
****
"Cah Ayu, kamu masih ada perlu lagi nggak di luar?" tanya Menik pada menantunya, Gita.
Gita menggeleng, ia sebenarnya sudah mengantuk sejak tadi. "Mboten, Buk. Gita mau tidur saja." jawab perempuan berusia 21 tahun itu.
Menik membelai puncak kepala menantu yang baru satu minggu dinikahi oleh putra bungsunya penuh sayang. "Kalau begitu, masuk kamar ya? Nanti, jangan keluar lagi." pesannya.
Gita mengangguk, ini adalah hari pertama ia tidur di rumah Bimo, suaminya. Sejujurnya ia heran, sejak akan berangkat dari rumahnya, Bimo selalu mewanti-wanti agar Gita menuruti setiap ucapan Ibunya. Terutama untuk tidak keluar di malam hari.
"Bimo pulangnya subuh, di kamarmu sudah ada kamar mandi. Jadi, nggak ada alasan lain buat kamu keluar. Ngerti, Nduk?" tanya Menik sekali lagi.
Perempuan itu mengangguk walaupun ada rasa penasaran yang terbersit dalam hatinya. Ia dan Bimo baru sampai pagi tadi ke desa ini, dan tadi sekitar pukul delapan malam lelaki itu pamit untuk menghadiri acara di salah satu rumah saudaranya.
Menik berhenti tepat di kamar Bimo, ia menyunggingkan senyum ke arah anak menantunya, "Ibuk pamit tidur ya? Selamat malam, Cah Ayu." pamitnya.
Gita masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat. Tak lupa ia menguncinya seperti pesan Bimo sebelum pergi. Matanya melirik ke atas ranjang, benda pipih berwarna biru miliknya tampak berkedip beberapa kali. Dengan malas, Gita merebahkan tubuhnya, dan mulai membuka pesan yang baru saja masuk.
[Sudah tidur, Yang?]
[Jangan lupa kunci pintunya. Aku punya kunci sendiri.]
Dan banyak pesan lain yang masuk ke dalam aplikasi hijaunya. Gita kembali menguap, rasanya lelah sekali setelah seharian menempuh perjalanan jauh. Matanya mulai terpejam saat telinganya menangkap sesuatu.
"Salat, Nduk."
Ia membuka mata dan segera duduk. Dadanya berdebar karena mendengar bisikan yang terdengar sangat jelas. Ia melirik jam digital di atas dinding, angkanya menunjukkan pukul 22.35 malam. Gita menggaruk rambutnya, kemudian kembali mengecek layar telepon. Tak ada pesan masuk dari Bimo yang belum ia baca. Saat akan kembali berbaring, ia teringat akan sesuatu.
"Astaghfirullah," Gumamnya kemudian menepuk jidatnya pelan. "Aku belum salat Isya." sambungnya memarahi diri sendiri.
__ADS_1
Dengan cepat, Gita turun dari kasur. Buru-buru ia mengambil wudu dan bergegas membentangkan sajadah yang sudah ia siapkan sejak tadi. Matanya menangkap sesuatu setelah menggunakan mukena. Ia melirik foto berukuran sedang yang tergantung di bagian dinding, tepat di atas sebuah meja belajar. Foto itu tepat berhadapan dengan arah kiblat sehingga mau tak mau Gita harus melihatnya. Sebuah perasaan tak nyaman muncul meski yang terpasang adalah foto milik Menik, Gita berusaha khusyuk dan memilih memejamkan matanya.
Setelah salat, Gita memanjatkan doa kemudian kembali bersiap untuk tidur. Ia menggantung mukena di gantungan baju yang terpasang di belakang pintu. Ketika akan naik ke kasur, ekor matanya kembali melirik foto Menik yang tersenyum ke arahnya. Entah hanya perasaannya saja atau bukan, Gita yakin mata Menik seolah mengikutinya. Sejak datang, ia memang tidak memperhatikan kamar Bimo, sehingga tak sadar jika di dalam kamar itu ada foto sang mertua. Ia mendekat dan memperhatikan foto itu dari dekat.
Bulu kuduknya meremang saat memperhatikan detail foto yang terlihat sangat nyata. Tanpa sadar, Gita terus maju hingga jaraknya dengan foto itu hanya tinggal sejengkal.
"Ya Allah!" Pekiknya kemudian mundur beberapa langkah.
Jantung Gita berdegup keras, telinganya berdengung. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Ia tidak salah lihat kalau mata Menik dalam foto itu, tadi berkedip beberapa kali ke arahnya. Ia akan keluar dari kamar karena ketakutan, namun pesan Menik tadi menghentikan langkahnya. Ia tak mau dicap sebagai menantu yang bebal.
