
Tak lelo lelo lelo ledung
Cup menenga aja pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
Yen nangis ndak ilang ayune
Tak gadang bisa urip mulyo
Dadiyo wanito utomo
Ngluhurke asmane wong tuwa
Dadiyo pandekaring bangsa
Wis cup menenga anakku
Kae mbulane ndadari
Kaya butho nggegilani
Terdengar lirih dan sayu suara seorang nenek spt berkidung disertai suara tangisan bayi.begitu menyayat hati kepada siapapun yang mendengar.
Suara serangga malam seakan mengiringi alunan kidung nenek yang semakin lama semakin lirih dan menghilang ditelan kesunyian.
Meninggalkan suasana gelapnya malam dan sinar bulan yg temaram menembus rimbunya pepohonan Di sebuah desa dilereng perbukitan.
Sebuah desa dengan jalan setapak yg begitu gelap dengan pepohonan berjejer di sepanjang jalan.
Nenek Sukarsih atau mbah karsih biasa warga memanggilnya, tinggal di desa ini .di sebuah rumah kecil diujung desa. Rumah sederhana dengan banyak pepohonan khas perbukitan disekeliling rumahnya. Tinggal bersama kakek wiryo atau mbah wiryo suaminya.
Pagi ini sbelum ayam jantan dikandang
berkokok. kakek sudah bangun, bahkan
sudah sibuk menata kayu bakar di samping rumah, dibantu mbah karsih agar cepat selesai, karna setelah subuh harus di antar ke sebuah rumah makan yang memesanya.
Belum selesai membantu kakek menata kayu kayunya. Nenek meletakan kayu ditanganya dan cepat cepar masuk kerumah, ketika mendengar suara bayi menangis..
"Waahhhh cah ayu wes tangi"
(Wahhhhh anak cantik sudah bangun)
Suara mbah karsih sumringah,sambil
Terseyum.
Dipegangnya popok bayi itu dan menggantinya, kemudian mengendongnya dengan selendang. bergegas menuju dapur, membuatkan susu untuk sang jabang bayi. Dengan
Telaten dan dan penuh kasih sayang
Memberikan susu dalam botol untuk sang bayi minum.
LIA nama bayi itu.. LIA adalah cucu mbah karsih dan kakek wiryo.
Bayi yang belum genap 2 bulan itu hidup tanpa orang tua. Ayahnya sudah meningal dunia.
Lia diasuh oleh mbah karsih sepeningal orang tuanya.
Walaupun hidup dalam kesederhanaan bahkan kekurangan.
Mbah karsih dan kakek wiryo memberikan yang terbaik yg mereka bisa. Bukan limpahan harta yg mereka berikan. Namun kasih sayang yang cukup.
Setelah memberikan susu kepada lia.
Lia ditidurkan di bale bambu yg berada didapur.. kakek wiryo sengaja membuatkan bale bambu untuk -
Membaringkan lia saat mbah karsih memasak.
Pagi ini Kakek wiryo dan mbah karsih, menjaga lia bergantian untuk shalat.
Dan stelahnya kakek berangkat mengantar kayu bakar. Meninggalkan mbah karsih dan cucunya dirumah.
Pagi sudah mulai terang, sinar matahari menembus pepohonan. Perlahan menghangatkan suasana pagi yang dingin dan berkabut. Mbah karsih keluar rumah membawa kursi kayu kehalaman rumah, mencari sinar matahari yg cukup dan meletakan kursi itu di halaman rumahnya.
Kemudian masuk kembali kedalam rumah mengambil cucunya dan membawanya keluar.mbah karsih duduk di kursi, membaringkan cucunya dipangkuanya,
Dengan penuh kasih. Mbah karsih menyayikan lagu lagu kudangan untuk cucunya. Sesekali bercanda mengajak bicara cucunya..
Dua tahun berlalu,Lia tumbuh normal walaupun jauh dari kata cukup. Lia tumbuh menjadi gadis kecil yang periang. Hari harinya tidak jauh dari kakek dan neneknya. Kemanapun kakek neneknya melangkah. Lia akan mengikutinya dibelakang, kadang merengek manja minta digendong.
Lia akan di jaga mbah wiryo saat mbah karsih masak.. karna sering memainkan kayu bakar ditungku kalau ikut di dapur.
Dan mbah karsih akan kewalahan menjaganya, bahkan sering berteriak2 melarang cucu kesayanganya memainkan apa saja yg ada didapur.
Semakin hari Lia semakin tumbuh besar. Hari harinya seperti anak pada umumnya,
Sampai pada saat lia berumur 5 tahun.
Kakek wiryo meninggal dunia.
