Cara Untuk Hidup Sederhana

Cara Untuk Hidup Sederhana
X. jangan sampai terulang


__ADS_3

Cain dan sebastian sudah sampai dirumah utama.


“kau tunggu diruangan bawah tanah”


Ucap ayah nya dingin, luca hanya mengangguk dan berjalan menuju ruangan bawah tanah yang biasa digunakan untuk tempat latihan para pengawal ataupun anggota keluarga. Sebelum ia pergi, dirinya mendengar ayahnya sedang menelpon seseorang.


“tuan besar, maaf saya ijin memakai ruang latihan di bawah untuk mendisiplinkan anak saya perihal kejadian yang menimpa tuan luca.”


Ucap sebastian


cain lalu melanjutkan jalannya lagi.


Sebastian menengok kearah cain sebentar dan melanjutkan pembicaraannya lagi dengan ayah luca.


“silahkan gunakan dengan bijaksana sebas but, don’t be too hard on your son…..i know it’s not entirely cain’s fault either.”


“yes my lord, saya akan mengingat hal itu dengan baik dan saya minta maaf atas kesalahan cain yang membiarkan tuan muda terluka terlepas dari alasan apapun.”


“ it’s okay sebas, asal kejadian ini tidak terulang lagi dan luca sendiri pun akan saya tegur secara pribadi karena saya juga tidak suka dengan metode yang dia lakukan sampai harus menyakiti diri nya sendiri.”


“dan untuk anak-anak yang membully luca nanti akan saya urus sendiri.”


Lanjut ayah luca


“baik tuan saya mengerti, kalau begitu saya pamit dulu. Selamat malam tuan.”


“oke sebas, malam juga”


telpon pun ditutup. 


Sebastian berjalan menuju ruangan tempat cain berada.


***


Cain sudah berdiri dengan posisi siap kearah pintu dimana sebastian masuk.


“lepas baju mu cain.”


ucap ayahnya dingin, cain lalu membuka bajunya dan bertelanjang dada dihadapan ayahnya.


“sudah ayah”


“berbalik dan rapatkan mulut mu”


Cain sudah tau apa yang terjadi selanjutnya.


Ctar


Suara cambuk berbunyi.


“uggh”


Suara cain keluar namun tertahan.


“sekarang kau hitung cain”


Sekitar 20 menit ayahnya menghukum cain, dan sudah lebih dari dua puluh cambukan mendarat dipunggung nya, lecet, luka, darah dan keringat menjadi satu.


Sebastian lalu berhenti dan melepaskan sarung tangan serta cambuk tadi, dan terlihat Cain terengah-engah menahan perih dan sakit dari cambuk yang mengenai kulitnya itu.


Ia merasa sedikit lega karena kali ini hukuman ayahnya tidak terlalu keras seperti biasanya.


“apapun alasan yang mau kau berikan, kau tetap salah karena membiarkan tuan muda terlalu melakukan apapun seenaknya. Kita diberikan perintah dari tuan besar untuk mengawasi tuan muda diluar sana secara terang-terangan ataupun diam-diam nak. Dan itu adalah hal mutlak yang harus kita lakukan, tidak boleh ada kesalahan karena kau harus ingat kebaikan keluarga castio yang menyelamatkan kita dari ambang kematian dulu. Mereka adalah segalanya untuk kita berdua dan tidak boleh ada satu pun anggota keluarga castio yang celaka.”

__ADS_1


“baik ayah, maafkan aku karena lalai dalam menjalankan tugas.”


“baik nak, kembali kekamar dan rawat luka mu”


Sebastian pergi duluan dari ruangan itu.


Diruangan tersebut cain memakai kembali baju nya dengan perlahan dan berjalan keluar. Setelah ia sampai kedalam kamar nya ia lalu pergi ke kamar mandi dan beredam di air dingin sambil meringis kesakitan.


Tok tok tok


Suara ketukan terdengar dari arah pintu kamar nya.


Ckrek


Pintu kamar terbuka


Cain lalu keluar dari kamar mandi dan melihat luca berdiri disana dengan wajah tidak enak nya.


“cain aku minta maaf karena keputusan ku mengambil tindakan lumayan gegabah”


“tidak apa-apa tuan ini hanya hal biasa”


“biasa apanya kau sampai luka seperti itu”


“tidak masalah tuan”


Luca tidak habis pikir karena sikap nya dalam mengambil tindakan merugikan orang disekitarnya.#


“ngomong-ngomong tuan, anda bukannya sudah kembali ke apartement ?”


“kenapa anda biasa ada di sini ?”


Luca yang akhirnya khawatir malah jengkel karena respon cain yang cuek dengan keadaan nya sendiri.