Ia berusaha tenang, dan membaca Ayat Kursi dalam hati. "Enggak, bisa saja ini efek karena aku kelelahan." gumamnya lalu menghembuskan nafas pelan. Di ambilnya sebuah kain dan menutup foto Menik.
"Maaf, ya, Buk. Gita tutup foto Ibuk pakai kain." ucapnya seolah meminta izin. Setelah menutup foto itu, Gita kembali naik ke atas kasur. Ia berselancar di dunia maya hingga tak terasa kantuk membawanya hanyut ke alam mimpi.
****
Sebuah sentuhan lembut mengejutkan Gita, ia merasa sensasi dingin yang menjalar di kedua pipinya. Saat membuka mata, sosok Bimo sudah ada di sebelahnya. Lelaki itu tampak tertidur sangat pulas, suara dengkuran halusnya terdengar menggelikan. Ia memindahkan tangan Bimo yang tak sengaja menyentuh pipinya, hal itu membuat laki-laki itu terbangun.
Bimo menguap dan mengucek matanya, "Kamu pules banget tidurnya, padahal aku kangen." Rayunya kemudian memeluk tubuh istrinya.
Hal itu membuat Gita terkekeh geli, ia merasakan getaran dari bawah bantalnya. Itu adalah alarm pengingat salat dari telepon genggamnya, ia segera bangkit dan mengikat rambutnya.
"Kita salat subuh dulu, Yang. Abis ini aku pengen ke pasar." ajak Gita.
Bimo tampak kurang setuju, ia menatap Gita lama. "Eh, anu ... salatnya ditunda aja, dulu ya?"
Mendengar itu membuat Gita menautkan alis, "Loh, kenapa? Biasanya juga kita salat berdua, Yang? Atau, kamu mau ke masjid?" tanyanya heran.
Lelaki itu menggigit bibir bawahnya, "Bukan, tapi ...,"
__ADS_1
Gita segera menarik tangan Bimo, "Nggak tapi-tapian! Ayok, bangun." Ia lantas mengerucutkan bibirnya.
Bimo akhirnya mengalah, keduanya lantas melakukan ibadah bersama subuh itu. Saat mencium tangan suaminya, Gita merasakan sesuatu yang aneh dari rambutnya. Seperti ada sesuatu yang bergerak dan menggeliat. Dengan cepat ia membuka mukenanya dan menemukan beberapa belatung hidup sedang berjalan di rambutnya. Ia memekik ketakutan, sementara Bimo dengan cepat menolongnya.
"Ya Allah, itu apa, Yang?" tunjuk Gita pada mukenanya. Ia ingat betul semalam masih menggunakan mukena itu.
Bimo menggeleng pelan, "Mu--mungkin ada bangkai, Yang. Belatungnya jatuh di mukena kamu." jawabnya yang terdengar tak masuk akal.
Gita menatap lama pada mukena putih gading miliknya, seingatnya setelah salat ia menggantung mukena itu ... tapi, tadi saat akan digunakan saat salat subuh, kenapa mukena itu berpindah tempat ke atas meja suaminya? Meja itu terletak persis di bawah foto Menik yang tadi malam ia tutup dengan kain. Ia melirik foto itu, kain penutupnya pun masih ada di sana.
"Yang?" panggil Gita lirih.
Bimo yang tengah melipat sarungnya segera menoleh. "Ya, ada apa Sayang?"
Gita menunjuk ke arah tembok, sementara mata Bimo mengikuti telunjuk istrinya. "Maaf ya, aku nggak bermaksud lancang." gumamnya lagi.
Bimo menautkan alis, tidak mengerti. "Minta maaf? Kenapa?" Ia kini berbalik dan menatap Gita dengan raut kebingungan.
"Itu, aku nutup foto Ibuk, pakai kain. Aku sedikit nggak nyaman apa lagi posisinya menghadap ke kita langsung kalau salat." ia tersenyum getir. Hatinya was-was kalau Bimo tak suka dengan apa yang ia lakukan.
"Foto? Foto apa, Yang?" tanya Bimo kebingungan.
Gita yang mendengar pertanyaan itu menautkan alis, "Itu, foto Ibuk."
Bimo berjalan ke arah tembok dimana Gita kekeh menunjukan letak foto Menik, lelaki itu menggelengkan kepalanya lalu menarik kain yang digunakan Gita untuk menutup foto mertuanya tadi malam.
"Nggak ada foto, Yang. Ini jendela kamar aku, loh." tunjuknya.
Dada Gita kembali berdebar kencang, ucapan Bimo memang benar. Itu adalah jendela kaca yang langsung mengarah ke bagian samping rumah. Bagaimana ia bisa lupa jika dalam kamar Bimo terdapat dua bingkai jendela, satu bisa dibuka, sedang yang lain full oleh kaca yang bening.
__ADS_1
"La--lalu, tadi malam ... apa yang aku lihat, Yang?" tanya Gita terbata.
****