
"Hati yang setengah-setengah menjalankan cinta hanya akan menjadikanya tersakiti dan masuk dalam maut"
***
Ketika sedang memasuki kelas, Vio melihati gelisah di bangkunya. Mukanya seperti sedang terlesu, kedua bola matanya tak berkedip sekalipun. Seakan dia rohnya sedang tidak menyatu dengan tubuhnya.
Vio kemudian menghampirinya.
Plakkkk...
Tepuk Vio bahunya, namun bukanya merespon Yohana malah semakin membisu seperti batu.
"Yoa, kenapa ada masalah...?" tanya Vio yang kebingungan.
"Gapapa kok Vio..." jawab Yohana.
"Yakin gapapa...?"
"Iya gapapa kok..."
"Katanya gapapa tapi dari tadi bengong gitu, seperti tak ada gairah sama sekali kamu..."
"Perasaan kamu aja mungkin itu..." Yohana melemparkan senyum terpaksa.
"Kamu yakin gamau ngasih tau...?"
"Ngasih tau apaan Vio...?"
"Kalo kamu sedang ada masalah, gabiasanya kamu pagi-pagi gini seperti tak bersemangat..."
Kemudian pegangnya jidat Yoa, " Demam juga enggak..."
"Ihh apaan sih Vio..." dihempaskanya tangan Vio.
"Yaudah kalo kamu mau tertutup gini sama aku, gapapa kok..." Vio kemudian membuang tatapan kearah hp di genggamannya.
"Ihh sebenarnya itu..." muka Yohana semakin menggambarkan raut sedih.
"Lahh kan tadi katanya gapapa, ternyata ada sesuatu. Ceritalah, kali aja aku bisa kasih solusi gitu...."
"Jadi gini, tadi pagi-pagi banget bang Psycho dateng kesini. Dia ngajakin udahan karena alasan dia mau fokus belajar buat nanti masuk Universitas di London..."
"Trus.. terusss..." kepo Vio.
"Ya aku gamau, masa segitunya harus putus perkara mau fokus belajar. Kan gamungkin juga dia belajar 24 jam di setiap harinya..."
"Iya benar juga sih, tapi sekarang betulan putus...?"
"Aku nego, kasih waktu 3 hari buat dia mikir ulang..."
"Kamu yakin dia akan mikir buat bertahan...?"
"Sepertinya sih enggak, soalnya tadi juga dia minta udahan dengan raut wajah penuh keteguhan..."
"Alamakkkkkk..." tepuk jidatnya sendiri Vio.
"Ahhh, sudahla aku berharap semua kembali baik-baik aja sih..."
"Semoga aja sih..."
"Tapi jujur kalo aku jadi kamu aku terima aja udahan, jadian juga baru berapa bulan..."
"Jangan buat orang sedih deh..." kepala ayohana kembali tertunduk lesu.
"Kan memang iya Yoa, yakali langsung sesayang itu. Kamu sih, dibilangi juga kemaren-kemaren gapercaya..."
"Gapercaya apa maksudmu...?" heran Yohana bertanya.
__ADS_1
"Dia itu ibarat orang Psikopat. Emosi aja dilampiaskan sama siapa aja, tega memaki mau wanita apa pria. Nabok anak orangla, inilah itulah semua yang berbau kekejian dan kekejaman menggambarkan sehari-harinya..." perjelas Vio.
"Yahh, namanya hati mana bisa bohong. Mencoba gasalah bukan...?"
"Iya gasalah, tapi senggaknya kalo sudah diajak putus ya terima aja sih. Itu konsekuensi...!"
"Iya iyaaa..." Yohana merasa frustasi dan pesimis berdebat masalah hati dengan Vio yang jomblo selama perjalanan hidupnya.
"Yaudah daripada ambil ribet, kita makan keluar kuy..." tariknya tangan Yohana berdiri dari kursinya.
"Ehh mau bolos apa, ntar lagi kan bel..."
"Yaelah, ini hari terakhir sekolah. Gada belajar, cuman nunggu waktu siang aja buat pembagian raport..." tutur Vio sembari menariknya keluar kelas.
"Iya iya yaudah kita makan McD dekat sekolah aja, biar ntar baleknya gakejauhan..."
"Yaudah skuylah..."
Mereka kemudian pergi keluar sekolah, dengan rasa malu mengelabui pintu gerbang yang dijaga pak Agus...
***
Di depan pintu McD...
"Yoa kamu pesan apa...?"
"Aku mau pesan coffee aja..."
"Kok coffee...? gamau makan apa...?" ucap Vio.
"Gak nih, tadi udah serapan dari rumah..."
"Yaudah kalo gitu, naik gih cari tempat makan..."
Vio kemudian mengantri untuk memesan makanan dan minuman mereka. Sedangkan Yohana naik kelantai dua untuk mencari meja.
"This is u'r coffee miss..." letaknya secangkir coffe late diatas meja.
"Thank u Miss..." balas Yohana.
"Ehh btw aku bisa nanya ga..." tanya Vio.
"Nanya apaan, boleh kok..." jawab Yohana dengan nada lembut.
"Kamu gatakut pacaran sama Psycho...?"
"Kenapa harus takut, uhukk uhukk...?" seketika ia keselet meminum coffee dimulutnya.
