Cerita Seram

Cerita Seram
Perempuan Di Teras Rumah #8


__ADS_3

Malam jumat itu, suasananya sedikit berbeda, ditambah tiba-tiba rintik hujan kecil mulai turun dari langit, hanya beberapa puluh meter setelah aku meninggalkan rumah Henri.


Kayuhan kaki pada pedal sepeda semakin kupercepat, fakta bahwa Jas hujan tidak ada di dalam tas gendong, semakin membulatkan tekadku untuk segera sampai di rumah.


Aku memilih untuk hujan-hujanan di atas sepeda dari pada harus berteduh menunggu hujan reda, lagi pula hujannya juga tidak besar, hanya gerimis kecil.

__ADS_1


Sekitar beberapa puluh menit kemudian, akhirnya sampai juga di depan komplek perumahan yang sepi itu.


Karena teringat oleh omongan Henri pada sore sebelumya, sempat terbersit niat untuk memilih jalan lain yang lebih jauh, tapi aku urungkan niat itu, rasa khawatir apabila hujan akan semakin deras memaksaku untuk memilih jalur yang lebih pendek dan cepat, melewati perumahan sepi itu.


Sudah jam sembilan tepat, ketika kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Sempat ragu, tapi akhirnya aku memaksa diri untuk melintas masuk ke dalam komplek.

__ADS_1


Beberapa kali aku harus membasuh wajah yang basah tersiram air hujan, karena hujan turun semakin deras.


Seperti biasa, suasana perumahan sangat sepi. Yang aku rasakan, malam itu lampu rumah lebih banyak yang dalam keadaan mati, lebih banyak rumah gelap gulita dari pada yang terang benderang.


Lampu jalan yang berbaris di atas trotoar lagi-lagi membantu penglihatanku menelusuri jalan sepi itu. Suara gesekan ban sepeda tidak sendirian lagi, kali ini ditemani oleh suara rintik hujan yang semakin deras.

__ADS_1


Akhirnya, beberapa belas meter di depan, di sebelah kanan jalan, aku melihat rumah yang biasanya ada perempuan duduk di terasnya. Yang menurut Henri rumah itu sudah lama kosong.


__ADS_2