Meninhgalkan istrinya yg sudah tua dan cucunya. Namun mbah karsih berusaha tegar, melakukan apa saja, sekuat tenaga dan kamampuanya untuk membesarkan cucunya.
Sampai pada saat Lia sampai pada umur yg mengharuskanya sekolah.
Mbah karsih seorang diri berusaha membiayainya. Agar lia bisa terus sekolah.
tidak ada uang jajan untuk lia. Namun Lia mengerti dengan keadaan neneknya.
Lia adalah anak yg periang. Kerna Keadaan ekonomi neneknya, lia terbiasa membantu neneknya membereskan rumah. Mematuhi apa yg neneknya katakan.. Lia anak yg penurut dan sopan.
Begitulah neneknya mengajarkan.
Sampai pada saat lia naik ke kelas 3 SD.
Mbah karsih tidak sangup lagi membiaya sekolahnya.
Malam itu, mbah karsih tampak menangis di dalam kamarnya. Rupanya tangisanya terdengar sampai kamar lia yg hanya berbatas dinding kayu.
Mbah kenging nopo?
(Mbak kenapa) ucap lia sudah di depan pintu kamar mbah karsih.
Buru buru mbah karsih menghapus air matanya.
Dan menyuruh lia duduk di sampingnya.
Di belainya berkali kali rambut panjang lia.
Tangis kembali pecah sebelum sempat nenek mengatakan sepatah katapun.
Malam itu nenek mengambil sebuah keputusan yang membuat lia bingung.
Di usia yg masih kecil. Lia belum bisa memahami keadaan.
"Nduk ngesuk melu simbah yo"
(Nak besok ikut simbah ya)
Hanya itu yg mbah karsih bisa ucapkan.
Kemudian menyuruh lia kembali kekamarnya untuk istirahat.
Hari ini Lia libur sekolah setelah kenaikan kelasnya..
"Mbah ajeng teng pundi sih"
(Mbah mau kemana sih)
Tanya lia pagi itu,sebelum berangkat.
"Dolan nduk,numpak bis"
(Main nduk,naik bis) jawab mbah karsih.
Sepanjang jalan didalam lia terus melihat keluar jendela.
yang entah menuju kemana lia tidak tau. Neneknya tidak mengatakan mau pergi kemana. Namun lia tampak senang, ini pertama kalinya lia naik bis.
Berbeda dengan neneknya, sepanjang jalan terlihat murung dan melamun.
Tak terasa air matanya menetes dipipinya tanpa ia sadari. Dan buru buru mbah karsih menghapusnuya. Nerusaha Tersenyum walau Saat lia menanyakan sesuatu yang ia lihat diluar jendela. Berusaha tegar dan tidak Menunjukan beban pikiranya kepada cucunya.
Mbah karsih tidak mengatakan kemana tujuanya. Yang ia katakan hanya mau main dan naik bis.Dan lia pun menurut saja ajakan neneknya.
Sampai saat bis sampai di satu ruas jalan. Mereka turun. Dan berjalan masuk kesebuah desa yang Lia belum pernah lihat.
Walaulupun suasananya hampir sama.
Namun ditempat ini lebih ramai,dan banyak rumah. Lia mengikuti neneknya. Tanganya tidak lepas dari gandengan mbah karsih.
Berjalan menyusuri jalan desa, dan sesekali mbah karsih bertanya ke beberapa warga yg ditemui dijalan.
Menanyakan rumah seseorang yang namanya blm pernah lia dengar sebelumnya.
Hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah.
Mbah karsih mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Tidak lama kemudian,pintu terbuka setelah sebelumnya terdengar jawaban salam dari dalam ramah. Suara seorang perempuan.
"Mbok"
(Ibu..!!!) Haya satu patah kata itu yang keluar dari mulut perempuan tadi..
Seakan kaget dan kemudian mencium tangan mbah karsih dan menuntunya masuk.
lia mngikuti langkah mbah karsih dengan memegang baju bagian belakang.dan mengikutinya duduk disampingnya. Sdangkan perempuan tadi duduk di sebrangnya,tampak memandang dengan seksama gadis kecil yang duduk disamping mbah karsih. Memandang gadis kecil yang tertunduk sedari tadi.
Disinilah,dirumah inilah kemalangan Lia dimulai.
•••••• Lia ••••••
Yun.. iki Lia anakmu"
(Yun.. ini Lia anakmu)
Ucapan mbah karsih menyadarkan lamunanya perempuan tadi.
Terlebih Lia,yang langsung memandang perempuan yang ada didepanya,
Mata mereka bertemu saling pandang.
