
"Argh! apa ini, tolong!" teriak wanita dari arah sungai.
Kami yang sedang menikmati secangkir kopi di tengah-tengah api unggun lantas bergerak ke sumber suara. Alangkah terkejutnya aku mendapati Revi berteriak histeris dengan keadaan mengerikan. Sekujur tubuhnya dihinggapi lintah. Hewan menjijikan penghisap darah.
Kami berlima yang melihat itu ikut histeris. Antara ngeri dan takut. Revi terus menjerit ketakutan. Sam kekasih Revi pun shock.
"Ayo, lakukan sesuatu. Kenapa kalian diam aja!" seru Sam kesal.
Sam berlari ke arah Revi, membersihkan badan Revi dengan handuk, berusaha mencabuti hewan mengerikan itu satu persatu. Roy dan Ashraf membantu Sam. Sedangkan kami cewek-cewek tak ada yang berani mendekat.
Sam membopong tubuh Revi yang basah kuyup menuju tenda. Sedang kami mengekor di belakang.
"Kalian tolong gantikan bajunya, takut dia masuk angin," titah Sam usai membaringkan Revi ke dalam tenda.
Aku mengangguk.
"Nin, tolong kamu ambilkan pakaian Revi di koper merah itu. Aku akan mengobati kulitnya dengan obat merah."
"Ya, Num."
Aku memindai seluruh tubuh Revi, nampak luka-luka itu terlihat seperti gigitan hewan bertaring. Mengapa bisa separah ini. Setahuku, tidak sampai seperti ini. Aku jadi bergidik ngeri. Revi masih tak sadarkan diri karena shock.
"Kenapa kamu, Num?" tanya Nina seraya menyerahkan piyama milik Revi.
"Kamu lihat deh lukanya. Ini seperti gigitan hewan bertaring."
"Kamu bener, Num. Padahal kan hewan itu gak punya gigi tajam. Aku jadi takut. Kita pulang aja yuk."
"Kita baru saja sampai lho."
"Tapi aku takut, Num. Nanti kalo kita tidur terus tiba-tiba hewan itu datang, gimana?"
"Husst, jaga bicaramu. Ini juga salah Revi, tadi aku udah memperingati dia jangan berenang di sungai apalagi malam-malam. Ini tuh hutan, kita harus bisa menghormati penghuni hutan ini."
"Duh, aku jadi gak bisa tidur nih."
"Udah sana kamu tidur."
Usai menggantikan pakaian Revi, aku ikut berbaring di tengah-tengah Revi dan Nina. Aku pun merasa ada yang tidak beres dengan tempat ini.
Sebenarnya, aku sempat ragu ikut dalam acara ini. Bukan karena apa, di sini hanya aku yang berstatus jomblo. Sedangkan mereka berempat berpasangan. Aku malas hanya jadi bahan obat nyamuk saja.
Aku mau ikut karena ada Ashraf. Jadi aku tidak terlalu kasihan. Siapa tahu, dengan adanya acara ini, aku bisa dekat dengan Ashraf. Biar status jombloku inj sirna dan tidak jadi bahan ejekan mereka.
Karena tak bisa tidur aku memilih ke luar tenda. Terrnyata cowok-cowok masih standby di area api unggun.
__ADS_1
"Binatang sial*n! aku akan membakarnya!" umpat Sam seraya menyulut korek api ke kumpulan hewan melata itu.
"Apa yang kamu lakukan, Sam?"
"Aku akan menghanguskan mereka."
"Apa sebaiknya jangan, Sam. Takutnya mereka gak terima. Kita itu orang baru di sini."
"Udah, kamu diem aja. Kamu mau hewan-hewan itu menerkammu jika dibiarkan."
Aku tak menjawab lagi, kemudian mundur beberapa langkah dari tempat Sam berdiri.
"Kamu gak tidur, Num?" tanya Ashraf.
"Gak bisa tidur."
"Tidurlah, udah malam."
"Heum, Guys. Apa gak sebaiknya kita pulang aja?" usulku.
"Kenapa, kamu takut?" seloroh Roy seraya memainkan senar gitarnya.
"Aku rasa ada yang gak beres dengan tempat ini, Roy."
"Mungkin itu peringatan buat kita, Roy."
"Udah, jangan dipikirin lagi. Revi gak bakalan kenapa-napa kok. Paling cuma lemes aja habis dihisap darahnya. Perjalanan kita masih panjang. Nikmati aja lah."
"Iya, Num. Kamu tenang aja. Kita cowok-cowok bakalan jagain di luar kalo ada sesuatu." Ashraf menyahut.
"Huft."
"Kamu balik aja ke tenda."
"Yah."
Aku kembali berbaring. Berusaha memejamkan mata. Sulit sekali untuk tidur. Kenapa malam ini terasa sangat lama. Berulang kali aku berguling ke kanan dan kiri tetap saja mata ini enggan terpejam. Nina nampaknya sudah tertidur pulas.
Pukul tiga dini hari aku terbangun kala mendengar suara erangan. Dan suara itu berasal dari Revi. Ia terus menggeram sambil matanya terpejam. Aku kira dia mengigau.
"Rev, bangun. Revi!" seruku.
Kusentuh badannya terasa dingin seperti es.
"Revi, bangun dong!"
__ADS_1
Sam yang mendengar kegaduhan di dalam, menghampiri tenda kami.
"Ada apa, Num?"
"Badan Revi dingin banget."
"Jangan-jangan hipotermia."
"Eh, itu gigi Revi kenapa kok lepas semua?" Hiiiy!" seru Nina ketakutan.
"Ini bukan hipotermia, Sam. Ini udah gak beres."
"Terus apa yang harus kita lakuin."
"Kita pulang sekarang," usulku.
"Ini masih larut malam," sanggah Roy.
"Ya udah besok pagi kita pulang."
"Huft! gak asik banget, baru sampai udah pulang aja. Gak jadi healing."
"Lu gak lihat kondisi Revi, hah!" umpat Sam kesal terhadap Roy yang masih nampak santai dengan kedaaan teman kami.
"Salah cewek lu sendiri dibilangin ngeyel."
"Bisa diem gak!" seru Sam ingin melayangkan tinju ke arah Roy.
"Santai-santai, Bro," celetuk Roy sembari menghidar dari Sam.
"Kalo lu mau tetap di sini. Lu di sini aja sendirian. Biar dimakan monster hutan."
"Udah, gak usah ribut. Lebih baik kita pikirin keselamatan Revi dulu. Kita harus bawa dia ke rumah sakit. Siapa tahu hewan itu memang beracun."
Ashraf menengahi perdebatan. Ah, cowok itu memang paling bisa mengendalikan emosi.
"Kita jagain Revi bergantian."
Kami akhirnya memutuskan untuk pulang besok pagi.
Satu jam kemudian, tiba-tiba Revi bangkit dari tidurnya.
"Rev, kamu gak apa, kan?"
Bukannya menjawab, matanya melotot, dia menyeringai ke arahku. Nampak barisan giginya yang semalam lepas kini berubah menjadi taring-taring yang tajam. Wajah itu kini bukan seperti Revi yang aku kenal. Wajah itu lebih mirip m0nster mengerikan.
__ADS_1