
" Kakak..... apa kakak hari ini akan berlatih lagi di Dojo? "
Ucap gadis kecil berambut pirang sambil bergandengan tangan dengan seseorang yang disebut kakak.
" Iya.... kau mau ikut? "
Jawab kakak nya.
" Iyaa.. aku mau.. tentu aku mau "
Mata sang adik langsung bersinar gembira mendengar ajakan dari kakak nya tersebut.
Sang kakak pada awal nya hanya berniat untuk mengantarkan adik nya tersebut untuk membeli sebuah cemilan di Supermarket, dan dia akan segera mengantarkan adik nya pulang setelah itu. Akan tetapi setelah mendengar permintaan adik nya untuk ikut ke Dojo, tiba-tiba pikiran sang kakak berubah dan memperbolehkan nya tanpa izin dari kedua orang tua mereka. Sang kakak seperti tak bisa menolak permintaan dari sang adik nya tersebut.
Lalu setelah berjalan cukup lama, sampai lah mereka di depan Dojo yang biasa digunakan kakak nya berlatih. Tapi Dojo nya bukan lah Dojo yang layak seperti biasa nya, disini terlihat jika Dojo tersebut seperti sudah usang dan ditinggalkan bertahun-tahun.
" Kakak... apa benar ini tempat kamu biasa berlatih?.. kenapa terlihat sedikit menyeramkan "
Kata adik nya dengan ekspresi cemas di wajah nya.
" Tenang saja, kakak sudah berlatih cukup lama disini. Dan tidak ada hal yang menyeramkan sama sekali, justru malah menyenangkan "
Jawab kakak nya dengan bermaksud untuk sekedar menangkan hati adik nya.
Mendengar itu ekspresi adik nya kembali cerita dan suasana hati nya pun tenang kembali, setelah beberapa saat mereka berdua pun masuk ke Dojo yang sudah usang itu.
Disaat masuk, sang adik langsung terkejut dengan apa yang dilihat nya. Dia berpikir jika Dojo ini akan terlihat sangat berantakan dan menyeramkan di dalam nya, karena dari luar pun terlihat seperti itu. Akan tetapi semua itu berubah ketika dia masuk ke dalam Dojo.
Didalam Dojo itu sangat begitu rapih, bahkan tidak ada satupun barang yang rusak maupun suasana yang begitu suram di setiap sudut ruangan. Semua nya terlihat dan tersusun rapih, seluruh peralatan yang masih bagus, bahkan sebuah Bokken yang tertata masih sangat rapih dan berkualitas bagus.
" Kakak... apa kau selama ini berlatih disini sendirian? "
Tanya adik nya yang masih terkesima melihat sudut sekeliling nya.
" Mungkin ini sulit dipercaya, akan tetapi kau benar. Aku sudah berlatih bertahun-tahun sendirian disini, bahkan ketika diri mu masih belajar berjalan dan juga berbicara, aku sudah mulai berlatih disini "
" Whoaaa... "
Lagi-lagi adik nya terkesima.
" Kakak.... bisakah aku ikut berlatih disini setiap hari nya dengan mu?... aku juga ingin menjadi lebih kuat dan juga menjadi kuat seperti dirimu kakak "
Mendengar pertanyaan itu dari adik nya, sang kakak terkejut dia pun seperti kebingungan harus menjawab apa. Disisi lain dia ingin menolak nya, tapi disisi lain dia tidak bisa menolak nya.
" Ya, kau bisa berlatih bersama ku disini. Selama aku masih bisa bernafas... "
Itulah jawaban sang kakak atas perasaan yang sempat mengganggu nya sejenak tadi.
" Kupikir kau akan bernafas selama nya.. jadi kita berdua akan terus bisa berlatih selama nya "
Jawab adik nya yang semakin ceria itu.
...----------------...
__ADS_1
Hari demi hari berlalu, bahkan itu berganti menjadi tahun ke tahun. Sang adik kini berumur 12 tahun dan sang kakak berumur 18 tahun. Mereka berdua sudah beranjak remaja, dan juga sudah semakin mahir dalam beladiri. Disini yang mengejutkan adalah Sang kakak yang berlatih secara otodidak, dan setelah itu dia menjadi guru bagi sang adik. Bisa dibilang kakak nya lumayan mahir dalam mengajar.
Hari itu mereka habis melakukan sparing, dan hasil nya dimenangkan oleh kakak nya.
" Huftt.... kau semakin kuat... "
Ucap sang kakak.
" Kupikir aku mulai bosan mendengar perkataan mu itu setelah kemenangan mu yang ke 2499x nya "
Sang adik setiap hari nya mendengar perkataan " Kau semakin kuat ", dan dia sudah sangat bosan dengan perkataan itu. Karena dia berpikir jika dia semakin kuat, seharus nya dia bisa mengalahkan kakak nya meskipun hanya 1x saja.
" Hahaha... tapi aku tidak berbohong... kau memang semakin kuat setiap hari nya ".
" Lalu, apakah aku bisa menjadi kuat sepertimu... kakak? "
Ucap sang adik.
Mendengar itu sang kakak sedikit terkejut dengan ambisi adik nya itu.