Seakan tidak percaya. Betapa tidak Lia baru tahu kalau ia masih mempunyai orang tua.Lia baru tahu kalau masih ada seseorang yg masih bisa dipangil ibu.
Yuni nama perempuan itu.
Yuni adalah ibu kandung Lia
Yuni meninggalkan bayinya setelah suaminya meninggal.
Suami yuni adalah ayahnya Lia, anak mbah karsih.
"Nduk cah ayu,iki ibumu nduk"
(Anaku yang cantik,ini ibumu nak)
sambil memandang dan mengelus kepala lia. Mbah karaih memberitahu lia siapa perempuan yang ada didepanya.
"Ibu !!!!" kata lia menegaskan ucapan mbah karsih.
Mbah karsih hanya menganguk, ia tak kuasa mengeluarkan kata kata lagi.
Tenggorokanya sakit menahan tangis yg akhirnya pecah,dan memeluk cucunya.
Diciumnya berkali kali kepala cucunya.
Tangan keriputnya terus membelai rambul hitam lia.
"Yun..simbok wes tuo, mbah kakung
wes sedo" (yun.. ibu sudah tua, kakek sudah meninggal)
"Lia wes gede..wes sekolah. Simbok ora sanggup ngragatti. Tulung di openi yo yun,mesake bocah ora ndue bapak"
(Lia sudah besar.. sudah sekolah. Ibu tidak sanggup membiayai. Tolong di asuh ya yun, kasihan anak ini tidak punya bapak)
Dengan suara serak menahan tangis dan masih memeluk cucunya mbah karsih mengatakan maksud kedatanganya mencari Ibunya Lia.
Berusaha tegar walau terbata bata.
Belum sempat yuni memjawab ucapan mbah karsih. Seorang pria datang bersama 2 anak laki laki. Pak imam dia adalah suami bu yuni sekarang, yang berarti beliau adalah bapak tirinya lia.
Memasuki rumah dengan 2 anaknya.
Edi yg masih nerusia 5 tahun dan yudi yang masih 3 tahun.
"Loohh wonten tamu toh"
(Loohh ada tamu ya)
Kata pak imam dengan senyum ketika melihat ada dua orang yg tidak ia kenal duduk diruang tamunya. Menyalami mbah karsih dan Lia, kemudian ikut duduk disebelak bu yuni.
Bu yuni pun menjelaskan siapa tamunya dan maksud kedatanganya.
Seketika itu juga, raut pak imam berubah, seolah bingung dan terdiam.
Namun kemudian menyetujui untuk mengasuh Lia dan menyekolahkanya.
Sebelum terlalu sore, mbah karsih dan Lia pamit pulang, Lia akan pindah sekolah, yang artinya akan berpisah dengan neneknya.
Nenek yang selama ini memberikan kasih sayang. Nenek yg selama ini berjuang untuknya walau sudah diusia senja.
Mbah karsih menyerah dengan keadaan.demi masa depan cucunya.
Disepanjang jalan pulang Lia tidak lagi spt waktu berangkat. ia lebih banyak melamun.
Melihat Lia murung, mbah karsih melai mengajaknya berbicara.
"Nduk sesok pindah sekolah yo, neng kono koe ndue bapak, ndue ibu, mengko sekolah disangoni duet gawe tuku jajan. Urip mu bakal seneng neng kono"
(nak besok pindah sekolah ya, disana kamu punya bapqk, punya ibu, nanti sekolah dikasih uang jajan. Hidupmu akan senang disana)
Nasehat mbah karsih kepada Lia. Berharap cucunya mengerti dan berbesar hati.
Lia pun menganguk dan memalingkan wajahnya ke luar jendela bis.
__ADS_1
Dalam hatinya Lia memikirkan lerkataan neneknya tadi,, kalau lia ikut ibu, lia akan punya orang tua seperti teman temanya.
Yaa Lia sering iri ketika melihat teman temanya bersama orang tuanya.
Simbah tumut mriko ngeh"
(Simbah ikut kesana ya)
Kata lia setelah sekian lama terdiam, dengan wajah masih melihat keluar jendela..
"Simbah neng omah wae nduk, mengko omae ora ono wong nunggoni"
(Simbah dirumh sj nak, nanti rumhnya tidak ada yg nungguin)
"Mengko nek Lia libur,simbah mrono"
(Nanti kalau lia libur,simbah kesana)
Jawab mbah karsih, menenangkan Lia
Lia tertidur di perjalanan pulang,
meringkuk di bangku bis berbantalkan pangkuan neneknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Libur sekolah kali ini,dilalui lia spt hari hari libur lainya, pikiran lia muali terbuka, menerima keputusan nenek.
