CERITA KU

CERITA KU
Patah


__ADS_3

Seharusnya ada pertanda akan keperggianmu. Seperti senja yang datang, pertanda siang akan segera menghilang. Seperti fajar yang datang, pertanda pagi mulai menjelang. Tapi, adakah hal yang harus aku pertanyakan ketika kamu tiba-tiba berkata jangan menungguku, kamu akan baik-baik saja tanpa aku. Selama ini hubungan kita baik-baik saja, tak pernah sekalipun kita bertengkar hebat. Memaklumi bahwa kita masih sama-sama muda dan beremosi adalah kewajaran. Atau mungkin semua hal yang aku anggap wajar itu berbeda dengan mu. Ah, tapi sepertinya kau bukan orang yg seperti itu.


Kamu, mengatakan padaku untuk tidak menunggumu. Kamu mengatakan padaku bahwa selama ini kita baik-baik saja. Kamu mengatakan bahwa aku berhak untuk mendapatkan orang lain yang lebih baik dari kamu. Aku berpikir cara ini hanyalah alasan saja untuk kita tidak saling bertemu lagi? Karena kamu bosan, mungkin. Adakah orang lain yang telah mulai menggoyahkan hatimu? Karena kau terpikat, mungkin. Atau mungkin? Ah, kurasa tidak. Kamu tidak mungkin mengatakan ini karena alasan memang kamu akan pergi selama-lamanya. Buru-buru aku tepis pikiran paling tidak masuk akal ini.


Meskipun kamu tidak menjelaskan kepadaku kemana, dan mengapa kamu meminta ku untuk berhenti, aku akan tetap melakukannya untukmu. Karena aku masih menyukaimu, dan berharap ini hanyalah kebosanan yang wajar terjadi di setiap hubungan. Masih terus ku sebut kamu sebagai harapan dalam doa-doaku. Tapi, pernahkah kamu berpikir setelah ini,


"Akankah aku baik-baik saja kini?"

__ADS_1


"Akankah aku masih bisa kembali tersenyum seperti sediakala?"


"Akankah aku bisa dengan mudah melupakan mu dan semua kenangan tentang mu?"


Ternyata ini begitu sulit untuk ku. Baik-baik saja katamu? Hh, mudah sekali mengucapkan. Menerima kenyataan juga butuh waktu. Apalagi kamu meninggalkan tanpa alasan yang jelas. Masih sempat aku berpikir, mungkin kamu sibuk dengan tugas kuliahmu, atau mungkin kamu tidak menemukan handphone untuk kembali menghubungiku. Aku biarkan saja. Tapi salahkah jika aku masih berharap sedikit saja untuk bisa kembali denganmu. Berkali-kali aku ingin menghubungimu kembali, tapi buru-buru ku urungkan niatku itu. Mungkin kamu memang butuh waktu.


"Aku baik-baik saja." Itu jawabanmu.

__ADS_1


Kamu tersenyum dan mengenalkanku sebagai temanmu kepada orang itu. Aku katakan padanya "benar".


"Aku adalah teman mu yang kamu minta untuk berhenti menunggu, dan berdoa untuk kebahagiaanmu."


"Aku adalah teman mu yang kamu bilang akan baik-baik saja tanpamu dan berdoa kamu pun begitu."


"Aku adalah teman mu yang kamu tinggalkan demi dia, orang yang baru, dan berdoa semoga kamu telah menemukan yang kamu cari selama ini."

__ADS_1


Selamat, aku ucapkan untuk mu dan orang itu. Semoga kebahagiaan mu adalah kejujuran yang setidaknya kamu bisa tunjukkan kepada ku. Semoga perpisahan tanpa kejujuran, tak akan terulang kembali. Berbahagialah, aku akan mulai ikhlas kini. Berbahagialah, aku akan mendoakannya untukmu. Berbahagialah, karena hati yang berharap ini sudah benar-benar patah. Berbahagialah, karena telah ku temukan jawaban jujur tentang hal yang selama ini aku pertanyakan. Berbahagialah, karena sudah tidak ada lagi doa -doa harapan dari ku yang menghalangimu. Berbahagialah, karena aku juga akan mulai berbahagia kini.


__ADS_2