
Satu minggu kemudian, seperti biasa aku kembali harus ke rumah Henri, melanjutkan mengerjakan tugas sekolah yang hampir selesai.
Kali ini aku berjalan berdua dengan Henri menuju ke rumahnya, mengendarai sepeda masing-masing kami berjalan menyusuri jalur seperti biasanya. Jalur yang harus melewati komplek perumahan yang sepi itu.
Ketika sudah memasuki perumahan itu, lagi-lagi aku tertarik dengan rumah yang biasanya ada perempuan duduk di kursi goyang di teras rumah.
Aku memperhatikan rumah itu ketika kami benar-benar sedang melintas di depannya.
Rumah dalam keadaan kosong, perempuan itu tidak terlihat, di teras rumah juga tidak ada siapa-siapa.
Sepi..
__ADS_1
“Kamu melihat apa sih Brii?”
Suara Henri mengagetkanku.
“Gak kok Hen. Aneh saja, biasanya di depan rumah itu ada Ibu-ibu sedang duduk di kursi goyang, dan biasanya kami saling melempar senyum. Tapi kali ini Ibu itu tidak ada.”
Aku menjawab panjang lebar.
Seketika itu pula tiba-tiba Henri menghentikan sepedanya secara mendadak, aku terkejut dan ikut berhenti di sampingnya.
Henri bilang seperti itu dengan mimik wajah yang serius.
__ADS_1
“Ah kamu salah rumah mungkin Hen, aku benar-benar sering melihat Ibu itu kok.”
Aku bersikeras mempertahankan pendapat, karena memang aku yakin kalau ibu itu benar-benar ada.
“Ya sudah kalau tidak percaya. Pokoknya yang aku tahu rumah ini sudah lama kosong, pokoknya kamu hati-hati kalau lewat sini,”
Apa yang Henri bicarakan ada benarnya juga, rumah itu memang terlihat kosong. Suasananya juga memang terasa kalau rumah itu tidak berpenghuni.
Tapi pada akhirnya aku berpikir kalau Henri yang salah, aku yakin kalau Henri membicarakan rumah yang berbeda di komplek itu.
“Yuk Ah.., jalan lagi Brii.”
__ADS_1
Lalu kami melanjutkan perjalanan.
Selama perjalanan kami masih saja berdebat mengenai rumah itu, masih bersikukuh dengan pendapat masing-masing.