
" Aku akan mengeksekusi mu berserta Para Keluarga Inoaden hari ini, Weiz "
Ucap Daphne sambil mengangkat pedang nya ke atas langit.
" Kakak.... "
Weiz sedikit menoleh kebelakang, dia sekarang sedang mengaktifkan Barrier nya guna untuk melindungi Faust dan Leina dari serangan destruktif dari Daphne barusan.
" Weiz... siapa dia? "
Tanya Faust sambil memeluk dan melindungi Leina yang dalam kondisi tak sadarkan diri itu.
" Dia kakak ku... sekarang seluruh pertanyaan tak lagi penting. Faust, lari lah sejauh mungkin bawa Leina bersamamu. Para bajingan itu mengincar adik mu, cepat!... aku akan menahan nya disini "
Ucap dengan Tegas dari Weiz ke Faust.
Tiba-tiba Faust menepuk Weiz dari belakang.
" Weiz.. sebaik nya kau saja yang pergi dan bawa lah adik ku, dengan dirimu semua nya akan aman "
" Apa maksudmu sialan?! "
Ucapan dari Faust itu mendadak membuat Weiz sedikit mengeluarkan amarah nya.
Disaat yang bersamaan tebasan berwarna putih menghampiri mereka dengan begitu cepat.
" Zrakkkkk ", Suara dentuman nya terbagi menjadi dua dan tebasan dari Daphne itu dibelah menjadi dua oleh Faust.
" Kau tahu?.... jika bersama diri ku itupun akan percuma Weiz. Karena dalam kurun waktu dekat meskipun aku lolos, aku tetap akan tertangkap oleh mereka. Aku menyadari nya jika aku adalah kakak yang lemah, aku bahkan tidak bisa melindungi adik ku sendiri disaat yang seperti ini. Diriku ini juga sangat amat menahan amarah karena harus mengandalkan orang yang jauh lebih kuat, seperti diri mu "
Weiz yang mendengarkan itu seketika mengeratkan gigi nya, karena dia tidak bisa membantah apa yang di ucapkan oleh Faust. Dan yang paling mengejutkan adalah kesadaran Leina yang mulai utuh kembali.
" Kakak.... "
Pandangan Leina saat itu seperti seluruh nya blank menjadi putih, dan hanya ada sosok kakak nya yang bersiluet hitam dihadapan nya.
" Cepat, Weiz... aku akan menahan nya dengan teknik terkuat ku yang ku asah selama ini... ini hanya bertahan 15 detik saja, kumohon lari lah sejauh mungkin "
..." Quantle : Chronos! "...
Seluruh Ruang dan Waktu dan Alam Semesta menjadi ke abu-abu an, disitu yang masih memancarkan cahaya warna hanya lah Faust, Weiz dan juga Leina. Disitu Faust menghentikan waktu untuk waktu yang terbatas, karena diri nya saat ini belum cukup mampu untuk batas yang lebih lama.
Karena teknik itu dihitung 1 detik saja sudah memakan banyak pasokan Ki, apalagi jika itu lebih dari 1 detik, Faust disini mengkehendaki Weiz dan Leina untuk bergerak dalam lingkup penghentian waktu nya.
" Weiz.. cepat! "
Teriak Faust dengan suara yang menggema
" Trekkkk...trekkk ", Suara retakan dari ruang dan waktu, lalu itu berasal dari tempat dimana Daphne sedang berdiri.
Seketika dengan berat hati Weiz pergi menggunakan portal dimensi yang dia buat.
" Sial... bagaimana bisa dia memaksakan bergerak dalam teknik mutlak ku ini... itu bahkan sampai akan memecah Ruang dan Waktu "
Setelah portal dimensi Weiz tertutup rapat, retakan itu pun pecah berkeping keping, efek nya sampai mematikan seluruh lingkup penghentian waktu milik Faust.
Dengan begitu cepat Daphne langsung mencekik leher Faust dan mengangkat nya keatas, disitu Faust terlihat ingin mencegah nya, dia memegangi tangan Daphne dan berusaha melepaskan cekikan itu.
