Cerita Random Horor

Cerita Random Horor
Mandiin mati part 1


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, saat matahari belum sepenuhnya menyinari, angin dingin pun masih membelai tengkukku yang terasa menggelitik dan membuat tubuh ini bergidik.


Aku mengibas-ngibaskan pakaian setelah memerasnya tadi dan menjemurnya, mumpung matahari belum bersinar terik. Rutinitas pagi sebelum membuat sarapan orang serumah.


Sayup-sayup ku dengar derap langkah kaki mendekat ke arah rumah. Aku yang saat itu berada di belakang gegas mengitari rumah dan melihat seseorang sedang berdiri dan bersiap untuk mengetuk pintu rumahku.


"Ada apa, Pak?" tanyaku pada sseorang laki-laki yang saat itu terlihat bingung. Laki-laki yang aku taksir berumur 40-an langsung mendekat dan berbicara padaku.


"Apa ada Mbah Sumini, Bu. Pagi ini kami dikejutkan dengan berita tentang sanak saudara kami yang meninggal tiba-tiba. Apakah bisa kiranya Mbah Sumini memandikan jenazah hari ini, Bu?"


Aku terdiam sejenak. Bukan aku tak mengizinkan ibu mertuaku untuk pergi memandikan jenazah seperti yang biasa ia lakukan, tapi ibu mertuaku usianya sudah sangat renta.


Aku takut ia terjatuh atau malah pingsan karena kecapean.


"Maaf Pak, Ibu saya...,"


"Sopo, Nduk?"


Tiba-tiba terdengar suara ibu mertuaku dari dalam. Wajahnya sudah mulai dihinggapi keriput itu melongok saat pintu terbuka.


Lelaki yang tadi berada di hadapanku langsung memutar tubuh dan mendekati ibu mertuaku.


" Mbah Sumini, tolong Mbah, adik kandungku meninggal kemarin, dan anehnya pihak rumah sakit baru memberi tahu tadi. Saat aku bertanya pada suaminya, ia hanya diam seribu bahasa,"


"Tidak ada yang bisa memandikannya, Mbah, selain Mbah," laki-laki itu menunduk dan menghela nafas dalam.


"Biasanya kalau dia sudah berada di rumah sakit, pihak rumah sakit yang memandikan, kita tinggal memakamkannya saja," ibu mertuaku menjelaskan.


" Benar Mbah, tapi ini permintaan suaminya. Ia ingin memandikan sendiri istrinya di rumah, tentu saja dengan pertolongan Mbah dan juga ibu-ibu yang lain,"


Aku terdiam dan memandangi sosok ibu mertuaku yang sudah tua itu. Umurnya sudah 70 tahunan lebih, tubuhnya kurus dan ringkih, sedikit-sedikit mengeluh sakit perut karena maagh.


Jujur, aku tak tega jika orang tua itu harus berjibaku dengan air dan lelah. Yang aku khawatirkan, jika malam ya pasti susah tidur karena perutnya kembung dan juga sakit.


Kulihat ada keraguan di wajah tua ibuku, ia lalu memandang ke arahku dan melambaikan tangannya, menyuruhku untuk mendekat kepadanya.


Aku mengangguk pelan dan menuruti perintahnya, mendekat dan tegak di sampingnya.


"Ada apa, Bu? Ibu manggil Nunung?"


Wanita itu mengangguk dan menatapku dengan dalam.


" Nung, riko arep ngikut ibu mandiin mayit? kulo wes tuek, Nung. Ra kuat mandiin mayit dewean," (Nung, kamu mau ikut ibu mandiin mayat? aku sudah tua, ga kuat mandiin mayat sendirian)


Mataku seketika mendelik mendengar ucapan ibu. ' Aku? mandiin mayat? big no!'


Aku menggeleng cepat. Pengalaman tentang praktek memandikan mayat tempo hari saja sudah membuatku membayangkan yang tidak-tidak. Itu kalau juga tidak dipaksa dengan Mas Tono--suamiku, aku pasti tidak akan mau.


"Nggak mau ah, Bu. Nunung takut, Bu," tolakku halus.


" Kenapa takut, Nduk? mboten nopo-nopo, mayit ora mungkin hidup meneh," wajah mertuaku terlihat muram saat aku menolak permintaannya.


" Nduk, mandiin mayit itu hukumnya fardhu kifayah, wajib bagi umat muslim untuk melakukannya, apabila kewajiban itu telah dilakukan oleh sebagian orang, maka akan gugurlah dosa bagi orang lain yang berada pada suatu tempat itu,"


" Kamu mau Nduk, gara-gara kita menolak memandikan jenazah, seluruh kampung menanggung dosa dan mendapat azab dari Allah?"