Lia mulai membayangkan, sebentar lagi ia akan mempunyai orang tua.. dan merasakan apa yang teman temanya rasakan, hingga hari pertama masuk sekolah tiba.
Mbah karsih mengurus kepindahan lia.
Setelah selesai,semua yang diperlukan
Mbah karsih dan Lia berangkat ke tempat ibunya, disana mbah karsih memasrahkan semua urusan kepada bu yuli dan pak iman,
Suasana haru kembali terjadi ketika mbah karsih harus pulang.
"Nduk cah ayu, ojo nakal yo, dadi bocah manut, pinter sekolahe"
(Anak cantik, jgn nakal ya, jadi anak yg penurut, pintar sekolahnya)
Nasehat mbah karaih untuk lia dengan
Membungkukan tubuhnya menyetarakan tinggi Lia,memandang lia dan memegang pipi cucunya itu.
Usahanya untuk menahan air mata gagal,sekuat apapun mbah karsih menahan tangisnya, akhirnya pecah juga.. yg kemudian membuat lia juga menangis..
"Mbah.. lia tumut wangsul ngeh?"
(Mbah..lia ikut pulang ya)
Ucap lia didepan neneknya.. seakan mulai ragu apakah ia akan betah disini.
Mbah karsih memeluk cucunya, dalam hati mbah karsih berat berpisah.
Ini semua demi masa depan Lia.
"Nduk simbah bali yo, Assalamualaikum"
(Nak simbah pulang ya, Assalamualaikum)
Pamit mbah karsih dan kemudian keluar dari rumah bu yuli.
Diantar pak iman menuju pemberhentian bis. Teriakan panggilan dari Lia tidak ia hiraukan, langkahnya terus maju dan tidak melihat kebelakang,mengabaikan teriakan cucunya. mbah karsih tidak mau menunjukan air matanya yang terus menetes.
Hatinya kosong.. tidak tau harus bahagia atau sedih.Begitu juga dengan Lia..
Keesokan harinya Lia didaftarkan disekolah setempat, dan dihari kemudian Lia sudah mulai masuk sekolah.. suasana baru dan teman baru.
Tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi disekolah baru.
Lia adalah gadis yang gampang bergaul,Cantik dan periang. Membuat bayak anak mau berteman denganya.
Namun ternyata tingal dengan orang tua sendiri tidak seindah yang lia bayangkan.Lia masih canggung ketika di rumah. Lia merasa dirumah ini ia hanya memumpang, belum merasa ini adalah rumahnya. Butuh waktu untuk membiasakan diri dirumah ibunya.
Lia di didik mbah karsih menjadi anak yang baik, membantu pekerjaan rumah biasa lia kerjakan. Begitu juga di rumah ibunya.Ketika disuruh mencuci puring, mencuci baju, menyapu, bahkan momong (menjaga) adik adiknya, Lia bisa mengerjakanya. Ia melakukan sebaik yg ia bisa
Melalukan apa saja yg orang tuanya perintahkan,sesuai nasehat dari neneknya, dan juga sebagai tanda terimakasih karna sudah berkenan mengasuhnya.
Seminggu berada di rumah ibunya, Lia mulai menyadari perlakuan yang berbeda, ibu dan bapak tirinya mulai berubah..
Setiap hari Lia tidak luput dari kemarahan orang tuanya. Setiap hari ada saja yang salah menurut orang tuanya.
Hari minggu pagi biasanya lia disuruh mencuci semua baju kotor di sungai dekat rumahnya.
Rumah ibunya lia berada di dekat salah satu ruas jalan tol yang ada dijawa tengah. Di samping jalan tol ini ada sungai dengan air yg jernih bersumber dari pegunungan. Warga sekitar biasanya mencuci dan mandi di sungai ini beramai ramai.
Warga saat itu memang jarang sekali yg punya kamar mandi dirumah. Mereka memcuci dan mandi disungai ini.
Jalan tol ini memang terkenal angker.. sring sekali terjadi kecelakaan tunggal Ataupun kecelakaan searah, tidak sedikit korban kecelakaan yang meninggal ditempat.
Selesai mencuci pakaian dan mandi.
Lia bergegas pulang,karna khawatir dimarahi ibunya
Namun beban yg ia angkat berbeda dengan saat ia berangkat tadi. Lebih berat karna sekarang pakaian yg ia bawa dalam keadaan basah. Ditambah lagi jalan menuju rumahnya sedikit naik.
Menambah beratnya beban yg lia bawa.
Diangkat dan diletakan kembali ember berisi pakaian itu.
Sedikit demi sedikit Lia sampai kerumah,menjemur pakaian yg tadi ia cuci dan sarapan.