" Kemana mereka pergi... bahkan diri ku tidak bisa mendeteksi keberadaan nya.. jawab lah "
Daphne sedikit terkejut bahwa orang seperti diri nya tidak bisa mendeteksi keberadaan seseorang, dan itu baru terjadi kali ini. Yang dimana objek nya adalah adik nya sendiri dan juga Leina Inoaden.
Daphne bisa mendeteksi keberadaan seseorang meskipun berbeda dimensi dan juga dalam jarak yang sangat jauh, namun kali ini dia tidak bisa mendeteksi keberadaan Weiz dan Leina sedikitpun.
" Kau pikir aku akan menjawab nya.. tcuhh "
Faust meludah ke arah muka Daphne setelah memberi perkataan yang mengejek nya.
Seketika aura Daphne meledak-ledak akan hinaan itu, Faust yang begitu dekat dengan aura membunuh Daphne langsung berdarah-darah.
__ADS_1
" Kau akan menyesali ini "
..." Phenomenon : 30 Kiloton TNT "...
Dalam keadaan yang begitu tersiksa, Faust mengeluarkan senyum nya.
Ledakan yang begitu besar terjadi akibat teknik yang baru saja Daphne keluarkan itu, dia bisa membuat fenomena ledakan dengan teknik nya itu. Ledakan nya bahkan 2x lipatnya ledakan Hiroshima.
Seketika seluruh kota Oktemtsy hancur lebur akibat ledakan itu.
...----------------...
Pandangan beralih ke Weiz yang sekarang berada di Dimensi True Yzakh.
Weiz mendaratkan kaki nya di Dimensi True Yzakh milik nya itu, dia pun meletangkan Leina dengan posisi yang layak.
" Sial.... seperti nya aku harus kembali, memang seperti itu harus nya "
Weiz berniat meninggalkan Leina sendirian di True Yzakh, sedangkan diri nya akan kembali menyelamatkan Faust. Namun disaat dia akan menoleh dan membuka portal dimensi, tiba-tiba ada sepasang tangan manusia yang memegang tangan nya.
" Kumohon.... "
" Hargailah... permintaan anak ku, setidak nya dia sudah memutuskan dan membulatkan tekad nya... "
Ternyata itu adalah suara dari Fermine dan Morgan, Weiz pun sedikit tersentak karena mereka berdua masih bisa mengirimkan pesan melalui sisa-sisa Ki Weiz yang tersebar di Dimensi Tanpa Waktu itu, meskipun diri mereka berdua sudah disegel seutuh nya.
Mendengar pesan itu, Weiz dengan langkah nya yang berat pun kembali memundurkan langkah nya dan mengurungkan niat nya itu.
" Sampai suatu hari nanti... kumohon.. hiduplah... Faust Inoaden "
Disaat yang bersamaan Leina pun tiba-tiba bangun, namun kesadaran nya masih belum seutuh nya pulih.
" Kau... Weiz? "
Ucap Leina dengan lirih.
" Ya "
" Dimana ini?... kakak... kakak Dimana? "
Weiz bingung harus menjawab apa pertanyaan dari Leina itu, namun entah bagaimana disaat itu, perkataan itu keluar secara spontan dari mulut Weiz.
" Kakakmu, dia telah mati "
Leina mengerutkan dahi nya dengan tatapan kosong nya itu, dia masih tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Weiz barusan.
" Maksudmu?... Hei... Kak Weiz, kamu bercanda kan?... "
Dia merangkak menuju Weiz yang sedang berdiri tegap itu sambil menundukkan pandangan nya.
" Ini... nyata, Kakak mu Faust, benar-benar telah tiada "
" Tidak mungkin.... tidak... TIDAKK!!! "
...----------------...
Lalu pandangan beralih ke masa kini, dimana Leina tiba-tiba teriak mengatakan " Tidak ", setelah masa tak sadarkan diri nya selama beberapa hari itu.
" TIDAKK!! "
Leina yang bangun dari kondisi tak sadarkan diri nya setelah beberapa hari kejadian pertempuran.
" Ternyata, ingatan masa kecil yang menjadi mimpi ya "
Ucap Leina sambil perlahan sadar dan menyadari jika barusan adalah mimpi masa kecil nya yang benar-benar terjadi, dan bagi nya itu adalah mimpi buruk.
