
****
"La--lalu, tadi malam ... apa yang aku lihat, Yang?" tanya Gita terbata.
Bimo menautkan alisnya. "Kamu yakin lihat sesuatu, Yang? Atau jangan-jangan, kamu cuma mimpi aja?" ia balik bertanya.
Gita menggigit ujung kukunya, kebiasaan yang akan ia lakukan saat tengah dilanda gelisah. Ia benar-benar yakin tadi malam melihat wajah Menik di jendela kamar. Bimo menyentuh bahu sang istri lembut.
"Kalau kamu mau, ayo, kita tanya Ibuk langsung. Biar kamu nggak penasaran." ajaknya.
Gita menatapnya tak percaya, "Nggak usah, mungkin memang aku yang salah lihat. Sudah, lupain aja, Yang." tolaknya.
Mereka kemudian berganti pakaian, walaupun ada perasaan mengganjal dalam hati Gita, namun ia berusaha melupakannya. Untuk masalah belatung dalam mukenanya, ia akan mencoba untuk tidak memikirkannya. Gita mematut dirinya di depan cermin, setelah merasa puas berdandan dengan menggunakan gamis bermotif cerah ia segera membuka pintu. Lagi-lagi ia terkejut sebab, Menik telah berdiri dan seolah sedang menunggunya.
"Cah Ayu, mau kemana?" tanya Menik tersenyum. Ia menatap Gita dengan wajah berbinar.
Gita sempat mundur beberapa langkah, kemudian terdiam. "A--aku, mau ke pasar, Buk." jawabnya perlahan.
Bimo berjalan di belakang Gita, lelaki itu sama sekali tak kaget dengan kehadiran Ibunya.
"Kalian mau ke pasar mana, Bim?" tanya Menik lagi, kali ini ia menatap Bimo lekat.
Bimo membenarkan letak jam tangannya, "Oh, ke pasar raya, Buk. Ibuk mau titip sesuatu?"
Menik menggeleng, "Nggak. Apa, Gita nggak capek? Kalau mau nanti Ibuk pijat."
Gita seharusnya senang dengan perlakuan Menik, namun saat ini ia merasa sebaliknya. "Tidak usah, Buk. Tadi malam aku sudah istirahat cukup, kok." Tolaknya sehalus mungkin.
Wajah Menik terlihat sendu, Gita yang tak enak hati segera meraih lengannya. "Nanti, kita masak bareng-bareng ya, Buk? Gita mau buat ayam bakar." ajaknya.
Wajah Menik kembali cerah, ia tersenyum dan mengangguk.
"Kalau begitu, cepat pergi dan cepatlah kembali. Ibuk akan menunggu di rumah." ucap wanita yang berusia hampir kepala enam itu.
Bimo mencium punggung tangan Menik takzim, diikuti Gita. Mereka kemudian berjalan menuju ke teras, dimana kendaraan mereka diparkirkan. Ada sesuatu yang kembali mengganjal hati Gita setelah mencium tangan Menik. Bimo membukakan pintu untuknya. Saat akan berangkat, wajah lelaki itu terlihat bingung dan mengecek kantong celananya.
__ADS_1
"Kamu udah bawa hapeku nggak, Yang?" tanyanya pada Gita yang masih memikirkan sesuatu.
"Ah, nggak, Yang." Jawab Gita sekenanya. Ia merogoh tasnya dan hanya menemukan telepon genggam miliknya.
Bimo menggaruk belakang telinganya, "Kayaknya aku tinggalin di kamar deh. Bentar, aku ambil dulu." ucap Bimo kemudian turun dari mobil.
Gita menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu. Ia kembali mengingat apa yang salah, matanya menangkap seekor semut yang berjalan di kaca jendela. Pikirannya terkoneksi pada suatu hal.
"Iya, kenapa bau tubuh Ibuk seperti kapur barus ya?" bisiknya, bertanya pada diri sendiri.
Ia menghela nafas dan kembali melayangkan pandangan ke pintu rumah. Betapa kagetnya Gita saat mendapati Menik tengah mengintipnya dari balik gorden. Rasa kagetnya membuat perempuan itu reflek beristighfar.
"Ya Allah, Ibuk kenapa sih?" keluhnya seorang diri.
