Cerita Random Horor

Cerita Random Horor
STADIUM BUNUH DIRI


__ADS_3

Sore d hari minggu, Sahnas memakan lahap rujak mangga muda yg d pincuk dengan garam dan cabe rawit, ia sampai ngiler menikmati santapan itu, wanita muda kelas 2 SMA yg selalu ceria berkumpul bersama tetangganya yg tak bosa ngerumpi dengan vokal tinggi.


"Uoook....ss!!!!" Sahnas tiba-tiba ingin memuntahkan sesuatu, tetapi tak ada yg d keluarkan dari dalam perutnya yg ramping.


Tetangganya yg ikut ngerujak barang sahnas tersenyum cengengesan "duh sahnas kaya orang yg lagi hamil aja".


"ia nih sahnas....., ngerujak ngiler mana mual-mual, kaya ibu-ibu yg mau ngidam aja" umpat cengengesan tetangganya yg lain.


Sahnas tersenyum "ia nih....., perut mual engga tau kenapa, mungkin tak merespon pada yg terasa asam".


Malam hari sahnas pergi ke apotik, ia mencurigai sesuatu yg terjadi pada perutnya, di apotik ia membeli alat pendeteksi kehamilan, berbakal tutorial youtube, ia gunakan cara itu, d sebuh kamar mandi.


"Haahhh.......!!!" Mata sahnas terbelalak, napasnya terhenti seketika, mentalnya runtuh karna terhantam sesuatu yg d lihatnya.


"Aku hamil......!!!" Wajah sanas berubah menjadi pilu, airmatanya bercucuran tak bisa menahan wajahnya yg selalu ceria, pikiran ketakutan membayanginya, ia bergegas menyudahi keterpurukannya di kamar mandi, lalu menuju ranjang, sambil tiharap memeluk bantal guling.


Sahnas menangis sejadi-jadinya, meredam suara erangan tangis, ia menggigit bantal guling, pikirannya melayang, atas perbuatan yg pernah ia lakukan, bersama diko teman sekelasnya.


Senin ceria di pagi hari, mentari pagi menyinari hingga membuat embun pagi lari, mengawali sahnas ke sekolah, d mana hari itu tak seceria hatinya, d sekolah dia bertemu dengan diko, "diko..., ada yg ingin aku bicarakan sama kamu" sahnas menarik tangan diko, menuju ke belakang sekolah.


Dengan wajah yg menyendu, air mata sedikit lirih, sahnas berkata pada diko "ko....., aku hamil....!!!"

__ADS_1


"Apa...!, kamu hamil.....?" Diko d buat kaget atas pernyataan sahnas.


"ia ko..., aku hamil, kamu harus bertanggung jawab atas kehamilanku"


"Tanggung jawab gimana, akutuh tak mencintai kamu, apa yg kita lakukan waktu itu karna aku dalam pengaruh alkohol"


"Tapi kita melakukannya...."


"itu bukan sah aku, itu salah kamu, kamutuh jadi wanita keganjengan, jadi aku yg terpengaruh alkohol jadi hilap"


"Jadi bagaimana dengan aku ko...?"


Sahnas tak mau sekolah waktu itu, ia membolos dari sekolah, merenungi nasibnya d dalam stadion yg belum rampung sepenuhnya, lapar tak mempengaruhi ketermenungannya akan dunia kehidupan yg suram untuk dia, wajah yg terbias ceria begitu mudah d balikkan dengan luka yg teramat dalam, cinta yg lebih dalam dari samudra, lebih luas dari cakrawala, kini menjadi lebih pahit dari kemiskinan, ia bisu tanpa suara, sedangkan air matanya, berkedip bagai bintang-bintang


Tengah hari mulai berlalu, ketermunungan akan luka yg mendalam, tak bisa menahan langkahnya untuk pulang, ia takut akan ayah, ia sedih akan ibu, pabila kedua orang tuanya mengetahui ini, tapi ia harus pulang.


Sesampainya d rumah ia lihat kedua orangtunya lagi ceria menonton tv, dengan wajah yg lesu, ia memeluk ibu seketika "ada apa nak....., ko kamu sedih, ada apa d sekola hingga membuat putri ibu menangis ?"


"ini ada apa dengan putri ayah....?" timpal ayah sahnas.


Kembali air mata sahnas mengalir d raut wajahnya yg penuh penyesalan "ayah...., ibu...., sahnas hamil"

__ADS_1


"Apa......!!!, kamu hamil !!!" Sang ayah dengan kaget tiba-tiba saja berdiri dari tempat duduknya, lalu men*mpar wajah sahmas.


Prak.....!!!, tamp*aran itu membuat hidung sahnas mengeluarkan darah seketika, rasa malu ayah yg tak terbendung hingga membuat ia sepontan melayangkan tangannya yg sering membelai anaknya dengan kasih sayang itu.


"Ayah..... apa yg ayah lakukan...., sahnas ini anak kita, ayah jangan keterlaluan" sahut ibu yg begitu kesal berkolaborasi air mata menyambuk batin, atas perlakuan ayah kepada sahnas.


"ibu.........!!!!" Kata sahnas yg kembali lirih, ia seperti kehilangan jiwanya yg kuat, menderita, nan tak berdaya, ibu sahnas memeluk putri semata wanyangnya, dengan perlindungan prisai batin yg teramat tangguh hingga panas magma gunung berapi tak dapat menembusnya.


Air mata ayah yg perkasa itu tak bisa tertahan, ia malu akan hargadirinya, namun ia lebih menyesal karna menamp*r sang putri sampai hidungnya berdarah, tangan yg memeluknya dari kacil, yg berkerja keras tak kenal lelah karna d sambut istri dan anak yg selalu bahagia d rumah, melaksanakan keinginan keluarga semaksimal mungkin tanpa pamrih, kini tangan itu menggores pilu kepada anak dan istrinya.


Sahnas tak kuasa melihat tangis kedua orangtuanya, ia berlari keluar rumah "sagnas....., mau kemana kamu nak.....?" Tanya ibu yg belum kering air matanya.


"Sahnas.......!!!!" Teriak ayah yg bergemuruh dengan nada yg parau karna desakan air mata.


Masih dengan seragam sekolah SMA, sahnas melepas tali jemuran yg ada d sanping rumah tetangganya, ia berlari menuju stadion yg belum rampung sepenuhnya itu, ia ikat ujung tali ke langit plapun stadiun dengan menggunakan bantuan sepatunya yg ia lepas, di ikat dengan tali jemuran, lalu d lempar keatas, hingga masuk ke gelagar besi plapun stadiun, ia sampul tali itu sedemikian rupa, di leretan kursi terkemuka lantai dua stadiun.


Sahnas berdiri sambil menatap tali yg tersimpul melingkar seperti roda kematian, jiwa putus asa merasuk kedalam hati, menggerutu tak berdaya atas kepedihan takdir yg menempa hati nan rapuh, orang miskin dapat bertahan dari kelaparan, masyarakat dapat beradaptasi dengan perang, namun hati tak dapat menahan rasa malu.


ia masukkan lingkaran simpul tali itu kelehernya, di kencangkan, lalu melompat ke lantai satu, kursi yg tersusun rapi d stadiun, seolah menangis menggiringi keputusasaan sahnas, stadiun itu menjadi saksi bisu wanita yg bun*h diri.


*****

__ADS_1


__ADS_2