Aku tertegun dengan ucapan mertuaku ini. Wajah tua dan tubuh renta itu membuat hatiku terenyuh dan seakan tersadar oleh ucapannya.


"Belajar Nduk, nanti kalau Ibu sudah tidak ada, kamu yang menggantikan posisi ibu. Pahalanya besar, Nduk,"


"Tapi, Bu ...,"


"Nanti ajak juga Mbak Lastri, kalian berdua akan ibu ajarkan bagaimana memandikan mayit dengan layak, walaupun kamu menantu, Ibu menaruh harapan besar padamu dan juga Mbak Lastri," kulihat matanya penuh harap, aku rasanya segan untuk menolak, rasa takut pun seketika hilang begitu saja.


" Baiklah Bu, Nunung panggil Mbak Lastri dulu," ujarku meski dengan sedikit terpaksa.


"Alhamdulillah, kalau begitu Ibu mau siap-siap dulu ya,"


" Mas, panjenengan nunggu sebentar nggih, Saya masuk dulu, ganti baju dan siap-siap," ujar ibu mertua.


"Njeh, Mbah,"


Aku pun meninggalkan laki-laki itu yang saat itu duduk di teras rumah, dan bergegas ke arah belakang rumah di mana rumah Mbak Lastri--kakak suamiku itu berada.


Tok! tok! tok!


Aku mengetuk pintu samping rumah Mbak Lastri yang tertutup. Tak lama terdengar suara kaki mendekat dan pintu pun terbuka dengan perlahan.

__ADS_1


" Ada apa, Nung?" wajah Mbak Lastri terlihat bingung. Ia melongok ke arah belakang tubuhku seperti mencari sesuatu.


"Apa ada sesuatu dengan ibu, Nung? ibu ga jatuh, 'kan?"


Aku dengan cepat menggeleng, karena melihat wajah Mbak Lastri yang khawatir.


" Enggak mbak, Ibu nyuruh kita ikut ibu untuk memandikan mayat. Apa Mbak mau? bukankah Mbak sudah sering ikut ibu?"


Ia terlihat menautkan kedua alisnya. " Kamu juga diajak ibu? apa kamu mau?"


Aku terdiam sejenak. Jujur sebenarnya aku ragu. Memandikan mayat bukan hal mudah bagiku.


Namun, akhirnya aku menggangguk pelan. Aku tidak ingin mengecewakan mertua yang telah baik kepadaku selama ini, apa salahnya mencoba, bukan?


"Iya, Mbak. Nunung mau ikut," jawabku singkat.


Kulihat ada yang aneh di tatapan matanya, tapi akhirnya Mbak Lastri mengangguk.


" Kamu siap-siap gih, Mbak juga mau siap-siap. Nanti kita pergi barengan, ya?"


" Iya Mbak, Nunung tunggu nanti di teras ya, Mbak," aku pun langsung memutar tubuh dan berjalan dengan cepat menuju rumah.


Kulihat ibu mertuaku sudah duduk manis di teras rumah sembari menyeruput teh manis yang bersanding dengan ketela goreng di sampingnya.


" Laki-laki tadi mana, Bu. Kok udah nggak ada?" Tanyaku bingung saat mataku mencari-cari keberadaan laki-laki tadi.


"Sudah muleh, Nduk. Ibu bilang nanti kita barengan ke rumahnya. Ga jauh, kok. Ibu takut dia nunggu lama. Ibu mau sarapan dulu," terang ibu.


" Oh, ibu tahu rumahnya?"


"Tau, Nduk. Wes rene, sarapan dulu. Suamimu juga sudah siap-siap mau ke kantor. Nanti ibu diantar Tono, kamu boncengan sama Lastri, nggeh,"


" Njeh, Bu. Kalau begitu Nunung siap-siap dulu, Bu,"


Ibu mengulas senyum dan mengangguk. Aku membalas senyumannya dan langsung masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah aku bertemu dengan Mas Tono. Laki-lakiku itu terlihat mengelap tangannya yang basah.


"Mas ... sudah mandi," tanyaku. Suamiku itu menoleh dan mengangguk.


"Sudah, Dek, ini Mas baru selesai jemur pakaian kita di belakang. Tadi kata ibu, kamu mau diajak Ibu mandiin jenazah. Mas seneng dengarnya," Mas Tono mengelus kepalaku dengan sayang.


"Iya, siap-siap gih, nanti kita barengan ke tempat almarhumah. Kamu boncengan sama Mbak Lastri, nanti pulangnya bolak-balik anterin Ibu dan Mbak, kamu ga kenapa-napa, 'kan?" tanya Mas Tono hati-hati. Aku tahu pikirannya, ia tak ingin menyusahkanku.


