Chronicles Faith

Chronicles Faith
028. Ch 7. Inoaden


__ADS_3

" Krieetttt ", Suara pintu Aula Pribadi terbuka.


" Masuklah "


Ucap Misogi memerintahkan seseorang masuk ke Aula Pribadi milik nya.


Seseorang itu pun turut masuk ke Aula Pribadi milik Misogi, dia mengenakan pakaian serba putih. Namun dia menutup rapat mantel nya, jadi itu terlihat seperti jubah. Setelah beberapa langkah orang itu langsung berlutut dihadapan Misogi.


" Tuan, apa ada yang bisa saya bantu? "


" Daphne, mungkin ini akan menjadi misi pertamamu sebagai Seraphime. Apa kau bisa melakukan nya? sebagai sosok yang akan menjadi Seraphime tertua di Organisasi ini? "


Misogi terlihat duduk di meja pribadi nya itu.


" Dengan senang hati saya akan melakukan apa pun!, dan juga saya merasa terhormat karena menjadi anggota spesial mu yang pertama di Organisasi ini. "


" Aku sudah mencurigai nya sejak awal, dan sekarang dia menunjukkan taring nya "


" Maaf.. tapi apa maksudmu tuan? "


Daphne kebingungan dengan apa yang disampaikan oleh Misogi barusan.


" Adikmu, dia berkhianat "


Daphne sontak membelalakkan kedua mata nya, dia terkejut atas apa yang dikatakan Misogi barusan, dia berekspresi seperti itu disaat dia masih berlutut dan menundukkan kepala nya. Setelah itu dia menoleh ke arah Misogi.


" Tuan.. lalu apa perintah yang akan kau berikan? "


Daphne tetap loyalitas, patuh dan tidak menanyakan alasan kenapa adik nya berbuat seperti itu. Karena itu akan memperpanjang pembicaraan ini.


" Aku ingin kau segera membunuh seluruh keluarga Inoaden, tak terkecuali adik mu Weiz Eugene. Akan tetapi ingatlah satu hal, bawalah Leina Inoaden hidup-hidup "


Setelah Misogi mengucapkan perintah nya itu, Daphne langsung berdiri tegak dan membalikkan badan nya. Dia akan segera keluar dan melaksanakan misi nya.


" Dapat dimengerti, saya akan melakukan nya tanpa kegagalan sedikitpun. Bahkan meski harus membunuh adik saya sendiri "


Ucap Daphne dengan penuh kesetiaan nya kepada Misogi. Lalu dia pun segera keluar dari ruangan pribadi milik Misogi itu.


" Weiz, kau memang sesuatu. Kau bahkan merencanakan ini jauh-jauh hari sebelum diri ku bertindak. Karena itu aku harus membunuh mu juga "


Ucap Misogi setelah Daphne meninggalkan ruangan nya.


...----------------...


[ Oktemtsy, Shaka, Rusia ]


" Bagaimana kau bisa melakukan hal yang seperti itu? "


Faust terkejut dengan apa yang barusan dilakukan Weiz, karena mereka berdua tiba-tiba langsung berada didepan rumah Faust. Padahal beberapa saat lalu mereka berada di Dojo yang bisa dibilang jarak nya lumayan jauh, dan butuh waktu 15 menit untuk sampai ke rumah.


" Apa kau masih belum tahu tentang teknik Teleportasi? "


Tanya Weiz.


" Ya, ini baru pertama kali nya aku mengalami dan melihat nya. Teknik yang seperti itu "


" Kalau begitu, selamat atas dirimu yang baru saja melihat dan mengalami teknik Teleportasi "


" Tsk "


Setelah berbincang sejenak, mereka berdua langsung bergegas menuju rumah Faust. Disitu terlihat jika rumah Faust begitu sederhana, namun di Kota Oktemtsy rumah milik Faust adalah yang terbesar dibanding yang lain nya.


" Krieetttt " Suara pintu yang dibuka.


" Faust?.... apa itu diri mu? "


Ucap seseorang dari ruang tengah rumah milih Faust.


" Ah.. ayah... iya ini aku Faust "


" Masuklah... ada yang ingin ayah dan ibu bicarakan "


Disitu Weiz mengkode dengan raut wajah agar Faust saja yang masuk, sedangkan Weiz akan menunggu dibalik tembok dan mengawasi nya. Setelah itu Faust pun masuk ke ruang tengah menemui Ayah dan Ibu nya.


