
Aku Nana, siswi kelas XI IPA SMA 1 B. Aku memiliki kisah persahabatan di bangku SMA. Erly, Awan, dan Budi adalah sahabat ku. Kami berempat bertemu secara tidak sengaja di kelas tersebut. Dari rebutan bangku hari pertama masuk sekolah, sampai adu mulut gara-gara pilih bangku saat ulangan matematika. Meskipun kami berempat dekat, tapi aku lebih sering jalan sama Erly, karena kami sama-sama wanita. Sedangkan Budi, jarang sekali kami ngobrol lama, karena dia terlalu cuek. Berbeda dengan Awan, dia laki-laki yang care dengan kami. Apapun masalah kami, dia selalu bisa bantu dengan solusi-solusi cerdasnya.
Malam itu, seperti malam-malam lainnya, aku masih memegang hp ketika jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Apalagi yang ku lakaukan kalau bukan berkirim pesan dengan Awan. Awan mengirimiku pesan, pesan yang bukan seperti biasanya.
"Na, bantu aku buat selesein masalah aku. Bisa?" isi pesan Awan.
"Ada apa? tumben?" balasku. Selama ini yang namanya masalah, bukan aku pakar untuk kasi solusi, tapi Awan. Herannya kenapa malam ini Awan meminta bantuan untuk menyelesaikan masalahanya.
"Nana, aku harap kamu bisa bantu aku besok. Aku tunggu di tempat biasa. Bantu aku sekali ini saja." Awan mengakhiri pesannya seperti itu.
Aku sempat khawatir, ada yang aneh dengan Awan. Apakah dia memiliki penyakit yg serius?
__ADS_1
Apakah dia telah melakukan suatu yang fatal?
Apakah dia...? Larut aku dalam pemikiranku yang tidak-tidak. Aku takut kalo sahabatku kenapa-napa.
Semalaman aku tak bisa tidur, mata panda pun terlihat jelas di mukaku. Erly pun tak kuasa menahan tawa ketika lihat muka ku. Aku jelaskan semuanya pada Erly, apa yang membuatku sampai tidak bisa tidur semalam. Dua bilang aku terlalu berlebihan. Aku lihat yang dikatan Erly ada benarnya. Awan terlihat asik bermain sepak bola dengan teman sekelasnya. Mungkin aku yang terlalu berlebihan. Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran hari itu, mata ku berat, kepala pusing. Berharap kelas hari ini segera berakhir.
Akhirnya, sampai pada waktu yang dijanjikan Awan. Dia memintaku untuk buru-buru datang ke tempat biasa kami makan. Aku menyetujuinya, pelan-pelan aku lajuman motor yang ku kendarai, semoga mata ini tidak tiba-tiba terpejam di tengah berkendara. 10 menit, aku sampai di tempat makan. Aku lihat Awan sudah duduk di meja biasanya, mukanya tertunduk. Tampak wajahnya berbeda pas di sekolah tadi.
Awan memintaku untuk memesan makanan dulu. Aku sebutkan beberapa makanan kesukaan ku, dia hanya memesan minum.
"Makan saja dulu." Awan kembali diam. Aku menurut saja. Mungkin dia belum siap cerita, pikir ku.
__ADS_1
Tak berapa lama makanan pesanan kami datang. Aku mulai menyuap makanan ku, begitupun Awan, mulai menyeruput minumanya sedikit demi sedikit.
"Na, ada yang mau aku omongin ke kamu, ini tentang masalahku."
"Oke Wan, ada yang bisa ku bantu?"
"Aku sampai turun berat badan 4 kg gara-gara masalah ini." Dia melihat ke arah ku dan menunduk kembali melanjutkan kata-kata nya. "Sebenernya, ada yang mau aku tunjukin ke kamu." Awan menyerahkan selembar kertas. Aku pun mulai membacanya.
"Na, sebenernya kau mau ngomong ini ke kamu sejak lama. Tapi aku takut, kalau aku ngomong ke kamu, kamu bakal ngejauhin aku. Semakin aku pikir, semakin buat aku merasa frustasi dengan pikiran-pikiran aku. Aku pustuskan ke kamu untuk ngomong kalau aku suka sama kamu. Aku tahu kamu pasti kaget dengan omongan aku. Aku sahabat kamu, tapi aku juga ga bisa bohong terus tentang perasaan aku ke kamu Na. Jangan berubah gara-gara ini ya Na. Aku kasih kamu waktu untuk berpikir kok. Aku ga maksa kamu buat jawab hari ini juga."
Selesai aku baca, aku lihat muka Awan, yang menatap ku cemas. Tergambar jelas kekhawatiran di matanya. Dia takut aku marah, dan menjauh dari dia.
__ADS_1
"Na, sekarang kamu sudah tahu, masalah aku. Kamu bisa bantu?" Awan memegang tangan ku.
Aku hanya terdiam, kaku tak bisa bicara. Semua kata yang ada di pikiranku lenyap seketika entah kemana. Aku memutuskan untuk pamit pulang dan menjanjikannya untuk memberi jawaban besok. Awan menyetujuinya. Tapi aku tak langsung pulang, ku putuskan untuk menemui Erly terlebih dahulu. Ku ceritakan semuanya pada Erly, termasuk isi tulisan Awan. Erly terdiam, dia hanya berkata ikuti kata hatimu, jika kamu suka, lanjutkan. Tak ada sahabat yang tak turut bahagia ketika sahabatnya berbahagia.