Cerita Random Horor

Cerita Random Horor
STADIUM BUNUR DIRI (PART 2)


__ADS_3

Senja jingga d upuk barat seolah memberi salam terakhir untuk sahnas, sepanjang malam, diri yg terpisah dari raga itu menggantung menggenapkan takdir kisah hidupnya.


Pagi d hari selasa, gesekan hentak sepatu petugas kebersihan d stadiun belum rampung itu mulai terdengar, dia datang memeriksa stadiun setiap dua hari sekali, ketika dia masuk ke lorong menuju kursi penonton, rasa kaget bukan kepalang menghampiri bujuran tubuhnya, setelah ia memastikan apa yg dia lihat, lalu ia segera berlari keluar.


"Tolong.....!!!!, tolong.....!!!!"


"Ada, apa pak....?" Jawab orang yg d temui petugas kebersihan d luar stadiun itu


"Tolong mas, ada yg gantung diri"


"Di mana.....?"


"Di dalam stadium"


"Apa.....!, ayopak kita beritahu warga, lalu lapor polisi !"


"iapak, bapak beritahu warga, saya yg lapor polisi" kata petugas kebersihan stadiun


Petugas kebersihan stadiun datang bersama polisi dan tim inafis, begitu pula dengan warga yg sudah mulai berkerumun d dekat sesuatu yg tergantung, info dari lambang baju sekolah negri d ketahui alamat sekolahnya, warga bergegas menginfokan ke sekolah, pihak sekolah yg datang ke stadiun mengenali akan jasat itu, segera menuju rumah keluaga korban untuk pemberitahuan, sang ibu dan ayah yg semalaman mencari putrinya segera menuju stadiun.


Tak lama petugas medis dari RS terdekat juga datang, dengan cepat inafis berkerja, agar kerumunan tak semakin banyak, atas arahan tim inafis, petugas medis d bantu warga menurunkan jenazah dan segera menutupnya dengan kain.


Dari kejauhan seorang ibu bersama ayah sahnas, menangis sambil berlari "sahnas anakku.......!!!" Sang ibu terselipah bersila memeluk jenazah yg berbalut kain d seluruh tubuhnya, airmata deras mencucur hingga membasahi kain penutup itu, tak kala beliau membuka kain d bagian penutup kepala, rasa tangis semakin menjadi-jadi menggema ke seluruh ruangan stadiun.


"Sahnas......!!! Anak ibu......!!!, bangun nak....., bangun......" rintihan kata-kata keluar dari ibu yg terluka teramat dalam, langit terasa runtuh d sanubarinya, sang ayah sudah tak berdaya, berderai air mata tanpa kata, dia memeluk anak dan istrinya.


Tim medis mencoba menyabarkan keduanya, hanya pukulan tak berdaya yg d terima tim medis dari ibu sahnas, tetangga sahnas, para orang tua yg berteman baik dengan ayah dan ibu sahnas mulai ikut ambil dalam menyabarkan kedua orang tua sahnas, hati mereka bisa sedikit d redam, selanjutnya jenazah d bawa ke mobil ambulan kenuju instalasi jenazah RS untuk d fisum berdasarkan saran tim inafis.


Di sekolah info ini mulai tersebar, sekolah yg seminggu lagi akan mengadakan ujian semester genap menjadi gaduh, khususnya d ruangan kelas sahmas (kelas 2 b) ada 52 siswa d ruangan itu, 30 perempuan, 22 laki-laki, 4 besty sahnas benama anggi, lisa, bella dan nurul benar-benar terpukul mendengar berita ini.


diko, samsul dan rehan sangat d kagetkan tentang info itu, di jam istirahat pertama, semua murit d kelas bergegas menuju RS.


Kedatangan para siswa dan beberapa guru ke instalasi jenazah, d sambut dengan raut kesedihan keluarga, kerabat dan tetangga sahnas, teman sekolah sanas menggaung menangisi kematian sahnas, instalasi jenazah yg d konspirasi angker, kini berubah jadi lahan kesedihan, para besty sahnas yg berlinang air mata memeluk ibunda sahnas, seolah membagi luka bersama, terlebih keempatnya sering sekali main kerumah.

__ADS_1


Diko hanya duduk d bawah pohon halaman RS, ia tak masuk, sementara teman-teman dia, samsul, rehan dan yg lainnya berupaya untuk menjenguk, diko hanya bisa termenung sendiri, meratapi, memikirkan kata-kata terakhir sahnas kepadanya.


Dengan mobil jenazah RS, jasat sahnas d bawa ke rumah duka, di iringi ratusan kerabat, tetangga dan teman-taman sahnas, sesampainya d rumah, almarhum d mandikan, d kafani, d solatkan, lalu dikubur dengan hikmat.


Rabu pagi hari d sekolah, samsul bersama diko duduk d ruang terbuka hijau sekolah "diko......, sebenarnya apa yg terjadi pada sahnas?, kenapa sahnas nekat bun*h diri ?"


"Aku tak tau sul...!, sudahlah...., jangan kau ungkin masalah sahnas d hadapanku !"


"Apa maksudmu diko, kenapa kamu gelisah seperti itu, atau jangan-jangan ini ada hubungannya dengan perlakuanmu yg mabuk pada waktu itu ?"


"Ah..... sudahlah sul, kau tak usah mengungkit masalah itu, engkau yg membelikan minuman-minuman itu lalu meninggalkan kami berdua, sementara engkau pergi bersama nurul entah kemana"


Dengan rasa kesal diko langsung menuju ruang sekolah, lonceng pertanda masuk sudah berbunyi, d ruang kelas, besty dan teman sahnas lainnya berkomitmen untuk mengosongkan kursi itu sementara, rasa penasaran siswa dengan desas desus tak beraturan berbisik d ruang sekolah.