Pekerjaan lia belum selesai. Lia masih harus menjaga kedua adik tirinya.
"Liaaaaaaaaa" motone neng ndi"
(Liaaaa matanya kemana)
Teriak ibunya saat mendengar edi menangis..
Edi terjatuh saat bermain. Dan seperti biasanya Lia yang akan kena marah.
Plaakkk..
Tangan ibunya mendarat di pipi lia
kemudian mengendong edi,membawanya masuk meninggalkan Lia..
Air mata lia jatuh namun hanya menerawang awang awang dan tidak mengeluarkan suara. Kemudian berdiri berjalan pergi meninggalkan rumah, mencari tempat untuk menangis,
Tidak ada tempat untuk mengadu,
Jalan TOL disebelah sungai adalah tujuanya.. di pembatas jalan tol itu biasanya-
-Lia duduk, sendiri,menangis dalam diam. Hanya air mata yang tak kuasa lia bendung.. Lia mencurahkan isi hatinya.
Menceritakan kepada diri sendiri. Lia berbicara sendiri dan duduk dipembatas jalan tol.
Disini adalah tempat favoritnya, karna tidak akan ada warga yg melihatnya.
Lia akan pulang setelah adzan ashar.
"Lia sendale lebokno"
(Lia sendalnya masukan)
Lia bergegas, mengambil sendal dan menatanya didalam
"Plaakkk"
"Aduuhhh"
Teriak lia dan reflek mengangkat tangnaya ke atas. Saat kepalanya di hantam oleh adik tirinya, edi adiknya yg berusia 5 tahun ini mmg nakal. Dia juga adalah alasan kenapa lia kenaarah setiap hari.
Melihat posisi tangan lia yg seperti akan memukul. Edi menangis sesegukan,dan langsung mengadu ke bapak dan ibunya.
"Pak mba lia nakal" kata edi sambil menangis.
"LIAAAAA"
teriak bapaknya, ibunya mendekat dan
PLAKKK kembali lia kena tampar malam ini..
Belum cukup puas, bapaknya menyaut tangan kecil lia.. diseret keluar rumah,, trus diseret ke arah jalan..
"Ampun pakk ampun pakk"
"Lia mboten nakal" (lia tidak nakal)
Lia memohon.
Tapi percuma, bapak dan ibunya tidak perduli. Ia terus menyeret lia.
Menyeret menuju sungai.. sampai di sungai Lia diguyur air berkali kali,, bapak dan ibunya kalap, tidak perduli dengan teriakanya.. malam ini Lia tidak diberi makan malam.. lia tidur dalam keadaan lapar..
Lia kangen dengan neneknya
Mbahhh,,, mbahhh
Ucal lia, berbaring sendiri didalam kamar memangil mangil nama neneknya.
Tanpa sadar lia tertidur.
Pagi harinya Lia berangkat sekolah,
Dan pulang saat siang hari.
Setelah berganti seragam, lia makan siang dan setelah selesai,seperti biasa lia mencuci piring bekas maknaya.
PRANGGGG
lia menjatuhkna piringnya dan pecah
Lia dihajar,ditampar,dipukul,di maki.
Oleh bapaknya.
Lia lari keluar rumah,, terus berlari menjauh.
Jalan Tol adalah tujuanya.. duduk menagis sesegukan.. menceritakan berbicara sendiri seakan punya teman.
Tanpa sadar hari sudah mulai gelap.
Lia larut dalam kesedihan sampai tidak sadar sudah mulai magrib.. bergegas pulang walaupun takut pasti kena marah krn terlambat pulang
Di jalan tol ini tidak akan ada orang yg berani lewat.. ada jembatan penyeberangan disini yang berbeda dari jembatan2 penyeberangan lain.
Bentuknya seperti keranda mayat. Dan setelah magrib banyak penampakan pocong berjejer di jembatan tsb.
Kecelakaan kecelakaan disini biasanya karna pengendara melihat seseorang tiba tiba menyeberang,
Lia Berjalan menyusuri setapak..
Pikiranya sudah membayangkan apa yang akan diterimanya sesampainya dirumah.
Namun di tengah jalan pandangan lia tertuju pada beberala gerombol pohon pisang, langkahnya terhenti ketika melihat batang pohon pisang, batang pohon itu berwarna hitam
Lia berhenti dan memperhatikanya.
Lia menangis dan teriak meminta tolong,ia melihat ujung batang pohon bisang tadi ternyata se ekor ular besar berkepala wanita dengan mahkota dikepalanya. Melotot memandang Lia
Yang gemetar ketakutan.