Dari dalam mobil ia masih bisa menangkap sebagian wajah Menik yang tertutup gorden. Ia yakin wanita itu sedang memperhatikannya. Selama menjalin hubungan dengan Bimo, ini adalah kali ketiganya bertemu dengan Menik di rumahnya. Saat pertama dulu adalah ketika Bimo membawa sang Ibu meminta dirinya, kedua saat resepsi pernikahan mereka. Itu semua dilakukan di kediaman Gita.
Sependek ingatannya, sifat Menik normal-normal saja ketika berkunjung ke rumahnya. Ibunya bahkan cepat akrab dengan besannya itu. Kini, entah kenapa Gita merasa selalu di awasi oleh Menik. Atau, itu hanya perasaannya saja?
Ia kembali menatap ke arah rumah, sosok Menik tak lagi terlihat. Bimo berjalan tergesa dan segera masuk ke mobil.
Gita hanya tersenyum, enggan rasanya untuk mengobrol dengan Bimo. Berjuta pertanyaan berkumpul di kepalanya.
****
Keadaan pasar sangat ramai. Bimo tak hentinya menggenggam tangan Gita ketika mereka berjalan di antara kerumunan. Tempat yang pertama kali Gita datangi adalah gerai ikan dan ayam, ia membeli satu kilo ayam dan juga ikan. Mereka kemudian berganti ke tempat bumbu, lalu sayur dan buah-buahan.
Tak perlu waktu lama bagi keduanya untuk menemukan semua keperluan dapur yang mereka butuhkan.
"Mau langsung pulang, atau jalan-jalan dulu?" Tanya Bimo. Ia menyeka keringatnya.
Jilbab kuning muda yang Gita kenakan berkobar tertiup angin, "Mau makan dulu, lapar." celotehnya disertai senyuman manja.
Bimo kembali menggandengnya, sepasang pengantin baru itu memasuki sebuah kedai bakso yang terlihat sangat ramai.
"Ini tempat makan andalanku kalau kemari, baksonya enak banget, Yang!" puji Bimo dengan mata berbinar.
__ADS_1
Gita menyunggingkan senyum, "Kalau kesini sama siapa? Ibuk?" tebaknya.
Senyuman Bimo memudar, "Nggak, sama Almarhum Bapak dan Mas. Ibuk ... nggak suka makanan olahan daging."
Gita menunjukkan rasa simpati, ia mengelus lengan suaminya. Saat awal mereka kenal, Gita memang tau jika status Bimo adalah yatim. Dari ceritanya, Ayahnya meninggal dua tahun yang lalu sebab sakit jantung.
"Kamu pesan dulu, aku mau taruh barang-barang ini ke mobil." ucap Bimo yang diiyakan oleh sang istri.
Gita kemudian memilih untuk memainkan ponselnya sembari menunggu pesanannya datang. Tiba-tiba seorang wanita mendekatinya. Ia menatap Gita tajam.
"Ka--kamu, dari desa Sumber Banyu?" tebaknya tepat sasaran.
Gita mengangguk perlahan saat mendengar nama desa dimana Bimo tinggal.
"Pergi! Pergi sekarang sebelum terlambat! Mereka semua jahat!" bentaknya kemudian menyelipkan sesuatu di tangan Gita.
"Apa yang anda maksud?" tanya Gita berusaha tak menarik perhatian meski sebenarnya ia takut. Takut karena melihat penampilan wanita itu.
"Darah. Mati. Kutukan! Pergi!" jawabnya dengan tegas.
"Kau akan sadar saat tidak mendengarkan suara apapun dari desa itu. Mereka semua ... sesat!" ucapnya lagi, kali ini ia meninggikan suaranya.
Hal itu membuat suasana menjadi gaduh, pemilik kedai bakso segera menggeret wanita itu keluar.
"Pergilah dari sana! Atau kau akan menyesal! Mereka menyukai wanita cantik sepertimu!" Jeritnya lagi.
Dada Gita bergemuruh, ia menggenggam sesuatu yang diberikan oleh wanita tadi. Tak lama kemudian pemilik kedai mendatanginya dan minta maaf, diikuti Bimo yang terlihat terburu-buru.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya panik.
Ia menyentuh wajah Gita yang pucat pasi, "Aku baik-baik saja, kok."
"Apa perempuan tadi menyakitimu? Apa yang dia bilang, Yang?" Desak Bimo lagi.
Gita menggeleng, dengan hati-hati ia menyimpan barang pemberian wanita misterius tadi ke dalam tasnya. Ia memutuskan akan melihatnya nanti setelah mereka sampai di rumah..
__ADS_1