Info akan kematian pelajar yg g*antung diri d stadiun mulai bergema sampai ke pelosok kabupaten, bersumber dari pesan WA berantai hal itu cepat tersebar, bahkan hadir d media lokal FB dan instagram, bak efek domino cara kematian sahnas seolah menjadi tren d kalangan orang yg putus asa d kabupaten itu.


Baru 5 hari berselang setelah kematian sahnas satu ibu muda g*ntung diri d dalam rumah karna tak tahan atas perlakuan kasar suaminya.


2 hari kemudian setelah ibu muda itu g*ntung diri, kembali seorang laki-laki dewasa yg terlilit hutang karna uangnya d pakai untuk judi slot, gantung diri d atas pohon ketapang, 3 hari kemudian setelah ini


Belum genap sebulan peristiwa ini bergulir d lingkup kabupaten, seorang pemuda yg doyan mabuk mencoba mengancam orang tuanya, pabila tak d belikan HP model baru yg ramnya banyak untuk main game, ia akan bun*h diri.


di depan warung ibunya yg kebetulan sang ibu sedang pergi kebelakang untuk bab, pemuda itu menjuntaikan tali yg dia ikat d gelagar atap depan warung, setelah tali d simpul dia mencoba berdiri d atas kursi plastik, belum tali itu masuk sepenuhnya ke leher, dalam keadaan mabuk membuat tubuhnya oleng kedepan, tiba-tiba saja kakinya terlepas dari pijakan kursi pelastik itu, lalu (druk....)


Ujung jempol kaki menggesek tanah namun tubuh tak berdaya menahan bebannya karna kondisi dalam keadaan mabuk, iapun tew*as d gantungan yg d anggap ancaman canda belaka.


Kembali kesekolah, ujian semester genap sudah berakhir, teman-taman sekelas sahnas sudah menerima rapot kenaikan ke kelas 3 SMA.


Anggi, salah satu besty sahnas menemui diko "hai diko !"


"Hai anggi !"


"Diko...., kenapa kamu murung akhir-akhir ini ?, bicaralah diko !, aku tak ingin cintamu dulu yg ku tepuk sebelah tangan mengganggu pikiranmu, hingga kau melakukan hal yg aneh, seperti kasus-kasus d kabupaten kita bulan-bulan ini"

__ADS_1


"Tidak gi, ada hal yg aku sesali d pemikiranku, tapi.... ya sudahlah, biarkan saja rasa-sara d hati cukup menjadi beban buatku, jagan khawatir, aku tak akan melakukan hal yg aneh, terimaksih gi... atas perhatiannya"


"ia ko....!, eam... ma'afkan aku menolak cintamu waktu itu, aku hanya ingin fokus dan belajar untuk meggapai inpianku menjadi dokter"


"Ya... tidak apa-apa, teruslah gapai cita-citamu gi...."


"Terimakasih atas pengertianmu, Oh... ya ko, besok lusa di rumah almarhum sahnas akan d adakan do'a 40 hari mengenang almarhum sahnas, kata ibu sahnas semua teman sekolah sahnas d undang untuk hadir"


"Oh... terimaksih pemberitahuannya, aku besok mau ke jawa timur ke tempat pakde, sekalian liburan akhir sekolah, tiket pesawat sudah ku beli, jadi aku tak bisa hadir, titip salam aja buat ayah dan ibunya almarhum sahnas"


"ia ko...., dah aku pulang dulu, sampai jumpa"


"Sama-sama" jawab diko.


Tentang kehamilan almarhum sahnas hanya d ketahui oleh ayah, ibu, dan kepolisian yg memintai keterangan, tapi pelaku atas kehamilan sahnas, belum d ketahui mereka, karna sahnas tak bicara sampai akhir hayat, siapa yg menghamilinya.


Diko sudah sampai d jawa timur, dia ketemu pakde dan budenya yg tinggal d kabupaten, diko tinggal d sana beberapa hari untuk liburan, pakde meminjamkan motor ke diko untuk jalan-jalan keliling melihat kabupaten di jawa timur.


Sesampainya d perempatan kereta api tak berpalang pintu, diko menyetopkan motor tepat d depan jalur rel kereta api, sesuai arahan petugas jaga perempatan kereta, ada banyak motor yg mengantri di belakang.


Ketika mata diko tertuju pada pengendara motor perempuan, yg ada d seberang jalur berlawanan, yg ikut antri d jalur terdepan, diko langsung menyingsingkan kaca helmnya.


"Sah....nas.....!!!!" Kata diko yg terpukau, melihat wanita mirip sekali dengan sahnas mengendarai motor metik tanpa helm.


(Tit.... tit... tit.....) sebuah motor membunyikan claksonnya yg d pencet anak kecil berumur 5 tahun untuk main-main dengan tombol dan suara clakson, yg d bonceng ayahnya, tepat d belakang motor diko.


Tanpa sadar, diko yg terbiasa mendengar suara clakson dari belakang d perempatan (daerah yg ia tinggal sebelumnya), pertanda bahwa lampu hijau telah menyala dan lampu merah telah berlalu.


Mengira itu masih terasa d daerah tempat tinggal dia sebelumnya, ia menjalankan motornya, semua orang berteriak, begitu pula petugas dan wajah yg mirip sekali dengan sahnas dari arah berlawanan.


"Awaaaaas........!!!!!"


(Dbuoar.........!!!) kereta api berkecepatan tinggi dengan gerbong besi yg panjang seperti naga mitologi itu, menabrak diko.

__ADS_1


****


__ADS_2