Lia tidak berani melintas,, takut di terkam.. kakinya semakin susah digerakan..
Tolongggg Lia berlari sekuat tenaga saat berhasil melangkahkan kakinya.
\=\=\=\=\=\=
Bu yuni terlihat gelisah di rumah.. mondar mandir keluar masuk,melihat keluar karna Lia belum juga pulang,
Hari sudah gelap. Bu yuli semakin tidak tenang,, sampai matanya melihat anak gadis berlari menuju rumahnya. Hatinya lega, ia melihat Lia pulang.
"Bocah kurang ajar dolan ra ngerti wayah" (anak kurang ajar,main tidak tahu waktu)
Bentak bu yuni menyambut kepulangan lia.. tangan bu yuni terangkat, bersiap memdarat dipipi lia, namun sebelum sampai di pipi lia
"Hrmrhrmrhrm"
LIA menggeram,, matanya melotot
Menyeringai memandang bu yuni.
"Mlebu cepet" bocah kurang ajar"
(Masuk cepat anak kurang ajar)
Teriak bu yuni menyuruh lia masuk.
Bu yuni merasa ada yg aneh dari anaknya.. namun ia berfikir ini hanya akal akalan Lia agar tidak kena marah.
Lia masuk kerumah tanpa berbicara kepada ibunya.. mulutnya terus menggeram, ibunya menyuruhnya makan,, semua sudah duduk di ruang makan.. namun bapak dan ibunya hanya memandang lia.Matanya terus melotot dan mengeram.
Lia makan tidak seperti biasanya,
3 piring nasi lia habiskan
Pagi hari lia berangkat ke sekolah seperti biasanya..
Didalam kelas ketika jam pelaranan.
Tiba tiba lia menggebrak meja mengagetkan seisi ruang,, matanya melotot dan menggeram.. teman temanya berhamburan keluar,, hanya gurunya yg mendekat dan menenagkan lia..
Lia jatuh pingsan dan di antarkan pulang..diluar dugaan orang ruanya justru marah marah.. mereka fikir ini lia membuat ulah agar tidak sekolah..
Namun lia pingsan kembali dan sibaringkan di kamar..
Keesikan harinya lia sakit,,badanya lemas tidak bisa bagun.
Orang tuanya membawa lia ke dokter.
Namun dokter mengatakan lia tidak apa apa.. lia sehat.
Sesampainya pulang dari dokter,,
__ADS_1
Kembali lia kena marah,, tamparan kembali ia dapatkan..
"Anak setan,wes pinter ngapusi yo"
(Anak setan,sudah pandai menipu ya)
Kata orang tuanya.. lia tidak bereaksi.
Duduk dan tertunduk lemas di kursi ruang tamu.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Jam 1 malam.. lia terbangun,,mengeram dan merengek seperti anak kecil.. membangunkan ibunya.
"Bu tumbas jajan bu"
(Bu beli jajan bu) pinta lia
"Ayo cepet bu tumbas jajan teng tokone pak romi" (ayo cepet bu beli jajan ditokonya pak romi)
Ibunya berlari kedapur mengambil makanan, ia mengira Lia lapar,
Namun makanan yg diberikanya dilempar.
"Mohhh.. pokoke tumbas jajan teng tokone pak romi" ( ngak mau.. pokoknya beli jajan di tokonya pak romi) triak lia
Ibunya bingung dan takut ia membagunkan suaminya..
Bu yuni meminta suaminya menenangkan lia.. bu yuni ketakutan.
Betapa tidak.. toko yang lia sebut sedah tutup dan pak romi sudah lama meninggal sebelum Lia ada disini
Pak iman sebarnya sudah bangun dari pertama kali ada ribut ribut.. hanya masih berbaring di tempat tidurmya.
Hingga akhirnya bangun karena dipanggil istrinya.Terpaksa pak imam beranjak dari tidurnya.
"Bapak tumbasno jajan saiki"
(Bapak belikan jajan sekarang)
Kata Lia manja -
-Ketika bapka tirinya berjalan mendekatinya.
"Bocah nakal..!!!! Ora ngerti opo iki wes bengi ora ono toko bukak."
(Bocah nakal..tidak tahu apa ini sudah malam,tidak ada toko bukak) kata bapak tirinya sesikit keras.
Lia menangis karna tidak dituruti keinginanya.
Terus menerus merengek kepada dan ibunya.. sangat berbeda dengan kebiasaan Lia.
"TURU" ( tidur)
Bentak bapaknya seraya menunjuk kamar Lia. kesabaran bapak dan ibunya habis.
