
Rumah dalam keadaan sepi seperti biasanya, hanya lampu taman dan lampu teras yang menyala.
Lampu taman berbentuk bola kaca \~yang disanggah oleh sebatang tiang besi\~ itu menyala cukup terang untuk menerangi sekitarnya, sedangkan lampu teras terlihat redup.
Di dalam rumah tidak ada lampu yang menyala, gelap gulita.
Tapi, lampu teras yang redup itu cukup buatku untuk dapat melihat suasana teras, cukup membantuku untuk melihat kalau ternyata perempuan itu ada. Segera aku memperlambat laju sepeda, berjalan nyaris berhenti sambil memperhatikannya.
__ADS_1
“Ini sudah malam, kenapa Ibu itu masih saja duduk di luar rumah?” Begitu gumamku dalam hati.
Perempuan itu tetap duduk seperti biasa, duduk di atas kursi goyangnya, yang bergoyang perlahan ke depan dan ke belakang.
Mengenakan jaket tipis berwarna gelap, dengan kain selendang yang melilit di lehernya.
“Hati-hati nak, sudah malam..”
__ADS_1
Tiba-tiba dia menyapaku dengan suara pelan, tapi masih terdengar cukup jelas. Menyapa dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
“Iya Bu..”
Aku menjawab sambil tersenyum juga.
“Kasihan Ibu itu, terlihat sakit namun malam-malam masih di luar rumah,” aku bergumam dalam hati seraya terus melanjutkan perjalanan, mempercepat laju sepeda agar segera sampai di rumah
__ADS_1