Cerita Random Horor

Cerita Random Horor
Sandekale


__ADS_3

Beberapa jam berselang, Ana ditemukan oleh kedua orang tuanya dengan posisi tergeletak dan tertutup karung beras di belakang rumah mereka sendiri. Sontak hal itupun membuat mereka kaget dan terheran-heran karena Ana tak terlihat pulang sejak ia meninggalkan rumah.


Mimik wajahnya terlihat kebingungan, lebih tepatnya linglung. Usai ia meraih kesadarannya kembali, kepada orang tuanya Ana mengaku telah dibawa oleh sosok wanita saat ia sendirian di sekolah.


Awalnya ia disembunyikan di atas plafon sekolah, meskipun secara logika struktur langit-langit bangunan sekolahnya tidak memungkinkan untuk menahan beban manusia karena terbuat dari anyaman bambu yang sudah rapuh termakan usia.


Selain itu, ia juga dibawa ke area gudang penggilingan padi yang berlokasi agak jauh dari sekolahnya. Entah bagaimana caranya ia dapat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa seorang pun yang mengetahui sampai ia ditemukan oleh orang tuanya.


Disinyalir Ana telah diculik oleh sosok Wewe Gombel. Cerita mencekam tersebut merupakan kisah nyata yang dialami oleh tetangga saya semasa kecil. Di sekolah itu pula saya menuntut ilmu 20 tahun silam.


Wewe Gombel atau Kolong Wewe adalah sosok ekstra-terestrial yang memiliki payudara panjang menjuntai. Makhluk mistis itu diceritakan gemar menculik anak-anak pada saat menjelang Magrib (sandekala). Saat melancarkan aksinya, dirinya bisa berubah wujud agar tidak membuat para korbannya ketakutan.


Mereka yang diculik oleh Wewe Gombel akan diberikan makanan berupa kotoran manusia dengan tujuan untuk membuat mereka berhalusinasi sehingga tak bisa mengungkapkan wujudnya dan apa yang telah mereka alami.


Wewe Gombel merupakan sosok wanita tua yang konon berasal dari pegunungan Gombel di Semarang, Jawa Tengah.

__ADS_1


Jaman dahulu, ada seorang nenek yang sangat gemar bermain dengan anak-anak karena tak memiliki keturunan. Ia tinggal di kaki pegunungan Gombel dan apabila ada anak yang sedang mencari kayu bakar, sang nenek akan mengajak mereka mampir ke gubuknya.


Mereka akan diberi makanan dan buah-buahan sampai terkadang membuat sang anak lupa untuk pulang hingga orang tua mereka pun mencarinya.


Akan tetapi, karena sang nenek mengerti bahwa anak itu bukanlah anaknya, maka disuruhnya pulang dan kadang ia sendiri yang mengantar mereka pulang.


Masyarakat Jawa Barat mengidentifikasi istilah sandekala melalui budaya pamali. Sementara masyarakat Jawa Timur dan Jawa Tengah, budaya pamali bisa dikenali melalui konsep "ora elok" (tidak patut). Keduanya kerap diasosiakan dengan hal-hal yang dianggap pantangan atau tidak boleh dilakukan.


Sandekala berakar dari bahasa Sansekerta yang berarti gurat merah di langit senja atau senjakala. Dalam ragam bahasa Jawa sandekala memiliki padanan kata "wayah tibra layu" yang berarti ketika matahari mulai terbenam (kira-kira pukul 17.30).


Sejatinya penggunaan sosok menakutkan dipilih sebagai wujud rasa sayang orang tua pada anak-anaknya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Melalui simbol-simbol menakutkan anak-anak diharapkan mau menuruti nasehat orang tua dan berdiam di rumah saat sandekala.


Pandangan itupun seirama dengan kajian agama Islam. Menganjurkan anak-anak untuk tak berkeliaran di luar rumah dan menutup pintu rapat-rapat menjelang waktu Magrib hukumnya sunah.


Dalam Islam, sandekala adalah waktu di mana Jin dan Iblis mulai menyebar di alam yang sama dengan manusia untuk mencari tempat berlindung.

__ADS_1


Mereka tersebar dalam berbagai wujud dengan jumlah yang tidak ada yang tahu selain Allah. Sebagian dari mereka takut dengan setan yang lain sehingga harus memiliki sesuatu yang mereka jadikan sebagai tempat aman untuk berlindung.


Hadist Nabi Muhammad SAW tersebut faktanya bisa dijelaskan secara ilmiah. Dalam sebuah buku ilmiah berjudul The Science Of Shalat karya Prof. Riset. DR. Ir. H. Osly Rachman, MS, mengungkapkan bahwa saat menjelang Magrib, spektrum warna alam berada di level yang sama dengan frekuensi para makhluk ekstra-terestrial (Jin dan Iblis), yakni spektrum warna merah.


Menurutnya, saat menjelang Magrib, Jin dan Iblis berada di puncak kesaktiannya. Hal itu disebabkan karena resonansi yang dimiliki selaras dengan spektrum alam.


Pergantian waktu sandekala dari siang ke malam juga dapat berpengaruh pada fisik manusia, dari aspek penglihatan sampai pikiran, terutama pada anak-anak.


Dalam pergantian waktu tersebut mata dan pikiran mereka akan membutuhkan penyesuaian. Di waktu itulah anak-anak kesulitan dalam mengidentifikasi jalan pulang, sehingga membuatnya tersesat. Hal tersebut yang kemudian diasumsikan oleh masyarakat, bahwa hilangnya anak-anak disebabkan aktivitas Wewe Gombel. Namun, tidak menutup kemungkinan apa yang mereka percayai itu benar adanya.


Sandekala bukan isapan jempol belaka, fenomena itu bisa dibuktikan baik lewat kaca mata antropologi, agama, maupun sains. Ketiganya saling berkaitan satu sama lain. Pun saling mendukung.


Dalam tatanan masyarakat primordial, cara itu dipakai untuk mengantisipasi kebiasaan buruk pada anak-anak yang berpotensi melanggar aturan. Misalnya, anak-anak yang seharusnya belajar, beribadah, atau berkumpul bersama keluarga, tetapi malah bermain di luar rumah tanpa pengawasan orang tua.


Terlepas dari ada atau tidaknya sosok Wewe Gombel yang gemar keluar saat sandekala, kearifan lokal sangat penting kita gali, bagaimana orang-orang tua jaman dulu memakai pendekatan narasi hantu agar anak-anak mau mendengar nasehat dan tidak lupa waktu.

__ADS_1


Apa kalian menyadari, "sore" yang kerap dipuitisasikan oleh para pujangga sebagai "senja" ternyata tak seindah itu?


__ADS_2