" Gak apa kok, Mas. Mas jangan khawatir. Mas kerja yang baik-baik aja, urusan ibu sama Mbak Lastri itu urusanku. Doain aja istrimu ini bisa kuat dan berani untuk menghadapi si mayit nanti," jawabku dengan suara sedikit bergetar, tak bisa ku pungkiri, rasa takut itu masih mengendap di dada.


"Ya udah, kasihan ibu nunggu. Mas juga mau manasin motor dulu,"


Aku menurut dan segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap. Baju hitam polos dan celana panjang berwarna senada beserta jilbab segi empat berwarna putih kukenakan dengan tergesa, takut Mas Tono dan Ibu menunggu lama.


Begitu selesai aku langsung beranjak keluar, di mana Mas Tono, ibu dan juga Mbak Lastri sudah menunggu.


Dengan meneguk segelas teh punya Mas Tono, aku begitu saja menjumput ketela goreng dan mengunyahnya dengan tergesa, lalu melangkah menuju motor yang sudah terparkir di halaman rumah.


"Alon-alon wae, Nduk. Ojo grusa -grusu," sungut Ibu saat aku terlihat begitu tergesa-gesa.


"Njeh, Bu. Maafin Nunung, Nunung cuma takut terlambat," sahutku.


"Yo wes, bonceng Mbakyu-mu. Hati-hati, alon-alon wae," Ibu kembali mewanti-wanti.


"Njeh, Bu," jawabku sembari naik ke atas motor, disusul Mbak Lastri di belakangku.


"Wes, Kito mangkat, yo. Bismillahirrahmanirrahim," ujar Mas Tono. Tak lama terdengar deru motor supranya, dan kendaraan roda dua itu mulai bergerak di susul oleh motorku di belakangnya.


Perjalanan menuju rumah almarhumah cukup sulit. Jalan yang di lewati adalah jalan tanah, maklum masih daerah perkampungan.


Di kiri dan kanan jalan pepohonan masih banyak dan rumah jarang-jarang. Rumah di dominasi rumah papan dan atap seng, tapi tak terkira juga rumah berbahan beton dan atap multiroof.


Aku sempat kesulitan saat jalan mendaki. Tubuh Mbak Lastri yang gemuk dan berbobot 70 kilogram lebih itu membuat motorku harus mengeluarkan tenaga ekstra, apalagi jalanan tanah di selingi batu-batu krikil terasa licin karena jalan yang habis di guyur hujan.


Beruntung masih menguasai medan meski jalannya tersendat-sendat. Motor akhirnya bisa berjalan lancar saat jalan datar, meski jalanan licin dan becek. Kakiku sesekali turun ke jalan, takut tiba-tiba oleng dan masuk ke parit yang teraliri air yang cukup deras.


" Mboten nopo-nopo toh, Nung? Mbak mlaku wae, yo. Iku rumahe wes cedak," ( ga kenapa-napa toh, Nung? Mbak jalan saja, itu rumahnya sudah dekat)


" Ga usah, Mbak. Ga kenapa-napa," sahutku dengan mata masih berkonsentrasi di jalan.


Benar kata Mbak Lastri, rumah yang akan kami mandikan mayatnya itu terlihat ramai.

__ADS_1


Motor Mas Tono pun menepi dan setelah menurunkan ibu, Mas Tono salim. Aku yang baru saja memakirkan motor lantas mendekat ke arah suamiku dan mencium punggung tangannya.


"Mas berangkat ya, Dek. Kamu baik-baik, kalau sulit nanti bawa ibu, minta tolong sama yang punya rumah untuk antar ibu," pesan Mas Tono sebelum ia kembali menstater motornya dan pamit. Aku hanya mengiyakan ucapannya saja, tanpa bantahan.


Setelah Mas Tono pergi, aku menggamit tangan ibu, memastikan jika orang tua itu aman saat kami melangkah beriring masuk ke dalam pekarangan rumah.


Tuan rumah menyambut kami dengan sangat baik, tapi anehnya orang-orang itu hanya menunggu di luar dan tidak terdengar bunyi orang-orang melantunkan Yasin di dalam.


"Mayitnya belum datang, Mbah. Tunggu di dalam saja," tiba-tiba si tuan rumah berbicara.


Kami hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah semua peralatan sudah tersedia. Kain kafan dan juga bunga-bunga sudah diletakkan dengan sangat rapi beserta kasur dan bantal.


Baru saja kami meletakkan bokong di lantai rumah itu, terdengar sirine ambulans memekakkan telinga.


Sontak orang-orang yang sedang duduk tenang berdiri dan melihat ke arah luar. Suara tangis pun tak terbendung dari dalam saat orang-orang berpakaian putih keluar dari dalam mobil ambulans dan mengangkat mayat dengan tandu.