Seketika Lia diam dan mengankat kepalanya melihat kedua orang tua di depanya. Lia kembali menggeram
"WONG TUO RUSAK"ORA MIKER"
(orang tua rusak,Tidak punyanpikiran)
Lia membalas bentakan orang tuanya.
Pak imam dan bu yuni mendur beberapa langkah, mereka kaget, teriakan Lia memekakan telinga mereka. Suaranya serak dan besar, bukan lagi suara anak anak..
Edi dan yudi terbangun.
Kedua adik tiri lia menangis didalam kamar.bu yuni masuk dan keluar lagi menggendong yudi dan mengandeng edi..
Lia mengarahkan pandanganya keapada ibunya.. mengeram dan melotot tajam, gigi giginya beradu sampai mengeluarkan suara.
Tanganya menunjuk ke arah ibunya.
Yg kemudian di pegang pak imam dan meyeratnya masuk kamarnya.. mengunci didalam kamar. setelah mengunci kamar lia, pak iman keluar rumah entah kemana, ia tidak mengatakan kepergianya kepada bu yuni.
Sedangkan lia sendiri didalam kamar terus menggeram dan berbicara tidak jelas. Sedangkan ibunya di luar kamar bersama kedua anak laki.lakinya.
Edi dan yudi menangia lebih keras dari biasanya,
Dug dug dug suara pintu depan di ketuk
Bu yuni bergegas membukanya.
"Do neng ngopo yun"
(Pada kenapa yun)
Beberapa tetangga datang karna keributan dan tangisan anak anaknya saampai terdengar tetangga.
"Lia pak.. lia koyo wong kesurupan"
(Lia pak.. lia spt orang kesurupna)
Bu yuni mengajak tetangga tetangganya masuk ke depan pintu kamar lia.
"Lia istigfar lia" kata beberapa orang yh datang, mencoba menenangkan lia dari luar kamar.
"Dudu urusan mu, minggat"
(Bukan urusan mu, pergi)
Teriak lia dari dalam kamar.
"Ha ha ha ha wong tua goblog"
( Ha ha ha ha orang tua bodoh)
Lia masih terus berbicara di kamar.
"Minggir minggir"
Pak imam datang bersama seseorang , menyuruh tetangga tetangganya memberi jalan.
"Ha ha ha dukun pekok, edan"
(Ha ha ha duku gila)
Lia tau bapak tirinya datang bersama orang pintar..
"Nduk metu yo" ( nak keluar ya)
Kata orang pintar itu di luar kamar.
Tidak ada jawaban dari lia, dan akhirnya pintu dibuka. Orang pintar tadi berada di depan.
Ketika pintu dibuka.. lia sedang duduk di tempat tidurnya.
Tersenyum menyeringai kepada siapapun yg memanggilnya. Tidak terkecuali kepada orang pintar yg dibawa bapaknya.
Semua yg datang diminta keluar ruangan. Menunggalkan orang pontar tadi dan Lia dikamar.
Namun tidak lama orang tadi juga keluar dan menutup pintu kamar lia.
"ngapuro ne kang, aku ora sangup"
(Maafkan saya kang, saya tidak sanggup) kata orang pintar tadi dan pamit.
Sedangkan lia masih asal bicara di dalam kamarnya.
Dan Tiba tiba lia terdiam, semua yg ada di rumah itu penasaran. Membuka pintu kamar lia untuk memerikdanya.
Lia tergeletak dilantai.
Beberapa warga mengangkatnya ke atas tempat tidur dan membaringkanya.
Tubuhnya lemas dan basah karna keringat.. mukanya pucat..
Malam ini rumah pak imam ramai oleh tetangga tetangganya.. membantu berjaga sampai pagi.
"Buuu Buuu" yuni mendengar panggilan dari dalam kamar Lia.. bergegas ia masuk. Bu yuni menangis melihat keadaan lia yg masih terbaring.
Ada rasa penyesalan dihatinya.
"Ampun bu ampun" lia justru ketakutan melihat ibunya masuk,, dan tiba tiba duduk di atas tempat tidur.
Matanya melotot dan tertawa..
Bu yuni ketakutan dan keluar. Memanggil beberapa tetangganya meminta bantuan, karna suaminya sedang pergi memanggil kiyai untuk mengobati lia.
Pagi itu kembali rumah pak iman ramai.
Tidak berapa lama, 6 orang laki laki memasuki halaman rumah.
Mereka adalah pak imam dan 5 orang kiayi yang akan mengobati lia. Lia dibawa keluar ke ruang tamu.
Para kiayi tadi duduk memutar, lia berada di tengah tengah. Lia tidak lagi berteriak, ia duduk manis dilantai dan tersenyum manis.
