
Lampu taman terlihat menyala, karena memang lampu itu yang paling pertama terlihat olehku.
Beberapa meter kemudian baru aku dapat melihat terasnya..
Perempuan itu ada..
Dari kejauhan, aku lihat dia duduk di atas kursi goyangnya seperti biasa..
Aku mengayuh sepeda secara perlahan, membuat jarakku dengan rumah itu semakin dekat dengan perlahan juga.
Dari kejauhan, kelihatan kalau dia sudah memandang ke arahku. Seperti biasa, tubuhnya tetap bergoyang pelan ke depan dan ke belakang, mengikuti ayunan kursi.
__ADS_1
Ketika jarak kami sudah cukup dekat, tiba-tiba dia berdiri dari kursinya..
Berdiri menatap ke arahku sambil tersenyum, kemudian melambaikan tangannya.
“Nak mampir dulu sini, jangan hujan-hujanan.”
Dia memanggilku, dia mengundangku untuk mampir ke rumahnya.
“Terima kasih Bu, aku pulang saja.”
Aku membalas ajakannya dengan sopan.
__ADS_1
“Mampir dulu sebentar, sampai hujan reda. Tidak apa-apa.”
Hujan yang sudah mulai cukup deras memaksaku untuk berhenti dan mempertimbangkan ajakannya untuk mampir.
Iya, pada akhirnya aku memutuskan untuk mampir, kemudian membelokkan sepeda ke arah kanan untuk masuk ke halaman rumahnya.
Perempuan itu berdiri di samping kursi goyangnya, dengan rambut panjang terurai hingga sebatas pinggang. Berpakaian daster panjang berwarna putih, tubuh bagian atasnya memakai jaket wol tipis berwarna gelap, ditambah dengan selendang yang cukup tebal melilit di lehernya seperti biasa.
Kemudian aku menyandarkan sepeda di tembok garasi, dan mendekat ke tempat ibu itu berdiri.
“Sudah, berteduh dulu di sini sampai Hujan reda. Kamu pulang ke mana? Di mana rumah kamu?”
__ADS_1
Suara lirih dan pelan terdengar keluar dari mulutnya.