Di ruangan yang redup, dengan minim nya cahaya yang masuk dari jendela rumah. Duduk lah berdampingan Ayah dan Ibu Faust, namun mereka menghadap ke arah jendela yang minim cahaya itu, mereka berdua menghadap membelakangi Faust dan Faust hanya bisa melihat punggung mereka berdua saja.


" Duduklah... "


Ucap ibu nya.


" Ah, apa teman mu itu tidak ikut masuk?.. "


Ternyata Ayah Faust menyadari kehadiran Weiz di rumah nya.


" Tidak apa-apa.. dia bisa menunggu di luar saja "


Ucap Faust kepada ayah nya.


" Oh, baiklah... "


" Lalu, apa yang Ayah dan Ibu ingin bicarakan ini?... terlihat seperti sesuatu yang mendadak "


Setelah Itu Faust pun duduk dibelakang kedua orang tua nya.


" Faust.... ayah dan ibu sangat menyayangimu, akan tetapi hari ini adalah hari terakhir dimana dirimu bisa melihat diriku dan ibumu. "


" Tunggu....apa maksudmu?.. Ayah? "

__ADS_1


Faust tersentak sekujur tubuh nya dan juga bingung mendengar perkataan itu dari ayah nya barusan.


" Sebenar nya kami berdua tahu... lebih tepat nya Ibu mu ini mengetahui segala nya tentang hubungan mu dengan Misogi Shihouin... kau tidak akan bisa membohongi Ibu mu ini... Anak ku.. "


Faust masih terdiam oleh perkataan kedua orang tua nya, termasuk ibu nya barusan.


" Kau memberikan kami rasa sakit ketika membohongi diri kamu berdua, tapi disisi itu kamu berdua tetap menyayangimu... Faust "


Lanjut ayah nya.


" Kau tumbuh menjadi lelaki yang kuat dan tangguh Faust, ibu mu bangga akan hal itu. Begitu juga dengan ayah mu "


Lalu Ibu Faust tiba-tiba mengangkat tangan ke wajah nya, dan melakukan usapan di wajah nya itu.


" Maafkan.. kedua orang tua mu ini nak.... sebab kami berdua, takdir kalian berdua begitu kejam saat ini "


Ucap Ayah nya yang masih berduduk tegak.


Faust yang mendengar semua perkataan dari kedua orang tua nya itu meneteskan air mata nya, dia juga menundukkan kepala nya.


" Tidak.. aku lah yang harus meminta maaf disini, maafkan anak mu ini yang sudah menyusahkan kalian berdua selama ini.. maaf.. maaf... maafkan aku "


" Eh.. kakak, apa kau teman Kak Faust? "


Tiba-tiba Leina datang ke ruang tengah dan menanyakan hal itu kepada Weiz yang masih bersender di tembok sambil berdiri.


" Iya ", Jawab singkat dari Weiz.


Setelah itu Leina menoleh ke ruangan tengah, dan disitu dia menyadari nya jika suasana nya begitu sayup. Dia juga merasakan tekanan kesedihan di seluruh ruangan tengah itu.


" Ayah... ibu... kakak.. kenapa kalian semua menangis?.. ada apa ini sebenar nya? "


Suasana hening seketika tanpa ada yang menjawab nya.


" Leina... kemarilah "


Ucap ibu nya.


" Iya, bu "


Lalu Leina pun menghampiri ibu nya dan berdiri dihadapan nya. Setelah itu Ibu nya langsung memeluk nya dengan erat sambil mengelus-elus kepala Leina.


" Kedepan nya, nurut sama kakak ya?... jangan bantah ucapan nya... lalu berbuatlah baik kepada semua orang dan juga bersikap lah dengan jujur, tulus dan berani... kau adalah perempuan yang kuat Leina "


Ucap Ibu Leina dengan memeluk Leina begitu erat.


" Kurang lebih, pesan ku sama seperti ibu mu Leina.... Lalu Faust, untuk dirimu yang ayah minta hanya lah 1 hal "


Ayah Faust tiba-tiba langsung berdiri setelah mengucapkan itu.


" Lawan lah takdir mu "


" Aku bersumpah dengan seluruh raga ini.. ayah "


Lalu Ibu Faust melepaskan pelukan nya itu dari Leina, dan beranjak berdiri sambil menuntun Leina dengan tangan kanan nya. Setelah itu kedua orang tua Faust pun menghadap ke Faust.


