
Saat itu Organisasi Aliran Surga sudah naik nama, tepat nya pada tahun 2009 Akhir dan kan segera berganti ke 2010. Faust selama ini berlatih langsung di Inti Aliran Surga, atau tepat nya di tempat yang paling terkenal daripada tempat cabang Aliran Surga lain nya di Penjuru Dunia. Dan tempat itu berada di Yakutsk, Rusia.
Dulu nya wilayah itu sepi akan orang dikarenakan suhu nya yang terlalu dingin, dan juga sulit nya orang baru untuk beradaptasi di wilayah itu. Dan karena ada suatu fenomena yang membuat nya semakin parah di tahun 1988, itu membuat kota Yakutsk semakin sedikit penduduk nya. Disaat Aliran Surga belum ada, penduduk Yakutsk yang bertahan hanya sekitar 40 ribu penduduk saja.
Namun semua itu berubah ketika Aliran Surga mulai terkenal dan membangun wilayah nya yang paling terkenal dan tersohor di kota itu, mendadak ada banyak sekali orang yang berbondong-bondong pindah, ataupun menetap di Aliran Surga yang berada di Yakutsk.
Dan sekarang jumlah penduduk yang berada di Kota Yakutsk ialah mencapai sekitar 4,3 juta penduduk, itu bahkan hampir 50% nya jumlah personil Aliran Surga yang terdaftar. Oleh karena itu lah sekarang Yakutsk terlihat semakin ramai, dan karena ada nya Aliran Surga entah mengapa Kota Yakutsk sekarang lebih mudah untuk diadaptasi lingkungan nya. Mungkin itu karena faktor kegembiraan yang belom pernah kota itu rasakan.
" Geeezzzz ", gerbang utama terbuka, dan mobil yang di tempati oleh Misogi dan Faust pun memasuki Aliran Surga yang berada di Yakutsk.
Faust melangkahkan kaki nya keluar, dan disitu dia terkejut karena ada orang yang menyambut nya.
" Aku sudah menunggu mu, kau tumben sekali telat begini "
Dan itu tidak lain adalah Weiz Eugene.
" Aku juga sudah muak, melihat diri mu yang seperti itu "
Ucap Faust sambil berjalan mengabaikan Weiz, dan berjalan meninggalkan nya
" Hahaha, kau memang seperti itu "
Lalu setelah Faust yang keluar dari mobil, kini Misogi pun turut keluar juga. Disaat itu Weiz langsung memberi hormat dengan cara membungkukkan badan nya
" Siang, Tuan! "
Ucap Weiz dengan nada Tegas.
" Oh, Weiz. "
" Saya sudah menunggu anda sesuai perintah, lalu hal apa yang ingin anda sampaikan kemarin? "
Ternyata Weiz bukanlah menyambut Faust, melainkan dia menunggu dan melaksanakan perintah dari Misogi dari hari sebelum nya. Setelah itu Misogi berjalan mendekati Weiz.
" Bunuh, seluruh keluarga Inoaden "
Mata Weiz langsung tersentak mendengar permintaan itu. Namun dengan profesional dia langsung berdiri tegap kembali dan menganggap itu sebagai perintah mutlak.
" Baiklah, saya akan segera menuntaskan nya! "
Lalu Misogi menepuk pundak Weiz.
" Aku mengandalkan mu "
Setelah itu Misogi meninggalkan diri nya dan masuk ke Aula Inti, setelah Misogi pergi pandangan Weiz langsung menunduk.
" Ini terlalu mulus "
Ucap Weiz sambil tersenyum jahat.
...----------------...
Lalu beralih ke Faust yang sudah masuk terlebih dahulu ke Aula Inti, disitu terlihat jika tempat itu sangat begitu luas. Disitu terdapat banyak sekali fasilitas seperti lapangan latihan, alat-alat beladiri dan para guru yang siap mengajari.
__ADS_1
Lebih tepat nya, disetiap negara ada 1 Cabang Aliran Surga. Dan setiap tempat nya itu memiliki luas 1500 hingga 3000 hektar. Itu termasuk fasilitas asrama, taman, kantin, tempat hiburan, supermarket, game dan lain sebagain nya.
Lalu tiba-tiba ada yang menepuk pundak Faust dari belakang, sontak Faust langsung sedikit menoleh ke arah belakang.
" Faust, latihan lagi hari ini? "
Dia adalah Laki-laki berambut merah, dan juga mata nya yang merah.
" Oh, Paris. Ya aku akan latihan lagi, lagian itu tidak usah ditanya lagi, karena aku akan terus latihan sampai benar-benar menjadi sangat kuat "
Jawab Faust ke laki-laki barusan yang bernama Paris itu.
" Baiklah, apa mau sekalian ke lapangan latihan bersama?. Kebetulan aku ada jadwal sparing dengan Florentino "
" Boleh saja "
Namun setelah mereka memutuskan akan pergi bersama ke lapangan latihan, tiba-tiba Misogi memanggil Faust dari belakang " Faust ".
" Oh, Tuan Misogi memanggil mu, kalau begitu aku duluan ya "
Ucap Paris dan setelah itu dia pergi terlebih dahulu.
Lalu Faust pun menghampiri Misogi, karena seperti nya ada sesuatu yang penting menurut nya.
" Ada apa Tuan Misogi?, seperti nya ada sesuatu yang penting atau perlu? "
Tanya Faust dengan sopan.