Para kiayi mulai membaca ayat ayat suci al quran, mereka membawa al quran masing masing.
Sedangkan tetangga tetangganya memperhatikan mereka, ada juga yg ikut berdoa.
Namun lia masih duduk dan tersenyum
Melihay kesana kemari memperhatikan seisi ruangan yg ramai.
Dan dengan suara lantang dan keras,
Lia ikut membaca ayat ayat al quran yg para kiayi baca, lebih cepat dan lebih keras. Para kiayi tadi masih terus membaca al quran, tidak memperdulikan lai. Sedangkan kan warga mulai panik. Bu yuni menagis.
"Sabar yun sabar.. istigfar"
Salah satu tetangganya menenangkan bu yuni yg duduk tidak jauh dari lia.
"BRAKKK"
lia selesai terlebih dahulu dalam membaca ayat ayat suci al quran.
Dan melempar sesuatu mengenai dinding ruangan, mengagetkan seisi ruangan dan para kiayi tadi.
"Sampun cekap dereng pak kiayi"
(Sudah selesai belum pak kiayi)
Tanya lia dengan senyum kepada para kiayi tadi. Kemudian berdiri dan masuk kembali kedalam kamar.
Semua yg datang tentu saja heran..
Gadis kecil ini bisa membaca al quran dengan fasih dan lantang.
Bahkan lebih cepat.. sedangkan Lia sendiri baru mengaji IQRO.
Lia tertidur di dalam kamarnya.
Perlakuan orang tuanya berubah.. lebih perhatian kepada lia. Hari hari berikutnya lia masih sering bertingkah aneh.. kadang sadar dan tiba tiba spt kesurupan.
Sekolah pun tidak setiap hari bisa masuk.. karna didalam kelas kadang tiba tiba bertingkah aneh dan mengamuk.. terlebih saat ada temanya meledek.
Sampai pada suatu malam, keributan dirumah pak imam kembali membuat tetangganya berdatangan ..
"Aku luwe,, masakno celeng pedes"
(Saya lapar,, masakan babi yg pedas)
Pinta lia dengan teriakanya..
Tidak ada yg bisa menuruti keinginan lia. Sedangkan ibunya hanya bisa menangis, tidak tau akan berbuat apa.
Berkali kali menenagkan lia, namun lia semakin liar.
Wong tuo guoblok" ( orang tua bodoh)
Jawab lia kalau ibunya merayunya.
"Cepet masakno celeng"
(Cepat masakan babi)
Perintah lia kepada ibunya.
Bu yuni pergi, bukan untuk memasak, tapi tidak kuat lagi melihat anaknya.
Ia hanya bisa menangis
Beberapa hari ini Keadaan lia semakin bertambah parah.. keadaanya semakin memprihatinkan, wajahnya pucah. Sering merasa lapar dan makannya sangat banyak.
Kadang tiba tiba pinsan, berteriak, tertawa sendiri. Dan sering meminta yang aneh aneh. Sudah hampir 1 bulan lia seperti ini
Orang tuanya sudah memanggilkan dukun,dan banyak kiayi. Namun hasilnya tidak ada. Ada beberapa yg bisa menenagkan, namun tidak berlangsung lama.
Dan belum juga ada yang tau, ap yg sebenarnya lia alami. Semakin hari lia semakin lusuh dan bertambah kurus.
Wajah gadis kecil yg dulu periang tidak lagi terlihat.. lebih sering melamun dan tampak bingung,tirlihat dari pandangan matanya yg sering kosong.namun mempunyai tenaga yg sangat kuat ketika sedang mengalami gangguan.
\=\=\=\=\=\=\=
Selesai makan makam ini.. bu yuni mengambilkan minum untuk Lia.
PRANKKK
"Ora sudhi" ( tidak mau)
Gelas yang berisi air putih yang ibunya berikan dilempar kedinding..
"Juputno getih,aku njaluk ngombe getih'
(Ambilkan darah,saya minta minum darah) suara lia berubah
Suara yang sering keluar dari mulut lia ketika mengalami gangguan iti keluar lagi.. suara yg seperti suara orang dewasa..
Teriakan Lia dan tangisan adik adik tirinya membuat warga kembali berdatangan. berita lia tersebar hampir keluar kampung.
semakin lama warga yg datang ingin melihat Lia,semakin banyak. Ruang tamu sampai tidak muat lagi. Banyak juga yg melihat dari luar rumah karna tidak bisa masuk.
"Getihe endi" (darahnya mana)
Teriak lia..
__ADS_1
Belum selesai urusan lia,, waega yang berada diluar tiba tiba berhamburan,berlari kesebuah rumah yg berada didepan rumah lia..
-panda killer