
Aku mencarimu di setiap sudut yang pernah kita datangi bersama. Menyapu setiap jejak, berharap aku menemukan sosokmu. Setiap senyum yang kamu pernah tunjukan, terlintas jelas di depan mataku. Sunguh, aku benar-benar belum bisa menghapus semua rindu ku akan sosokmu. Meskipun 3 bulan sudah berlalu, aku masih belum menerima kepergianmu. Aku teringat senyummu saat pertama kali aku menerimamu untuk menjadi kekasih ku. Kamu melompat kegirangan, seperti bocah mendapatkan hadiah natal yang dia inginkan. Kamu tergugup saat pertama kali memelukku, tanganmu gemetar, dan aku belum lupa rasanya.
Aku masih ingat betul, nafasmu terengah-engah setelah berlari ke UGD sore itu, saat mendengarku terjatuh dari motor. Air matamu masih tersisa di sudut merah matamu, kamu tidak bisa membohongiku, betapa khawatirnya kamu.
Irama detak jantungmu pun masih terdengar jelas saat kamu mendekapku dengan penuh syukur, bahwa aku masih baik-baik saja.
__ADS_1
Wangi mu masih tercium saat mataku terpejam. Meskipun hanya satu tahun, tapi kamu sangat berkesan untukku.
"Bisakah kita menyerah?" kata yang kamu ucapkan ketika kamu mulai didiagnosa dengan penyakit kejam itu. Yang membuatmu selalu muntah dan pucat setiap kemoterapi. Tidak! jawabku tegas.
"Bisakah kita menyerah?" kata yang kamu ucapkan perlahan ketika tubuhmu susah terbaring lemah di atas ranjang itu. Aku hanya menggelengkan kepala, menggigit bibirku menahan tangis.
__ADS_1
"Bisakah kita menyerah? kali ini kumohon kamu setuju." Aku tertunduk, seketika kita hening. Hanya bunyi alat-alat yang menempel di tubuhmu yang selalu terdengar, semakin lama semakin menusuk.
"Menyerahlah Di, karena aku sudah siap menyerah." Sekali lagi kata-katanya. Kali ini aku mengangguk dan menangis tertahan, tak sanggup aku menahan air mata lagi. Kepalaku bersandar di tepi ranjang, aku rasakah tangan mu hangat mengelus rambutku. "Trimakasih." kata terakhir yang kamu ucapkan kala itu. Tangan mu masih sempat mengelus rambut ku untuk terakhir kalinya sebelum terkulai lemas, berbarengan dengan bunyi panjang "biiiibbbbb" dari alat itu.
Kami harus menyerah, maafkan aku yang memaksamu untuk terus berjuang. Padahal itu terasa berat untukmu. Maafkan aku.
__ADS_1