
Mendung tak sempat berkata saat langit malam mulai menurunkan hujan. Kilatan cahaya yang terus nyala dan padam, pun tak mengirimkan suara dentumannya sebagai pertanda. Tetesan air nya menyamarkan air mata ku malam itu. Ku putuskan untuk mulai berjalan sesaat setelah kamu ucap kata putus di depan ku. Dia, sudah memberikan keputusan setelah seminggu lamanya tak berkabar. Tak ada rasa penyesalan sedikitpun terlihat di matanya, aku bisa apa? Bibirnya pun tak bergetar sedikitpun saat menyebut kata itu, aku bisa apa? Hujan ini terlalu mendadak, seperti kata putus yang kamu ucapkan malam ini. Aku hanya mengangguk dan berkata, "sudahlah."
Aku menjalani hari seperti biasa, dengan separuh hati yang masih bertanya-tanya kenapa? Aku hanya dapat melihat dari kejauhan tanpa berani bertanya. Rasa sayang ku masih membuat ku membenarkan apapun keputusanmu, dan menempatkan aku di posisi yang harus berintrospeksi. Apakah aku terlalu mengekang mu? Apakah kamu terlalu bosan padaku? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memenuhi kepala kecil ku. Aku harap apa yang ada di kepalaku tadi adalah penyebab kamu meminta mengakhiri hubungan mu dengan ku. Aku masih berusaha menerima dan tidak bertanya apapun. Aku takut, itu akan membuatmu risih dan menghilangkan kesempatanku untuk kembali lagi denganmu. Benar, aku mencoba berdamai dengan hati dan pikiranku, dan tak henti berharap.
Sampai beberapa hari, dengan mata kepalaku sendiri aku melihat kamu bersama dengan wanita itu, berboncengan berpegangan di depan mataku. Tak sedikitpun aku mempunyai pikiran bahwa orang ketiga adalah penyebab kita berakhir. Aku, ternyata aku menjadi penyebab rusaknya hubungan kita. Aku yang mengenalkan mu dengan wanita itu. Aku, aku yang memohon kepada mu untuk mengantarkan pulang wanita itu saat sudah larut malam berada di rumahku. Aku, aku yang membuatmu menjadi akrab dengan wanita itu. Air mata ini menetes tak tertahan. Tak bisa ku lanjutkan kembali laju motor yang sedang ku naiki. Aku menangis tersedu, untung masih ada sahabat yang selalu menenangkan ku.
__ADS_1
"Sudahlah." Dia mengelus bahuku, memelukku erat seakan mengerti rasa sakit ku.
"Aku yang mengenalkan mereka berdua, membuat mereka menjadi akrab, dan ternyata mereka.." aku tak sanggup lagi meneruskan kata-kata ku. Hanya nya tangisanku yang dapat mewakili betapa sesaknya dada ini saat mengetahui kenyataannya.
"Aku tahu, aku tahu semuanya." sahabatku masih memelukku.
__ADS_1
"Aku tak bisa berbuat apa-apa, dia yang menginginkanya."
Aku menghela nafas panjang, mengontrol setiap kata yang akan ku ucapkan agar tak kentara sedih yang ku rasakan.
" Baiklah, setidaknya jangan lakukan di depan ku. Kita sama-sama wanita, aku harap kamu bisa menjaga perasaan ku"
__ADS_1
Wanita itu melangkah pergi, berboncengan dengannya di depan ku lagi. Baru saja aku minta untuk tak melakukannya di hadapan ku. Oh Tuhan, inikah balasannya. Sesak dada ini, rasa kesal dan kecewa tapi tak bisa berbuat apa-apa. Aku mulai membencinya, juga membenci wanita itu. Tapi tak sanggup ku ucapkan kutukan-kutukan yang ada di kepalaku, karena di hatiku masih tersisa rasa sayang untuk mu. Aku sadar, aku tak bisa dengan mudah berdamai dengan kenyataan ini, karena setahun kedepan aku masih harus berada di sekolah yang sama dengan kamu dan wanita itu. Aku masih harus bertemu dengan mereka di tempat les, dan di tempat-tempat lain di kota ini.
Waktu terus berjalan, aku masih sibuk mengatasi rasa sakit hati ku. Berbagai cara sepertinya sudah aku lakukan. Memadati waktu ku dengan berbagai macam ekskul, berkumpul dengan teman, membaca berbagai macam buku, tapi tak mempan. Karena yang aku lakukan selama ini hanyalah pengalihan untuk menghindar. Aku putuskan untuk mengubah strategi ku. Hadapi! Semakin sering aku menghadapi rasa sakit ku, aku harap pikiran ini mau menggunakan logikanya untuk mengalahkan perasaan. Sengaja aku muncul di hadapan mereka, mencari keberadaan mereka, hanya sekedar untuk melihat dan merasakan sakitnya. Dan ternyata benar, aku lakukan sekali, dua kali, berulang-ulang aku lakukan itu. Kebal, dan mulai terbiasa. Aku terima, aku melepaskanmu, aku memaafkanmu. Terimakasih Tuhan, Kau tunjukkan betapa berartinya diriku. Kau tunjukkan, bukan dia yang terbaik untuk ku. Teman? berhati-hatilah.!