Aku masih terus memegangi ibu, Ibu lalu dibawa ke arah belakang dengan si tuan rumah beserta aku dan juga Mbak Lastri.


Ternyata kami dibawa ke tempat pemandian mayat, di mana bilik bambu yang menjadi alas.


Sembari menunggu mayat masuk, aku memperhatikan cara orang-orang itu membuat tempat pemandian yang seadanya, hanya dari beberapa kain panjang yang disatukan.


Aroma jeruk purut pun sangat menyengat, membuatku sedikit menahan gemuruh di dada. Ya, aroma jeruk purut identik dengan bau mayat, menurutku.


Bunyi gemerusuk di luar membuatku mengerutkan kening. Ada apa sebenarnya di luar? kenapa mayat lama sekali masuk padahal jaraknya hanya beberapa langkah saja?


"Minggir-minggir, Lestari akan segera di mandikan,"


Jantungku rasanya akan terlontar keluar, saat seseorang menyibak kain panjang dan mereka segera meletakkan mayat yang baru saja datang.


Kain dengan cepat di tutup kembali ketika mayat di letakkan di atas bilik dan seorang laki-laki berwajah kuyu masuk dengan tatapan yang sulit diartikan ke arah mayit.


Mataku seketika mendelik, saat kain penutup mayat dibuka. Dengan jelas mataku melihat jasad yang terbujur kaku dengan posisi yang sangat mengerikan menurutku.


"Astaghfirullahalazim," gumamku lirih nyaris tak terdengar.


Mayat itu menutup mata tapi mulutnya menganga, seperti sangat kesakitan. Tangannya terlentang dan kakinya mengangkang, nyaris seperti kodok.


Yang lebih membuat hatiku pilu, **** ************* terdapat noda darah kering, dan bekas jahitan.


' Apakah wanita ini meninggal karena melahirkan? tapi kenapa posisinya begitu menakutkan?'


"Baik, kita mulai prosesi memandikan jenazah. Kamu suaminya?" tanya Ibu kepada laki-laki satu-satunya diantara kami.


Laki-laki itu mengangguk pelan. Tampak sekali wajahnya capek dan seperti menyimpan kekecewaan yang teramat dalam.


"Sini, kamu bantu mandiin, ibu yang awali, nanti kamu ikuti," ucap ibu padanya. Laki-laki itu pun mendekat.


" Apa pun kesalahan istrimu, maafkan. Ikhlaskan, dan jangan pernah ada dendam. Kasihan istrimu, biar dia tenang," ucap ibuku seraya mengelus bahunya.


Tak disangka laki-laki itu menangis, sekuat tenaga tak bersuara hingga terlihat urat nadinya mencuat kebiruan di antara keningnya.


"Wes-wes, seng sabar. Ojo suwi-suwi, kasihan bojomu," aku hanya terdiam membisu begitu juga dengan Mbak Lastri saat ibu terlihat memenangkan laki-laki itu. Dua wanita yang lain terlihat juga terisak, mungkin itu saudaranya.


Setelah beberapa saat laki-laki itu mengusap air matanya dengan punggung tangannya, ia meminta segera melanjutkan memandikan jenazah istrinya.


Ibu mengangguk dan menyuruh kami mengatur posisi, aku sengaja berada di samping ibu, takut ibu kenapa-napa.


Ibu kemudian meraih sarung tangan dan memakainya. Ia menengadahkan tangan dan membaca niat memandikan jenazah.


"Mbak, tolong ganti kainnya dengan kain basahan itu," suruh ibu kepada salah satu wanita yang berdiri di seberang ibu.


Ibu lalu mengganti kain yang sempat tersibak dengan kain basahan baru dan menutupi tubuh si mayit.


Proses awal di mulai, ibu mendekat dan merogoh mulut si mayit dan menggosok giginya, lubang hidung, lubang telinga, celah ketiaknya, celah jari tangannya, dan kaki serta rambutnya.


Setelah selesai proses itu, ia memanggil suami si mayit dan menyuruhnya menekan-nekan perut guna mengeluarkan kotoran.


Awalnya proses itu berjalan lancar, tapi ketika suami wanita itu menekan perutnya dengan pelan dan perlahan seperti arahan ibu, aroma yang sangat busuk menguar hingga membuatku mual.


Bukan cuma aku, tapi yang lainnya pun sontak menutup hidung. Hanya ibu yang kulihat sangat tenang dan seperti tidak terganggu.


" Mbah ...," laki-laki itu menoleh ke arah ibu, seperti putus asa.


"Ora po-po, lanjute wae, Leh,"


Mengikuti perintah ibu, laki-laki itu kembali menekan perut istrinya dengan pelan.

__ADS_1


Tes-tes!


Seketika mata semua orang yang berada di tempat itu membeliak, saat melihat ...


__ADS_2