever you means, but…why you told me to- .”
“no… I don’t accept any excuse, we need you to be the head representation in our house, because mom and dad can’t come…. Or else we won’t fulfill our promises to you..”
“hmm..no dad ! don’t try… I mean a-alright, I’ll accept your request.”
“good boy, I have to go now… love you my son.”
“love you too dad, give my regard to mom.”
“sure dear.”
“thanks dad, bye.”
“bye son.”
Luca selesai berbicara dengan ayahnya ditelpon, ia menaruh Kembali handphonenya ke saku saat ia menoleh ke arah pintu, bola matanya membulat kaget melihat orang yang berdiri disampingnya dengan ekspresi sama kaget juga.
“mmm…Luc aku tidak tau kalau kau fasih Bahasa inggris, apa orangtua mu mengajarkan untuk berbahasa inggris ? apa Bahasa inggis kalian gunakan sebagai percakapan sehari-hari ? kau blasteran juga? Orang tua mu dari negara mana ?.”
__ADS_1
Nao memberikan pertanyaan bertubi-tubi ke luca sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
‘aku tidak tau harus mengatakan apa’
Ucap luca dalam hati.
Pertanyaan dari nao masih berlanjut karena ia penasaran.
“ I-itu…imajinasi mu saja…aku tidak sefasih itu, dan kau kenapa bisa ada disini ?.”
Luca mengelak pertanyaan nao dengan balik bertanya, sebenarnya ia tau itu sikap yang tidak sopan tapi kalau ia tidak begitu, nao tidak mungkin percaya dengan omong kosongnya, dan akan terus bertanya tanpa berhenti, ia malas meladeni nao.
Nao merasa tidak puas dengan jawaban luca, ia melihat luca dengan muka
‘kau bercanda’
Luca membuang muka nya kearah lain, berusaha menutupi kegugupan nya karena kaget.
‘astaga…! Bisa – bisanya ia mendengar percakapan ku dengan ayah, untung aku Cuma bicara dalam Bahasa inggris coba kalau aku bicara menggunakan Bahasa lain bisa-bisa…..tenang luca tenang, masih aman, masih tidak akan ketahuan.'
Luca berbicara dalam hati dan masih gugup dengan kejadian tadi.
ia berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar karena kaget.
“….apa? kenapa aku disini? Hei ! kau belum menjawab semua pertanyaan ku luca !.”
Pria itu protes ke luca dengan wajah serius, ia tidak habis pikr dengan jawaban luca.
“yasudahlah ini.”
Nao menyerahkan bungkusan berisi makanan dan minuman yang ia bawa.
Luca melihat dengan heran bungkusan plastic yang disodorkan didepannya, lalu ia melihat kearah nao dengan tatapan aneh.
‘kenapa anak ini memberikan aku makanan dan minuman. Sedangkan aku sendiri tidak meminta atau menitip dengannya. Apa ia ada maksud lain?.’
Luca bermonolog sendiri dengan tetap diam menatap bungkusan tadi.
“sudah, ini aku belikan. Aku tau kau tadi terlambat dan pasti belum sarapan, makanya aku ajak kekantin tadi. Tapi kau menolak, jadi aku berinisiatif sendiri untuk membawakan ini. Tidak ada maksud lain kok."
Nao menjelaskan kepada luca karena luca terlihat kebingungan dengan bungkusan yang ia bawa. Terlihat luca masih diam tidak memberi jawaban apapun. Namun, tangannya menerima bungkusan yang disodorkan nao tadi dan membukanya. Nao lalu duduk disamping luca dengan santai.
Luca menoleh sebentar.
“thanks, untuk makanan dan minumannya, kau mau apa sebagai gantinya ?.”
Nao langsung menoleh dengan ekspresi bingung.
“huh? Ganti? Ngapain? Gausah kali, santai saja…..”
Nao menolak tawaran nao tadi.
“hmm…orang aneh.”
Ucap luca dengan pelan, sambil membuang mukanya kearah lain. Nao tersenyum.
Mereka lalu asyik sendiri dengan dunia nya masing-masing, nao menikmati hembusan angin yang bertiup pelan siang itu, hari ini menurutnya cuaca cukup sejuk. Saat ia menoleh ke arah luca, ia mendapati luca sudah tertidur pulas dengan earphone yang menempel di kedua telinganya.
__ADS_1
“wah, lihat anak ini. Ia dengan santainya tertidur.”
Nao terkekeh sendiri mengingat kejadian yang ia alami selama ia mendekati luca untuk berteman, ia lalu membenarkan posisi luca yang merosot kebawah dan bersiap melepaskan jas sekolahnya untuk dijadikan selimut di badan luca.
“ugh”
Luca bergerak sedikit dan membuat poni yang menutupi muka nya tersebut bergeser.
“wtf…anak culun dari mana nya, ia punya wajah tampan seperti ini.”
Nao terkejut sendiri melihat muka luca yang selalu tertutup poni akhirnya terlihat dengan jelas walau hanya setengah, ia melihat bulu mata luca yang Panjang dan garis wajah yang tercetak jelas. Ia lalu bertanya-tanya kenapa luca menutupi wajah tampan nya tersebut, ia merasa harus bertanya nanti nya.
***
Bel tanda jam pulang sekolah berbunyi
Nao masih sibuk memainkan handphone nya. Tiba-tiba ia merasa ada pergerakan dari manusia disebelahnya yang tertidur tadi.
“fuck….aku ketiduran.”
Ucap pria disamping nao, ya, luca sudah bangun dengan mata nya yang agak merah dan ekspresi kaget.
“phew..akhirnya kau bangun.”
Nao menoleh dan agak terkejut melihat warna mata luca.
“kenapa kau tidak membangunkan aku bodoh! Aaa apa aku bolos semua mata pelajaran ??.”
Melihat nao yang memperhatikan dirinya dengan serius ia langsung sadar dan membenarkan rambutnya yang bergeser tadi.
“yupp tepat sekali, dan aku juga ikut membolos jadinya.”
Nao memberikan respon santai sambil tersenyum, ia bertingkah seakan-akan tidak melihat yang barusan terjadi didepannya.
‘kau bercanda’
Itulah muka yang sedang luca pasang ke nao saat ini, dan orang yang dituju masih tersenyum.
Luca menggosok rambut belakang nya dengan kasar dan melempar jas sekolah tadi kearah nao
.
“sial.”
Luca langsung beranjak dari tempat duduknya, nao dengan cepat menarik tangan luca.
“mau kemana ?.”
“pulang bodoh!.”
Luca berucap frustasi dan menepis tangan nao yang menariknya tadi.
“eeehh….ayo ikut aku nongkrong habis ini.”
Nao protes karena tau luca mau langsung pulang.
“skip !!!.”
__ADS_1
Luca langsung berlari turun dari atap sekolah menuju kelas nya untuk mengambil tas, disusul oleh nao dari belakang.