“hehehe”


Ucap cain cengengesan


Luca menggelengkan kepala nya tidak habis pikir, ia lalu mengambil ponsel yang ada disaku nya dan menghubungi sebuah nomor.


“dok, datang malam ini ke rumah utama ya.”


Telpon pun di putusnya


“tunggu disini, nanti dokter keluarga kita datang dan memeriksa kau. Aku mau keruangan ku dulu.”


Tanpa menunggu jawaban cain,Luca lalu balik badan dan pergi dari depan kamar cain.


***


Didalam ruang kerja luca ia mengingat kembali isi pembicaraan nya dengan ayahnya diapartement.


Saat ia ingin pergi kekamar mandi, handphone nya berdering dan tertera nama kontak ayahnya dilayar, tanpa menunggu lama luca langsung mengangkat handphone nya


“dad….”


Belum selesai luca bicara ia langsung disemprot ibunya.


“LUCA ! ibu dapat kabar dari ayah, kenapa kamu bisa-bisanya sengaja terluka nak.”


“eh mom, maaf mom aku sengaja begitu karena aku pikir kalau aku biarkan mereka membully aku, aku tidak akan diganggu lagi. Tapi ternyata aku terlalu gegabah dalam menyimpulkan sesuatu.”


“aku malah membuat cain yang termasuk orang terdekat ku terluka karena keputusan ku, aku jadi tidak enak dengangnya

__ADS_1


“that’s why ibu selalu mengingatkan kamu untuk berpikir setiap keputusan selalu ada resiko nya maka dari itu kamu harus memikirkan resiko mana yang tidak merugikan kamu dan orang terdekat mu son.”


“yes mom sorry, aku hanya memikirkan diriku sendiri”


“ubah sedikit pola berpikir mu untuk kedepannya ya, sekarang kerumah dan lihat keadaan cain.”


“jadikan kejadian ini sebagai pembelajaran bahwa kedepannya kamu harus memikirkan tanggung jawab mu sebagai tuan yang bijaksana bukan tuan yang semena-mena, ingat keluarga castio tidak pernah membiarkan bawahan nya menderita Cuma karena kepentingan pribadi.”


“semua hal yang terjadi selalu ada alasannya tapi pakailah logika mu dengan baik dan usahakan tidak terulang lagi kejadian konyol seperti ini.”


“ok mom akan aku ingat”


“oia masalah anak-anak yang membully kamu disekolah sudah diurus ayahmu. Sekarang kamu fokus kembali menjalani aktivitas seperti biasa okey ?”


“okey mom”


“that’s all son, mom love u. ibu tidak mau kamu kenapa-kenapa ketika jauh dari kami.”


“now I’ll give the phone back to your father. Love you honey.”


“love u too mom”


“luca ini ayah. Ingat apa yang ibu bilang tadi okey, hampir copot jantung ayah waktu ibu mu tiba-tiba masuk dan merebut handphone dari tangan ayah bart.”


“hehe sorry dad tidak akan ku ulangi lagi, aku janji.”


Luca tersenyum mengingat pembicaraan ayah dan ibu nya di telpon tadi.


‘baiklah ini pertama dan terakhir kali nya aku melakukan kesalahan, seingin-inginnya aku mempunyai hidup yang sederhana aku tidak ingin orang terdekat ku celaka, lagipula konyol juga dipikir. Misi belum selesai tapi aku sudah membuat ulah yang terbilang cukup tidak bijaksana.’


Luca berbicara dalam hatinya


Tok tok tok


Tiba-tiba suara ketukan muncul di pintu


Cain masuk membawa nampan berisi teko dan cangkir minuman.


“tuan saya bawakan teh”


“hah…cain….pelayan yang lain bisa mengantarkan itu keruangan ku tanpa harus kau yang mengantar nya.”


“tidak tuan, aku sekalian mau berterimakasih”


“oke sama-sama, dokternya sudah datang?”


“iya tuan, tadi saya sudah diperiksa dan diberikan beberapa obat dan krim luka”


“baguslah kalau begitu cain”


Luca tersenyum puas.


“oia malam ini aku tidur dirumah saja, kau kembalilah kekamar mu dan beristirahat. Mumpung besok libur aku mau bersantai dulu sebelum melanjutkan misi kemarin.”


“baik tuan, kalau begitu habis ini saya pamit undur diri duluan”


“nah baguslah, tumben kau tidak keras kepala…sana kau balik kekamar”


“iya tuan lucaaaa”


Ucap cain ia lalu pamit pergi.


Malam itu luca habiskan dengan membaca sedikit berkas yang ada dimeja nya dan ketika waktu sudah meunjukan pukul 11 malam iya kembali kekamar nya dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2