" Oh... tentu saja kau mungkin akan menjadi lebih kuat dari ku suatu saat nanti.. dan bahkan kau mungkin bisa mengalahkan ku berkali-kali di waktu yang sama saat itu juga "
Mendengar perkataan itu dari kakak nya, semangat sang adik langsung kembali memuncak.
" Kalau begitu, ayo kita lakukan sparing kita sekali lagi sebelum pulang kerumah... aku merasa seperti bisa mengalahkan mu sekarang! "
Sang adik langsung meragakan pose beladiri nya dan sudah bersiap untuk ronde selanjut nya.
Namun tiba-tiba pintu terbuka, dan masuk lah orang asing yang tidak dikenal kedalam Dojo itu. Sontak sang kakak dan adik itu langsung menoleh dan berwaspada.
" Siapa dirimu... kenapa bisa masuk ke Dojo yang usang seperti ini "
Tanya Sang kakak dengan berwaspada.
" Kenapa kau se waspada itu dengan ku, Faust?.... Oh, apakah itu adik mu yang selalu kau ceritakan itu? "
Ternyata itu adalah Misogi Shihouin, dia datang seperti sudah kenal dan begitu dekat dengan Sang kakak. Dan disini kedua saudara yang sudah berlatih bertahun-tahun itu adalah Faust dan Leina.
" Oh.. Tuan Misogi, maafkan kelancangan saya barusan "
Faust langsung berlutut dihadapan Misogi, dan meminta maaf dengan tulus.
" Kakak... siapa om-om ini? "
Tanya Leina dengan cemas.
" Hahaha... apa aku memang sudah se tua itu ya?... lagipula, Faust apa kau tidak memperkenal kan diri ku kepada nya? "
Misogi sedikit tertawa dengan panggilan om-om dari Leina barusan.
" Leina... maaf menutupimu soal ini.. sebenar nya dia adalah Guru ku, akan tetapi aku baru berguru dengan nya 2 tahun yang lalu. Jadi setiap kali kita pulang, dan setiap kali aku izin pergi kepada dirimu dan ayah, ibu. Sebenar nya aku datang ke Organisasi milik Tuan Misogi ini, maaf selama ini aku tidak memberi tahu mu "
Jelas Faust kepada Leina.
__ADS_1
" Mengapa kau tidak mengajak ku kesana... apa selama ini aku sendirian, meskipun kau melatihku dan berada di Dojo yang sama selama bertahun-tahun? "
" Aku berniat untuk mengajakmu, akan tetapi diriku seperti menolak nya... jadi aku selalu bertarung dengan pikiran ku setiap hari nya karena menyembunyikan sesuatu yang begitu penting dari mu. "
Mendengar itu Leina merasa bersalah atas apa yang ia ucapkan beberapa saat lalu itu ke Faust. Dia seperti mementingkan Ego nya sendiri tanpa memikirkan perasaan pribadi kakak nya.
" Maaf... karena aku sudah bersifat kekanak-kanakan barusan, aku tau itu. Kau memiliki suatu alasan untuk tidak mengajakku ke sana, dan juga ini adalah pertama kali nya kau menolak ku.. sekali lagi maafkan adik mu yang mementingkan Ego nya sendiri ini "
Leina membungkukkan setengah badan nya dan meminta maaf ke Faust.
" Ya, tidak apa-apa itu sudah wajar untuk anak seusiamu... dan terima kasih atas pengertian mu barusan "
Ucap Faust sambil sedikit tersenyum dan memejamkan mata nya.
" Seperti nya aku datang di waktu yang tidak tepat ya? "
Ucap Misogi dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Mendengar itu Faust dan Leina langsung menoleh ke Misogi dan meminta maaf berkali-kali kepada nya, karena sudah mengabaikan nya barusan.
" Maaf, maaf, maaf, maafkan kami berdua "
" Hahaha.... kalau begitu... Leina, bisakah kau pulang sendiri hari ini?, karena aku akan langsung ke Perguruan milik Guru Misogi. Dan jangan lupa untuk memberitahu ayah dan ibu "
" Baiklah, kak... semangat! "
Lalu Leina pun turut mengikuti perkataan kakak nya itu, dan segera pergi dari Dojo.
" Seperti nya.. setelah melihat langsung.. aku pun langsung setuju dengan mu.. Faust "
Ucap Misogi dengan nada yang berubah drastis ketimbang disaat ada Leina tadi.
" Apa itu.. tuan? "
Tanya Faust.
" Memang selayak nya adikmu dibiarkan hidup normal, dan memiliki masa depan yang cerah. Dia memang tidak pantas untuk memiliki tangan yang berbekas begitu banyak darah "
" Terima kasih, karena sudah mengerti akan pilihan ku itu dulu "
" Meskipun seperti ini.. aku masih memiliki sifat simpati kepada manusia, meskipun hanya sedikit "
Ucap Misogi sambil tersenyum kecil jahat.
" Baiklah.. bukankah kita harus bergegas menuju Organisasi Aliran Surga sekarang? "
Ucap Faust.
" Apa kau tidak mau berganti pakaian dulu? "
Jawab Misogi dengan memperhatikan Faust yang masih mengenakan pakaian Dojo nya itu.
" Tidak usah, seperti ini pun dilihat masih baik-baik saja "
__ADS_1
" Baiklah, ayo bergegas kesana "
...-Bersambung-...