Dan disaat yang bersamaan Akagi mendobrak pintu dan masuk ke ruangan Leina yang sedang dirawat. Dia bergegas kemari akibat mendengar teriakan dari Leina barusan itu.
" Nona ada apa?! "
__ADS_1
Teriak kecil dari Akagi yang menanyakan hal apa yang barusan terjadi kepada Leina.
" Ah, Akagi. Tidak apa-apa aku hanya sedikit bermimpi buruk "
Tanpa menggubris perkataan dari Leina, Akagi langsung mendekati nya dan memeriksa keadaan Leina secara langsung.
Disitu Akagi mengecek kondisi suhu badan Leina di bagian tangan dan juga dahi Leina, Akagi memegang dengan seksama dibagian yang ia periksa itu. Melihat Akagi yang bertingkah seperti itu, Leina sedikit tersipu malu.
" A-aku tidak apa-apa, aku serius "
Ucap Leina dengan sedikit tersipu.
" Kau benar-benar tidak apa-apa kan, Nona? "
Tanya Akagi sekali lagi.
" Jangan membuatku mengulangi nya lagi, lalu lepaskan genggaman mu itu, aku baik-baik saja "
" Ah, baiklah kalau Nona memang baik-baik saja. Aku hanya sedikit khawatir karena mendengar diri mu yang tiba-tiba teriak, karena Weiz dan Varon pun sedang pergi sekarang "
Ucap Akagi dengan penjelasannya.
" Iya.. makasih sudah mengkhawatir kan ku, Akagi. "
Disini Leina terlihat masih tersipu-sipu.
Akagi membalikkan badan nya dan menuju ke sofa, lalu dia rebahan di sofa itu.
" Kalau begitu, aku disini saja "
" B-baik "
Ucap Leina dengan terbata-bata.
" Ekh...ehem.. apakah aku mengganggu kalian berdua? "
Ucap Eyle yang tiba-tiba sudah berada dan berdiri di pintu masuk ruangan.
" Eh.. Senior? "
Sontak Leina dengan terkejut dan melihat ke arah Eyle, dia memanggil senior karena Eyle lebih tua 3 tahun dibanding diri nya.
" Senior?.. siapa wanita ini Nona Leina? "
Akagi menanyakan nya karena ingatan nya samar-samar dengan wanita yang baru saja masuk keruangan ini.
" Dia adalah— "
" Oh, kau lupa namaku?. Kalau begitu biar kuperkenalkan diriku sekali lagi, namaku adalah Eyle Velvet, aku menetap lebih lama di organisasi ketimbang Leina, dan aku juga lebih sedikit tua dari nya "
" Nona Eyle?... ah seperti itu, aku memang tidak terlalu ingat dan fokus disaat pertama kali bertemu dengan kalian semua. Itulah sebab mengapa aku lupa dan terasa samar-samar. Kalau begitu mohon kerja sama nya senior! "
" Ah, tidak perlu bersikap formal. Kau bisa memanggil ku dengan sebutan Nona seperti kau memanggil Leina, aku menyukai panggilan itu bocah "
Ucap Eyle sambil tersenyum ke arah Akagi. Disisi lain Akagi yang mendengar perkataan nya dan melihat ekspresi dari Eyle itu hanya bisa diam dan sedikit berkeringat.
" Lalu, Leina kau tidak kenapa-kenapa kan?.. aku dengar kau tidak sadarkan diri selama 7 hari penuh "
" Aku tidak apa-apa, bahkan diriku sekarang sudah fit dan sembuh total Senior "
" Kalau begitu, bisakah kau menjelaskan detail dari pertempuran yang mengejutkan itu? "
" Tek, Tek, Tek" , suara langkah kaki dan berhenti didepan pintu ruangan, lalu Leina, Eyle dan Akagi pun melihat ke arah situ.
" Mengenai itu, bisakah kita bahas bersama-sama sekarang juga? "
Ucap Weiz yang baru saja datang.
Disitu terlihat jika Weiz tidak hanya sendirian, dia bersama Varon, namun dia juga sekarang mengajak 1 orang lagi, dan orang itu adalah Heian Vincere.
__ADS_1
...-Bersambung-...