Cerita Seram

Cerita Seram
Perempuan Di Teras Rumah #4


__ADS_3

Masih berseragam putih merah dengan tas gendong menempel di punggung, aku pulang dengan mengayuh pedal BMX silver yang selalu menemani kemanapun aku pergi.


Ku kayuh sepeda dengan kecepatan sedang.


Jalan kampung yang tidak terlalu besar menjadi pemandangan awal yang harus kulalui. Pada bagian perjalanan ini suasana masih ramai, masih banyak orang lalu lalang atau sekadar berbincang di luar rumah. Aku masih cukup tenang selama melewatinya.


Tapi, sekitar 15 menit kemudian, tiba saatnya aku untuk masuk dan melewati komplek perumahan yang cukup menyeramkan itu. Perumahan yang sangat sepi walaupun pada siang hari, apalagi malam seperti ini.

__ADS_1


Laju sepeda sengaja aku perlambat ketika akan melewati gerbangnya, gerbang yang hanya di tandai oleh portal besi yang sudah tua dan berkarat, portal besi yang tidak pernah tertutup.


Akhirnya aku memasuki komplek itu..


Jam sudah menunjukkan hampir di pukul sembilan malam, namun suasana sudah sangat sepi, lebih sepi dari biasanya.


Aku mengayuh pedal dengan perlahan, menyusuri jalan aspal yang terkadang berlubang pada beberapa bagian.

__ADS_1


Penerangan hanya bersumber dari lampu jalan yang terletak di atas trotoar, tidak terlalu terang namun cukup membantu penglihatanku untuk berjalan membelah sepinya perumahan itu.


Angin malam mulai bertiup menerpa wajah, angin yang sudah mulai terasa dingin walaupun belum terlalu malam.


Suara yang terdengar hanyalah suara ban sepedaku yang bergesekan dengan aspal jalan, tidak ada suara lain.


Sepi..

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, akhirnya aku tiba di depan rumah yang biasanya ada perempuan setengah baya yang sedang duduk di teras.


__ADS_2