" Pesan ibu..... jangan bermain wanita, dan jangan nakal... kau mengerti? "


" Dengan raga ini... ibu "


Faust asli nya masih bingung dengan apa yang akan dilakukan kedua orang tua nya, karena dia berpikir ini seperti perpisahan untuk selama nya.


Setelah itu Ayah Faust mendekati Leina, dan dia jongkok sembari memegangi kedua bahu Leina.


" Jadi lah kuat seperti kakak mu... Leina "


" B-baik.. "


Leina pun turut bingung dengan apa yang sebenar nya akan dilakukan kedua orang tua mereka.


Setelah itu Ayah Faust mengetuk dahi Leina dengan jari telunjuk dan tengah nya, tiba-tiba Leina langsung tertidur akan itu. Ayah Faust menggendong Leina dan membaringkan nya dihadapan Faust.


" Faust.. kuserahkan kepadamu.. ayah dan ibu percaya padamu ... "


" Faust... dan juga satu lagi... jagalah adik mu.. ya? "


Faust hanya mengangguk kecil sambil menyaksikan itu.


Disaat yang bersamaan Ayah Faust memundurkan posisi nya beberapa langkah dan dia berbalik menghadap Istri nya. Itu pun dilakukan juga oleh Istri nya, kini mereka saling berhadapan satu sama lain. Dan juga mereka mengangkat setengah kedua tangan mereka dengan saling menggenggam nya satu sama lain.


" Fermine.... apa kau siap? "


Ucap lirih Ayah Faust ke Ibu Leina dan Faust yang bernama Fermine.


" Iya... sayang.. "


" Bisakah kau memanggil nama ku.... untuk yang terakhir kali nya.. ? "


" Iya... Morgan.. "


" Kau memang wanita yang benar-benar akan kucintai seumur hidup ku..... Fermine "


Ucap Morgan sambil tersenyum dan memejamkan mata nya, disisi lain Fermine yang mendengar itu sedikit kaget dengan tersipu malu.


" Kau.... memang selalu berhasil mengenai ku... sejak dulu.. Morgan "


Fermine membalas senyuman itu dengan memejamkan mata juga.

__ADS_1


" Haha... aku ingin sesekali anak kita melihat kita yang beromansa seperti ini "


Faust yang melihat itu pun ikut sedikit tersipu malu.


" Faust... panggil teman mu itu... suruh dia masuk ke sini "


" Ah.. baik ayah "


Lalu Faust berdiri dan menengok ke luar ruangan tengah, sambil mempersilahkan Weiz masuk.


" Permisii... "


" Tidak usah formal begitu... lebih baik kau segera melakukan nya. "


Faust yang mendengar itu ikut bingung.


" Segera melakukan, apa maksud kalian? "


Tanya Faust


" Maaf nak... sebenar nya Weiz sudah menjelaskan apa yang akan terjadi bahkan jauh sebelum hari ini tiba.. jadi selama itu kami sudah menyiapkan mental... maafkan kami berdua... dengan ini kita impas bukan? "


Setelah mendengar itu dari Ayah nya, Faust langsung jatuh dari posisi berdiri nya dan berlutut, namun dia tetap menegakkan badan nya meskipun kedua kaki nya memposisikan pose berlutut.


" Maaf... aku juga tidak memberitahumu soal ini.. Faust "


Ucap Weiz.


Lalu Faust menundukkan kepala nya, memejamkan mata nya dengan kerutan dan juga mengeratkan gigi nya.


" Tidak apa-apa... lakukan apa yang diperintahkan oleh kedua orang tua ku itu "


Faust mencoba menerima kenyataan yang menyakitkan itu dengan seluruh perkataan yang baru saja ia lontarkan.


Lalu kedua orang tua Faust dan Leina saling mendekat, dan mereka pun saling menyentuhkan dahi mereka.


" Fermine.... "


" Morgan... "


Disaat yang bersamaan Weiz mengarahkan tangan kanan nya ke kedua orang tua Faust dan Leina itu, dan seketika kedua orang tua Faust dan Leina menjadi tidak berwarna, atau lebih tepat nya mereka berdua seketika menjadi warna Hitam dan Putih.