Lalu Misogi mendekati Faust dan membisikkan sesuatu kepada nya, lalu setelah itu Faust terkejut dengan apa yang dibisikkan oleh Misogi. Dia langsung berlari mengabaikan dan meninggalkan Misogi serta Perguruan Aliran Surga. Dia juga spontan meninggalkan perlengkapan nya seperti Bokken dan juga tas.
" Tak, tak, tak ", suara orang lari dengan tergesa-gesa.
" Huft....huft...huft.... "
Itu adalah Faust, dia ternyata berlari selama 20 menit dari Perguruan Aliran Surga ke Dojo, dia pun ngos-ngosan dengan posisi membungkuk sambil kedua tangan nya memegang kedua lutut nya.
" Oh, sudah datang... bagaimana jika kita langsung bersiap siaga, Faust. "
Lalu Weiz melemparkan salah satu Bokken nya ke Faust, dan Faust pun dengan sigap menangkap nya dengan tangan kanan nya.
" Weiz... jelaskan... bagaimana bisa kau mengetahui soal ini... bahkan jauh sebelum Tuan Misogi akan segera menuntaskan nya "
Ternyata ada suatu yang menarik dari ucapan Faust barusan. Yaitu Weiz yang ternyata sudah mengetahui rencana dari Misogi jauh-jauh hari sebelum hari ini tiba.
" Kau tidak perlu mengetahui itu.... lagipula kau akan mengetahui nya sendiri nanti.. jawaban yang kau cari saat ini, disuatu hari nanti. "
Lalu Faust mendekati Weiz, dan langsung mencengkram kerah baju nya.
" Jangan bercanda!.... jelaskan... apa yang sebenar nya terjadi disini!.. beritahu aku! "
Ucap Faust dengan nada yang penuh amarah, karena dia masih bingung dengan apa yang sebenar nya terjadi. Dan apa yang sebenar nya dimaksud oleh Misogi dan Weiz.
" Ah, sialan... kau sebegitu ingin tahu nya?.. Kalau begitu akan kuberi tahu sedikit saja tentang itu "
__ADS_1
Faust saat itu masih mencengkram kerah Weiz dengan sangat kuat, dan menatap nya dengan tatapan tajam penuh amarah.
" Setidak nya lepas dulu cengkraman mu ini, dan juga tatapan mu itu sangat tidak mengenakkan "
Lalu Faust pun melepaskan nya perlahan dan mundur dari Weiz beberapa langkah. Disaat yang bersamaan Weiz membenarkan kerah baju nya yang berantakan itu, dan berdiri dari posisi duduk nya.
" Singkat nya, kau dan adik mu adalah pewaris. Atau lebih tepat nya pewaris dari Dewa "
" Aku, dan adik ku?... pewaris dewa?.. "
Ucap Faust yang kini bingung.
" Ya, hanya itu saja yang bisa kubocorkan saat ini. Sisa nya kau akan mengetahui nya sendiri suatu hari nanti "
Faust mengeratkan gigi nya dan mengepalkan tangan nya. Dia masih marah dengan keadaan yang membingungkan ini.
" Aku tidak tahu... mengapa harus keluarga ku... mengapa harus adik ku?.. padahal dia bilang bahwa adik ku layak hidup normal... tapi sekarang itu cuma bualan.. aku tak tahu mana yang harus kupercaya sekarang. Dan bisa saja kau lah musuh nya! ".
Ucap Faust dengan nada yang sedikit naik, dan menudingkan Bokken ke arah Weiz.
" Hahaha.... ya aku bisa saja musuh mu, tetapi jika aku musuh mu aku sudah membunuh mu sedari dulu dan juga keluarga mu. Aku tidak suka hal repot-repot dan terlalu banyak rencana.. dan kau tahu apa yang kulakukan sekarang dan juga jauh-jauh hari? "
Mendengar itu Faust langsung menyadari sesuatu dari ucapan Weiz barusan.
" Rencana.... Kau... "
Dia menyadari nya, jika Weiz memang orang yang tak suka repot dan juga hal yang berbau rencana. Akan tetapi Weiz saat ini sedang melakukan rencana yang bahkan sudah di rencanakan jauh hari.
" Kau menyadari nya... hahaha, seperti nya kau sedikit bodoh juga ya "
" Baiklah... mungkin saat ini akan kuserahkan seluruh nya kepadamu, Weiz "
Lalu Weiz berjalan menuju ke Faust.
" Kalau begitu, pertama-tama. Kita harus segera menyegel Keluarga mu itu ke Dimensi Tanpa Waktu "
Sontak Faust langsung kembali mencengkram kerah Weiz.
" Apa juga maksud dari perkataan mu barusan itu?! "
" Hei tenanglah, kau percaya kepadaku kan? "
Jawab tenang Weiz dengan sorot mata yang serius.
Faust perlahan melepas cengkraman nya itu dari kerah Weiz, Faust juga mengeratkan gigi nya dan mengepal kembali tangan nya. Dia terpaksa mengiyakan permintaan dari rencana Weiz itu.
" Baiklah.... aku mengerti "
Lalu Weiz menepuk pundak Faust.
" Tenang saja.... semua nya akan sesuai rencana ku "
Ucap Weiz dengan tenang, guna untuk menenangkan hati dan perasaan Faust yang campur aduk saat ini.
__ADS_1
...-Bersambung-...