"Secara kan dia orangnya emosian, suka marah-marah gajelas, marah akan hal kecil..."
"Setiap sifat manusia bukanya bisa diubah seiring berjalanya waktu ya...?"
"Bukanya pada dasarnya setiap manusia hatinya diciptakan oleh Tuhan dengan lembut...? jadi untuk apa takut..."
"Tapi dia beda dengan yang lainya Yoa, selama aku sekolah disini aku ngeliat beberapa kali dengan mata kepala sendiri akan kebuasannya. Sampai-sampai sebagian guru takut berurusan dengannya, disamping dia putera semata wayang pemilik sekolah ini..." mulut dan raut wajah Vio seperti sungguh bercerita dengan serius.
"Dari hati, aku tetap mau sama dia. Kuanggap aja itu sebagai ujian, mengubahnya. Melembekkan kebebalan didalam hatinya. Itulah artinya sebuah cinta sesungguhnya..."
"Kamu sok bijak..." ucap Vio dengan sangat sinis.
"Bukan sok bijak, seperti coffee ini. Ketika dilidah rasanya sungguh pahit. Jika dinikmati hanya dengan lidah saja. Namun akan nikmat jika penikmatnya dengan menggunakan hati, meresapinya. Sungguh, coffee ini menjadi sangat nikmat..."
"Apaan coba, bawa-bawa perumpamaan coffee segala..." muka sinis Vio semakin terlihat.
"Gapapa lah, ujian kehidupan ini namanya. Harus bersyukur..."
"Jadi kamu bersyukur akan Psycho...?"
__ADS_1
"Iya..." sampang Yohana cuek.
"Sungguh...?"
"Sungguh, Tuhan gadiam kok. Aku yakin kalo niat aku baik buat dia. Pasti Tuhan juga akan menanam niat baik dibenaknya buat aku..."
"Yaelah segitunya sama Psycho..."
"Terserah, pacar aku hehe..." Yohana tersenyum sembari menikmati kembali Coffeenya.
Hingga setelah mereka selesai menikmati hidangan diatas meja. Larut, jam sudah menunjukkan pukul 11.00 Siang, sejam berikutnya jadwal pembagian raport. Mereka berdua kemudian membayar pesananya dan kembali ke sekolah.
***
Disekolah, waktu sudah hampir menunjukkan pukul 12.00, semua murid dan wakilnya sudah bersiap-siap menerima raport.
Yohana diwakili oleh Papanya, begitu juga dengan Psycho.
Dikelas masing-masing mereka menghadap wali kelas untuk membicarakan nilai di raport.
Seperti kata Psycho dia tidak mendapatkan satupun nilai merah walau tidak mendapatkan ranking 10 besar. Setidaknya dia tidak terlalu mengecewakan Papanya.
Sedangkan Yohana, dia mendapatkan ranking 10. Sebagai murid baru, itu merupakan langkah yang bagus buatnya. Dengan begitu bangga juga Papanya menerima raport nilai Yohana.
Hingga waktu berjalan berjam-jam, semua murid dan wali diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.
"Selamat buat semua murid, semoga nilainya memuaskan dan buat bangga orangtua masing-masing. Selamat berlibur, selamat menikmati masa libur semester. Sampai bertemu di semester depan..." ucap Bapak Kepala sekolah Drs. Masyur Sirait dari mic didalam kantor.
***
Diparkiran...
"Ehh ada teman aku nih..." simpul Ayah Yohana yang berpapasan dengan Ayah Psycho.
Yohana dan Psycho yang sekilas bertatapan membuang jauh-jauh pandangan masing-masing. Sepertinya mereka tidak mau ketahuan orangtuanya jika mereka pacaran.
"Iya nih, abis ngambil nilai putera semata wayangku..."
"Bagaimana nilainya bro...?"
"Bagus, walau tidak masuk 10 besar..."
"Wahhh hebat, selamat ya nak Psycho..." tandas Ayah Yohana.
"Ini Yohana ya..." tunjuk orang disamping kanan temanya itu.
"Iya om, aku Yohana..." potong Yohana.
"Iya, ini Putri pertamaku yang dulu pas kelahirannya kamu datang lalu hendak menjodohkannya dengan bayimu..."
"Hahahaha, masing ingat aja..."
Yohana dan Psycho kemudian kembali saling menatap.
"Kenalan dulu sana Psycho..." tandas pak Agus ayah Psycho.
"Udah kenal kok pa, dia adek kelas aku kan..."
"Iya udah kenal kok om..." balas Yohana.
"Wahh wahhh bagus nih kalo udah saling kenal..." cetus ayah Yohana.
Dalam hati Yohana yang terbata-bata, dia ingin mengungkapkan bahwa sebenarnya mereka sudah jadian. Namun dia enggan, apalagi barusa dipagi itu Psycho mengajaknya putus.
"Yaudah kami duluan ya bro..." kata Ayah Psycho.
"Oke hati-hati ya bro..."
__ADS_1
Begitulah kedua orang itu ketika bertemu, lagaknya selalu bergaya anak muda padahal umurnya sudah tua. Maklum saja, mereka adalah teman dekat semenjak SMA. Tak pernah memutus tali pertemanan satu sama lain.