Mereka berdua juga seperti tidak bergerak sama sekali dan terlihat membatu, namun fakta nya waktu untuk kedua orang tua Faust Dan Leina dihentikan oleh Weiz. Karena itulah warna mereka berdua menjadi redup dan terlihat Hitam dan Putih.


Setelah itu Weiz memusatkan atau memadatkan bentuk kedua orang tua Faust dan Leina menjadi sebuah lingkaran di tangan nya. Dan disaat itu juga Weiz menyatukan lingkaran yang berisi jiwa Fermine dan Morgan ke Ruang dan Waktu, setelah lingkaran itu menyatu Weiz menyentuh aspek fundamental dari Ruang dan Waktu. Setelah itu dia seperti memainkan Ruang dan Waktu dengan ritme nya, dan dengan mudah nya dia membuat dimensi baru milik nya, atau yang sekarang disebut dengan Dimensi Tanpa Waktu.


Setelah Dimensi Tanpa Waktu itu dibuat dengan waktu yang singkat, Weiz pun melempar lingkaran itu kedalam nya. Tak lupa juga Weiz menambahkan hukum untuk dimensi nya itu sendiri, dan hukum itu adalah " Lingkaran itu adalah hal mutlak dan yang paling sempurna ". Weiz menjadikan Lingkaran yang berisi jiwa Fermine dan Morgan itu layak nya seperti dewa di Dimensi Tanpa Waktu milik nya itu.


" Kau barusan melakukan apa?, aku hanya menyadari nya sampai dimana kau membentuk lingkaran dengan jiwa orang tua ku "


Dari ucapan Faust barusan dia bingung karena seperti ada yang mengganjal di pikiran nya, dia seperti kehilangan setitik ingatan nya atau mungkin Weiz lah yang bergerak terlalu cepat.


Disini terlihat, karena disaat Weiz menyatukan dan menyentuh Ruang dan Waktu, waktu berhenti bergerak sebab Weiz terhitung begitu cepat oleh realitas. Dia melakukan semua itu dalam frame 0 detik dan tentu saja Faust tidak menyadari nya, dia seperti kehilangan setitik ingatan nya padahal kenyataan nya tidak.


" Sudah.. lupakan saja hal itu, sekarang kita harus bergegas perg— "


" Dooommmmm ", suara yang memekikkan telinga tiba-tiba terjadi di area dekat mereka.


" Apa itu?! "


Sontak Faust.


Lalu disaat yang bersamaan Weiz menyadari siapa yang datang saat itu, dia menyadari nya dari Aura orang yang baru saja menciptakan ledakan itu.


" Faust.. "


Ucap Weiz memanggil Faust.


" Kenapa?.. sebentar... kenapa wajah mu langsung tegang seperti itu?! "


Faust juga bingung karena raut wajah Weiz tiba-tiba menjadi serius, padahal sesaat dia tidak bersikap seperti itu.


" Siapkan Bokken yang sudah kuberikan kepadamu itu "


Spontan Faust langsung mengambil Bokken nya yang dia letakkan di lantai ruang tengah.


" Faust, bawa Leina pergi bersamamu "


Sambil memegang Bokken yang baru saja diambil nya, Faust sedikit tersentak mendengar perkataan Weiz barusan.


" Huh?, kau menyuruh ku pergi dan menanggung semua beban kepada mu?.. aku tidak akan membiarkan itu, dan juga aku tidak ingin berutang Budi kepadamu "


Namun bukan nya merespon dengan apa yang dikatakan Faust, tiba-tiba Weiz langsung mengambil kecepatan penuh nya untuk melindungi Faust dan Leina disaat yang bersamaan.


" Dooommmmm ", Suara ledakan yang besar terjadi di sekitar Faust, Leina dan Weiz.


Benar saja, serangan barusan itu mengenai rumah Faust dan Leina. Itu membuat nya langsung hancur berkeping-keping, akan tetapi Weiz, Faust dan Leina tetap selamat karena beberapa Milidetik sebelum serangan itu sampai, Weiz terlebih dahulu mengaktifkan Barrier pelindung nya itu untuk melindungi nya.


" Weiz, Inoaden. Kalian akan ku eksekusi mati detik ini juga "


Disitu terlihat Daphne yang terbang di atas langit sambil membawa sebilah pedang.


" Kakak.... "


Ucap Weiz sambil sedikit menoleh ke arah Daphne di belakang nya.


...-**Bersambung**- ...

__ADS_1


__ADS_2